Yuna gadis yang usianya sudah cukup matang nan pekerja keras memiliki sifat terbilang sedikit galak. Sejak dulu hingga sekarang kedua orang tua Yuna meminta dirinya untuk menikah. Namun, permintaan itu Yuna tolak keras dengan alasan Yuna masih ingin bebas dan masih mau berkarir sebagai guru PNS di Sekolah SMA Bakti.
Akan tetapi, takdir berkata lain. Sebuah peristiwa mempertemukan dirinya dengan seorang pria bernama Biansyah Hermawan yang terkenal tukang onar di sekolahnya SMA Taruna.
Hingga pada akhirnya pernikahan beda umur itu terjadi dalam sekejap.
Bagaimana Yuna menyikapi pernikahannya bersama Bian yang lebih muda darinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Masrianiani Hijab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tangis Yuna
Tiba di tujuan, Tuan Hermawan seakan tidak ingin melihat wajah Bian. Bukannya menanyakan kabar pada putranya, Tuan Hermawan hampir saja melayangkan satu t*** di wajah Bian.
"Cukup ayah memakiku!" Bian menahan tangan ayahnya. "Dan Maaf, ayah, Aku tidak membiarkan ayah menamparku kali ini. Cukup, ayah, Cukup!" Bian menepis tangan ayahnya.
Jika saja hal itu terjadi, bisa di pastikan, Bian akan sangat kesakitan. Bagaimana tidak, Tuan Hermawan benar-benar amarahnya sudah sampai di atas ubun-ubun.
Terlihat tangan Tuan Hermawan gemetar. Ibu Sukma segera membawa Bian keluar dari ruangan itu menuju tempat yang lebih aman.
"Maaf, pak. Sebaiknya bapak duduk dulu. tolong emosinya ditahan." ujar salah satu petugas yang menangani kasus pelanggaran Bian.
Tuan Hermawan pun di wawancarai, Sementara Ibu Sukma memeluk putranya di tempat lain
"Maafkan Ibu, Nak, maafkan Ibumu ini, Bian." Ibu Sukma menangis memeluk Bian dengan penuh cinta dan kasih sayang seorang Ibu.
"Bian tidak mengapa, Bu. Hal ini sudah biasa," ujar Bian melepaskan pelukannya dari ibunya.
"Tidak mengapa bagaimana Bian? lihatlah seluruh tubuhmu! Bagaimana bisa kamu melakukan hal itu lagi, Nak? Apa Yuna tahu hal ini?"
Bian mengangguk. Dan menceritakan saat dirinya pamit pada Yuna. Bagaimana ekspresi Yuna dan pesan Yuna padanya.
"Lalu, Ibu mertuamu?" tanya Ibu Sukma lagi memperhatikan seluruh luka Bian.
"Dia tidak tahu. Mbak Yuna pun tidak tahu jika aku sampai di sini."
Tuan Hermawan datang dengan tatapan yang begitu tajam. Sekejap Tuan Hermawan meraih kerah baju Bian.
"Kau selalu saja membuatku malu, Bian! Apa dosa ayah padamu, Bian! Apa? Kau... "
"Ayah, Sudah! Cukup! Bila ayah marah padanya, marahi saja ibu!" Teriak Ibu Sukma sambil meneteskan air mata.
Melihat ayahnya bertengkar karena dirinya, Bian memilih pergi.
"Bian!" panggil Tuan Hermawan. Semua petugas hanya bisa geleng kepala melihat keadaan keluarga tersebut.
Bian menaiki motornya dan langsung menancap gas dan berlalu tanpa menoleh lagi. Tuan Hermawan semakin mendidih dan berusaha mengimbangi emosinya.
Segera mungkin Ibu Sukma mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.
"Bian!" Kesal dan marah Tuan Hermawan sambil menarik napas dan menghembuskannya cukup kasar.
Ibu Sukma meninggalkan Tuan hermawan tanpa satu kata pun menuju mobilnya. Melihat istrinya menuju mobil, Tuan Hermawan menyusul.
***
Di balik helem itu, mata Bian terlihat merah. Dirinya sudah cukup lelah menghadapi semua. Entah sudah berapa kali, Bian memukul setir motornya. Dan hampir saja, Bian kembali menabrak penjual bakso yang sedang memotong jalan.
Dari sejak kecil Bian merasa selalu di bedakan oleh ayahnya. Seakan tidak pernah suka dengan kehadirannya.
"Aku sebenarnya anak siapa?" Bian terus melajukan motornya di atas kecepatan rata-rata.
Hingga, tibalah Bian di kediaman Yuna. Cukup lama Bian termenung di atas motornya. Bian menenangkan rasa kekecewaan dirinya terhadap sang ayah.
Terlihat Bian begitu frustrasi dengan barusan di alaminya.
