NovelToon NovelToon
Ceo'S Plus Size Wife

Ceo'S Plus Size Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Sejak kematian istrinya, Darren, seorang CEO kaya raya, hidup dalam kesepian. Bukannya mendapat dukungan, ia justru dimanfaatkan oleh ketiga anaknya yang hanya peduli pada harta warisan. Saat mencari ketenangan di taman, hidupnya berubah ketika bertemu Jihan, gadis baik hati yang baru saja dihina dan ditinggalkan kekasihnya karena penampilannya.
Ketika Darren tiba-tiba terkena serangan jantung, Jihan tanpa ragu menolongnya dan bahkan menghabiskan tabungan terakhirnya untuk biaya rumah sakit. Ketulusan Jihan menyentuh hati Darren hingga ia melamar gadis itu sebagai bentuk rasa terima kasih dan kekaguman.
Akankah Jihan menerima lamaran pria kaya yang jauh lebih tua darinya? Dan mampukah mereka menghadapi amarah anak-anak Darren yang merasa posisi mereka terancam oleh kehadiran calon ibu tiri yang tak pernah mereka bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Di belahan bumi lain, di dalam ruangan Intensive Care Unit (ICU) rumah sakit privat Toronto, keheningan yang mencekam kembali menyelimuti suasana.

Operasi darurat pengangkatan sebagian jaringan lemak yang rusak dan reposisi tulang kaki Jihan sebenarnya telah selesai dilakukan oleh tim dokter bedah terbaik. Namun, takdir tampaknya masih ingin menguji ketangguhan wanita berhati malaikat itu.

Di tengah-tengah proses penjahitan akhir di ruang operasi, Jihan sempat mengalami komplikasi fatal berupa cardiac arrest atau terhentinya detak jantung secara mendadak akibat syok kardiogenik sekunder.

Tim medis harus berjuang mati-matian melakukan resusitasi jantung (CPR) dan memberikan kejutan listrik berulang kali hingga akhirnya detak jantung Jihan berhasil kembali, meskipun sangat lemah.

Akibat guncangan hebat tersebut, Jihan kini belum juga sadarkan diri dan jatuh ke dalam kondisi koma.

Dengan kesabaran yang luar biasa, Deacon duduk setia di samping ranjang ruang perawatan intensif itu.

Mantan perwira polisi itu menatap lurus ke arah wajah pucat Jihan yang kini dipasangi masker ventilator mekanis, alat yang kini sepenuhnya mengambil alih fungsi napasnya.

Bunyi bip dari bedside monitor yang memantau grafik jantung Jihan menjadi satu-satunya suara yang memecah kesunyian malam di Toronto.

Jemari kekar Deacon sesekali bergerak merapikan selimut tebal yang membungkus tubuh Jihan, memastikan wanita itu mendapatkan kehangatan terbaik di tengah masa kritisnya.

"Kamu sudah berjuang sejauh ini, Jihan. Jangan menyerah sekarang. Aku akan tetap di sini menjagamu," bisik Deacon lirih dengan suara baritonnya yang sarat akan ketegasan sekaligus kekhawatiran yang mendalam.

Fokus Deacon saat ini sepenuhnya tersita oleh kondisi hidup dan mati Jihan di hadapannya.

Laptop militernya yang berisi data pembajakan ponsel keluarga Bramantyo masih tergeletak tertutup di atas meja kecil di sudut ruangan.

Karena rentetan komplikasi medis yang menimpa Jihan pasca-operasi, Deacon masih belum sempat memeriksa kembali pergerakan sinyal GPS atau aktivitas terbaru dari Jakarta.

Ia sama sekali belum mengetahui dinamika tragis yang baru saja terjadi di Indonesia—bahwa Darren telah kehilangan kewarasannya akibat syok berat, dan bahwa pria paruh baya itu bersama Angela kini telah diusir secara kejam oleh Andre dan Riko ke jalanan di tengah hujan deras, hingga akhirnya mereka berdua terpaksa menumpang dan mengungsi di rumah sederhana milik Jonas.

Bagi Deacon, dunia luar seolah berhenti berputar. Prioritas utamanya hanyalah melihat sepasang mata Jihan kembali terbuka dan memastikan detak jantung wanita itu tidak lagi berhenti berdegup.

Namun, ia tidak tahu bahwa badai di Jakarta telah memporak-porandakan sisa keluarga Bramantyo, bersiap menyambut kepulangannya nanti sebagai pembawa keadilan.

Suasana di ruang ICU yang semula hanya diisi oleh detak mesin monitor tiba-tiba berubah tegang namun penuh harapan.

Di tengah keheningan pagi itu, Deacon yang sedang terduduk lesu di samping ranjang melihat sesuatu yang membuat napasnya tertahan.

Jari telunjuk Jihan di tangan kirinya tampak bergerak kecil.

Bukan sekadar kejang otot, melainkan sebuah gerakan yang disadari.

"Dokter! Dokter!!" teriak Deacon dengan suara parau namun antusias, langsung bangkit berdiri dan memanggil tim medis jaga.

