Sekuel novel Rain & Sunny
Cinta itu berhak memilih kepada siapa ia akan berlabuh dan juga cinta itu tidak memandang status.
Begitulah yang dirasakan pemuda bernama Cyril Orion Stevenson. Ya, ia merasakan cinta itu tumbuh dalam hatinya secara tak sadar.
Jantungnya seakan digedor paksa oleh sesuatu yang bernama cinta kala melihat Irene Cassiopeia Jonathan sang sepupu.
“Jika cinta berhak memilih, lantas mengapa cinta kita seolah ada yang menghalangi?"
- Cyril Orion Stevenson -
“Aku tahu bahwa aku juga mencintaimu, tapi aku juga tahu bahwa perasaanku padamu adalah sebuah kesalahan."
- Irene Cassiopeia Jonathan -
Akankah mereka dapat bersatu?
Atau justru menemukan cinta yang lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Claudia Diaz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bermain Bersama Uncle
Suara alunan musik yang menggema dan melebur menjadi satu dengan hiruk-pikuk lautan manusia, menjadi latar kegiatan menyenangkan yang akan dilakukan Orion dan Rain kali ini.
“Jadi, Nona. Apakah kau ingin bermain bersama kami?" Orion mulai melancarkan serangannya pada wanita di depannya ini.
“Apa kau siap bermain denganku, Anak Manis," tawar wanita itu dengan sedikit menggoda. Tak lupa ia juga menghadiahkan sebuah kerlingan nakal untuk Orion.
“Tentu saja aku siap," Orion terkekeh, “bukan begitu, Uncle?"
Rain mengangguk mengiyakan. Ia sebenarnya ingin melihat bagaimana cara bermain Orion. Mengingat anak itu bagian dari Stevenson, anak dari Triton sahabatnya.
“Bagaimana jika kita sedikit berdansa dengan panas?" tawar wanita malam tersebut dengan suara yang sengaja dibuat mendayu, ia juga meniup telinga Orion bermaksud untuk menggodanya.
“Kau sangat nakal, Bibi," Orion sedikit menjauhkan tubuh wanita malam yang terlalu menempel padanya seperti lintah.
“Hey, jangan panggil aku Bibi! Meskipun aku beberapa tahun lebih tua darimu, tapi aku masih muda. Kau tahu? Panggil aku Baby atau Honey," godanya lagi pada Orion.
“Honey," Orion mengulang kata-kata sang kupu-kupu malam dengan nada yang sensual.
“Ya seperti itu, Tampan. Kau belajar dengan cepat," ucap wanita tersebut merasa senang.
Rain hanya menatap Orion dengan tatapan penuh makna. Keduanya seakan berbicara melalui tatapan mata saja.
“Baiklah jika itu maumu, Honey. Mari kita turun ke lantai dansa. Biarkan Pak Tua itu mempersiapkan semuanya untuk kita, sementara kita bersenang-senang," bisik Orion sembari meniup pelan telinga si wanita.
Sang wanita sudah bergerak gelisah, maklum saja karena yang ditiup merupakan titik sensitifnya.
Rain terus mengamati apa yang dilakukan oleh keponakannya itu. Ia sedikit heran.
“Dari mana ia belajar menggoda wanita seperti itu, bukankah dia tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun sebelumnya?" pikir Rain, “ah, aku tak menyangka ia cukup terlatih."
Orion sudah meninggalkan Rain seorang diri. Sementara Rain sibuk menyuruh seseorang untuk menyiapkan kamar sebagai pertunjukan mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di lantai dansa banyak beberapa pasang mata menatap iri mereka. Pesona Orion yang begitu tampan dan berkharisma meski usia masih muda. Membuat siapapun yang melihatnya seakan mempunyai hasrat ingin memilikinya.
Gadis itu sudah meliuk-liukkan badannya persis seperti seekor ular yang mendengar suara suling pawangnya. Ia mulai terhanyut dalam suasana.
Sekalipun wanita di depannya ini sexy dengan kedua semangka yang begitu menonjol mampu mengundang gairah para pria, untuk menghabiskan satu malam yang panjang. Namun, hal itu tidak berlaku untuk pemuda dengan manik sebulat kelereng ini.