Merasa tenang, Bian pun turun dari motornya dengan langkah gontai dan berharap penghuni rumah sudah tidur.
Sebelum pergi, Yuna memberikan satu kunci rumah untuknya. Bian dengan pelan masuk di dalam rumah, begitu juga saat Bian kembali menutup dan mengunci pintu rumah sederhana itu.
Begitu Bian akan membuka pintu kamarnya, Yuna menyahut. "Sudah pulang?"
"Aku lelah, Mbak?" Nada Suara serak Bian tampak tidak bersemangat.
"Obati lukamu dulu." Yuna memberikan kotak obat pada Bian yang sudah membuka pintu kamarnya.
Bian dengan lemas meraih kotak obat itu dari tangan Yuna dan tidak berani menatap mata Yuna. Entah. Mungkin karena dirinya rasa bersalah atau bagaimana?
Sebenarnya, Yuna tidak ingin ikut campur dengan urusan Bian. Namun, kerana Bu Sukma yang menelpon sebelumya dan menceritakan semuanya hingga Yuna pun tahu apa yang terjadi.
Melihat Bian masuk kamarnya, Yuna pun menyusul masuk dan menutup pintu kamar Bian takut Ibu Lusia mendengar percakapan mereka.
Bian tidak pernah menyahut saat Yuna mengobati lukanya. Bian hanya meringis menahan rasa sakit yang ada.
"Jangan cengeng! Kamu harusnya bersyukur, memiliki orang tua yang lengkap. Tidak harusnya kamu seperti ini," ujar Yuna mengobati luka Bian pada tangannya.
Lalu, Yuna melihat bagian lengan dan suku serta lutut Bian tampak mengeluarkan darah. "Ini sakit?"
Bian hanya mengangguk dan menahan perih saat Yuna kembali mengobati lukanya.
"Tahan. Ini akibatnya dari tingkahmu. Mungkin ini teguran untukmu." ujar Yuna lagi. "Kau harusnya bisa lebih mendengar lagi pesan orang tuamu."
"Memangnya di mana ayah Mbak Yuna?" tanya Bian pada akhirnya.
"Aku malas membahasnya. Jangan kau tanyakan hal itu." Yuna melanjutkan mengobati luka lainnya pada tubuh Bian.
"Mau apa kamu buka baju?" Yuna heran melihat Bian tiba-tiba membuka bajunya.
Segera mungkin Yuna menutup matanya.
"Pasang tidak bajunya!" perintah Yuna dengan tegas.
"Tidak usah ribut, Mbak. Ibu nanti bisa saja salah paham, jika kamu ribut. Apa Mbak tidak melihat luka memar di bagian belakangku? Mengapa begitu sakit." Bian meminta Agar Yuna mau melihat punggungnya.
"Jangan banyak mengeluh. apa yang kamu lakukan, inilah akibatnya," judas Yuna lagi yang masih menutup kedua matanya dengan tapak tangan.
"Tidak usah mengomel, Mbak. Ibu nanti akan dengar. Buka saja matamu. Aku tidak akan memakanmu. Tidak usah malu-malu seperti itu." Bian tersenyum. "Atau jangan-jangan, Mbak tidak pernah pernah pacaran, ya?" ledek Bian.
Yuna segera membuka matanya dan mengarahkan pandangannya ke arah Bian. dan berkata, "Aku pernah pacaran atau tidak, itu bukan urusanmu."
"Jelaslah menjadi urusanku." lirih Bian.
"Apa kamu bilang?"
"Aku bilang, Mbak cantik dan lebih cantik kalau tidak marah."
"Kamu, Ya. Raja gombal! Kamu pikir aku mempan dengan gombalanmu. Tidak!"
"Judas, banget, sih, Mbak?"
Yuna segera memalingkan tubuh Bian dengan kasar yang membuat Bian merintih.
"Pelan-pelan dong, Mbak! Ini sakit." Bian kembali meringis akibat ulah Yuna yang tidak memberinya ampun.
Yuna melihat dengan jelas tubuh Bian begitu sempurna. Yuna segera mungkin mengalihkan perhatiannya.
"Ada. Memarnya cukup parah!" kembali Yuna dengan nada seperti biasanya.
"Sudah! Aku mau istirahat. Obati sendiri lukamu." Sebenarnya Yuna kasihan pada Bian. Namun, Yuna tidak bisa melakukan hal lebih untuk Bian.
"Mbak Yuna," panggil Bian dan berdiri mendekati Yuna yang kini sudah berada di depan pintu kamarnya.
"Apa?" kelit Yuna melihat Bian menghampirinya. "Mau apa kamu? Yuna sedikit risih dengan tatapan Bian.
