Arya dan Rania dipaksa menikah oleh kedua orang tua masing masing karena tidak ingin wanita lain yang merawat bayi yang dilahirkan oleh Ayumi yang tidak lain dari kakak dari Rania sendiri. Arumi meninggal dunia tak lama setelah melahirkan anak keduanya.
Ternyata menjadi ibu sambung untuk anak yang terbiasa memanggil dirinya Tante dan menjadi istri dari laki laki yang terbiasa dia panggil kakak ipar adalah hal yang paling sulit dalam hidupnya. Sofia, putri pertama Arya dan Arumi yang sudah berusia sepuluh tahun tidak menerima Rania sebagai ibu sambung. Kata kata hinaan dan kata kata tuduhan dari Sofia menjadi santapan Rania di awal pernikahannya dengan Arya. Bukan hanya Sofia yang menolak kehadirannya. Arya yang seharusnya memberikan perlindungan kepada Rania. Laki laki itu juga sangat jelas menunjukkan kebenciannya pada Rania.
Lalu, sanggupkah Rania bertahan. Apakah Rania tega meninggalkan Rio yang mengenal dirinya sebagai ibunya sendiri?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda manik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemilik Akun Palsu
Beberapa hari cuti ditambah dengan cuti ketika Ayumi melahirkan. Membuat pekerjaan Arya menumpuk. Tidak ada jalan lain selain fokus mengerjakan pekerjaan. Terkadang, dia masih menerima ucapan ikut berduka cita di kantornya. Tapi Arya meyakinkan hatinya. Jika Ayumi sudah pergi dan takkan kembali. Biarlah kebersamaan yang telah tercipta selama ini, menjadi kenangan indah bagi Arya akan sosok Ayumi.
Arya menegaskan dalam hati. Jika hidupnya kini hanya untuk Sofia dan Rio. Dia akan berusaha membesarkan dan memberikan kebutuhan primer dan kebutuhan sekunder untuk kedua buah hatinya. Dan Arya juga akan mengusahakan kedua buah hatinya itu akan mendapatkan kebutuhan tersier.
Satu Minggu sejak masuk bekerja. Terkadang masih ada tatapan kasihan dari rekan rekan kerjanya. Dan ada juga tatapan memuja dari kalangan pada gadis. Arya adalah sosok pekerja keras dan mempunyai karir yang cemerlang. Di tambah penampilan dan wajahnya yang tampan menambah daya tarik laki laki itu. Dan status duda yang diketahui para rekan kerja, membuat sebagian para gadis tak segan segan memberikan perhatian lebih.
Sedangkan hubungan dengan Rania masih biasa biasa saja. Bahkan bisa dikatakan lebih dingin. Sejak mengetahui, Rania memberitahu kan perihal pernikahan pada Hanin. Arya menghindari komunikasi dengan Rania. Dan pekerjaan yang menumpuk menjadi alasan yang tepat. Arya akan pergi dari rumah secepat mungkin dan pulang selarut mungkin.
"Pak, jadwal kunjungan kerja bapak untuk bulan depan," kata sekretaris Arya yang bernama Widia.
Arya malas malahan membaca jadwal kunjungan kerja itu. Posisinya sebagai direktur operasional di perusahaan kelapa sawit yang berpusat di ibukota harus rutin melakukan kunjungan kerja ke setiap perkebunan. Perkebunan yang berada di luar kota dan pedalaman.
"Artinya Minggu depan," kata Arya kemudian menarik nafas panjang. Bulan ini tinggal be
berapa hari lagi. Dan itu artinya dia harus meninggalkan Sofia dan Rio. Berat rasanya pergi ke luar kota meninggalkan anak anak tanpa mamanya.
"Benar pak."
"Oke, saya mengerti. Kamu bisa keluar."
Widia tidak langsung keluar. Dia masih berdiri di sisi meja.
"Ada lagi?"
"Pak, saya ikut berduka cita atas kepergian Ibu. Maaf baru kali ini bisa mengucapkan," kata Widia pelan.
Ketika Ayumi meninggal, Widia tidak bisa melayat karena sebagian pekerjaan Arya. Widia yang mengerjakan. Dan selama satu Minggu ini, Arya terlihat sangat sibuk. Sehingga Widia merasa segan untuk mengganggu atasannya itu hanya sekedar mengucapkan turut berdukacita. Wajah Widia terlihat sangat sedih.
"Terimakasih ya Widia," jawab Arya. Tidak bisa dipungkiri jika ucapan turut berdukacita dari Widia membuka kembali kesedihannya yang hampir terlupakan karena kesibukannya selama satu Minggu ini.
"Maaf pak, bukan bermaksud mengungkit kesedihan bapak. Hanya saja, saya juga tidak rela dengan kepergian ibu Ayumi yang sedang bahagia bahagianya."
