NovelToon NovelToon
Residu Ingatan

Residu Ingatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Time Travel
Popularitas:355
Nilai: 5
Nama Author: yopoyoi

Layaknya residu yang menggumpal dan sudah mendangkal, sulit sekali untuk dibersihkan. Ingatan yang sangat membekas itu juga sulit sekali disingkirkan-tentang dia yang ternyata tereliminasi oleh waktu.

Arinta masih tak menyangka kejadian ini benar-benar menimpanya. Kejadian yang melemparnya kembali ke dua puluh tahun silam. Tahun dimana bibit-bibit kehancuran dari rasa damai dikeluarganya dimulai.

Kejadian yang entah bisa dibilang membawa berkah atau justru membawa bencana?


Mulai: 6 Juni 2026
Selesai:

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yopoyoi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Berkelahi

Sudah memasuki waktu istirahat, tetapi Arinta masih setia dengan buku-bukunya. Bukan, bukan untuk belajar, melainkan dijadikan bantalan untuk tidur. Saat ini, tidak ada yang lebih membahagiakan selain tidur.

Saat pandangannya menyapu sekitar, tidak ada siapa pun di sana, kecuali satu siswi perempuan yang baru datang, tergesa-gesa mengambil botol minum.

"Eh.. Yang lain pada ke mana? Kok tiba-tiba sepi?" tanya Arinta pada siswi tadi.

"Ke lapangan! Ada tontonan gratis!" jawabnya sambil sedikit berlari.

Awalnya, Arinta tidak tertarik, tetapi karena takut tiba-tiba kesurupan karena sendirian di kelas, akhirnya ia mengikuti jejak teman-temannya ke lapangan.

Ia berdecak dalam hati. Sepertinya dua oknum yang tengah menjadi pusat perhatian itu benar-benar "bulol" alias bucin tolol.

Arinta hanya memperhatikan dari jauh tanpa berniat memisahkan keduanya, Deri dan Andre. Ia tidak mau mengotori tangannya seperti cewek-cewek di novel yang menjerit-jerit untuk memisahkan keduanya sambil berderai air mata. Cuih.. Arinta tidak sudi.

Sekian lama Arinta menunggu kedatangan guru untuk memisahkan mereka, tapi sepertinya tidak ada yang melapor sama sekali. Terlihat di sana Andre sudah mulai K.O., dan Deri tengah menatap lurus ke arahnya.

Arinta tanpa banyak basa-basi langsung membelah kerumunan. Ia berjalan mendekat tanpa sepatah kata pun.

Diluar ekspektasi penonton, Arinta justru mendekat ke arah Andre yang kondisinya lumayan menyedihkan.

"Ta.." sempat-sempatnya laki-laki itu tersenyum.

"Biar kita aja," ucap segerombol anak laki-laki, Depa, Rehan dan Ipan.

Arinta membiarkan Andre dipapah teman-temannya, tapi ia masih mengikuti dari belakang. Sebelum itu, ia sempat berdiri menghadap sang pacar.

"Kita putus! Dasar bulol!" kalimat itu keluar begitu saja, persetan dengan kosakata baru yang saat itu belum dikenal.

Arinta melanjutkan langkah kakinya mengikuti Andre dan sekumpulan kawannya ke UKS.

Sementara itu, Deri sudah mengeras di tempat.

Ketiga temannya ada disana, Arinta jadi ragu untuk membantu. Tiba-tiba dadanya berdenyut nyeri, seakan mengingatkan kalau manusia di depannya ini adalah malaikat maut yang suatu saat akan merenggut nyawanya.

Hah, terobos ajalah, tanggung udah ikut masuk UKS.

"Gua bantu ya?" pinta Arinta sambil mengambil alih kotak P3K.

Teman-teman Andre saling tukar pandang, heran.

"Ini serius Arinta yang ditaksir Andre? Kok jadi gini?" bisikan itu masih terdengar jelas di telinga Arinta.

Andre hanya meringis saja, temannya itu memang rada-rada.

"Emang gara-gara apa sih?" tanya Arinta pada siapapun yang mendengarnya sambil tetap mengobati Andre.

"Apanya gara-gara apa?" sahut Depa.

"Berantemnya. Udah kayak bocah tolol," ucap Arinta datar.

Arinta bisa merasakan keterkejutan dari semua sosok yang ada di sana.

"Ternyata mulut dia lebih berandal dari kita," bisikan itu masih bisa Arinta dengar.

"Gara-gara apa?" kali ini Arinta menatap tajam ketiga cowok yang masih setia berbaris tertib di pinggir ranjang.

"Gara-gara lu deket sama Andre."

"Kenapa gitu?" tanya Arinta lagi.

"Tadi gara-gara gua yang manas-manasin dia," ucap Andre.

"Gua bilang ke dia kalau kemarin lu mampir ke rumah gua pas hujan. Udah kenalan sama emak, terus jaket gua dipinjem lu. Gua lebih unggul dari dia, eh dia malah ngamuk beneran."

Arinta hanya berdecak malas.

"Terus sekarang lu kenapa di sini? Nanti Deri ngamuk lagi.." ucap seorang teman Andre.

"Dia nggak punya hak buat ngekang gua."

"Kita udah putus barusan."

"Hah?!"

