NovelToon NovelToon
Reingkarnasi Jia Menjadi Istri Suami Yang Cacat Tahun 60 An

Reingkarnasi Jia Menjadi Istri Suami Yang Cacat Tahun 60 An

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa pedesaan / Terpaksa Menikahi Suami Cacat
Popularitas:21.3k
Nilai: 5
Nama Author: Smi 2008

Hehehe… jadi istri penurut, cengeng, penakut? Tidak buruk sama sekali. Setidaknya Jia bisa makan gratis tanpa kerja, cukup menumpahkan air mata, pasang wajah sedih dan imut… sambil tetap menggerakkan suami buasnya sesuka hati.

“Aku harus ke bengkel sebentar, sedikit lagi pekerjaan selesai,” Su Hao lalu berdiri, namun terduduk kembali. Ia menatap istrinya dengan serius, nada suaranya tegas.

“Jangan coba-coba kabur lagi, kalau berani…!”

Su Hao kemudian mencondongkan tubuhnya, mendekatkan mulut ke telinga Lu Jia dan berbisik:

“Kedua tungkaimu… akan ku jadikan bahan bakar besiku.” Ia pun berbalik lalu melangkah keluar rumah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Smi 2008, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Ruang Sempit Itu, Jia Mengambil Alih Takdir

Jia menatap Su Hao dengan sorot sedingin es yang belum pernah terpancar dari wajah Lu Jia. Kata-katanya meluncur begitu saja, cepat dan tajam, seperti refleks purba yang bangkit dari tidur panjang.

Dan ketika ia melihat Su Hao membeku, napas pria itu tertahan, seolah tubuh kekarnya dilumpuhkan oleh tekanan yang baru saja ia lontarkan... pupil mata Jia membesar.

Kesadarannya jatuh menghantam dada.

Ia baru saja memperlihatkan sesuatu yang belum boleh dilihat oleh suaminya.

"Lu Jia... apa yang telah kau lakukan padaku?"

Ruangan masih menyisakan ketegangan yang belum sempat jatuh ke tanah. Namun jeritan Yu Hua kembali meledak, menyayat keheningan dengan pilu, memaksa semua orang kembali pada kenyataan yang lebih mendesak daripada pertengkaran tadi.

"Aku... aku tidak sengaja, aku... kesambet Gui Shang Shen," ucapnya asal, wajahnya meringis seraya melirik Su Hao sekilas. "Itu cuma sementara, jadi jangan khawatir." Jia cepat-cepat berbalik, melangkah maju dengan tergesa. Matanya tertuju pada Yu Hua yang sudah di ambang batas, di mana Campo masih berusaha menahan dan menutup kakinya agar tidak mengejan.

"Dasar idiot!" teriaknya geram, meraih tangan Campo dengan kasar. Dalam gerakan cepat, ia memindahkan tubuh renta itu ke samping dan langsung mengambil alih posisinya.

Campo terhuyung ke belakang, nyaris kehilangan keseimbangan.

"A-apa yang kau lakukan? Dia bisa mati!" Campo berusaha menghalangi Jia, suaranya bergetar karena ketakutan.

"Dan keduanya bisa mati jika bayi ini tidak segera keluar!" balas Jia sengit, sudah gatal ingin melayangkan tinju ke wajah Campo. Sayangnya, ia masih memiliki sedikit empati pada orang tua renta itu.

"Kumohon... selamatkan saja istriku," sahut Ma Zhenli dengan nada putus asa.

"Sayang, kumohon tahan dukun itu," ucap Jia dengan wajah memelas, berharap Su Hao masih bisa ia luluhkan. Ia yakin suaminya sudah bisa bergerak, meskipun belum sepenuhnya pulih. Semoga saja dia masih bisa percaya padaku.

Su Hao menutup mata sesaat. Otot di lengannya masih terasa seperti tertinggal di belakang. Ia menggerakkan bahunya perlahan, memastikan tubuhnya masih bisa dipakai untuk berdiri.

"Memangnya apa yang bisa diperbuat oleh suamimu yang cacat itu?" cibir Campo meremehkan, senyum sinis menghiasi wajah keriputnya.

Tiba-tiba, seseorang mencengkeram lengan Campo. Wanita tua itu terkejut saat melihat Su Hao-lah pelakunya.

"Kita keluar. Biarkan istriku yang menanganinya. Jika dia gagal, aku yang akan bertanggung jawab," ucap Su Hao dengan nada suara tak terbantahkan sambil menyeret Campo yang terus memberontak.

