NovelToon NovelToon
Aku, Kau, Dia Dan Cinta

Aku, Kau, Dia Dan Cinta

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Tamat
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anggun Kartika Mundikasih

Melupakanmu masih menjadi pekerjaan rumah yang belum kudapati jawabannya
Melepaskanmu adalah perkara mudah bagi logikaku namun menjadi sulit untuk hati ini
Semuanya tentang rasa yang ada di dalam dada...
Tetap mengharapkanmu adalah hal terbodoh yang kulakukan ketika dirimu yang mematahkan asa yang selam ini kupegang erat
Tetap bersamamu kusadari ada hati yang terluka dan kecewa
Tak akan ada kebahagiaan yang abadi jika berada diatas derita
Tapi aku bisa apa?
Hanya waktu yang akan menjawabnya
Perlahan akan menghapus segalanya
Antara Aku, Kau, Dia dan Cinta...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggun Kartika Mundikasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kenyataan yang Tak Terduga

“Iya Pak, laporan yang Pak Indra minta sedang dalam proses pengiriman melalui email,” Nadia begitu sibuk dengan laptop di hadapannya. Jari tangan kanannya sibuk mencari dokumen laporan yang diminta oleh atasannya sementara tangan kirinya sibuk memegang smartphone miliknya. Satu jam yang lalu dunia seolah hampir kiamat karena ia menangis tersedu-sedu di depan pintu kamar perawatan ibunya, sangat kontras dengan wajahnya sekarang yang sangat serius dan begitu profesional.

“Ini apple pie dan hot vanilla latte pesanannya.” Seorang pelayan mengantarkan pesanannya.

“Terima kasih Mbak,” Nadia mengucapkan terima kasih tanpa menoleh sedikitpun kepada pelayan cafe tempat ia berada sekarang, sebuah cafe mungil yang terletak di salah satu sudut rumah sakit. Hal yang sangat jarang dilakukannya jika tidak terdesak dengan pekerjaan yang terlalu menyita waktu dan perhatiannya.

“Selesai Pak! Dokumen yang Pak Indra minta telah terkirim dengan baik. Mohon dicek.”

“Maaf ya Mbak Nadia, saya harus merepotkan Mbak Nadia di weekend ini,” Terdengar suara dari smartphone Nadia. “Komisaris Utama minta laporannya mendadak.”

“Tidak apa-apa Pak, ini sudah menjadi tugas saya, selamat weekend Pak,” Hubungan telepon pun berakhir. Nadia menghela napas panjang seolah satu tugas berat terlewati. Ia menengadahkan kepalanya ke atas menatap langit-langit cafe.

Terdengar kembali bunyi ringtone smartphone milik Nadia. Dilihatnya layar smartphone-nya untuk memastikan siapa yang meneleponnya. Rupanya sang Papa yang meneleponnya. Ia pun dengan setengah hati mengangkat teleponnya.

“Halo Pa,”

“Apa yang telah kau lakukan pada Mamamu?!” Tanpa tendeng aling-aling Nadia mendadak terkejut dengan suara teriakan papanya yang penuh kecemasan bercampur kemarahan.

“Aku tidak melakukan apa-apa, kenapa Papa memarahiku?” Protes Nadia.

“Mamamu mendadak pingsan setelah kau meninggalkan ruangan perawatannya. Denyut jantungnya kembali melemah! Sekarang ia berada di ruang ICU!”

DEG! Jantung Nadia mendadak berdetak keras setelah mendengar kabar yang baru saja ia terima dari Papanya. Tanpa pikir panjang lagi Nadia segera meninggalkan cafe itu. Makanan dan minuman yang ia pesan pun sama sekali tidak ia sentuh. Ia berlari menuju ruang ICU tempat Acacia berada.

Ya Tuhan, kenapa tadi aku harus marah-marah ke Mama? Mama kan tadi ngomongnya baik-baik, dasar aku bego! Enggak dewasa! Seharusnya aku bisa menanggapinya dengan dewasa!! Anak nggak tahu diri!!! Mama, kumohon pulihlah, aku masih butuh Mama di sampingku!!

