Delapan belas tahun yang lalu, seorang gadis kecil bernama Taotao hilang di tengah keramaian festival lampion. Keluarga Wijaya — salah satu dinasti paling berkuasa di Jakarta — tidak pernah berhenti mencari.
Seline tidak ingat apa-apa tentang malam itu. Yang dia tahu: orang tua angkatnya sudah meninggal, adiknya butuh sekolah yang layak, dan satu-satunya pilihan adalah menumpang di rumah besar keluarga Hartono — bibi jauhnya yang ternyata punya agenda tersembunyi.
Di rumah itu, Seline belajar bertahan. Dari tatapan merendahkan sepupu-sepupu, dari jebakan bibinya yang ingin menjodohkannya dengan anak tiri, dari rivalnya yang cantik dan licik. Tapi juga — dari tatapan Kevin Hartono yang tidak pernah bisa dia baca.
Kevin adalah pewaris utama. Dingin. Tidak tersentuh. Semua orang takut padanya.
Tapi dia yang pertama menyadari surat palsu di kamar Seline. Dia yang berlari menembus api saat festival meledak. Dan dia yang diam-diam menyimpan lukisan karya "Tao" — tanpa tahu pelukisnya tidur di sayap rumahnya sendiri.
Ketika kebenaran akhirnya terungkap — siapa Seline sebenarnya, siapa yang mencurinya dulu, dan mengapa Kevin bersikeras mempertahankannya — seluruh Jakarta akan tahu:
Gadis yang mereka buang... adalah pewaris yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 023
Toko Alat Gambar
Hujan benar-benar turun sore itu.
Seline berdiri di depan gerbang Sekolah Pelita Harmoni dengan payung pinjaman dari mobil Jason, menunggu Darren selesai latihan presentasi. Di tasnya, ponsel bergetar tiga kali berturut-turut. Ia membuka pesan dari admin galeri online, lalu segera menurunkan kecerahan layar.
Tao, kolektor lama meminta karya baru. Tema bebas, tetapi tetap ingin nuansa lampion. Deadline dua minggu. Fee naik dua puluh persen.
Jantung Seline berdetak lebih cepat.
Kolektor lama.
Ia tidak perlu bertanya siapa. Setelah dua tahun, pesanan dengan tema lampion dan pembayaran tanpa tawar-menawar hampir selalu melewati jalur yang sama. Kevin mungkin tidak menghubungi langsung, tetapi bayangannya tetap berada di belakang setiap pesan galeri.
"Kak!"
Darren keluar sambil membawa tas dan map. Jason berjalan di belakangnya, memegang dua botol minuman.
"Presentasiku tidak hancur," kata Darren bangga.
"Berarti bagus."
"Tidak hancur itu level bagus menurutku."
Jason memberikan satu botol ke Seline. "Kamu mau langsung pulang?"
Seline melihat pesan di ponselnya. Ia butuh kertas baru, tinta, dan nib cadangan. Tablet bisa dipakai untuk file akhir, tetapi sketsa awal lampion selalu lebih hidup kalau ia mulai dari kertas.
"Aku perlu ke toko alat gambar sebentar. Kalau merepotkan, aku bisa..."
"Sekalian lewat Grand Central Mall," potong Jason. "Ada toko besar di sana."
Darren langsung cerah. "Yang ada toko buku juga?"
"Ada."
Rencana itu terlalu mudah diterima, dan justru karena itu Seline ragu. Namun hujan semakin deras, dan ia tidak ingin menyeret Darren naik turun taksi.
"Baik. Tapi hanya sebentar."
Grand Central Mall sore itu ramai. Seline berjalan di antara rak kertas gambar dengan hati lebih ringan daripada biasanya. Di tempat seperti ini, ia tidak harus menjadi kerabat miskin, calon pion Tante Chen, atau gadis yang dicurigai Vivian. Ia hanya seseorang yang tahu perbedaan kertas 200 gsm dan 300 gsm dari cara ujung jarinya menyentuh permukaan.
Darren memilih pulpen warna di sisi lain. Jason mengikutinya sambil pura-pura tidak mengawasi harga.
Seline mengambil satu blok watercolor paper, pensil mekanik, dan tinta hitam waterproof. Ia hampir menambahkan satu kuas tipis ketika suara rendah terdengar dari belakang.