Dalam hitungan detik, seorang dokter spesialis saraf masuk ke dalam ruangan diikuti oleh dua perawat.

Deacon menyingkir ke sisi ruangan, matanya terpaku pada sosok wanita yang dicintainya itu.

Perlahan namun pasti, Jihan mulai mengerang pelan.

Kelopak matanya yang sempat tertutup rapat selama berhari-hari akhirnya bergetar, lalu terbuka secara perlahan, menyesuaikan diri dengan cahaya lampu ruangan.

Dokter dengan sigap mengambil senter kecil dari sakunya.

Ia mengarahkan cahaya lampu tersebut ke kedua bola mata Jihan untuk memeriksa respons pupil, kemudian menanyakan beberapa instruksi sederhana. Jihan merespons dengan lirih namun akurat.

Setelah memastikan Jihan benar-benar sadar sepenuhnya, dokter melepas ventilator yang selama ini membantu pernapasan wanita itu.

Jihan mulai menghirup udara secara mandiri, meski dadanya masih terasa sedikit sesak.

Namun, saat Jihan mencoba menggerakkan tangannya ke atas dada dan meraba lengannya yang kini terasa jauh lebih ramping, sebuah ekspresi kebingungan tampak di wajahnya.

Ia merasakan tubuhnya yang sangat berbeda—lebih ringan, lebih ringkas, dan kulitnya tampak jauh lebih bersih serta bercahaya.

Efek dari operasi pengangkatan jaringan lemak darurat yang dilakukan tim dokter Kanada benar-benar mengubah siluet tubuhnya secara drastis.

Jihan menatap tangan dan kakinya yang kini tampak proporsional, lalu menoleh ke arah Deacon dengan tatapan yang penuh tanda tanya besar.

"Di mana, tubuh gemukku?" tanya Jihan dengan suara yang masih parau, namun intonasi suaranya terdengar jauh lebih jernih dan berenergi.

"Deacon, apa yang terjadi padaku? Kenapa aku merasa sangat berbeda?"

Deacon melangkah maju, menggenggam tangan Jihan dengan hangat.

Matanya berkaca-kaca melihat Jihan kini bertransformasi menjadi sosok wanita yang terlihat jauh lebih cantik, sehat, dan memukau dibandingkan Jihan yang ia kenal di Jakarta.

"Kamu sudah melalui prosedur medis yang sangat berat, Jihan," ucap Deacon dengan senyuman yang paling tulus yang pernah ia tunjukkan.

"Dokter terpaksa melakukan operasi darurat untuk menyelamatkan nyawamu. Tubuhmu sekarang adalah hasil dari perjuanganmu untuk bertahan hidup."

Jihan memandangi cermin kecil yang diletakkan perawat di meja samping ranjang.

Ia terkesiap melihat pantulan dirinya sendiri. Wajahnya yang bulat kini memiliki garis rahang yang tegas, dan tubuhnya yang dulu besar kini tampak ramping dan anggun.

Transformasi ini bukan sekadar fisik, tetapi seolah sebuah simbol bahwa masa lalunya yang kelam telah ditinggalkan di dasar jurang itu.

Jihan menatap pantulan dirinya di cermin kecil itu dengan mata yang membelalak tidak percaya.

Jari-jarinya yang kini lentik meraba pipinya yang tirus, tulang selangkangannya yang kini menonjol indah, dan seluruh siluet tubuh barunya yang tampak begitu sempurna.

"Wajahku, seperti Cinderella?" bisik Jihan terbata-bata.

Rasa terkejut yang luar biasa besar bercampur dengan memori kecelakaan maut, rasa sakit di kakinya, dan kerinduan mendalam pada Darren mendadak menghantam dinding kesadarannya sekaligus.

Otak Jihan yang belum pulih benar dari koma tidak mampu menahan lonjakan emosi dan syok yang bertubi-tubi itu.

Pandangannya seketika menggelap, tangannya terkulai lemas menjatuhkan cermin, dan Jihan langsung jatuh pingsan kembali di atas bantalnya.

"Jihan!!" pekik Deacon panik.

Jantung mantan polisi itu serasa copot. Ia langsung menyergap maju, menahan tubuh Jihan yang mendadak lunglai.

Dokter dan perawat yang masih berada di ruangan dengan cekatan langsung mengambil alih situasi.

Mereka memasang kembali alat pemantau tanda-tanda vital dan memeriksa denyut nadi serta refleks mata Jihan dengan teliti.

Bunyi mesin bedside monitor kembali berbunyi teratur, menunjukkan angka grafik yang tidak terlalu mengkhawatirkan.

Setelah melakukan pemeriksaan menyeluruh selama beberapa menit, dokter bedah itu berbalik menatap Deacon yang berdiri tegang dengan wajah pucat pasi di sudut ruangan.

Dokter itu tersenyum tipis untuk menenangkan Deacon.

"Tenang saja, Tuan Deacon. Ibu Jihan hanya pingsan sesaat karena syok emosional yang terlalu masif (vasovagal syncope).

