Mikayla tidak hanya dikhianati.
Ia dihancurkan.
Dipaksa menikah menggantikan kakaknya, lalu dikhianati oleh suaminya sendiri bersama wanita yang seharusnya ia lindungi. Lebih kejam lagi, keluarganya sendiri merampas masa depannya membuatnya kehilangan satu hal yang paling berharga bagi seorang wanita.
Setiap hari diberi obat agar tidak bisa mengandung, Rahimnya dibuat tidak berfungsi, Namun mereka lupa satu hal, wanita yang mereka hancurkan tidak benar-benar mati.
Dua tahun kemudian, ia kembali dengan identitas baru sebagai Michelle Ad Lynne lebih cerdas, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Dengan kekuatan finansial triliunan dan kecerdasan yang terasah, ia tidak datang untuk meminta keadilan.
Ia datang untuk menghancurkan.
Sedikit demi sedikit, segala yang dia bangun mulai runtuh tanpa peringatan. Tanpa ampun, kenyataan itu menghantamnya keras seperti pisau yang terus-menerus menebas luka lama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Rasya hanya bisa terdiam, terus mengusap air matanya. Ia tahu Mikayla yang dulu telah pergi, tapi ia bersumpah akan tetap menjaga Mikayla yang sekarang—si wanita tangguh yang lahir dari pengkhianatan yang paling keji. Liburan keluarga di Bali mungkin sedang mencapai puncaknya, namun di sebuah sudut tersembunyi di Jakarta, seorang ratu sedang menyiapkan takhtanya di atas reruntuhan masa lalu.
Ibu rasya mengirim pada rasya agar terus menemani mikayla, mereka khawatir jika mikayla akan nekat dan mengakhiri hidupnya, mikayla telah bekerja keras menopang kehidupan kedua orangtuanya yang memang hanya orang biasa, bukan pengusaha, sedangkan suaminya memang pengusaha.
Pesan singkat dari ibunya masuk ke ponsel Rasya, sebuah peringatan penuh kekhawatiran: "Rasya, tolong jangan tinggalkan Mika sedetik pun. Ibu takut dia nekat. Anak itu sudah terlalu banyak berkorban. Dia yang banting tulang membiayai adik-adiknya dan menopang hidup orang tuanya sejak dulu, tapi kenapa mereka tega membuangnya demi Naura?"
Rasya meremas ponselnya, matanya kembali berkaca-kaca menatap punggung Mikayla yang kini tampak begitu rapuh namun keras seperti batu karang.
Memang benar, sebelum menikah dengan Elang, Mikayla adalah tulang punggung keluarga. Meski orang tuanya hanya orang biasa, Mikayla-lah yang memastikan dapur mereka tetap mengepul dan martabat keluarga terjaga dengan kerja kerasnya di bank dan bisnis sampingannya.
Namun, begitu Elang si pengusaha kaya masuk ke dalam hidupnya, keluarga Mikayla seolah buta. Mereka memuja Elang karena hartanya, dan kini mereka memuja Naura karena dianggap sebagai "korban" yang lebih layak disayangi
Mikayla menoleh pelan, menyadari tatapan cemas Rasya yang tak lepas darinya. Ia meletakkan gelasnya, lalu tersenyum tipis—kali ini senyum yang penuh dengan sarkasme.
"Ibumu takut aku bunuh diri, Ras?" tanya Mikayla, suaranya terdengar dingin namun jernih. "Katakan padanya, aku tidak sebodoh itu. Mengapa aku harus mengakhiri hidupku sementara mereka masih bernapas lega menikmati uang dan pengkhianatan mereka?"
Mikayla berdiri, berjalan menuju jendela apartemen yang menampilkan gemerlap lampu Jakarta.
"Dulu, aku memberikan segalanya untuk orang tuaku. Gaji pertamaku, bonus tahunanku, bahkan saat Elang memberiku uang bulanan yang besar, sebagian besar lari ke kantong mereka agar mereka bisa hidup mewah," lanjut Mikayla, jemarinya mengusap kaca jendela yang dingin. "Dan sekarang aku sadar... aku hanya dianggap mesin uang. Begitu Naura bangun, mesin ini tidak lagi dibutuhkan karena Elang sudah menjanjikan 'surga' yang lebih besar untuk mereka melalui Naura.”
"Jika mereka ingin merayakan pertunangan di Bali dengan uang Elang, silakan," desis Mikayla. "Tapi mulai detik ini, satu rupiah pun dari keringatku tidak akan menyentuh tangan mereka lagi. Mari kita lihat, berapa lama Elang mau membiayai keluarga besar yang tidak berguna itu jika bisnisnya mulai goyah.”
Janji Rasya
Rasya mendekat, menggenggam bahu Mikayla. "Aku lega mendengarmu bicara begitu. Ibu dan Ayahku benar-benar cemas, Mika. Mereka tahu betapa tulusnya kamu dulu."
