Dulu ia dipanggil Ratu Pembunuh. Kini ia hanya Laras, wanita biasa yang bersembunyi di desa terpencil.
Ia berjanji takkan pernah mengangkat senjata lagi. Namun kedatangan Dika, laki-laki yang membawa rahasia serupa, mengubah segalanya. Di antara hamparan hijau dan sungai jernih, benih cinta tumbuh di tanah yang dulu subur oleh dendam. Antara melupakan masa lalu atau kembali menjadi sosok yang ditakuti—Laras harus memilih: bertahan hidup, atau berani mencintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joice 758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Sentuhan yang Mengguncang Dunia
Malam semakin larut, keheningan menyelimuti setiap sudut desa yang damai itu. Di dalam rumah kayu di ujung jalan, cahaya lampu minyak yang remang-remang memancarkan sinar keemasan yang lembut, menimpa lantai kayu dan menciptakan bayangan halus di dinding. Hanya suara angin yang sesekali mengetuk jendela dan detak jantung mereka berdua yang terdengar jelas di ruangan itu.
Laras duduk di tepi tempat tidur, kedua tangannya terlipat rapat di pangkuan. Ia menatap kosong ke arah pintu—besok pagi mereka akan berangkat, meninggalkan tempat yang telah memberinya perlindungan selama dua tahun ini, kembali menembus bahaya dan bayang-bayang masa lalu yang kelam. Ada rasa takut yang masih tersisa di sudut hatinya, tapi jauh lebih besar adalah rasa tenang karena tahu ia tidak akan menghadapinya sendirian.
Langkah kaki pelan mendekat. Dika duduk di sebelahnya, tak terlalu jauh namun cukup dekat hingga bahu mereka saling bersentuhan. Ia tak langsung bicara, hanya menatap wajah wanita di hadapannya dengan pandangan yang begitu lembut, seolah ingin mengingat setiap garis wajah itu selamanya. Perlahan, tangannya terulur, menyentuh pipi Laras dengan punggung jari yang kasar namun hangat, mengusapnya pelan seolah takut gadis itu akan lenyap jika ia bergerak terlalu cepat.
"Kau tak perlu berpikir soal besok sekarang," bisik Dika suaranya rendah dan berat, membelai telinga Laras lalu menyelipkan helaian rambut hitam yang berantakan ke belakang telinga. "Sekarang hanya ada kita berdua."
Kalimat itu seolah meruntuhkan sisa-sisa tembok pertahanan yang masih berdiri kokoh di hati Laras. Ia mendongak, menatap mata pria itu dalam-dalam, lalu perlahan menutup matanya saat wajah Dika semakin mendekat. Ciuman pertama itu lembut, penuh kehati-hatian, seperti menyentuh bunga yang baru mekar—menghargai setiap jengkal kepercayaan yang akhirnya berani diberikan wanita yang selama ini terbiasa menutup diri dari dunia.
Namun kelembutan itu perlahan berubah menjadi kerinduan yang mendalam, hasrat yang selama ini dipendam dan akhirnya berani meluap tanpa rasa takut lagi. Saat bibir Dika perlahan beranjak dari bibirnya, menyusuri garis dagunya yang halus, lalu bergerak turun perlahan menuju lehernya yang putih dan bersih—napas Laras langsung tersentak kencang.
Ia terengah-engah, dadanya naik turun tak beraturan, napasnya tercekat sejenak di tenggorokan. Tubuhnya yang selama bertahun-tahun terlatih untuk selalu kaku, waspada, dan siap menghadapi bahaya kini mendadak terasa lemas tak berdaya. Kedua tangannya otomatis melingkar ke leher Dika, jari-jarinya mencengkeram erat bahu pria itu, menyusup ke balik kerah bajunya seolah takut jika ia melepaskan pelukan ini, semuanya hanyalah mimpi belaka.
Rasa hangat yang menjalar dari setiap sentuhan bibir Dika di kulit lehernya membuat seluruh tubuhnya bergetar halus. Rasa geli, rasa nyaman, dan rasa dicintai yang begitu besar bercampur menjadi satu, membuat kakinya terasa tak bertenaga dan ia harus menumpukan berat badannya sepenuhnya ke dada bidang pria itu.
"Dika..." namanya lolos lirih, gemetar dan nyaris tak terdengar di antara desahan napasnya yang memburu. Matanya terpejam rapat, menahan rasa yang meluap-luap di dadanya, saat bibir pria itu kembali menempel di titik yang sama, sedikit lebih lama, membuat jantungnya berdegup makin kencang seolah mau melompat keluar dari rongga dada.
Dika mengangkat wajahnya sejenak, menatap wajah Laras yang memerah padam, keningnya berkeringat tipis, dan bibirnya yang sedikit terbuka. Ia mencium ujung hidung wanita itu, lalu menatap matanya lekat-lekat.
"Kau aman," bisiknya tepat di telinga, membuat tubuh Laras bergetar lagi. "Aku tidak akan pernah menyakitimu. Aku tidak akan pernah pergi."
Laras mengangguk pelan, menarik wajah Dika kembali mendekat, tak ingin ada jarak sedikit pun di antara mereka. Malam ini, tak ada lagi Ratu Pembunuh yang ditakuti dan diburu. Tak ada lagi luka masa lalu yang menyakitkan. Hanya ada Laras, wanita yang akhirnya berani membuka hatinya sepenuhnya, dan Dika—satu-satunya orang yang berhak memilikinya seutuhnya.
Bersambung...