Hari ini adalah hari ulang tahun Arla yang ke-18, dimana ia sudah dianggap dewasa dan 'matang'. Sehingga sudah saatnya ia dipanen dan dijual oleh rumah lelang ini.
Sebagai seorang gadis yang dijual oleh keluarganya sendiri, ia dirawat oleh rumah lelang ini untuk dijual kepada para laki-laki hidung belang dengan harga yang lebih mahal. Meski begitu, keluarganya sering datang dan mengatakan bahwa mereka menyesal menjualnya dan berjanji untuk membelinya kembali agar dapat pulang ke rumah dan berkumpul dengan keluarganya lagi.
Akan tetapi saat malam ulang tahunnya datang, tak ada satupun keluarga yang datang untuk menebusnya. Sehingga ia terpaksa dijual kepada laki-laki yang tidak ia kenal.
Bagaimana nasib Arla setelah dibeli oleh laki-laki itu, dan apakah ia akan berakhir menyedihkan seperti para budak nafsu yang telah mati karena kekerasan, seperti yang dialami oleh banyak gadis yang keluar dari tempat ini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Q Lembayun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa depan
Saat Arla mengagumi cincin yang ia dan Abimana kenakan, Abimana langsung mendekat ke arahnya dan tersenyum lembut.
“Apakah kamu menyukainya?”
“Iya, terlihat sangat indah.”
Mendengar persetujuan istrinya, Abimana pun tersenyum puas.
“Sebenarnya ini bukan satu-satunya hadiah yang aku persiapkan untukmu.”
“Hadiah lain?” Arla langsung terlihat khawatir dan cemas. “Kamu memberiku terlalu banyak. Aku telah dibeli olehmu dan sudah seharusnya aku mengabdikan diriku padamu. Tapi kamu memberiku terlalu banyak, dan hadiah ini tidak bisa aku balas karena aku tidak memiliki apa pun selain diriku sendiri.”
Mendengar ucapan Arla, Abimana hanya tersenyum.
“Kamu menungguku di rumah juga sebuah hadiah untukku. Jadi sudah sewajarnya aku memberikan hal yang lebih untukmu.”
Ucapan Abimana terdengar begitu merdu, sekaligus terasa menyejukkan bagi hati Arla yang telah lama hampa dan tanpa harapan. Rasanya seperti matahari yang mulai terbit, cahayanya menyinari mata dan menghangatkan tubuh. Seolah-olah harapan demi harapan boleh tumbuh tanpa rasa takut. Dan semua itu dirasakan Arla setiap kali ia mendengar suara Abimana, setiap kali ia melihat mata Abimana yang tegas namun lembut ketika menatapnya.
Sebagai seseorang yang telah lama diabaikan, Arla merasa semua ini seperti mimpi. Begitu banyak hadiah, begitu banyak perhatian, seolah semuanya hanya ilusi yang terkadang membuatnya takut sekaligus ketagihan. Kasih sayang ini begitu sederhana, namun membuat Arla tidak ingin melepaskannya. Ia ingin percaya sekali lagi bahwa dirinya mungkin diinginkan oleh orang lain. Dan kini ia membuang rasa malunya, lalu tersenyum pada Abimana. Seolah apa pun yang dipersembahkan Abimana untuknya, memang sudah seharusnya ia terima, dan itu sudah menjadi haknya.
“Kalau begitu, katakan padaku hadiah apa yang kamu siapkan?”
Abimana pun mengeluarkan sebuah lembaran dan memberikannya pada Arla.
“Ini merupakan brosur dari universitas ternama yang ada di kota ini. Lokasinya tidak jauh dari rumah, dan akreditasinya sangat memuaskan. Kamu bisa memilih fakultas dan jurusan apa pun yang kamu inginkan, dan jangan khawatir soal biaya. Aku akan menanggung semuanya untukmu.”
Arla memegang brosur itu dengan tangan sedikit bergetar. Terakhir kali ia bersekolah di sekolah umum adalah saat ia berumur sembilan tahun. Setelah itu ia dijual ke rumah lelang, dan di sana ia menjalani pendidikan secara privat.
Ini pertama kalinya Arla kembali diberi kesempatan untuk bersekolah layaknya anak normal pada umumnya.
“Tapi aku ragu pada kemampuanku sendiri. Aku sudah lama tidak bersekolah di sekolah umum, dan aku takut nilainya tidak akan lebih baik daripada mahasiswa pada umumnya.”
Abimana menatap Arla dan kembali meyakinkan gadis itu.
