NovelToon NovelToon
Terpaksa Menjadi Istri Kontrak

Terpaksa Menjadi Istri Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Bad Boy
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: annin

"Saya tidak mau nikah kontrak, Pak. Saya mau pernikahan ini berjalan sebagaimana mestinya ...." Rea terdiam sejenak. Mengambil napas sebelum ia melanjutkan kalimatnya. Sebuah kalimat yang mungkin akan ia sesali seumur hidupnya.

Bagaimana tidak. Tidak ada yang ingin menikah untuk bercerai, tapi Rea melakukannya.

" ... tapi, kapanpun Pak Dewa ingin menceraikan saya. Saya akan siap."

_________________________________________________

Demi biaya keluarganya di kampung, Rea rela menerima tawaran untuk menjadi istri sementara seorang aktor terkenal—Dewangga Rahardian. Awalnya ia meyakinkan diri semua akan mudah, karena Dewangga menjanjikan bahwa ia tak akan pernah menyentuh Rea dan akan menceraikan Rea dalam waktu dekat. Pun kompensasi yang akan Rea terima nantinya bernilai cukup fantastis bagi Rea yang merupakan anak kampung.

Namun, seiring waktu apa yang Dewa janjikan tak pernah terjadi. Pria itu lebih suka menyiksa Rea dengan membelenggunya dalam ikatan pernikahan palsu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 10

Rea kebingungan untuk apa ia dipanggil ke ruang HRD. Ia memang berniat mengundurkan diri setelah menyetujui kerjasama dengan Dewa kemarin. Namun, tidak hari ini juga. Ia bahkan belum membuat surat pengunduran diri.

"Duduk, Rea," ujar Bu Nita. Nadanya datar, tidak ada senyum basa-basi.

Di ruangan itu juga ada Pak Bayu—Supervisor Housekeeper—sedang memegang amplop cokelat. Juga ada dua security yang berdiri di pojokan. Salah satunya menjinjing paper bag berwarna hitam. Semua pemandangan ini terasa janggal bagi Rea.

Rea duduk, tepat di depan Bu Nita.

"Bayu berikan buktinya!" ujar Bu Nita

Bayu yang berdiri di belakang Bu Nita mengulurkan amplop cokelat yang sejak tadi ia pegang.

Bu Nita membuka amplop itu di depan Rea. Memperlihatkan print foto CCTV lorong.

Sampai di sini Rea masih belum paham apa maksud dan tujuan semua ini.

"Kamu tahu kenapa kamu dipanggil ke sini?"

"Tidak, Bu," ujar Rea sembari menggeleng.

"Kamu yang membersihkan kamar 628 pagi ini?"

"Iya, Bu."

"Apa kamu menemukan sesuatu milik tamu yang tertinggal?"

Rea menggeleng. "Tidak, saya sudah memeriksa semuanya, dan tidak ada barang tamu yang tertinggal sama sekali."

"Kamu yakin?" Tatapan Bu Nita penuh selidik.

Rea mengangguk saja.

"Budi, bawa tas Rea kemari!" Bu Nita berbicara pada salah satu security.

Pria berbadan tegap dan kekar yang dipanggil Budi itu maju. Menyerahkan tas milik Rea yang ia sembunyikan di dalam paper bag yang ia pegang tadi.

Mata Rea membelalak melihat tas yang tadi ada dalam loker sudah di tangan orang lain. Ada apa ini sebenarnya?

"Tamu kamar 628, check out jam 09.15. Dia baru saja sampai di bandara 10.20, lalu telepon dan mengatakan jika ia telah kehilangan jam tangan miliknya. Rolex Daytona Stainless Steel. Terakhir liat di nakas. Dia inget banget karena semalam baru memakainya untuk acara makan malam di rumah pengusaha skin care, Galih Prayoga. Akses pintu cuma kamu, Rea. Jam 09.15 sampai 10.40.” Sembari bicara, Bu Nita merogoh tas milik Rea. Di sana, dari dalam tes cokelat milik Rea yang warnanya sudah memudar, Bu Nita mengeluarkan sebuah jam tangan pria.