Lagi-lagi semua sosok di sana terkejut.

"Wah.. Lebih bahaya ini.." ucap Ipan.

"Bahaya kenapa?" tanya Arinta polos.

"Lu nggak tau? Mereka berdua itu musuh bebuyutan, Deri selalu nggak mau kalah dari Andre. Terus sekarang malah.." ucap mulut lemes Rehan.

Andre menatap temannya itu dengan tatapan mengancam.

"Kenapa bisa sampai jadi musuh bebuyutan gitu? Gara-gara apa?" tanya Arinta.

Ketiga teman Andre tak ada yang berani bersuara, berbarengan dengan bel masuk kelas.

"Udah masuk. Sana ke kelas, biar kita aja yang nungguin Andre," titah Depa.

Dengan tatapannya, Arinta masih menuntut penjelasan dari Andre.

Andre mengangguk saja, "nanti."

Arinta akhirnya mau beranjak dari sana, meninggalkan UKS dengan teka-teki baru.

Sampai ketika sekolah bubar, Arinta langsung bergegas mencari Andre ke UKS.

Tidak ada siapa-siapa. Sudah ia duga.

Arinta akhirnya kembali berjalan entah tujuannya ke mana, ia hanya berharap berpapasan dengan Andre atau salah satu temannya. Dan, yaps.

"Eh, lu!" panggil Arinta.

Yang dipanggil masih mematung tanpa menoleh.

"Lu yang tadi temannya Andre, kan?" tanya Arinta.

"Iya," jawabnya sambil berusaha menghindar.

"Depa.. Sekarang Andre di mana? Udah pulang?" tanya Arinta masih kekeuh mengikuti langkah lebar Depa.

Akhirnya Depa berhenti berjalan. Menatap Arinta datar.

"Iya. Dia udah pulang."

Depa sudah kembali berjalan, sedangkan Arinta masih diam di tempat. Bingung. Ia merasa Andre seperti menghindarinya.

"Oke. Gua samperin ke rumahnya!" gumam Arinta tak mau kalah.

Cuaca hari ini begitu bersahabat. Kali ini Arinta berjalan kaki ke rumah Andre. Benar! Ke rumah Andre. Ia tidak sedang bercanda tentang ini.

Warkopnya tutup. Biar sajalah. Dia kesana bukan untuk mengopi.

"Assalamualaikum! Andre!"

"Ndre!"

"Mak Edah!"

"Andre!"

Tidak ada sahutan. Namun, tak lama sosok perempuan paruh baya muncul.

"Eh, neng. Cari Andre?" tanya Mak Edah.

"Iya, mak. Ada, kan?" tanya Arinta.

"Belum pulang, neng."

Arinta mengernyit bingung.

"Tadi kata Depa udah pulang."

"Belum, neng. Emang kebiasaan tuh anak, suka ngayab dulu."

"Ah, oke. Makasih."

"Tapi saya boleh nunggu di sini kan, mak?"

"Silakan, neng."

Arinta duduk di kursi panjang itu sambil sesekali melihat ke arah jalan.

"Mau teh, air putih, atau apa, neng?" tanya Mak Edah.

"Oh, nggak usah, mak. Saya cuma mau nunggu Andre aja," jawab Arinta.

"Oh iya. Hampir lupa, ini buat bayar teh yang kemarin." Arinta menyodorkan selembar uang dua ribuan.

"Gak usah, nggak usah. Pegang aja."

Arinta berusaha membujuk, tapi Mak Edah terus menolak. Ras terkuat di bumi yang satu ini sepertinya benar-benar teguh pendirian, akhirnya Arinta menyerah juga. Biarlah nanti ia berikan diam-diam ke Andre.

Sudah hampir satu jam Arinta menunggu. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk pulang saja. Baru saja Arinta mau beranjak, suara seseorang menginterupsi dari dalam.

"Ampun, mak!"

"Berantem sama siapa lagi kamu!"

"Ini tadi jatoh."

"Jatoh dari mana? Pohon toge?! Sampai bonyok gitu?!"

Arinta ingin nyelongok untuk memastikan tebakannya benar, tapi kalimat terakhir Mak Edah membuatnya mengurungkan niat.

"Temen kamu udah nungguin dari tadi di depan! Kamu tuh kebiasaan. Kamu buat masalah apa lagi sekarang? Tadi pagi juga ada yang datang ke sini nyariin kamu, dia bilang jangan cari masalah sama dia!"

Kalimat setelahnya yang keluar dari mulut Mak Edah sudah tak bisa terdengar dengan jelas. Ia terlalu fokus untuk memikirkan apa maksud dari perkataan itu.

"Temuin dulu temen kamu itu!"

Tak lama, sosok yang Arinta tunggu sejak tadi akhirnya muncul.

Kali ini tatapan Andre terlihat sulit dibaca.

"Ndre.." satu kalimat yang muncul pertama kali dari bibir pucat Arinta.

"Ngapain lu kesini?"

Entah kenapa mulutnya kelu untuk menjawab. Ia hanya menatap Andre iba.

Sempat hening beberapa saat. Sampai akhirnya Arinta kembali bersuara.

"Ini semua gara-gara Deri, kan? Orang yang tadi pagi kesini itu pasti Deri, kan?"

"Lebih tepatnya, gara-gara lu."

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!