Apakah perceraian harus menjadi jalan satu-satunya saat rumah tangga tertimpa masalah? Jika benar seperti itu, maka tidaApakah perceraian harus menjadi jalan satu-satunya saat rumah tangga tertimpa masalah? Jika benar seperti itu, maka tidak akan ada ucapan sakinah mawadah warahmah, dalam pernikahan.
Bertahan dalam pernikahan yang memberi tangis kesedihan bukan hanya bentuk kebodohan, tetapi bentuk dari perjuangan dalam mencapai pernikahan yang bahagia. Karena tidak ada pernikahan yang berjalan mulus tanpa masalah. Begitu juga pernikahan antara Zaara dan suaminya–Arjuna.
Malam pertama pernikahan yang harusnya memberikan Zara kebahagiaan, justru memberikan luka yang begitu menyakitkan untuk Zara, saat Zara mengetahui jika suaminya mencintai wanita lain.
Apakah Zara memilih menyerah? Tidak. Karena Zara mencoba bertahan dan berjuang untuk pernikahannya.
Apakah perjuangan Zara akan berbuah manis? Entahlah.
Ikuti ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamie kembar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Pertama pernikahan mereka, sekarang yang terjadi justru sebaliknya. Keadaan Zara tidak baik-baik saja setelah mendengar pembicaraan para pelayan.
Zara merasa begitu sesak, berbagai pikiran seakan mulai berdatangan menyangkut sosok bernama Laura dan semakin Zara memikirkannya, maka akan semakin sesak dan nyeri dadanya.
'Ya Allah. Semoga ini semua tidak seperti yang aku pikirkan, aku mohon....' Batin Zara menahan agar air matanya berhenti keluar.
"Tenanglah Za. Siapapun wanita itu, statusnya tidak akan lebih kuat darimu. Di sini dan saat ini kamulah istri sah dari mas Juna. Mungkin saja dia wanita dari masa lalu suamimu, anggaplah kamu tidak pernah mendengar ini semua. Percaya pada suamimu, Za. Jangan menambah dosa dengan berpikir buruk tentangnya," ucap Zara pelan yang saat ini sudah berada di pertengahan tangga, mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan, dan coba menghentikan tangisnya.
"Laura, Laura, Laura." Nama itu terus saja terngiang-ngiang di benak Zara sekalipun Zara berusaha melupakan semua yang telah didengarnya.
Zara melangkah cepat menuju kamarnya, dengan tubuh bergetar serta menggigit bibirnya pelan menahan tangis yang lagi-lagi akan meledak darinya. Sekuat apapun wanita, tidak akan ada yang bisa tenang setelah mendengar sesuatu seperti yang telah didengarnya. Apalagi di malam pertama pernikahannya.
Setelah masuk kedalam kamarnya, Zara jatuh terduduk lemas bersandar di balik pintu. Kakinya terlipat, Zara menenggelamkan wajahnya pada kedua lututnya dengan air mata yang mengalir dengan sangat deras membasahi wajah cantiknya.
Zara menepuk dadanya yang terasa begitu sesak, hatinya terasa begitu nyeri. Pikirannya mulai berkelana memikirkan banyak hal yang mungkin saja terjadi dan akan terjadi.
Terluka, jelas Zara terluka. Meskipun Zara tidak tau siapa dan apa hubungan wanita itu dengan suaminya. Namun dari apa yang Zara dengar, Zara sangat yakin jika perempuan itu adalah wanita spesial di hati suaminya, entah itu sekarang ataupun sebelum mengenalnya.
Ribuan anak panah serasa menghujam jantung Zara mengingat hari dimana seharusnya menjadi hari yang indah untuknya justru menjadi hari yang begitu menyedihkan di hidupnya. Zara semakin terisak menangis saat menyadari Juna yang tidak ada di rumah dan pikirannya melayang membayangkan suaminya tengah melakukan hal-hal yang menyakitkan di belakangnya, seperti yang tadi dikatakan para pelayan.
"Berhenti berpikir yang tidak-tidak, Za! Suamimu bilang dia sedang ada urusan di luar sana," ucap Zara kembali berusaha menghentikan tangisnya.
Sekeras apapun Zara berusaha tenang, tetap saja hatinya merasa tak tenang. Perasaan curiga tetap saja menyelimutinya membuat Zara memutuskan untuk menghubungi Juna.
"Mas, jawab aku! Jangan membuatku terpuruk seperti ini," gumam Zara saat Juna tak kunjung menjawab panggilan darinya.
Zara tak menyerah, ia terus menghubungi Juna hingga panggilan ke-lima baru lah mendapat jawaban dari Juna.
"Sayang, tubuhku terasa remuk. Kamu berulang kali menyerangku seperti singa kelaparan. Tapi tetap saja aku menyukai semuanya. Aku mencintaimu," ucap seorang wanita terdengar dan itu membuat Zara terdiam.
"Aku juga sangat mencintaimu, Sayang." Suara yang amat Zara kenal membalas ucapan wanita yang sebelumnya Zara dengar.
Sakit, tentu saja sangat sakit yang dirasakan Zara. Zara gadis yang tidak pernah berpacaran dan sangat terjaga dari jangkauan laki-laki karena penjagaan yang sangat ketat dari kedua Kakaknya, tapi tetap saja Zara sangat mengerti apa yang tengah dibicarakan pasangan di balik telepon.
"Mas, kamu sedang apa?" tanya Zara dengan suara bergetar. Pertanyaan yang hanya dapat didengar oleh Zara sendiri sebab panggilan telepon telah diputuskan dari sana.
Ponsel yang ada di tangan Zara terlepas dengan sendirinya, tangis Zara semakin terdengar memilukan. Wajah cantik yang selalu memperlihatkan senyum yang manis itu sekarang tengah berduka, siapapun yang melihat kesedihan Zara pasti akan turut merasakannya.
"Kakak... Tolong aku. Kenapa rasanya sangat menyakitkan?" ucap Zara seakan tengah mengadu pada kedua Kakaknya.
Perfect deh.....
ada season kedua kah???
ternyata selama itu kamu pergi , gimana keadaan papa Emir juga Juna sekarang....