"Kamu tahu berapa harga jam tangan ini, Rea?"

Rea terdiam. Ia mulai memikirkan benang merah kejadian ini. Juga mulai paham kenapa ia dipanggil ke ruang HRD.

"Harganya 500 juta lebih, Rea. Gaji UMR kamu meski kamu kumpulin setahun pun nggak akan bisa beli jam tangan seperti ini. Tapi bukan berarti kamu harus mencuri." Kali ini nada suara Bu Nita meninggi. Sejujurnya ia suka dengan Rea karena anaknya mudah belajar, juga hasil kerjanya bagus. Namun, ia tak menyangka jika Rea akan melakukan hal tidak terpuji ini. Mencuri adalah kesalahan yang tak bisa ditoleransi.

"Saya tahu kamu lagi butuh uang untuk biaya berobat kakak kamu, tapi bukan berarti kamu bisa mencuri. Apa lagi di hotel ini. Kamu udah bikin nama baik hotel ini tercoreng dengan perbuatan nekat kamu itu!"

Ya Tuhan, kenapa jadi serumit ini. Bu Niat bahkan tahu kalau dia sedang butuh uang untuk biaya berobat kakaknya.

Rea terdiam. Ia menatap Bayu yang juga menatapnya. Apa Bayu yang cerita, karena dulu pernah tahu Rea mencari kerja tambahan.

"Bu, saya tidak pernah mencuri. Saya ...."

Rea belum selesai bicara saat Bu Nita memotong ucapan Rea. "Buktinya sudah ada Rea. Foto-foto CCTV lorong menunjukkan kalau cuma ada kamu yang masuk dan keluar dari kamar itu. Tidak ada orang lain!"

"Tapi, Bu, saya benar-benar ...."

"Selamat siang." Sebuah suara mengalihkan perhatian semua orang.

"Pak Dewa, silakan masuk, Pak." Bu Nita langsung berdiri begitu tahu tamunya adalah artis Dewangga Rahardian.

"Terima kasih, Bu." Dewa dan Luky langsung masuk ke ruangan HRD. Di sana ia melihat Rea sedang disidang oleh atasannya. Persis seperti adegan dalam drama yang pernah ia perankan.

Raut kaget Rea jelas tergambar dari wajahnya saat melihat dirinya datang.

"Ini, Pak, saya sudah temukan jam tangan milik Bapak. Maafkan atas kesalahan pegawai kami. Kami janji akan menindak tegas pegawai kami dengan melaporkannya kepada pihak berwajib." Bu Nita menyerahkan jam tangan Rolex yang harganya ratusan juga itu.

"Terima kasih atas kerja sama Ibu dan staf, tapi menurut saya tidak perlu sampai dilaporkan ke pihak berwajib karena jam daya juga sudah kembali. Menurut saya lebih baik diberikan sanksi saja."

Bu Nita menatap Rea tajam. "Kamu dengar Rea, Pak Dewa bahkan masih mau membela kamu setelah apa yang kamu lakukan padanya. Harusnya kamu berterima kasih pada Pak Dewa."

Rea terdiam sejak tadi. Ia mulai memahami alur cerita ini.

Tadi pagi bahkan masih Subuh, Dewa datang ke kosan milik Rea. Pria itu bilang hari ini akan mengajaknya ke Jakarta. Lalu pria itu memberikan jam tangan miliknya.

"Untuk apa Bapak memberikan jam ini pada saya?" tanya Rea tadi pagi.

"Udah bawa aja. Anggap aja sebagai jaminan kalau gue serius dengan kerjasama ini."

Rea menatap bingung jam tangan yang diberikan Dewa, tak urung jua tetap ia simpan seperti kata pria itu. Karena kosan miliknya terlalu bebas, Rea merasa akan lebih aman jika ia membawanya dalam tas ke tempat kerja. Ia tak menyangka jika ternyata jam itu menjadikan dirinya tersangka pencurian.

