Kisah seorang anak perempuan terakhir yang hidupnya selalu di tentukan oleh orang tuanya,dan tidak di beri kesempatan untuk memilih untuk hidupnya.
hingga akhirnya ia pergi dari rumah, dan bertemu dengan seseorang yang mampu untuk ia jadikan rumah dan tempat bersandar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Kusumaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUSB 10
Setelah acara makan- makan selesai Nina,Silmi, dan Della ingin pamit, Nina ingin menyerahkan Ellana ke mama nya tapi Ellena tidak mau lepas dengannya.
" Ell Nana anter temen Nana dulu ya... nanti kita jumpa di rumah pakdhe okay" ujar Nina pada Ellena .
Namun bukannya lepas, Ellena semakin berpegang kuat dengan hijab Nina.
" Kangen dia sama baby sisternya, makannya jangan kabur- kaburan" celetuk Wira menyentil kening sang adik satu- satunya.
"sakit kak" adu Nina.
" ajak Kenzie sana, nanti pas pulang biar dia yang pegang Ellena" saran Wira pada sang adik.
" Kakak yakin nyuruh kenzie ?" tanya Nina yang melihat Sang ponakan sudah mengantuk.
" Atau kita pulang naik ojol juga gapapa kok Na" timpa Silmi.
" jangan dong mbak, kan kalian aku yang ngajak pergi tadi,aku juga yang jemput kalian" ujar Nina tidak enak hati.
" Ahh atau kalian ikut ke Villa aja sekalian, kita mau staycation disana" ujar Kakek Kastara.
Silmi, Della dan juga Nina saling memandang, mereka ingin menolak namun kedua kakak Nina juga ikut staycation di Villa.
" Maaf tuan bukan maksudnya menolak, tapi saya besok ada acara" ujar Silmi yang memang tidak enak, karena harus ikut dengan keluarga bos nya, walaupun mereka baik.
" Ohh atau gini saja, Bang kamu anterin Nina nganter teman- temannya, terus kamu nyusul kita ke puncak" usul Bunda Arista.
" ehh tidak usah bu, saya tidur di rumah bang Haris saja" tolak Nina spontan.
" Ellena gimana? gak mungkin dong dia pisah sama mamanya, sedangkan dia gak mau lepas dari kamu" ujar Bunda Arista.
" Ya sudah biar aku aja bun yang nganter Nina" potong Haris.
" enggak usah, biar Raynar saja kamu kan masih ada urusan sama kakek dan Ayah" timpa Bunda Arista.
Setelah perdebatan panjang,akhirnya Nina yang ikut, kini ia sedang berada di mobil bersama dengan Raynar dan Ellena setelah mengantarkan Silmi dan Nina.
Suasana mobil tampak awkward, hanya ocehan Ellena yang terdengar,sesekali Nina menanggapi ocehan ponakakannya tersebut.
"Ellena betah juga ya, belum tidur jam segini" ucap Raynar memecah keheningan.
" ehh ia pak, kayaknya emang jam tidurnya kebalik kayak kakaknya" jawab Nina sedikit canggung.
" panggil mas saja, ini bukan di kantor kok" sahut Raynar.
"okey pa- ehh mas" sahut Nina.
Raynar sekilas memperhatikan Nina yang sedang bermain dengan Ellena, tampak wajah yang begitu menenangkan bagi Raynar, walau hanya dengan lipstik nude nya.
" Na- na- na" gumam Ellena sambil memainkan hijab Nina.
" jangan dong Na, nanti hijab Nana copot" ujar Nina pada Ellena.
" Kamu sudah lama bekerja di Kastara Grup?" tanya Raynar basa basi lagi.
Nina menoleh ke arah Raynar, " Belom mas, baru sekitar enam bulan" jawab Nina.
" Wahh hebat baru enam bulan kerja, udah di naikin jabatan sama kakek, dulu kamu kuliah jurusan apa?" tanya Raynar yang berusaha mencari topik obrolan.
" Saya enggak kuliah mas, saya hanya lulusan SMA, awalnya saya juga bingung kenapa bisa saya di angkat jadi kepala marketing,padahal saya hanya lulusan SMA, saya enggak enak sama karyawan yang lain mas, apalagi mbak Icha, yang harus di pindah ke gudang, karena saya" jawab Nina panjang, yang membuat Raynar sedikit menarik sudut bibirnya.
"Yang milih kamu itu kakek, Kakek tuh pasti engga asal milih orang untuk naik jabatan, berarti emang kamu berbakat dan pantas mendapatkan itu semua, sejauh ini juga omset toko makin bagus, saya juga suka desain- desain yang kamu buat dan tunjukan ke Zeyya, untuk tambahan koleksi " sahut Raynar.
