Diselingkuhi saat hamil besar, ia hampir kehilangan segalanya, termasuk anak yang belum sempat ia peluk.
Di titik terendah hidupnya, seorang pria asing menyelamatkannya.
Berbahaya. Dingin. Dan tidak pernah memberi tanpa imbalan.
Satu syarat.
Satu ikatan yang tak bisa ia tolak.
Demi bertahan… demi anaknya, ia menerima.
Lima tahun berlalu.
Hidup yang ia bangun perlahan terasa utuh, hingga masa lalu datang kembali, menuntut apa yang dulu ia abaikan.
Namun kali ini, ia bukan wanita yang sama.
Dan pria di sisinya…
bukan seseorang yang bisa disentuh tanpa konsekuensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
“Kau akan segera tahu, aku akan pastikan bahwa statusmu akan lebih tinggi dari mereka,” jawab Lucien dengan nada rendah penuh keyakinan.
Alyssa menoleh pelan ke arah pria itu. Tatapannya dipenuhi kebingungan, tetapi Lucien tidak menjelaskan apa pun lagi. Pria itu hanya tersenyum samar sambil memandang keluar jendela mobil.
Keesokan harinya.
Mansion mewah milik keluarga Fan tampak megah seperti biasa. Para pelayan hilir mudik sejak pagi karena seluruh keluarga utama akan berkumpul hari itu.
Tak lama kemudian, sebuah taksi berhenti di depan halaman mansion.
Pintu mobil terbuka perlahan. Alyssa turun dengan hati-hati sambil menopang pinggangnya yang mulai terasa nyeri karena usia kandungannya semakin besar.
Ia mengangkat wajahnya menatap bangunan besar di depannya. Tatapannya tenang. Tidak ada lagi rasa gugup seperti biasanya.
Di dalam ruang tamu, Kakek Mike Fan duduk di sofa utama sambil memegang tongkatnya. Jean duduk di samping putranya dengan wajah dingin. Sementara Darius terlihat sibuk memainkan ponselnya sebelum akhirnya mengangkat kepala saat Alyssa masuk.
“Kakek, Ma,” sapa Alyssa pelan sambil berjalan mendekat.
Kakek Fan mengangguk kecil. Pria tua itu masih memperlihatkan senyum tipis pada cucu menantunya.
“Hanya seorang menantu saja berani membuat kami menunggumu. Tidak sadar diri,” sindir Jean sambil melipat kedua tangannya di dada.
Nada suaranya tajam sejak awal. Tatapannya juga penuh ketidaksukaan.
Alyssa berhenti beberapa langkah dari sofa. Ia menarik napas pelan sebelum menjawab dengan tenang.
“Ma, aku harus menunggu taksi datang. Saat ini aku tidak bisa menyetir lagi,” jawab Alyssa sambil menyentuh pinggangnya perlahan.
Jean langsung mendecakkan lidah tidak suka.
“Hanya hamil saja, semua wanita juga bisa. Apa yang perlu diperbesar?” katanya dingin.
Ucapan itu membuat suasana ruang tamu terasa tidak nyaman.
Darius yang duduk di samping ibunya ikut mengangkat kepala. Pria itu menatap Alyssa dengan wajah tidak senang.
“Alyssa, bagaimana pun kau yang salah,” ucap Darius tegas. “Seharusnya kau tiba tepat waktu, bukannya membiarkan kami menunggumu.” Ia berdiri dari sofa lalu menatap Alyssa tajam. “Cepat minta maaf sama Kakek dan Mama!”
Alyssa belum sempat menjawab ketika suara berat Mike terdengar dari arah sofa utama.
“Alyssa sudah hamil besar, kenapa kau tidak menjemputnya malah duduk di sini dari dua jam lalu?” tanya Mike sambil mengernyitkan alis.
Darius langsung terdiam sesaat.
Jean buru-buru membuka suara sebelum putranya menjawab.
“Pa, Darius adalah penerus keluarga Fan,” katanya cepat. “Tidak semestinya dia melakukan semuanya.”
Tatapannya langsung beralih sinis pada Alyssa. “Justru sebagai seorang istri harus bisa sadar diri. Jangan selalu menyusahkan suami.”
Alyssa perlahan mengangkat wajahnya. Tatapannya kali ini tidak lagi setunduk biasanya.
“Ma, ucapan Mama salah besar,” jawab Alyssa tenang. “Seorang suami kalau setelah menikah bahkan tidak bisa menjaga istrinya, apakah masih layak disebut sebagai suami?”
Deg.
Wajah Jean langsung berubah.
“Alyssa, berani sekali kau melawan Mama!” bentak Darius sambil melangkah maju.
Alyssa menatap suaminya tanpa takut sedikit pun.
“Kenapa? Apa aku salah bicara?” tanyanya pelan. “Kalau sebagai suami kau tidak bisa menghargai istrimu, lalu untuk apa kau menikah denganku?” Tangannya perlahan menyentuh perutnya. “Jangan lupa, dalam kandunganku adalah darah dagingmu.” Tatapannya berubah dingin. “Seharusnya kau lebih memperhatikanku, bukan hanya tahu menyalahkanku.”