Nadia yang melihat ayahnya sejak tadi berjalan mondar-mandir di depan ruang ICU segera menghampirinya.

“Papa! Bagaimana kondisi Mama? Apakah sudah membaik?” Tanya Nadia dengan napas yang masih tersengal-sengal setelah ia berlari disekitar lorong menuju tempat Acacia dirawat secara intensif.

“Mama masih berada di dalam, Dokter Saga dan tim-nya masih berjuang mengembalikan kondisi Mama agar dapat normal kembali.”

“Ini semua salahku,” Nadia yang memang lemah dengan kondisi Mamanya akhirnya membuka suaranya. “Sewaktu aku menjenguk Mama, aku sempat berdebat dengan Mama,” Nadia sempat menghentikan ucapannya. Air matanya yang sejak tadi ditahannya akhirnya jebol juga. “Mama ingin aku kembali berhubungan dengan Saga dan aku menolak keras akan hal itu. Aku meminta Mama untuk menghentikan harapan konyolnya itu, tapi seharusnya aku bisa menolaknya secara halus. Karena sikap kerasku itu makanya Mama shock dan...”

“Dasar anak bodoh,” Amary mengusap lembut rambut anak kesayangannya itu.

“Aku nggak bodoh, kalau aku bodoh tidak mungkin menjadi Manajer,” Ujar Nadia polos dan terus menangis seperti anak kecil.

“Bukan itu anakku sayang,” Amary tertawa mendengar ucapan Nadia. Ia sungguh gemas melihat putri tunggalnya itu. Ketegangan yang selama ini ia rasakan kepada putrinya itu seolah mencair. Ia kembali mengusap rambut Nadia dengan lembut dan memeluk tubuh anaknya itu. “Papa sangat mengerti perasaanmu yang masih kecewa karena kegagalan tujuh tahun lalu. Papa masih ingat ekspresimu saat itu. Antara menahan tangis dan ingin menangis kau memutuskan pertunanganmu dengan Saga karena orang yang dicintai Saga bukanlah dirimu melainkan orang lain dan kau minta agar rencana untuk menyerahkan posisi Papa sebagai kepala rumah sakit kepada Saga tidak dibatalkan.”

“Tapi kenapa sampai sekarang Papa masih memegang jabatan itu?”

“Karena Papa belum siap untuk santai saja di rumah.”

“Alasan yang tidak logis!” Ucapan Nadia membuat tawa Amary semakin keras. Dalam hatinya Amary berkata seandainya anak perempuannya manis terus seperti ini tentu tidak akan pernah ada ketegangan diantara mereka berdua. “Papa kan sudah tua dan waktunya untuk beristirahat.”

“Alasan sebenarnya adalah karena Saga yang menolak tawaran itu.”

“Eh?” Tangis Nadia mendadak berhenti. Ia memalingkan wajahnya kearah Amary. “Apa maksud Papa?”

“Lebih baik kau tanyakan sendiri ke orangnya langsung,” Amary menunjuk kearah Saga yang baru saja keluar dari ruang ICU.

“Kondisi Tante Acacia sudah kembali normal,” Saga menghela napas panjang kemudian mengembangkan senyumnya. Nadia yang mendengarnya langsung terduduk di lantai. Tenaganya seolah menghilang.

“Syukurlah, kupikir aku akan menjadi anak durhaka dalam waktu dekat,” Amary dan Saga yang mendengar ucapan polos Nadia hanya bisa menahan tawa.

“Tante Acacia akan segera diantarkan kembali ke ruangan perawatannya.”

“Kalau begitu biar aku saja yang menemani istriku,” Amary berlalu meninggalkan Nadia yang masih terduduk lemas di lantai. “Aku titipkan anakku yang keras kepala itu ya.”