"Terimakasih." Bian langsung memeluk Yuna. "Biarkan aku memelukmu sebentar, Mbak. Aku seakan menemukan kehangatan di sini.l, " ucap Bian.
Bian juga belum tahu seperti apa perasaannya pada Yuna. Apakah perasaan sebagai suami atau perasaan sebagai adik dan kakak?
Yuna berusaha untuk lepas dari Bian. Namun, semakin Yuna berusaha untuk lepas, Bian semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku tidak tahu lagi. Apa yang harus aku lakukan. Aku benar-benar hilang kepercayaan. Mereka tidak memahamiku. Aku lelah."
Yuna menyimak apa yang dikatakan Bian yang masih memeluknya.
"Bian, Jika kamu tidak melepaskan aku. Maka bersiaplah mendapat sakit baru malam ini," ancam Yuna yang membuat Bian segera melepaskan Yuna.
"Galak banget, sih, Mbak. Biasanya istri itu bahagia saat di peluk oleh suaminya. Nah ini. Justru sebaliknya."
"Aku ingatkan kembali. Jangan pernah sebut kata ISTRI atau SUAMI di depan orang. KAU DENGAR, BIAN!" sahut Yuna.
"Kau lihat jam!" Tunjuk Yuna pada jam dinding yang ada di kamar Bian. "Jam tidurku sudah terganggu olehmu. Apa kau paham?!"
"Baiklah, Aku minta maaf atas kelancanganku memeluk, Mbak. Selamat malam."
"Hamm ...." jawab Yuna menutup pintu kamar Bian.
Bian tersenyum dan melihat kembali lukanya yang sudah di obati oleh Yuna.
Bian kembali teringat dengan kata-kata kasar ayahnya dan juga Bian kembali ingat perkataan Yuna. Bian semakin penasaran tentang Yuna. terkadang sifat Yuna berubah-ubah.
"Ada apa denganmu, Mbak Yuna?"
***
Yuna mencoba memejamkan matanya dan terus teringat isak yang tangis Ibu Sukma saat menceritakan tentang Bian.
"Akh! kenapa juga aku memikirkan dia. Tidak." Yuna merasa terganggu dengan curhatan tentang Bian di tambah saat Bian memeluknya. Yuna bisa merasakan bagaimana Bian terlihat begitu terpuruk.
Bahkan Bian dengan sadar berkeluh kesah padanya. "Akh! Apa peduliku padamu.
Yuna menangis dalam dekapannya sendiri. Yuna memeluk kedua lututnya.
"Oh Takdir, Mengapa kau membawa aku dalam kehidupan serumit ini. Apa kata mereka jika tahu tentangku. Aku pasti sangat malu dengan mereka. Aku tidak siap!" lirih Yuna dalam tangisnya.
"Liburan ini harusnya aku nikmati. Namun kenyatannya, jauh dari apa yang aku harapkan." Yuna kembali terisak.
Puas dalam isaknya, Yuna beranjak dan masuk kamar mandi. Keluar dari kamar mandi Yuna berusaha menenangkan jiwanya sendiri.
Yuna menoleh melihat Foto dirinya bersama Ibu terkasih dan adik laki-lakinya. Selama Ini Yunalah sebagai tulang punggung keluarga. Entah bagaimana kabar ayah Yuna sekarang. Yuna sengat membenci pria itu yang telah meninggalkan keluarganya.
"Jika bukan karenamu, Ibu. Yuna tidak akan bertahan dalam pernikahan seperti ini. Yuna malu, Ibu. Yuna minta maaf. Yuna menolak Ibu menjodohkan aku dengan pria pilihan Ibu, bukan tanpa alasan, Ibu." Yuna memeluk Foto itu dan melihat kado Untuk Ibu lusia yang sudah Yuna siapkan.
"Selamat Hari Ibu." Yuna kembali memeluk Foto itu lagi dan lagi. Bahkan Yuna mengecup Foto ibunya dan meneteskan air mata.
"Ibu, aku akan mengikuti jejakmu menjadi wanita yang kuat. Wanita yang tidak mudah ditindas oleh siapa pun. Jiwa pahlawanmu sungguh begitu kuat. Kau tidak pernah mengenal lelah. Bahkan aku masih ingat, Bagaimana dulu, Ibu berjuang menghidupi kami. Bahkan Ibu rela menjadi tukang cuci keliling di kompleks ini." Yuna semakin terisak.
Ketukan pintu kamar Yuna membuat dirinya sadar akan waktu yang sudah semakin larut.
TERIMAKASIH SUPPORT UNTUK AUTHOR. ✍️✍️✍️✍️✍️ Bila perlu masukkan dalam Daftar FAVORIT/SUBSCRIBER biar terus dapat pemberitahuan UP terbaru AUTHOR. ☺☺☺🙏🙏