Darius mengepalkan tangannya erat. Wajah pria itu mulai terlihat kesal.
“Diam, Alyssa!” seru Jean dengan nada tinggi. “Kau tidak berhak memarahi suamimu.” Jean menatap Alyssa penuh hinaan. “Dia yang membiayai hidupmu selama ini.”
Alyssa tersenyum tipis penuh ironi.
“Itu adalah tanggung jawabnya, Ma,” jawab Alyssa perlahan. “Tidak ada salahnya dia memberiku makan dan tempat tinggal.” Tatapannya beralih pada Darius. “Karena sebelum menikah… dia juga telah banyak meminta uang dariku.”
Deg.
Ucapan itu langsung membuat Jean dan Darius menegang.
“Apa yang aku dapatkan setelah menikah…” lanjut Alyssa pelan, “tidak sebanding dengan apa yang sudah aku berikan.”
“Alyssa Liu, kau bisa tinggal di rumah mewah dan menikmati hidup mewah, apa kau tidak sadar?” ujar Darius dengan nada tinggi. Pria itu menatap Alyssa tajam seolah semua kesalahan ada pada wanita itu.
“Semua ini aku yang berikan padamu.”
Alyssa tertawa kecil. Tawanya terdengar pahit.
“Hanya tempat tinggal dan makan, lalu kau merasa dirimu hebat?” tanyanya pelan sambil menatap Darius lurus. “Semua pria di luar sana juga bisa melakukan itu untuk istrinya.”
Suaranya mulai terdengar lebih dingin.
“Sejak aku hamil anakmu… apa kau pernah merawatku?” Tatapan Alyssa perlahan berubah merah karena menahan kecewa. “Di saat kakiku sakit, apa kau peduli?” “Di saat aku muntah-muntah tengah malam, apa kau pernah menemaniku?” “Bahkan saat aku kesulitan berjalan, kau tetap sibuk dengan kesenanganmu."
Deg.
Ekspresi Darius langsung berubah.
“Semua wanita juga merasakan itu,” sela Jean dengan nada meremehkan. “Kau adalah menantu keluarga Fan.” Jean menyilangkan kedua tangannya di dada. “Sudah menjadi tanggung jawabmu memberikan penerus untuk suamimu.”
Alyssa menoleh perlahan ke arah ibu mertuanya. Sorot matanya dipenuhi rasa kecewa.
“Kalau hanya demi anak…” ucap Alyssa lirih, “kenapa tidak menikahi wanita lain saja?” Napasnya terasa berat. “Kenapa harus aku?”
Ruangan mendadak sunyi.
“Tidak ada yang harus aku banggakan menjadi istrinya,” lanjut Alyssa sambil menatap Darius penuh luka.
“Alyssa, cukup!” teriak Darius marah.
Suara bentakannya menggema di ruang tamu.
Alyssa refleks memegang perutnya karena terkejut. Wajahnya sedikit memucat.
Brak!
Mike tiba-tiba membanting tongkatnya ke lantai hingga semua orang tersentak.
“Diam!” bentak pria tua itu penuh amarah.
Tatapannya langsung tertuju pada Jean dan Darius.
“Jean, Darius, apakah kalian tidak punya hati sama sekali?” Suara Mike terdengar berat dan penuh tekanan. “Sejak Alyssa masuk, dia bahkan belum duduk, kalian sudah terus menyalahkannya.”
Jean langsung menunduk sedikit. Wajahnya terlihat tidak nyaman.
Mike kembali menatap Darius tajam.
“Kau juga sebagai suami tidak becus!” bentaknya keras. “Apa kau tidak tahu membiarkan istrimu yang sedang hamil besar pergi sendirian sangat berbahaya?”
Darius mengepalkan tangannya erat. “Kakek, aku hanya—”
“Tutupi mulutmu!” potong Mike marah. “Selama ini aku terlalu memanjakanmu sampai kau bahkan tidak tahu cara memperlakukan istrimu sendiri!”
“Hebat sekali keluarga Fan,” terdengar suara pria dingin dari lantai atas. “Ada mertua yang hanya tahu bersikap egois dan suami yang tidak bisa diandalkan.” Langkah kaki perlahan menggema di dalam mansion mewah itu. “Kalau semua ini tersebar keluar… bukankah sangat memalukan?”
Deg.
Semua orang langsung menoleh bersamaan ke arah tangga utama.
Seorang pria tinggi berjalan turun dengan langkah tenang. Setelan hitam mahal membalut tubuhnya dengan sempurna. Aura dingin dan menekan langsung memenuhi ruangan hanya karena kehadirannya.
Lucien Fan.
Tatapan Alyssa langsung membulat besar. Wanita itu menatap pria tersebut dengan wajah penuh keterkejutan.
Pria itu… adalah orang yang baru melamarnya tiga hari lalu.
ayooooo