Nina tersenyum ternyata bos nya ini tidak sedingjn yang orang katakan, " Makasih mas, semoga saya tidak akan mengecewakan mas dan keluarga mas" ujar Nina.
Setelah itu mereka mengobrol sedikit lebih tidak canggung, hingga tak terasa mereka sampai juga di Villa keluarga kastara.
Villanya begitu besar, dengan taman di depan dan tempat bermain,Ellena sudah tertidur di pangkuan Nina.
Setelah memarkirkan mobil Raynar turun dan memutari mobil, membukakan pintu untuk Nina, yang kini sedang menggendong Ellena, Raynar menaruh tangannya di atas kepala Nina agar tidak terbentur.
" Makasih mas" ucap Nina.
Nina dan Raynar masuk kedalam Villa dengan jalan berdampingan,Mereka di sambut yang lain sedang menikmati ngopi di halaman belakang.
" Assalamualaikum " Salam Raynar dan juga Nina ketika memasuki halaman belakang.
" Waalaikumsalam " jawab Semua orang yang berada di belakang.
" Ellena tidur Na?" tanya Wira yang melihat Sang putri sudah tidur di gendongan sang adik.
" belom,lagi renang dia" sahut Nina yang memang tidak pernah akur dengan kakak keduannya.
" Yee orang tanya beneran juga" sahut Wira.
" udah tau tidur pakai tanya lagi"
" Maaf ya ayah, Bunda , kakek, Mas Wira sama Nina emang kalau ketemu gak pernah akur" ujar Malihah.
" gapapa, sama saja kayak Raynar dan juga Zeyya, itu hal yang lumrah" sahut Bunda Arista.
" Oh yaa Nina, kamu tidur di kamar Zeyya ya.. bareng Zeyaa ya, gapapakan? soalnya kamar yang lain belum di bersihkan.yang sudah di bersihkan sudah di isi sama kakak- kakak mu" imbuh Bunda Arista.
" Ehh.. iya tidak apa- apa bu, atau saya tidur bareng dengan Kak Malihah dan Kak Wira juga tidak apa- apa bu" sahut Nina.
" Panggil Bunda saja sayang, ini kan bukan kantor, jangan dong enggak akan muat juga kasurnya, Zeyya pasti gak keberatan kan zey?"
" enggak lah bun, malah seneng aku, kamu tidur sama aku aja Na, nanti kita Girls time" sahut Zeyya.
Nina hanya tersenyum,ia kemudian membawa Ellena ke kamar yang di tempati kakak keduanya, dan menidurkan Ellena.
Setelah itu ia pergi ke kamar Zeyya, tentu saja bersama Zeyya, Nina di minta untuk bersih- bersih dulu, akhirnya Nina mandi setelah mandi Nina keluar dari kamar mandi, mendapati Zeyya sedang melakukan panggilan Video call dengan seseorang.
Melihat Nina keluar kamar mandi Zeyya akhirnya mematikan panggilannya " udah ya beb, aku mau Girls time dulu" ucap Zeyya sebelum mematikan telfonnya.
" Maaf mb saya ganggu ya... kalau gitu saya masuk lagi dech" ujar Nina kala Zeyya mematikan panggilan yang ia tebak dari pacar Zeyya.
Dengan cepat Zeyya bangun dari tidur nya dan mencegah Nina " ehh kok masuk lagi sih... aku tuh nunggu kamu, kita kan mau Girls time " ujar Zeyya.
" Tapi itu tadi mb zeyya sedang sleppcall" sahut Nina.
" Sleepcall apaan, orang vidcall biasa sambil nunggu kamu tadi" jawab Zeyya.
Nina kemudian mengaruk kepalanya yang tidak gatal, jujur ia bingung harus gimana, " oh gitu yaa mbak, ya sudah kalau begitu" ujar Nina kemudian menghampiri Zeyya.
" Kamu belom ngantuk kan?" tanya Zeyya.
" emm belom mbak, saya masih seger banget malah " jawab Nina.
Nina mengalami insomia atau sulit sekali untuk tidur, biasanya ia cepat tidur karena minum obat yang ia dapat dari resep Dokter.
Nina dan Zeyya kemudian menghabiskan waktu malam, dengan menonton film dan kebetulan sekali mereka suka film yang sama.
Hingga pukul tiga pagi, Nina belum juga tertidur sedangkan Zeyya sudah terlelap, Nina melihat kamar yang berantakan, ia berinisiatif untuk membersihkannya.
Setelah membersihkan semuanya ia membawa piring dan gelas kotor ke dapur untuk di cuci, setelah itu ia mengambil minum,dan menikmati pemandangan dini hari di Villa yang masih gelap.
" Nina"