"Untuk tugas sekolah?"
Seline menegang.
Kevin berdiri di ujung rak, memakai kemeja putih dan jas gelap, jelas baru keluar dari pertemuan kerja. Anton berada beberapa langkah di belakangnya dengan tas dokumen. Di luar toko, dua pria berjas menunggu, mungkin rekan bisnis yang baru saja ditinggalkan Kevin begitu saja.
"Ko Kevin," Seline menyapa.
Jason yang mendengar suara itu langsung menoleh. "Ko Kevin? Meeting di sini?"
"Di lantai atas." Kevin menatap barang di tangan Seline. "Tugas sekolah siapa?"
Darren muncul dengan pulpen warna. "Bukan punyaku. Aku cuma butuh ini."
Seline ingin menutup mulut adiknya, tetapi terlambat.
Kevin melihat Darren, lalu kembali pada blok kertas mahal di tangan Seline.
"Untuk saya," kata Seline akhirnya. "Saya ingin coba menggambar lagi. Dulu kan saya pernah bilang suka menggambar tugas sekolah."
Kalimat itu aman, tetapi tidak cukup kuat.
Kevin mengambil blok kertas dari tangannya, membaca label kecil di sudut. "Watercolor cold pressed. Tugas sekolahmu mahal."
Jason tertawa ringan untuk mencairkan suasana. "Mungkin Seline serius mau mulai hobi baru."
"Hobi lama," jawab Kevin.
Seline menatapnya.
Kevin mengembalikan blok kertas itu. Wajahnya tetap datar, tetapi matanya terlalu tajam untuk disebut kebetulan.
"Kalau mau mulai lagi, jangan beli tinta itu. Cepat pudar."
Ia mengambil botol tinta lain dari rak dan meletakkannya di atas barang Seline.
"Yang ini."
Seline memegang botol itu. "Ko Kevin mengerti alat gambar?"
"Sedikit."
Jawaban yang sama seperti jawaban Seline dulu.
Anton menunduk, menyembunyikan reaksi. Jason melihat mereka bergantian, senyum di wajahnya berkurang sedikit.
Kevin melangkah keluar toko setelah menerima telepon singkat. Namun sebelum pergi, ia berhenti di dekat kasir dan berkata pada pelayan, "Semua barang mereka masuk tagihan saya."
Seline langsung menolak, "Tidak perlu, Ko Kevin."
Kevin menoleh. "Anggap pengganti payung yang kamu lupa bawa."
"Payungnya dari Ko Jason."
Udara di antara mereka berhenti sesaat.
Jason mengangkat payung lipat di tangannya, mencoba tersenyum. "Benar. Tapi kalau Ko Kevin mau membayar kertas, aku tidak keberatan."
Kevin tidak membalas lelucon itu. Ia hanya menatap Seline satu detik lebih lama, lalu pergi.
Setelah punggung Kevin menghilang di eskalator, Jason masih berdiri di tempatnya. Senyumnya kembali, tetapi tidak sepenuh tadi.
"Ko Kevin ternyata perhatian juga soal tinta," katanya.
Seline memasukkan barang ke keranjang. "Mungkin karena dia kolektor."
"Atau karena dia memperhatikan kamu."
Kalimat itu membuat Seline menoleh. Jason mengucapkannya ringan, namun matanya tidak. Darren yang sedang memilih stiker di rak samping tidak mendengar.
"Ko Jason," kata Seline pelan, "jangan membuat hal kecil jadi besar."
Jason terdiam sebentar, lalu mengangkat kedua tangan. "Baik. Hal kecil."
Namun setelah itu, perjalanan pulang terasa sedikit berbeda. Jason tetap bercanda dengan Darren, tetap membuka pintu mobil, tetap memastikan mereka tidak kehujanan. Hanya saja Seline tahu ada sesuatu yang sudah bergeser, meski belum ada yang berani menyebut namanya.
Malamnya, saat Seline membuka belanjaan di kamar, ia menemukan struk kecil terselip di antara kertas. Semua barang sudah dibayar.
Di bagian bawah, ada satu item tambahan yang tidak ia pilih.
Tinta archival merah lampion.