NovelToon NovelToon
Married By Arrangement, Love By Fate

Married By Arrangement, Love By Fate

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mutia Ratnasari Husein

Tidak update harian!!

Zalina Asyara, seorang gadis muda yang harus menelan pahit kehidupan setelah ayahnya jatuh bangkrut dan terlihat hutang pada seorang rentenir. Ibunya memilih lari, meninggalkan ayahnya yang sudah jatuh bangkrut itu juga dirinya.

Zalina terpaksa bekerja sebagai pelayan restoran, untuk membantu ayahnya membayar hutang.

Namun, suatu hari, sepasang suami-istri kaya membawa sebuah lamaran pernikahan untuk Zalina.

mereka adalah kenalan lama ayahnya. Dulu, ayahnya pernah membantunya di saat mereka sedang kesulitan. Kini, saatnya mereka datang untuk membalas Budi.

Apakah Zalina akan menyetujui lamaran mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kenangan yang kembali teringat.

Kaiden kembali ke apartemen setelahnya. Ia libur bekerja hari ini dan ingin menghabiskan sisa waktu di tempat tinggalnya yang nyaman dan tenang.

Ia sudah tinggal di sini sejak beberapa tahun terakhir. Keputusan yang ia ambil secara impulsif karena tidak tahan mendengar pertanyaan ibunya tentang kekasih dan juga pernikahan.

Ia masuk ke dalam kamar tidurnya yang nyaman. Dengan nuansa yang sedikit gelap dan di dominasi warna abu-abu tua. Ruangan itu terasa tenang, bahkan terlalu sunyi.

Tirai tebal menutup sebagian besar jendela, hanya menyisakan celah kecil tempat cahaya sore menyusup masuk. Udara dingin dari pendingin ruangan membuat suasana semakin hening.

Kaiden melepaskan jasnya dan melemparkannya ke atas sofa. Dengan gerakan malas, ia menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang besarnya yang nyaman, membiarkan dirinya tenggelam di antara lautan pikiran yang kini sedang memenuhi kepalanya.

Ia menatap langit-langit ruangan dengan sorot mata yang dalam.

Ia menghela napas panjang, satu lengannya terangkat menutup matanya. Untuk sesaat ia berharap pikirannya kosong seperti ruangan ini.

Namun, yang datang justru bayangan itu. Bayangan seorang gadis kecil yang selalu menatap matanya dengan sorot mata kepolosan dan penuh keceriaan.

(Flashback on)

"Kakak."

Panggil seorang gadis kecil yang akhir-akhir ini selalu menganggu ketenangannya ketika sedang membaca buku di gazebo belakang rumahnya.

Haa... pengganggu itu datang lagi.

Gadis itu duduk di sampingnya tanpa permisi. Ia bahkan menyentuh bukunya dengan sembarangan tanpa izin darinya.

Anehnya, ia sama sekali tidak marah ataupun kesal. Ia hanya duduk diam di samping gadis itu, mendengar semua celotehannya yang terkadang mengusik ketenangannya.

Gadis kecil itu seolah tak peduli apakah Kaiden senang mendengarnya atau justru malah merasa terganggu dengan hal tersebut.

Ia terus saja bertanya tentang segala hal yang ia lihat.

Kenapa langit warnanya biru?

Matahari tidak pernah tidur, ya?

Apa makanan kesukaan kakak?

Apa warna yang kakak sukai dan tidak suka?

Apa kakak suka membaca buku?

Kakak pasti sangat pintar.

Kakak sangat tampan.

Dan, pertanyaan yang paling membuat Kaiden merasa ingin segera menghilang dari hadapannya.

"Kakak mau menikah denganku...?"

Pertanyaan yang terus ia lontarkan setiap kali bertemu dengan pria muda itu.

"Tidak."

Jawaban singkat itu seharusnya sudah bisa menjawab pertanyaannya dan membuat gadis itu berhenti bicara.

Namun, dugaannya salah. Gadis itu terus mengajaknya menikah dan ia ingin memiliki lima anak kucing yang lucu.

