NovelToon NovelToon
Membawa Bayi Kembar Sang CEO

Membawa Bayi Kembar Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Lari Saat Hamil / Single Mom
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Pena cantik

Hidup Anaya tidak pernah beruntung, sejak kecil ia selalu di jauhi teman-temannya, dirundung, di abaikan keluarganya. kekacauan hidup itu malah disempurnakan saat dia di jual kepada seorang CEO dingin dan dinyatakan hamil setelah melakukan malam panas bersama sang CEO.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pergi lagi

Pagi-pagi Jackson sudah sampai dirumah sakit. Dengan hati yang riang ia melangkah masuk dengan menenteng beberapa buah-buahan dan bubur untuk Farah.

Kesibukannya dua hari ini membuatnya tidak memiliki waktu untuk bertemu dengan baby twins.

Namun setibanya disana Jackson di buat panik ketika tidak mendapati Farah di ruangan itu. Boks yang biasa di tempati bayi twins itu juga kosong. Tak ada dua malaikat kecil itu lagi disana.

Dahi Jackson berkerut tipis.pikirannya sudah dipenuhi dengan hal-hal yang buruk mungkin terjadi pada Farah.

Jackson segera menemui suster yang baru masuk. "Sus, kemana pasien yang bernama Farah beserta bayi nya? Kenapa mereka tidak ada?" tanya Jackson.

"Nona Farah sudah di bolehkan pulang hari ini tuan. Kebetulan kondisinya ibu dan anak sudah stabil, berat badan bayi juga sudah mencukupi. jadi dokter mengizinkan nona Farah untuk pulang." jawab suster itu ramah.

Jackson terkejut, kenapa Farah tidak memberitahu nya?

"Dengan siapa dia pergi, sus?" tanya Jackson.

Farah baru saja melahirkan bagaimana bisa dia membawa dua bayi sekaligus? ia semakin khawatir jika sesuatu terjadi pada mereka.

"Tadi ada dua wanita yang menjemputnya." jawab suster itu.

"Terimakasih, Sus."

"Sama-sama pak, kalau begitu saya pamit dulu."

Jackson menjawab dengan anggukan.

"Syukurlah, tidak ada yang buruk terjadi pada Farah dan anak-anak," batinnya penuh harap. 

Setelah menormalkan detak jantungnya ia segera pergi menuju rumah Farah.

Jackson menarik napas dalam-dalam, seolah beban berat di dadanya perlahan terangkat setelah mendengar jawaban dari suster itu. 

Namun saat sampai di rumah Farah, hatinya langsung tercekat. Tempat itu kosong, sepi tanpa tanda-tanda kehidupan. Tidak ada Farah, tidak ada baby twins disana.

Alisnya berkerut, ragu dan takut mulai merayapi pikirannya. 

Ia melangkah ke dapur, kemudian ke kamar. Ia menelusuri rumah itu. 

"Farah..." Suaranya bergema di ruang kosong tanpa jawaban. 

"Di mana dia? Seharusnya dia ada di sini," Gumam nya, jantungnya mulai berdetak lebih cepat. 

Ketakutan merayap perlahan, ia berusaha mengingat lagi bagaimana ia memperlakukan Farah kemarin.

Apakah ada yang salah? Apa yang sebenarnya terjadi? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar tanpa henti di kepalanya. 

 "Jangan-jangan....."

Tanpa berfikir lama jackson langsung berlari keluar memanggil anak buahnya.

"Cepat cari Farah sampai ketemu. Periksa seluruh desa ini jangan sampai ada satupun terlewatkan!" ucapnya tegas.

"Kalian, cari disetiap stasiun bus."

"Baik, bos."

Mereka semua berpencar mencari keberadaan Farah.

Suasana pagi di desa itu diselimuti ketegangan. Anak buah Jackson berpencar ke setiap penjuru desa.

Jackson mengacak rambutnya prustasi, saat ini yang ia pikirkan saat ini Farah pergi lagi darinya.

Pak Harto datang ketika melihat anak buah Jackson berkeliaran.

"Apa yang sebenarnya terjadi, Nak jack?" tanya pak Harto.

"Farah menghilang." jawab Jackson lirih.

"Apa? Bukannya nak Farah masih di rumah sakit?"

Jackson menggeleng kan kepalanya, "Dia sudah dibolehkan pulang tadi pagi." Jackson menatap rumah itu. "Tapi dia tidak ada dirumah ini."

lalu Jackson menatap pak Harto, "Apa didesa ini ada cctv?" tanyanya.

"Ngak ada, karna desa ini jauh dari kota jadi tidak ada kamera pengawas yang terpasang." jawabnya.