"Anak kurang ajar!"

"Diamlah, kau sudah tidak berguna lagi di sini!"

Jia tersenyum tipis menatap mereka berdua. Akhirnya, dia kembali mempercayainya. Ia menghela napas pelan, ketegangan di bahunya sedikit runtuh seperti tali yang akhirnya diberi kelonggaran.

"Long Yin, siapkan air hangat, gunting bersih, dan kain bersih yang banyak!" perintahnya pada adik Yu Hua. Pemuda itu mengangguk patuh dan segera berlari.

"Jika kau ingin istrimu selamat, ikuti perintahku," ucap Jia pada Ma Zhenli tanpa basa-basi.

Ma Zhenli hanya mengangguk patuh. Tak lama, kontraksi berikutnya datang lebih brutal dari sebelumnya. Tubuh Yu Hua tersentak keras, membuat posisi yang baru saja disusun hampir bergeser kembali.

Jia berlutut di sisi ranjang, menenggelamkan seluruh pikirannya ke dalam tubuh wanita itu.

Ma Zhenli terdiam, tak berani bergerak sedikit pun. Tangannya masih memeluk erat istrinya, namun matanya terpaku pada gerakan halus jari-jari Jia.

Di ambang pintu, Su Hao menatap istrinya dengan dada yang naik turun keras. Ada kekagetan yang tak bisa ia sembunyikan, bercampur dengan kekaguman yang baru tumbuh. Tatapannya mengikuti setiap gerakan Jia, seolah ia sedang menyaksikan sisi lain dari wanita yang ia kira telah ia kenal selama ini.

Tak seorang pun berani mengganggu. Telapak tangan Jia menempel pada perut Yu Hua yang tegang, sementara napasnya mengalun dalam hitungan teratur, menyatu dengan gelombang kontraksi yang mengguncang tubuh wanita itu. Ia menyadari bahwa kesalahan arah tekanan sekecil apa pun dapat berakibat fatal.

"Ketemu," bisiknya lirih.

Tanpa keraguan, jari-jarinya menekan, memutar, menggeser dengan presisi tanpa ampun. Tegangan otot, arah kontraksi, dan bentuk panggul terbaca jelas di bawah jemarinya. Tubuh Yu Hua bagai simpul kusut yang harus dilonggarkan satu per satu sebelum terlambat.

"Arrrgg..." raung Yu Hua, suaranya memecah keheningan yang mencekam.

"Masih bisa berteriak seperti itu? Bagus. Berarti tenagamu belum habis. Sekarang dengarkan aku."

"Tarik napas dalam... lalu dorong!" titah Jia tegas, suaranya menggema di ruangan.

"Aaaaahhh!" pekik Yu Hua meledak, berpadu dengan rintihan pedih, memenuhi ruangan sempit itu dengan simfoni kepedihan yang mendalam.

"Dorong lebih kuat! Jangan berhenti dulu!" Jia mendesak, tangannya menopang pinggul Yu Hua, mengangkatnya sedikit agar jalan lahir lebih terbuka. Tangan yang lain menekan titik vital di perut, mengarahkan janin ke jalur yang benar. Tekanan itu terasa cepat, kuat, namun penuh perhitungan. Ia merasakan otot-otot Yu Hua menegang di bawah sentuhannya, merasakan perjuangan wanita itu untuk melahirkan buah hatinya.

"Tahan sebentar... jangan dikeluarkan sekaligus," ucap Jia menenangkan Yu Hua yang kembali meringis kesakitan. Sementara itu, Ma Zhenli dengan lembut menyeka peluh yang membasahi dahi istrinya, memberikan dukungan moral lewat bisikan-bisikan penyemangat lirih.

"Tarik napas panjang... tenang... sekarang habiskan tenagamu untuk mendorong!"

"Eeeeeeeegggg... aku tidak sanggup lagi!" rintih Yu Hua, menggenggam lengan suaminya sampai memutih.

Jia menekuk lutut lebih dalam, otot-otot lengannya menegang. Ia mengerahkan seluruh konsentrasi dan tenaganya, menekan dan mengarahkan seolah sedang memainkan benang tipis yang memisahkan antara hidup dan mati. Peluh mulai membasahi dahinya, napasnya pun mulai terengah-engah.

"Dorong, bodoh! Kau pasti bisa!" serunya tanpa sadar, tapi kata-kata kasar itu justru memicu semangat terakhir Yu Hua.

Detik itu terasa berjalan sangat lambat. Semua suara di luar seolah menghilang, hanya tersisa perjuangan di dalam ruangan itu.