Dirinya bahkan memandang wanita ini dengan pandangan remeh bercampur jijik, meski semua itu hanya samar-samar karena tertutupi oleh wajahnya yang datar.
Orion juga mulai menggerakkan tubuhnya hentakan kaki yang bersatu dengan alunan musik menyatu dan meresap ke dalam lantai dansa.
Para kaum hawa menatapnya penuh puja. Berharap Dewi Fortuna memihak mereka, agar dapat menghabiskan malam panas penuh kenikmatan semanis madu dapat mereka raih bersama sang pria incarannya.
“Mengapa Uncle begitu lama mempersiapkan semuanya. Apa Uncle sengaja?" pikiran Orion mulai bosan karena terjebak di tengah lautan manusia yang sedang beradu di lantai dansa.
Bukan Orion tidak paham, jika ia mendadak menjadi poros dalam sekejap mata sejak ia menginjakkan kaki di diskotek ini. Tentu saja ia mengetahuinya. Akan tetapi, ia tidak mengacuhkannya.
“Peluklah aku," pinta wanita itu.
“Huh?" Orion mendadak linglung dengan permintaan wanita yang dirasa makin melunjak ini.
“Seharusnya dia bersyukur karena aku bersedia menerima ajakannya untuk ke lantai dansa meski aku enggan," Orion sibuk memaki dalam hati.
“Ayo peluk aku, tidakkah kau lihat bahwa banyak beberapa pasang mata melihat ke arah kita dengan pandangan iri!?" rengek wanita itu, “aku menyukai pandangan itu. Karena dengan begitu mereka tahu bahwa kau milikku dan akulah pemenangnya!"
Orion bergeming. Mengeluarkan suaranya saja, ia malas. Maka yang terbaik untuk dilakukan saat ini adalah mengunci mulutnya rapat-rapat.
“Kau itu dingin sekali, ya?" wanita itu terkekeh seperti orang gila di mata Orion. “Kau ... kau sangat mirip dengan pemilik tempat ini. Mereka bilang, pemilik tempat ini adalah seseorang yang dingin. Sayangnya sudah beristri, tapi aku yakin, istrinya tidak ada apa-apanya, jika dibandingkan denganku."
Orion terperangah, sejurus manik bulatnya memandang wanita yang menjelekkan istri sang paman dan juga mommy-nya secara tidak langsung.
“Sangat menarik, hingga rasanya aku tidak sabar untuk mencekikmu dan menghabisimu," pikir Orion, seringaian tipis terpatri di wajahnya yang tampan.
“Benarkah?" Orion mencoba memancing wanita di depannya ini. “Apa kau pernah melihat istri pemilik tempat ini?"
“Uhm, sebenarnya ada yang bilang jika tempat ini adalah milik Rain Steve Jonathan, tapi ada pula yang bilang jika pemilik sebenarnya adalah Triton Verenio Stevenson, Rain hanya mengelola saja. Untuk istrinya, aku hanya pernah melihat istri dari Triton. Ya, dia hanya ke sini beberapa kali."
Orion sengaja bertingkah seperti orang bodoh yang tidak mengerti pembicaraan ini.
“Akan tetapi, aku pernah mendengar bahwa kedua istri pemilik tempat ini adalah designer ternama, meski yang satu juga berprofesi sebagai dokter," lanjut si wanita.
“Ah, jadi begitu," Orion menanggapi.
“Mungkin karena mereka diperistri oleh orang terpandang, mereka jadi terlihat seperti wanita yang luar biasa, tapi jika dibandingkan dengan mereka aku pasti jauh lebih baik. Aku lebih cantik dari mereka, dan tubuhku juga lebih molek dari mereka," wanita itu terus berbicara dan membandingkan dirinya dengan istri pemilik Red Sun.
“Lebih baik katamu, dalam mimpimu wanita murahan!" suara hati Orion menjerit dengan lantang.
Terhanyut dalam sebuah obrolan yang membosankan, Orion merasakan ponselnya bergetar. Segera saja ia merogoh ponsel di dalam sakunya.