"Meski Pak Dewa sudah memaafkan kamu, tapi pihak hotel tidak bisa lagi mentolerir apa yang sudah kamu lakukan. Karena itu kami dengan tegas akan memberhentikan kamu secara sepihak!"

Mata Rea membola. "Maksud Ibu saya dipecat?"

"Iya, dan sebagai sanksinya kamu di PHK secara tidak hormat, tanpa pesangon, dan gaji kamu bulan ini akan kami bayarkan setengah," jawab Nita tegas.

"Loh, Bu, kenapa setengah?" protes Rea.

"Itu lebih baik dari pada tidak dibayar sama sekai. Sekarang kamu tanda tangani surat pemutusan hubungan kerja ini dan segera angkat kaki dari hotel ini!"

"Bu ...." Rea ingin kembali protes, tapi suara Dewa yang berdehem membuat Rea diam dan menatap pria itu.

"Maaf, Bu, saya rasa urusan saya sudah selesai. Tinggal urusan internal Ibu dengan karyawan Ibu. Dan saya harap ibu mempertimbangkan saran saya untuk tidak melaporkan pegawai Ibu ini ke kantor polisi. Saya sudah benar-benar memaafkannya," ujar Dewa bak pahlawan.

Rea tak habis pikir kalau cara Dewa membuatnya berhenti dari pekerjaan dengan mencoreng namanya.

"Terima kasih Pak Dewa atas kemurahan hati Bapak. Kami harap Bapak masih berkenan untuk menginap di hotel kami lagi jika nanti berkunjung ke Surabaya lagi. Kami janji akan memberikan layanan terbaik untuk Bapak," ujar Bu Nita.

"Tentu, pelayanan dan fasilitas hotel ini sangat bagus. Saya pasti akan ke sini lagi nanti. Kalau begitu saya pamit dulu, Bu." Dewa dan Luky bersalaman dengan Bu Nita sebelum meninggalkan kantor HRD.

Usai kepergian Dewa dan Luky, Bu Nita meminta Rea untuk tanda tangan surat pemutusan hubungan kerja. Ia juga meminta Rea melepas ID card, dan menyerahkan kunci loker dan kunci master.

"Pak Bayu dan Budi akan antar kamu keluar lewat pintu karyawan," ujar Bu Nita.

Tak ada yang bisa Rea lakukan selain menuruti apa kata Bu Nita. Usia tanda tangan, ia berjalan di koridor diapit Bayu dan Budi. Rea sudah seperti tersangka di persidangan saja.

Saat sampai di ruang HK office, ia bertemu dengan Hana. Di sana Hana menangis setelah mendengar berita tentang Rea. Ia tak percaya sahabatnya itu melakukan hal tidak terpuji itu. Tapi kenyataan Rea diapit oleh Bayu dan security, tak bisa membuatnya berkata-kata.

"Aku pamit ya, Han. Terima kasih sudah menjadi teman terbaik selama bekerja di sini. Jaga diri kamu baik-baik," ujar Rea saat berpapasan dengan Hana setelah mengembalikan semua seragam dan ID card, juga kunci loker dan kunci master pada Bayu dan security.

Hana menangis. Air matanya tak terbendung. "Re, kamu nggak beneran melakukan itu, kan?"

Rea hanya tersenyum datar.

"Mereka fitnah kamu kan, Re?" Hana benar-benar tak bisa percaya. Ia mengenal baik Reana.

Rea tak menjawab apa pun. Ia hanya bisa memeluk Hana sebelum meninggalkan hotel. Sungguh tak menyangka kalau cara Dewa mengeluarkannya seperti ini. Harusnya ia tahu dari awal rencana Dewa agar ia tidak syok menghadapai tuduhan-tuduhan palsu.

Ah, apa pun itu, semua sudah terjadi. Dan Dewa harus bertanggung jawab atas semua ini!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!