Ainun yang sudah berusia senja, harus mengurus Alif—cucunya—yang tingkat kenakalannya luar biasa. Beberapa kali dia dipanggil ke sekolah karena Alif membuat ulah. Meskipun begitu Ainun sangat menyayangi cucunya itu.
Hingga suatu hari datanglah murid baru dari kota yang ternyata cucu dari Malik, yang merupakan mantan kekasih Ainun. Perasaan tidak enak dan canggung pun membuat keduanya bingung harus bagaimana. Namun, tanpa disadari semua itu adalah awal dari cinta lama yang kembali hadir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon husna_az, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
"Nggak mau. Kalau Oma mau, minta saja sama opanya Fajar," ucap Alif sambil berlari meninggalkan omanya.
Dia sudah susah payah mendapatkan barang yang diinginkan, seenaknya saja omanya ingin merebutnya, tidak akan dia biarkan. Lagi pula opanya Fajar sendiri yang menawarkan dan membelikannya. Dia juga tidak meminta apa pun. Pria tua itu yang ingin memanfaatkannya, jadi Alif lebih dulu memanfaatkannya.
"Alif, berhenti kamu!" teriak Ainun. Namun, tidak dihiraukan oleh cucunya, membuat dia membuang napas kasar.
Percuma juga memaksa Alif. Dia sangat hafal bagaimana tabiat cucunya. Anak itu tidak akan pernah mau mengembalikan barang-barang yang sudah didapatkannya. Meskipun sejak kecil Alif selalu dimanja dan mendapatkan apa pun yang diinginkan, tapi anak itu tetap saja senang jika mendapatkan barang-barang gratis dari orang lain. Menurutnya barang pemberian rasanya lebih nikmat.
Sudahlah, lagi pula salah Malik sendiri yang sudah memberikannya pada Alif. Kalau nanti keluarga Malik marah, tinggal dikembalikannya saja. Kalau harus membayar lebih juga tidak masalah. Bagi Ainun asalkan cucunya tidak tersakiti semua tidak masalah.
Alif yang baru saja dan sampai di kamar segera menutup pintu dan menguncinya. Pemuda itu merasa lega, setidaknya omanya tidak mengejar, itu artinya wanita itu membiarkannya untuk memiliki barang yang dibawa seketika senyum Alif semakin lebar.
***
Siang hari saat Ainun sedang bersantai di rumah, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Wanita itu pun mengangkatnya, alangkah terkejutnya saat guru sekolah Alif yang menghubunginya dan mengatakan jika dirinya diminta untuk datang ke sekolah karena Alif kembali bertengkar dengan temannya.
Ainun kesal, kenapa cucunya selalu saja membuat ulah. Tadi sebelum berangkat sudah mewanti-wanti agar tidak bertengkar dengan temannya dan membuat ulah. Namun, ini belum satu hari sudah kembali membuat kesalahan. Wanita itu pun segera pergi dengan diantar oleh sopir.
Begitu sampai di sekolah, Ainun berjalanan menelusuri tempat guru BK di mana dirinya selalu dipanggil jika Alif membuat kerusuhan. Entah sudah berapa kali dia datang ke sini hingga sangat hafal tanpa ditujukan oleh siapa pun.
"Assalamualaikum," ucap Ainun sambil mengetuk pintu yang sudah terbuka.
Seorang guru menyambutnya dan mempersilakannya masuk. Semua guru juga sudah kenal dan hafal siapa wanita itu karena sudah beberapa kali datang. Ainun bisa melihat Fajar di sana dan dia sangat yakin jika cucunya berbuat masalah dengan anak itu.
Ainun jadi merasa tidak nyaman. Dia khawatir yang datang untuk menjadi wali Fajar nanti adalah Malik, maka sudah dipastikan kejadian kemarin akan terulang lagi. Malik pasti akan kembali mengejarnya. Jika keluarga lain yang datang akan semakin membuatnya tidak nyaman.
"Alif, kamu membuat ulah apalagi?" tanya Ainun dengan kesal.
"Dia yang mulai duluan, Oma. Aku mana mungkin diam saja jika dia membuat masalah denganku."
"Itu karena kamu sudah memanfaatkan Opa Malik. Aku tidak terima jika kamu memanfaatkannya. Dia terlalu baik."
"Aku juga nggak minta sama opa kamu. Dia sendiri yang sudah menawarkan diri."
"Tapi tidak seharusnya kamu memanfaatkannya. Kamu sudah tahu dia itu sudah tua seharusnya uangnya buat tabungan untuk masa depannya."
"Sudah, sudah, kalian ini dari tadi selalu saja bertengkar," sela seorang guru yang kemudian menatap Ainun. "Maaf, Bu Ainun, memang mereka selalu saja seperti ini. Kita tunggu wali dari Fajar dulu."
Ainun hanya mengangguk, kini dia sudah mengerti alasan mereka bertengkar, itu pasti karena barang-barang yang dibawa oleh Alif pulang kemarin. Ternyata benar apa yang dia pikirkan, keluarga Malik tidak akan bisa menerima begitu saja atas barang-barang yang sudah diberikan kepada cucunya.
Kalau keluarga besar Malik tahu, sudah pasti mereka akan sangat marah. Semoga saja barang-barang yang dibawa Alif pulang kemarin masih utuh dan bisa dikembalikan. Jika tidak, maka dirinya harus menggantinya.
Ainun tidak mempermasalahkannya juga, bahkan jika harus membayar dua kali lipat pun Ainun tidak masalah, tapi yang sekarang jadi masalah sudah pasti dirinya akan bertemu dengan Malik, lalu apa yang harus dia katakan nanti.
"Assalamualaikum, maaf saya terlambat karena tadi di jalan macet," ucap seorang wanita yang baru saja datang. Dia tidak lain adalah Laila.
"Oma!" seru Fajar membuat Ainun menoleh.
Ainun sangat terkejut saat yang datang adalah Laila. Jika Fajar memanggil 'oma' pada Laila dan 'opa' pada Malik. Apakah Malik dan Laila telah menikah, lalu bagaimana dengan Harun? Pikiran Ainun tidak fokus memikirkan temannya itu, apakah benar sudah menikah dengan mantan kekasihnya.
ceritanya baguuuuss,,, aluuuurrrnnnyyaaa aku suka bangeeettttt,,,,, 😍😍😍😍
novelnya baguuuuss,,,, alur ceritanya juga bagussss,, aku suka😍