Semua sudah siap, mari kita jalankan rencana kita!
Orion hanya menyeringai dan mengajak wanita itu dengan sedikit menggoda, “Ikutlah denganku!"
“Ke mana?" wanita itu sedikit penasaran ke mana Orion mengajaknya.
“Bukankah kita akan menghabiskan malam panas yang panjang dan penuh gairah, Honey?"
“Kau ingin sekarang?" tanya wanita itu dengan manja.
“Tentu saja, aku tidak mungkin melewatkan wanita yang menarik dan menggoda sepertimu, karena kau seperti berlian yang bersinar di mataku. Hanya orang bodoh yang membuang sebuah berlian, bukan?"
Sang wanita merasa tersipu. Dalam suasana ramai dan di bawah penerangan lampu diskotek yang tidak terlalu terang itu, pipinya memerah sempurna.
“Perlu kupesankan minuman?" tawarnya dengan suara sexy.
“Tidak perlu, Manis. Aku sudah memesankan sebuah minuman untukmu, atau mungkin kau tidak memerlukannya, karena ... aku bisa memberikan minuman yang lebih nikmat dari semua minuman yang kau suka," jawab Orion.
Wanita tersebut tampak berbinar, pikiran liarnya mulai menari-nari di kepala cantiknya. Bayangan suasana panas dan cahaya temaram yang mendominasi kegiatan mereka untuk mencapai nikmat surga.
Seringaian terbit di wajah Orion, hatinya tertawa iblis, menertawakan kebodohan si wanita, yang dengan mudahnya percaya pada mulut manis setiap pria.
Langkah kaki keduanya yang seirama dengan detak jantung, membawa keduanya ke sebuah kamar.
Harum aroma mawar menyeruak memenuhi indera penciuman keduanya.
Suasana senyap dan temaram seakan mendukung kegiatan yang akan mereka lakukan.
Di atas sebuah nakas terdapat cairan berwarna merah pekat.
“Kau menyiapkan minuman untuk kita?"
“Sudah aku bilang, bukan? Aku akan mempersiapkan semuanya untuk malam panjang kita. Kau suka?"
“Aku tidak menyangka kau begitu romantis, Anak Muda."
Orion tersenyum sembari mengambil segelas wine dan menyodorkan pada wanita itu yang diterimanya dengan penuh sukacita.
“Minumlah, ini adalah anggur kualitas terbaik," Orion memandangnya dengan tatapan yang mampu membuat siapapun terbius.
Tanpa rasa curiga, wanita tersebut meminumnya, dan tak lama kemudian ia jatuh tertidur.
Beberapa jam kemudian ....
Kelopak mata yang indah itu mengerjap, cahaya temaram yang memaksa masuk retinanya membuat ia merasa sedikit silau. Tubuhnya otomatis bergerak. Sedikit tersentak karena tubuhnya sulit digerakkan.
Dalam keadaan sadar sepenuhnya. Matanya membola mendapati tangan dan kakinya terikat pada sisi-sisi ranjang.
“Ah, kau sudah bangun?" Orion bertanya dengan nada sing a song.
“Apa yang akan kalian lakukan padaku?" dengan suara bergetar sarat akan ketakutan wanita tersebut mencoba bertanya.
“Hng, apa ya. Uncle kira-kira apa yang akan kita lakukan dengan orang ini?" tanya Orion berlagak bodoh.
“Tentu saja bersenang-senang, memangnya apalagi?" jawab Rain sembari terkekeh.
“Kejamnya. Mana ada bersenang-senang yang seperti ini?" Orion mengambil lilin, sebuah pisau dan sebuah jeruk nipis.
“Kau sudah siap rupanya?" Orion hanya tersenyum, “Uncle, tolong ambilkan cambuk itu. Nanti Uncle yang bertugas menyambuk. Biar aku yang mengerjakan sisanya."
“Baiklah, terserah kau saja," jawab Rain sekenanya.
Rain kemudian maju membawa cambuk panjang, dengan seringai khasnya ia mendekati wanita yang masih terikat.