"Ketulusanku sudah habis, Ras. Habis bersama pil-pil KB itu," Mikayla menatap Rasya dengan mata yang kini berkilat penuh tekad. "Bantu aku satu hal lagi. Aku butuh data lengkap tentang semua utang pribadi yang dimiliki ayahku. Aku tahu dia sempat meminjam uang besar untuk berjudi saham beberapa bulan lalu. Aku ingin membeli surat utang itu melalui pihak ketiga.”
Rasya tertegun. Mikayla benar-benar sedang mengepung keluarganya sendiri dari segala arah. Bukan untuk membunuh mereka secara fisik, tapi untuk mencabut semua kenyamanan yang selama ini mereka nikmati dari hasil memeras keringatnya.
"Aku akan mencarinya lewat koneksi Ayah," jawab Rasya mantap. "Kita akan pastikan saat mereka pulang dari Bali, mereka tidak punya tempat untuk bersandar selain pada Elang... yang sebentar lagi juga akan kita buat tumbang."
Malam itu, di apartemen kecil itu, kesedihan perlahan berganti menjadi strategi perang yang sistematis. Mikayla tidak akan mati. Ia akan tetap hidup untuk menyaksikan satu per satu orang yang mengkhianatinya jatuh merangkak di bawah kakinya.
__________
Flashback
Lima tahun lalu, sebuah gazebo kecil di sudut taman belakang rumah mereka menjadi saksi bisu janji yang terdengar begitu sakral. Udara Bogor yang sejuk membalut mereka berdua. Elang duduk di samping Mikayla, menggenggam tangannya seolah wanita itu adalah porselen paling rapuh di dunia.
"Mika," bisik Elang saat itu, suaranya berat dan penuh emosi. "Terima kasih sudah mau menerimaku. Aku tahu aku bukan laki-laki sempurna, tapi aku berjanji... aku akan menjadikanmu wanita paling bahagia. Aku akan melindungimu dari apa pun."
Mikayla yang saat itu masih mengenakan hijab putih bersih merona malu. Ia percaya. Sangat percaya.
Momen-Momen "Manis" yang Menipu
Sakit di Tengah Malam:
Teringat saat Mikayla jatuh sakit karena kelelahan mengurus rumah dan pekerjaan kantor di tahun pertama. Elang tidak tidur semalaman. Pria itu mengompres dahi Mikayla, menyuapinya bubur buatan sendiri yang rasanya hambar, dan terus membisikkan doa di telinganya.
"Cepat sembuh, Sayang. Kalau kamu sakit, separuh jiwaku rasanya hilang," ucap Elang saat itu sambil mengecup keningnya lama.
Kejutan-Kejutan Kecil:
Elang sering pulang membawa setangkai bunga lili kesukaan Mikayla atau sekadar cokelat kesukaannya. Ia akan memeluk Mikayla dari belakang saat Mikayla sedang memasak, menyandarkan dagunya di bahu sang istri.
"Mas, aku lagi masak, nanti kena minyak," protes Mikayla kecil.
"Biarin. Aku cuma mau bilang kalau aku beruntung punya istri sehebat kamu," jawab Elang manja.
Harapan Tentang Buah Hati:
Setiap kali mereka melewati toko baju bayi, Elang selalu berhenti. Ia akan menatap sepatu bayi yang kecil dengan binar mata yang tampak sangat tulus.
"Nanti kalau kita punya anak, aku mau dia mirip kamu, Mika. Pintar, sabar, dan cantik. Aku akan buatkan kamar paling bagus untuknya," ujar Elang penuh harap.
Janji Palsu di Depan Orang Tua
Mikayla teringat betapa bangganya ayahnya saat Elang datang meminang. Di depan kedua orang tua Mikayla, Elang bersimpuh.
"Pak, Bu... izinkan saya menjaga Mikayla. Saya akan memperlakukannya lebih baik dari saya memperlakukan diri saya sendiri. Dia adalah permata bagi saya."
Ayah Mikayla menepuk bahu Elang dengan haru, sementara ibunya menangis bahagia melihat putri keduanya mendapatkan laki-laki "sebaik" Elang. Mikayla merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Ia merasa pengorbanannya selama ini untuk keluarga terbayar lunas dengan kehadiran Elang.
Kembali ke Realita (Apartemen Kecil)
Mikayla memejamkan mata di sofa apartemennya, mencoba menghalau bayangan-bayangan itu. Namun, memori itu justru datang seperti sembilu yang menyayat pelan.
"Aku akan melindungimu dari apa pun," gema suara Elang di kepalanya.
"Ternyata," bisik Mikayla di tengah kegelapan malam, "orang yang berjanji melindungiku dari dunia, adalah orang yang paling menghancurkanku dengan bantuan keluargaku sendiri.”
Setiap kecupan di kening, setiap pelukan hangat, dan setiap doa yang dibisikkan Elang... semuanya hanyalah anestesi. Elang membius Mikayla dengan cinta semu agar ia tidak sadar saat mereka perlahan-lahan meracuni rahimnya dan mencuri masa depannya.
Cinta itu pernah ada, setidaknya di sisi Mikayla. Dan justru karena cinta itu pernah begitu besar, dendam yang lahir darinya kini menjadi api yang tak akan padam sebelum semuanya hangus menjadi abu.