Kondisi fisiknya, detak jantung, dan tekanan darahnya pasca-operasi secara keseluruhan masih sangat stabil.

Tubuhnya hanya membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan perubahan besar ini.

Biarkan beliau beristirahat secara alami sekarang."

Deacon mengembuskan napas lega yang teramat panjang, mengusap wajahnya yang tegang dengan kedua telapak tangannya.

Meskipun Jihan kembali terpejam, Deacon tahu bahwa wanita itu kini telah terlahir kembali sebagai sosok yang baru—siap untuk menghadapi dunia yang telah menghancurkannya.

Beberapa jam berlalu dengan tenang. Ketika matahari Toronto mulai bergeser ke arah barat, Jihan perlahan-lahan membuka matanya kembali. Kali ini, tidak ada kepanikan atau syok yang dramatis.

Kesadarannya telah kembali utuh, dan tubuhnya terasa jauh lebih relaks, meskipun rasa nyeri di kaki kanannya yang digips masih sesekali berdenyut.

Deacon, yang setumpuk kekhawatirannya kini mulai mengikis, segera menegakkan tubuh dari kursinya.

Ia menyodorkan segelas air putih hangat dengan sedotan ke bibir Jihan.

"Minum sedikit-sedikit, Jihan," ucap Deacon lembut.

Jihan meminumnya perlahan, membasahi tenggorokannya yang kering.

Setelah merasa lebih baik, ia menatap Deacon dengan sorot mata yang penuh kerinduan sekaligus kecemasan yang mendalam.

Pikiran pertamanya masih tertambat pada satu nama.

"Deacon, bagaimana kabar Mas Darren?" tanya Jihan dengan suara yang masih lirih.

"Apakah dia mencariku? Apa dia baik-baik saja di Jakarta?"

Deacon menghela napas panjang. Wajah bulenya berubah menjadi sangat serius dan dingin.

Ia meletakkan gelas itu, lalu meraih laptop militer berenkripsi khusus yang sejak tadi menyala di atas meja kecil.

"Aku masih belum tahu kabar terbaru tentang kondisi fisik Darren saat ini, Jihan," jawab Deacon dengan jujur, karena ia memang belum menyadap pembaruan situasi domestik di rumah Jonas.

"Tapi, yang aku tahu pasti adalah tentang hal ini. Kamu harus melihatnya sendiri."

Deacon memutar posisi laptopnya, menghadapkan layar datar itu tepat ke hadapan Jihan.

Di sana, sebuah dokumen digital berlogo bank internasional terhampar jelas, lengkap dengan grafik analitik forensik yang telah disusun oleh Deacon.

"Mas Darren cemburu karena foto-foto itu, kan? Itu bukan kecelakaan atau kebetulan, Jihan," ucap Deacon, suaranya terdengar setajam pisau.

"Lihat ini. Ini adalah laporan mutasi perbankan di Indonesia. Tepat satu jam sebelum kecelakaanmu, Albert—mantan kekasihmu itu—mencairkan cek dalam jumlah yang sangat besar."

Jihan mengerutkan dahinya, mencoba membaca baris demi baris angka dan nama yang tertera di sana.

"Albert mencairkan cek? Dari siapa?"

Deacon mengetuk layar laptopnya dengan ujung jari telunjuknya.

"Cek itu dikirim dan ditandatangani oleh Andre dan Riko. Dua anak tiri yang selama ini sangat membencimu."

Jihan membekap mulutnya sendiri dengan tangan yang gemetar.

Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya, namun kali ini bukan karena sedih, melainkan karena rasa tidak percaya atas kekejaman yang begitu terencana.

"Mereka membayar Albert untuk menjebakmu dengan foto-foto lama itu, memprovokasi Darren agar cemburu buta, dan memastikan mobil yang kamu tumpangi berakhir di dasar tebing," jelas Deacon tanpa menyembunyikan satu fakta pun.

"Kamu dikorbankan, Jihan. Dan mereka melakukan semua ini demi menguasai seluruh harta dan saham Bramantyo Corporation."

Jihan menatap nanar barisan angka di layar laptop Deacon.

Kebenaran ini menghantam dadanya begitu sesak.

Di saat ia mempertaruhkan nyawa dan jiwanya untuk menjadi istri yang baik bagi Darren, di saat itu pula anak-anak tiri yang selalu ia perlakukan dengan lembut justru sedang menenun kain kafan untuknya.

1
sri hastuti
punya anak2 laki2 biadab semuanya thor, jangan dikasih harta, biar tau rasa ,pengrn tak bikin mati aja 2 anak itu 😡😡😡
my name is pho: iya kak
total 1 replies
falea sezi
gugat cerai aja deh laki bego
falea sezi
laki goblok😒 g tau diri
sri hastuti
jd anak kok durhaka spt itu thor, pengen tak lenyap o aja 2 anak gak tau diri itu, atau semua hartanya jangan dikasih, kasih ke panti aja,biar tau rasa 😡😡😡😡
Vie
hadir kak.... 👍👍👍
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!