Ctas!
Ctas!
Ctas!
Rain menyambuk wanita itu berulang kali. Suara pekikan kesakitan langsung menjadi lagu pengiring kegiatan mereka.
Tubuh wanita itu terlonjak beberapa kali mengikuti irama cambukan Rain.
Puas dengan kegiatannya Rain pun berhenti. Air mata si wanita mengalir deras menuruni pipi.
“Kalian ... kejam. Kalian mons ... ter!" wanita itu merintih. Rain hanya diam, menganggap semua ucapan wanita itu adalah sebuah angin lalu yang lewat tanpa permisi di telinganya.
“Giliranmu, Nak!" Rain berucap tanpa memandang Orion.
“Tentu!" dengan sebilah pisau Orion mendekati ranjang dan naik ke atasnya. Tanpa membuang banyak waktu ia langsung mengoyak pakaian sang wanita dan melukis di tubuh wanita itu dengan pisau yang ia bawa.
Pisau yang tertancap dan bergerak perlahan itu terasa seperti siksaan demi siksaan yang ia dapatkan dari iblis yang sedang menggila.
Nyawanya seperti dicabut paksa oleh sang malaikat, seiring dengan ukiran demi ukiran yang terlukis di tubuhnya.
Darah yang mulai menetes warna merah pekatnya, menghiasi seprai, seakan memberi warna baru di seprai tersebut.
Puas dengan kegiatan melukis abstrak, Orion memberikan sedikit air jeruk nipis di beberapa luka yang telah dibuatnya pada tubuh si wanita.
Sakit dan perih menggerayangi seluruh tubuhnya. Erangan demi erangan penuh kesakitan dan putus asa meresap dalam dinding-dinding kamar.
“Tolong ... hentikan!" rintih wanita itu. Keringat dingin sebesar biji jagung mengalir di sekujur tubuhnya. Ia tidak yakin seberapa lama lagi ia mampu bertahan.
“Beri kami satu alasan, mengapa kami harus menghentikan aktivitas kami?" tanya Orion.
“Apa salahku, mengapa kalian tega menyiksaku?" wanita itu bertanya di tengah keputusasaan.
“Salahmu? Biar kujelaskan ... pertama kau menggoda uncle-ku, salah satu pemilik tempat ini, yang kedua kau menghina Mommy dan juga aunty-ku. Kaupikir, kau ini siapa, berani menghina mereka dan mengatakan dirimu lebih baik dari Mommy dan Aunty? Kau hanya perempuan rendahan yang dengan mudahnya menjual tubuh dan harga dirimu demi sejumlah uang pada para pria di luar sana," Orion menjelaskan.
Setelah wanita itu agak tenang, Orion mengambil sebuah lilin dan membakar luka-luka itu dengan lilin tersebut. Rasa panas karena jilatan api menyapa indera peraba.
“Argh!" teriakan sang wanita mulai terdengar kembali. Namun, Orion tidak memedulikannya.
Sampai akhirnya ia berhenti karena merasa bosan, “Aku sudah selesai Uncle. Wanita ini sudah tidak menarik lagi."
Rain hanya mendengus, kemudian memanggil orang-orangnya, “Masuklah!"
Sekelompok orang bertubuh kekar masuk ke dalam kamar kedap suara itu.
“Silakan jika kalian ingin bermain dengan wanita itu, terserah ingin kalian apakan. Pastikan wanita itu jera, bahkan merasa ingin sekali mengakhiri hidupnya!" perintah Rain.
Orang-orang tersebut maju dan merudapaksa wanita yang sudah berbaring tak berdaya.
Rain dan Orion keluar meninggalkan sisa permainan mereka.
Di dalam mobil keheningan kembali menyelimuti mereka.
Mereka bergulat dengan pikiran masing-masing.
“Aku tidak menyangka kau sanggup melakukan itu," suara Rain berhasil membunuh kesunyian yang tercipta.
“Aku hanya mulai ... terbiasa," sahut Orion.
Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka, bahkan sampai Rain mengantarnya pulang.
ak bacanya nyicil hehe
aku suka banget gaya bahasanya