“Kamu sangat pintar, dan aku selalu tahu itu. Jika kamu tidak mengerti, kamu bisa mengejar ketertinggalan dengan les atau kursus lainnya. Selama kamu berusaha dan disiplin, semua usahamu akan mendapatkan hasil maksimal. Semua bergantung pada kemauanmu.”
“Tapi...”
“Arla. Menjadi pintar itu tidak mudah dan juga tidak gratis. Kepintaran membuat hidup menjadi lebih mudah dan pilihan menjadi lebih banyak. Hari ini kamu mungkin merasa cukup, tapi suatu saat pendidikan dan kepintaranmu bisa kamu gunakan di masa depan. Kamu jauh lebih muda dariku, dan masa depanmu masih panjang. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, dan mungkin suatu saat ketika aku sudah terlalu tua dan tidak sanggup lagi menghidupi mu, kamu masih bisa tetap hidup tanpa harus berpangku tangan pada orang lain.”
Arla terdiam sejenak. Ia memahami apa yang dikatakan Abimana dengan sangat baik, tetapi di sisi lain, ia sudah terlalu terbiasa menggantungkan hidup pada orang lain. Saat kecil, ia menggantungkan harapan kepada orang tuanya, dan percaya bahwa cinta mereka begitu besar hingga dapat membebaskannya dari belenggu sebagai seorang anak yang dinilai dengan uang.
Saat beranjak remaja, ia berpikir bahwa ia cukup kuat untuk membantu keluarganya dengan memberikan uang agar mereka bisa hidup layak, dan ketika itu tercapai, ia bisa pulang tanpa cemas tentang masa depan.
Arla tidak pernah berpikir bahwa suatu hari ia akan diberi kesempatan untuk menjadi mandiri dan berdiri di atas kakinya sendiri.
Ia menatap Abimana, seolah pria itu adalah utusan Tuhan yang membawa kebahagiaan yang telah lama ia tunggu. Matanya mulai memerah, dan air matanya pun mengalir.
“Ini terlalu banyak... dan kamu terlalu baik padaku.”
Melihat mata Arla yang memerah, hati Abimana terasa seperti tertusuk. Seorang gadis berusia 18 tahun menangis haru hanya karena diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan—sesuatu yang seharusnya sudah menjadi hal biasa baginya.
Pendidikan bukanlah sesuatu yang perlu Abimana perjuangkan sejak kecil, karena baginya itu adalah kewajiban yang pasti diberikan oleh keluarganya. Namun bagi Arla, itu adalah sesuatu yang istimewa, seperti harta karun yang tiba-tiba diletakkan di hadapannya.
Abimana tersenyum, lalu menghapus air mata itu dengan lembut. Tatapannya hangat, seolah mengatakan bahwa Arla memang pantas mendapatkannya.
Arla pun memeluk Abimana sambil menangis haru. Ia tidak pernah menyangka bahwa suatu hari ia akan mengenakan cincin berlian yang bersinar seperti bintang. Sejak kecil, ia telah diperlakukan sebagai seseorang yang bahkan tidak lebih berharga dari perhiasan apa pun.
Saat Arla menangis, Abimana merasa dadanya sesak. Ia tidak tahan mendengar lebih banyak lagi. Ia memeluk Arla lebih erat, lalu berbisik pelan dengan senyum yang sedikit menggoda.
“Belajarlah dengan rajin dan carilah jurusan yang bisa menghasilkan uang banyak. Jadi kalau suatu saat nanti aku pensiun dari profesi dokter, kamu bisa menghidupiku dengan layak. Aku sudah lelah menghadapi pasien yang tidak masuk akal, dan aku juga lelah begadang setiap malam. Aku ingin pensiun cepat, jadi Arla, aku mohon cepatlah kaya.”
Mendengar itu, Arla langsung tertawa. Hatinya terasa hangat, lalu ia membalas dengan senyum yang tak kalah menggoda.
“Tenang saja, suamiku. Ketika kamu tua nanti, aku akan menghidupi mu dengan uang yang aku hasilkan. Aku akan menjadi kaya dan membiarkanmu tidur dan bersantai di rumah. Tidak akan ada yang berani memarahi mu karena menjadi laki-laki mokondo...”
“Mokondo?” ucap Abimana kaget.
“Iya, aku dengar laki-laki yang tidak punya pekerjaan dan hanya berdiam diri di rumah disebut mokondo. Apakah kamu keberatan?”
“Benarkah? Kalau begitu aku mau jadi mokondo.”