"Kamu saja orang lain bisa sesedih itu, Widia. Apalagi saya suami dan anak anakku. Aku juga sangat tidak menyangka dengan kepergiannya. Pagi itu, Ayumi masih sangat sehat. Sorenya sudah tidak ada lagi."
Ya, seharusnya memang mereka berbahagia saat ini. Keinginan Ayumi memiliki anak laki laki sudah terkabul. Tapi sayang. Ayumi hanya bisa mengandung dan melahirkan tanpa ikut serta membesarkan. Maut telah memisahkan Ayumi dari orang orang yang mencintainya.
"Melahirkan memang pertaruhan nyawa pak. Ibu Ayumi menepati janji jika bapak adalah cinta matinya. Terbukti, hanya kematian yang memisahkan kalian."
"Janji." Arya mengerutkan keningnya.
Widia memang sekretarisnya. Dan Arya memperlakukan para bawahannya seperti layaknya seorang teman. Seperti pembicaraan mereka yang tidak kaku layaknya pimpinan dan bawahan begitu juga Arya pada bawahannya yang lain. Dengan seperti itu bukan berarti dirinya bebas membuka privasi keluarga pada rekan rekan kerjanya.
Mendengar perkataan Widia mengenai janji Ayumi tentu saja membuat Arya bingung. Widia dan Ayumi tidak dekat apalagi sampai bisa curhat curhatan. Jadi, janji yang mana yang dimaksudkan oleh Widia.
"Loh, bapak gak lihat postingan ibu Ayumi yang terakhir?"
Arya langsung meraih ponselnya. Dia penasaran dengan postingan yang disebutkan oleh Widia. Arya tidak terlalu aktif di media sosial sehingga tidak bisa melihat postingan istrinya. Lagi pula, pekerjaannya banyak menyita waktu. Membuka sosial media hanya akan menghabiskan waktunya.
Arya terlihat sibuk menggeser layar ponselnya. Kini dia menjelajahi media sosial istrinya. Postingan yang dikatakan oleh Widia tidak ada. Hanya ada ucapan selamat jalan untuk Ayumi dari teman temannya. Dan postingan terakhir istrinya itu ketika mereka berlibur bertiga di Singapura.
"Mana, Widia. Tak ada postingan seperti yang kamu maksud?"
"Masih sih, pak."
Widia juga ikut ikutan bingung. Postingan Ayumi yang terakhir itu sudah menjadi pembahasan penghuni kantor itu selalu dua Minggu ini.
"Gak ada."
"Coba lihat media sosial bapak. Sepertinya di-tag ke akun bapak deh. Makanya seisi kantor ini bisa melihat postingan ibu yang terakhir."
Cepat cepat, Arya membuka media sosialnya. Meskipun dirinya tidak aktif di media sosial. Tapi Arya mempunyai akun. Dan biasanya, Ayumi yang lebih banyak membuat postingan disana.
Bola mata Arya membulat seketika. Setelah mencari postingan hingga Minggu lalu. Postingan yang dimaksudkan Widia ketemu juga. Tapi yang membuat Arya terkejut bahwa akun yang menandai dirinya bukanlah akun milik Ayumi. Melainkan akun yang tidak dikenal. Namanya juga bukan Ayumi. Melainkan Mrs. Arya.
Siapapun yang melihat akun itu pasti menduga jika pemilik akun adalah istri dari Arya. Postingan yang menunjukkan dua tangan yang memakai jam couple dan juga cincin couple. Caption-nya juga menunjukkan janji cinta dan kesetiaan wanita pada pasangan hidupnya.
Spontan, Arya melihat pergelangan tangannya. Jam dan cincin yang ada di gambar itu persis seperti yang saat ini dipakai.
"Ada kan pak?" tanya Widia. Arya menganggukkan kepalanya lemas. Kemudian dia menyuruh Widia keluar dari kamar itu.
Di depan Widia. Arya menunjukkan jika pemilik akun itu adalah istrinya. Dia tidak mau mengatakan yang sebenarnya. Dia takut Widia berasumsi sendiri yang bisa menilai dirinya mempunyai selingkuhan. Itu tidak boleh terjadi. Dia harus menjaga reputasinya sebagai direktur operasional apalagi di masa saat duka seperti saat ini.
Setelah Widia meninggalkan ruangan itu. Arya kembali melihat pemilik akun Mrs. Arya. Foto foto yang diupload disana rata rata foto Arya. Ada juga foto foto wanita yang berpakaian seksi tapi tidak menunjukkan wajahnya.
Arya kembali melihat foto berisi tangan itu. Kembali, Arya terkejut. Foto itu diupload di hari yang sama Ayumi meninggal. Yang membuat Arya semakin terkejut. Ada komentar tak jelas dari akun Ayumi yang asli. Komentar itu hanya bertuliskan huruf s sebanyak lima huruf.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Arya dalam hati dengan tangan yang terkepal. Arya berjanji akan menemukan pemilik akun itu cepat atau lambat dan membuat perhitungan nantinya.
pantes dr kmrn cek riceknko gk update 😁