Sungguh pikiran yang naif sekali. Ia bahkan tidak tahu, bagaimana seorang anak berusia lima tahun bisa berpikir untuk menikah.

"Kenapa kau ingin sekali menikah denganku?"

Pertanyaan itu terlontar dari mulut Kaiden yang tidak bisa lagi menyembunyikan rasa penasarannya.

"Karena kakak mirip seperti ayah. Kakak sangat tampan." ia lalu tertawa malu, sambil menutup wajah dengan tangan kecilnya itu.

Kaiden hanya menggelengkan kepalanya pelan.

Benar-benar anak yang aneh dan... menyebalkan.

Tak lama, ibunya datang dan mengajaknya untuk pulang karena hari sudah hampir menjelang sore.

Dan di situlah, tangisan itu mulai terdengar. Gadis kecil itu tidak pernah berhenti menangis ketika ibunya mengajaknya untuk pulang.

"Aku mau tinggal di sini. Aku mau tidur sama kak Kaiden. Ibu... aku tidak mau pulang." tangisannya yang mulai kencang, seketika mengusik ketenangan Kaiden.

Ibu gadis kecil itu terlihat kewalahan membujuknya.

Namun kali ini, Kaiden tidak pergi, ia malah menghampiri gadis kecil itu.

"Kalau kau diam, kakak akan menikah denganmu ketika dewasa nanti. Tapi... kau harus berjanji satu hal pada kakak." ucap Kaiden datar dengan wajah kakunya itu.

Tangis gadis kecil itu seketika berhenti. Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan, lalu menatap Kaiden dengan mata bulatnya yang basah. "Janji apa?" tanyanya polos.

Kaiden menghela napas pelan, lalu berjongkok di hadapannya agar sejajar dengan gadis kecil itu.

"Janji... kau harus belajar dengan rajin. Jangan menyusahkan ibumu lagi. Kau harus menjadi anak pintar kalau mau menikah dengan kakak." jelasnya, nada suaranya tetap tenang, meski kali ini terdengar sedikit lembut.

Gadis kecil itu tampak mengerjap beberapa kali, seolah sedang mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Kaiden. "Kalau aku pintar, kakak benar-benar mau menikah denganku?" tanyanya lagi, seolah ingin memastikan.

Kaiden terdiam sesaat, ia juga tak tahu kenapa ia mengatakan hal seperti itu. Mungkin baginya ini cara tercepat untuk menghentikan tangisan anak kecil ini.

Namun, saat ia melihat tatapannya yang penuh harap, ia akhirnya mengangguk singkat.

Wajah gadis kecil itu seketika berubah cerah. Senyum lebar mengembang di bibirnya, tanpa beban.

"Baik, Kak! Aku janji!" serunya antusias, bahkan mengangkat jari kelingking kecilnya. " Janji kelingking!"

Kaiden menatap jari kelingking itu sejenak, lalu dengan sedikit keraguan, ia mengaitkan kelingkingnya.

"Janji."

Gadis itu lalu tertawa, benar-benar sudah melupakan tangisnya tadi. Ia lalu berbalik, berlari kecil menghampiri ibunya yang sudah menunggu dan berseru bangga.

"Bu, aku mau menikah sama kakak. Tapi, aku harus pintar dulu."

Kaiden hanya memandangi punggung kecil itu menjauh, tanpa ekspresi.

"Dasar gadis menyebalkan." gumamnya pelan.

(Flashback off)

Di balik matanya yang terpejam, sudut bibirnya terangkat tipis penuh arti.

Namun, sering ponselnya yang tiba-tiba berbunyi, membuat matanya yang sudah hampir terpejam erat, mendadak terbuka paksa kembali.

Ia mengambil ponsel di nakas, dan melihat siapa orang yang menghubunginya saat ini.

"Mama."

Kaiden tampak menghela napas pelan. Ia sudah tahu apa yang kira-kira akan ditanyakan oleh ibunya itu.

Mau tak mau ia akhirnya menjawab panggilan itu dengan malas.

"Bagaimana dengan pertemuannya, Nak? Kau tertarik padanya, kan?"