Ruangan ICU berubah menjadi lengang. Yang terdengar adalah langkah kaki Saga yang berjalan kearah Nadia. Sontak Nadia panik, ia belum siap untuk berbicara hanya berdua dengan Saga. Ingin rasanya ia melarikan dari situasi seperti sekarang ini. Namun tubuhnya sungguh tidak mau diajak kompromi.

“Mau sampai kapan kau terus terduduk di situ? Nanti kamu bisa masuk angin,” Saga segera menarik tangan Nadia untuk berdiri dari posisi sebelumnya. Seperti Saga biasanya yang ia kenal, selalu berkata dengan nada to the point-nya. Hal yang paling ia benci sekaligus ia sukai dari Saga.

“Iya aku tahu!” Nadia pun seperti biasanya menjawab dengan ketus.

“Matamu bengkak tuh!”

“Yang namanya habis menangis ya bengkaklah, mana ada sejarahnya habis nangis itu matanya baik-baik saja,” Nadia segera menghapus air mata dengan tangannya. “Komentar yang aneh!”

“Akhirnya bisa istirahat juga,” Saga menautkan kedua tangannya dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke atas. “Ada cafe yang bagus di rumah sakit ini, kalau tidak keberatan kau mau kan menemaniku makan siang? Atau tepatnya mungkin makan sore.”

“Terserah,” Nadia menjawab pendek dan sedikit membuang muka. Sebenarnya banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan. Tapi entah kenapa rasanya lidah ini mendadak kelu. Ia memandang punggung lebar Saga. Masih punggung yang sama, tidak ada yang berubah meskipun tujuh tahun telah berlalu.

***

1
Anggun Kartika
Akhirnya Selesai juga Novel ini. Terima kasih sudah setia membaca novel ini dari awal hingga akhir😌🙏🏻. Sampai jumpa di dunia imajinasi Penulis berikutnya 👋🏻
Aisyaah Putri
ceritanya bagus..gak sabar nunggu kelanjutannya
Anggun Kartika
I’m Back to finish this love story💪
Anggun Kartika
Dear para Pembaca setiaku, Novel ini hiatus dulu sampai Novel “Kontrak Jiwa” Tamat, terima kasih 🙏🏻
nursanti Santi
orang itu kalau baik n mudah luluh banyak yang manfaatin ya...kalau terlalu baik juga gak bagus orang pasti bilang naif tapi aku suka alur ceritanya walau di awal gak suka sifat saga eeeh setelah baca bab ini aku paham bukan saga yang salah tapi takdir sedang menguji kekuatan cinta mereka semangat nulisnya Thor
nursanti Santi: sama2 kakak saya tunggu cerita2 yang terbaru ya kak SEMANGAT 💪💪💪
total 2 replies
Amelia Zahra
bguss!!
adhinata rendra
Ditunggu updatenya 👍🏻
Ayunda Permata
Ditunggu updatenya Thorrr
Anonim
Ditunggu update chapter barunya ya Thot… gak sabar nungguinnya👍🏻
Pai Konyol
Nulis sesuai dengan gaya kakak aja biar ga pusing~
Anggun Kartika: Wkwkwkk, memang kenapakah? Aku nulis sesuai kata hati saja enaknya bagaimana..., yg terpenting sampai di para pembaca dan tidak melenceng dengan alur ceritanya😁
total 1 replies
Pin-Up Yang Elegan
Thor, aku gamau jadi arwah penasaran karena nungguin thor lanjut hiks
alchemyworks
next kak semangat, di tunggu update nya☺️🙏
TwilightQueenbee
Duh, ini cerita bikin gemes!
nowhere🌱
semangat lanjutinnya 💪💪😉
nowhere🌱
semangat lanjutinnya 💪💪💪😉
nowhere🌱
ditunggu kelanjutannya kak 😘😘😘
nowhere🌱
paling benci sama cowok lucknut macam tu
Anggun Kartika: Wkwkwkwk, jangan esmosi yak...😂😂😂
total 1 replies
[HCA]ѕυηηу [👑]σϝϝ
Bisakah Anda menjadikan saya administrator di tim Anda
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!