Jackson semakin prustasi mendengar itu. Bagaimana ia bisa menemukan Farah jika cctv saja tidak ada disini.

lalu pak Harto kembali berbicara, "Tapi, di setiap stasiun bus disini memiliki fasilitas seperti cctv."

Seolah mendapat secercah harapan Jackson segera menuju ke stasiun bus. Berharap masih sempat menemukan Farah disana.

Dan sinilah mereka sekarang, ruang cctv salah satu stasiun bus.

Disana terlihat Farah menggendong dua bayinya sekaligus sambil menunggu antrian bus selanjutnya. Jackson tampak geram karna disana farah berdiri di terik nya panas matahari.

Farah berjalan terseok-seok akibat kondisi fisik nya yang belum pulih sepenuhnya. Jackson meringis saat melihat wajah Farah yang jelas menahan sakit.

Tak lama kemudian sekitar lima menit lamanya Farah masuk kedalam bus.

Jackson bergumam pelan, "Dia nekat naik bus dalam kondisi tubuh seperti itu."

"Farah... Apa yang sebenarnya kau fikirkan?" geramnya.

Hal pertama yang ia Fikirkan adalah baby twins kepanasan didalam bus yang padat itu, menghirup udara yang tidak steril. Apa lagi Dnegan kondisi Farah yang belum benar-benar sepenuhnya pulih.

"Bagaimana kalau bus itu laju? Terus melewati jalan yang berlubang?"

Jackson takut Farah dan bayinya kenapa-kenapa.

Jackson mengusap kasar wajahnya, "Kemana dia akan membawa anak-anakku? Kenapa dia sebodoh itu? Bagaimana dia akan merawatnya sendirian?"

Jackson bertanya kepada petugas rute perjalanan bus itu. Setelah mengetahui dimana bus itu berhenti jackson langsung menyebar anak buahnya untuk kembali mencari Farah.

"Kerahkan banyak orang untuk mencarinya. Periksa seluruh perbatasan kota, dan berbagai transportasi yang memungkinkan di naiki oleh Farah."

Mereka semua mengikuti langkah nya keluar dari ruangan itu setelah sebelumnya mengucapkan terimakasih kepada petugas cctv.

~

Sementara disisi lain.

Kini Farah baru saja sampai setelah melewati perjalanan panjang. Ia mendatangi kampung halaman neneknya. Yang dimana kampung ini sangat jauh dari pusat kota dan tidak banyak yang tahu tentang desa ini.

Farah memasuki pagar sebuah rumah kayu. Rumah inilah yang akan menjadi tempat berlindung nya paling aman untuk sementara ini.

Seorang wanita berusia empat puluh tahunan itu membuka pintu rumah, lalu menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu.

"Cari siapa, nak?" suaranya lembut namun penuh tanya.

Farah memaksakan senyum di bibirnya. Saat ini ia benar-benar lelah, kakinya terasa gemetar seolah sudah tak kuat menopang tubuhnya. Wajahnya terlihat pucat dan berkeringat, ia merasa saat ini suhu tubuhnya sangat dingin.

"Bude, ini aku, Farah," suaranya bergetar.

Wanita itu terdiam sejenak, lalu matanya melembut saat menatap wajahnya penuh haru.

"Farah... Kamu putrinya kak Windy?" tanyanya dengan suara bergetar, seolah berusaha menangkap kenyataan yang selama ini ia harapkan.

Farah hanya mengangguk, dan tanpa sadar air mata jatuh dari pipinya.

Pelukan hangat wanita itu tiba-tiba membungkusnya erat. "Ya Allah Gusti, akhirnya Bude Bisa bisa melihat kamu juga," bisiknya, seakan melepaskan segala penantian dan harapan yang tertahan lama.

Seorang lelaki paruh baya datang menghampiri kami.

Ia belum sempat berkata apa-apa ketika Ningsih menahannya, memperkenalkan Farah dengan penuh bangga.

"Mas, ini Farah, putri kak Windy."

Farah mengulurkan tangan dan menyalaminya, sementara pria itu dengan lembut mengusap kepalanya.

"Kamu sudah besar, ndok."

Farah menatap mereka semua, merasakan campuran haru dan dingin yang menusuk. Wajahnya pucat, dan tanpa penjelasan, mereka membawanya masuk dengan hati-hati.

Mereka belum bertanya apa maksud kedatangannya, terutama tentang ke dua bayi yang ia gendong dengan penuh kasih.

1
Ma Em
Mungkin itu emang cicit ibu .
Ma Em
Angkasa anak baik dan berjanji akan melindungi ibu dan adiknya .
Ma Em
Semoga Farah selalu bahagia bersama sikembar dan usaha kue nya semakin sukses , Jackson sdh tiga tahun tdk bisa menemukan anak2 nya biar saja Jackson merasakan penyesalannya .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!