Pertanyaan itu langsung terlontar begitu panggilan tersambung.

"Aku baru bertemu dengannya sekali, Ma. Apa menurut Mama, aku bisa langsung tertarik pada gadis itu?"

"CK.. Kau ini memang tidak bisa diharapkan." sahut ibunya terdengar kesal.

"Aku lelah, Bu. Aku ingin tidur." jawab Kaiden datar.

"Kai-"

Tut...Tut...Tut...

Di seberang sana, ibunya tampak menggerutu ketika melihat putranya memutus sambungan begitu saja.

"Aku bahkan belum selesai bicara. Dasar anak tidak tahu sopan santun." gerutunya di depan layar ponselnya yang menggelap.

Di sampingnya, Zafran tampak mengernyit menatap istrinya itu.

"Apa dia memutus sambungan teleponnya?" tebaknya, seolah sudah tahu bagaimana sifat putra semata wayangnya itu.

"Iya. Anak itu benar-benar membuatku kesal."

Zafran malah terkekeh kecil melihatnya.

"Kenapa Papa malah tertawa? Apa Papa pikir itu lucu?" tanya Belinda bertambah kesal.

"Tidak usah marah-marah begitu, Ma. Putra kita sudah dewasa. Biarkan dia memutuskannya sendiri." ucap Zafran memberi nasihat pada istrinya itu.

"Kalau kita membiarkan dia membuat keputusan sendiri, maka selamanya kita hanya akan hidup dengan satu anak saja."

Zafran kembali tersenyum ke arahnya.

"Sudah, jangan marah-marah terus." bujuk Zafran, menenangkan istrinya.

Belinda tampak menekuk wajahnya.

"Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan? Mungkin kita bisa mengunjungi Zalina dan ayahnya di rumah mereka." ajaknya sambil memberi saran.

Wajah Belinda yang semula tampak masam, kini berubah ceria.

"Oke." sahutnya antusias.

🥀🥀🥀

1
Xlyzy
dia terlalu serius jadi ga denger saat di panggil
Xlyzy
Malu nya ketahuan lagi stalking di depan orang nya langsung
Cimol krispy
kalau memang itu satu satunya jalan, dicoba aja dulu Zal
Cimol krispy
dengar penjelasan ayahmu dulu Zalina.
Mingyu gf😘
lailahaillah 1 m😭😭
Mingyu gf😘
Ayahmu berhutang zal, dan bakal jatuh tampo 2 hari lagi😭
ginevra
yahh nggak ada adegan malam pertama donk. padahal nungguin banget nih 🤭🤭
ginevra
yakin? nanti juga lama2 kalian saling jatuh cinta. kalau si kai normal loh ya
Filan
lho... ortumu normal lho... hubungan mereka harmonis. kamu bukan dari keluarga broken. Padahal biasanya anak lihat ortunya.
-Thiea-: dia punya pandangan sendiri sepertinya.😅
total 1 replies
Filan
ga usah mengendalikan diri kalau sama istri 😌
Filan
syukurlah kalau dia normal 😅
Three Flowers
terasa berat karena itu dialami sendiri oleh keluarganya
Three Flowers
berarti Kaiden ada nafsu juga pada wanita, ya?
Miu.Nuha
ibumu backgraundny udh tajir Zal, jadi diajak susah gk mau kan, hiks... kepekaan hatinya kurang itu...
Miu.Nuha
malah makin penasaran ya Diandra
ini ya si pria yang merangkul kaiden kemarin ☺ centil juga orangnya...
Ali
ga sopan nih anak, cabein aja bu itu bibir anaknya
Myz Pena
ini seperti menukar diri dengan sesuatu yang berharga.. kalau di dunia nyata bisa saja beruntung kalau menemukan orang yang tepat dan bisa saling mencintai.. 🤧
Myz Pena
wkwkwkwm pura pura lupa 🤣🤣🤣
Xlyzy
udah biar kan aja kaiden cari cuan
Xlyzy
bilang aja sekarang mau sarapan pagi karna ada istri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!