"Aaaaaaaaaaaaa..."

Dengan satu dorongan panjang dan kuat, kepala bayi itu akhirnya berhasil menembus jalan lahir. Jia segera menyambutnya, lalu menarik seluruh tubuh kecil itu keluar dengan hati-hati.

Seketika itu juga, suara tangisan nyaring memecah keheningan.

"Uweeeek... weeeeeeek!"

Ma Zhenli terpaku, lalu air mata bahagia mengalir deras di pipinya. Yu Hua terkapar lemas, namun senyum lega terukir jelas di wajahnya. Di ambang pintu, Su Hao masih terdiam, matanya tak percaya melihat apa yang baru saja ia saksikan. Rasa kagum dan bangga meluap memenuhi dadanya.

"Sayang... anak kita lahir... selamat..." Ma Zhenli menangis haru sambil mencium kening istrinya.

Jia segera menggunting tali pusar, lalu membersihkan tubuh bayi itu dengan kain yang sudah disiapkan Long Yin.

"Bayinya tampan, seperti suamiku," kata Jia, membuat Ma Zhenli cemberut. "

Namun ia segera menerima bayi itu dengan senyum tulus.

" Terimakasih nona Lu"

"Letakkan dia di dada ibunya agar hangat. Aku masih harus membersihkan sisa plasenta di dalam rahimnya," lanjut Jia, lalu kembali memusatkan perhatiannya pada Yu Hua.

Setelah semuanya selesai dan aman, Jia berusaha berdiri.

Baru saat itu ia menyadari kedua lengannya gemetar. Sejak tadi ujung jarinya sudah mati rasa, tetapi ia terlalu fokus untuk memedulikannya. Perlahan, tangannya yang masih berlumuran darah mulai terasa kesemutan.

Dunia di sekelilingnya mulai berputar perlahan.

Jia melempar senyum lemah ke arah Su Hao, lalu...

Brukk!

"Lu Jia!" teriak Su Hao panik, melihat Jia jatuh tak sadarkan diri.

1
Yuni Anto
😍😍aku slalu setia menunggu nopel² KKA author 💪💪💪y kka
Latifa Ainum
ditunggu ya Thor😭🥳
Latifa Ainum
authorrrr, ini cerita nya g lanjut kah😭
Latifa Ainum: oke gpp Thor yg penting cerita nya lanjuttt,, aku tunggu ya Thor, semangat revisi sma ngetik nya Thor❤‍🔥🥳
total 2 replies
Pa Muhsid
ati ati coy kau memelihara jagal untuk tubuh mu dan cuan mu belum lagi si pandai besi kebayang kan tukang jagal dan tukang besi bersatu auto tamat disitu yicheng end sudah 😛😛😛
Yani
ayok crita nya d lanjut kan Thor 🥰🥰🥰
Yuni Anto
🙄sayang. di lewat kan🤩🤩cuan2ny🥰🥰🥰
Fahreziy
nexk
Smi
oh. Itu ucapan muslim Hui menyebut Assalamualaikum.
🌹🌼🍁embun nirmaladewi🍀🌻🌺
??????????!!!!!!!!!!
Elwana Muhamad
bagus
Yuni Anto
/Curse/hehehe/Curse/ada² aja kelakuan Jia 🥳🥳🥳 semangat 💪💪💪 ya Thor makasih update ny tiada henti selalu menanti update KKA../Pray//Pray//Pray//Kiss//Kiss//Kiss//Heart/
Fauziah Daud
hahaha... trusemangattt
Smi
👻 terimakasih 💝💝💝
Yuni Anto
😍hmn 🥰 makasih banyak KKA 🥳🥳🥳hati ku GE happy 🥳🥳🥳KKA author tersayang lagi sering banget kasih update terus 🥳/Kiss/🥳💪💪 semangat terus ya Thor 💪💪💪n sehat selalu Bwt kka 🤩🤩🤩/Determined//Angry//Determined//Angry//Determined//Determined/
Smi
hihiji, orang yg barunsaja kena apes
Fauziah Daud
lanjuttt
Smi
aku ...👋
Smi
sudah ku dagu😁
Yuni Anto
🙄saha atuh🤔tamu yg tak di undang ini bikin kita yg baca kena penyakit kepo pisan/Frown//Determined//Angry//Determined//Angry/
Lina Hibanika
siapakah tamu tak terduga itu 🤔
Lina Hibanika: kayak nya yg jari tangan nya bengkak 🤔
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!