Mutia, Gadis Manis itu merasa Tuhan begitu menyayanginya, selain sang mama, kini ia juga di hadapkan dengan seorang Om-om mesum yang tidak lain adalah bosnya sendiri. Kedua orang tersebut bagaikan bayangan diri sendirinya, apapun yang ia lakukan pasti tidak pernah terlepaa dari pantauan mereka.
Namun semua berubah saat ia bertemu dengan Raga, pegawai baru yang tidak diragukan lagi ketampanannya.
Lantas bagaimana kisah Mutia selanjutnya? Akankah si Bos membiarkan ia dekat dengan lelaki lain?
Akan ada banyak kejahilan serta kisah seru lainnya, jangan ketinggalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erin FY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Seusai makan, Denis benar-benar mengajak Mutia ke rumahnya. Mutia benar-benar takjub dengan kemewahan rumah bosnya itu.
"Bapak, kita ngapain, sih? Bapak mau hukum saya apaan?" tanya Mutia saat melihat Denis terus saja mengajaknya ke belakang rumah.
"Berhenti panggil saya bapak, Mbak Mut!" perintah Denis sembari berbalik menatapnya tajam.
"Tapi bapak kan memang atasan saya."
"Setidaknya tidak waktu berdua. Apa saya setua itu harus kamu panggil pak-pak terus, hah?"
"Bapak juga kenapa panggil saya Mbak Mut? Emang saya kayak mbak-mbak jamu? Lagian nama saya Mutia, bukan Mut aja!" balas Mutia tak mau kalah.
"Lah kamu kan imut kayak marmut, gak salah dong panggil kamu Mut?" ucap Denis yang mencoba mendekat ke Mutia. "Kalau gak mau dipanggil Mbak Mut, terus mau dipanggil apa? Sayang? Kamu juga boleh panggil saya dengan sebutan itu," lanjut Denis yang semakin mendekat.
Mutia terus saja mundur kebelakang. Hingga tanpa sadar ia sudah tersudut di tembok. Mutia yang merasa terpojok akhirnya berteriak kencang.
"Mbak Mut ngapain, sih? Kenapa teriak-teriak?" Denis melangkah mundur. Memperhatikan seisi rumah, memastikan tidak ada yang mendengar teriakan gadis itu.
"Bapak yang ngapain? Kenapa deket-deket? Bapak mau macam-macam, ya? Saya teriak lagi, nih?" ancam Mutia yang membuat Denis mengangkat kedua tangan tanda menyerah.
"Ok-ok. Saya cuma bercanda."
"Siapa di sana?" Suara seorang wanita dari lantai dua. Perlahan suaranya semakin mendekat, hingga terlihat kemunculannya di ujung tangga.
"Denis, tumben jam segini sudah pulang?" Erna--mama Denis-- nampak heran melihat sang putra ada di rumah. Lebih heran lagi saar melihat gadis bersama anaknya tersebut.
"Mama ... maaf, kami ganggu istirahat mama, ya?" tanya Denis sembari mendekat ke arah mamanya.
"Enggak, mama tadi sedang nonton tv. Itu siapa Denis?" Erna melihat ke arah Mutia yang sedang tertunduk di tempatnya semula.
"Ouw ... itu Mutia, Ma. Mbak Mut, sini kenalan sama mama." Mutia mengangguk. Perlahan ia mendekat. Tangannya terulur memberi salam kepada bos besarnya itu.
"Mutia, nyonya," ucap Mutia kembali menunduk.
"Loh, kok nyonya? Panggil tante dong, kayak sama majikan aja panggil nyonya," ucap Erna sembari memegang bahu Mutia. Mutia tersenyum canggung dan mengangguk.
"Denis, inikah calon mantu mama?" Erna menatap sang anak menuntut jawaban.
Denis tersenyum simpul. "Kalau mama merestui," jawabnya sembari bermain mata ke arah Mutia.
Mutia yang hendak protes ditinggalkan begitu saja oleh Denis. Ia menuntun sang mama untuk duduk di ruang tamu. Mau tak mau, Mutia pun mengikuti dari belakang.
"Nak, sini. Duduk dekat tante." Erna menepuk sofa kosong disebelahnya. Denis hanya tersenyum simpul melihat kebingungan Mutia.
"Cantik. Kalian sudah kenal berapa lama?"
"Eeh--eeh- Sebenarnya saya--" Belum selesai Mutia menjelaskan, Denis sudah terlebih dahulu menyela.
"Baru saja kenal, sih, Ma. Dia karyawan baru di toko. Cantik, ya, Ma? Mama setuju kan?" Mutia melotot ke arah Denis, namun lagi-lagi Denis mengedipkan matanya.
Tanpa mereka sadari, Erna melihat tingkah konyol dua orang tersebut. Ia tersenyum, bahagia melihat anaknya bisa berbahagia lagi.
"Mutia, Maafin Denis, ya? Maafin kalau dia sering godain kamu, tapi biasanya itu bukti cinta dia." Erna memegang kedua tangan Mutia. Mencoba menyakinkan gadis itu bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Jadi, kapan kalian meresmikan hubungan ini? Mama sudah gak sabar pingin punya cucu." Denis yang sedang minum menuntahkan semua. Ia tersedak, tak menyangka mamaya akan bertanya seperti ini.
Mutia pun tak kalah kaget. Bagaimana bisa kebohongan Denis bisa sejauh ini. Namun, satu hal yang ia kagumi, Denis dan mamanya tak pernah mempermasalahkan statusnya. Bahkan sang mama tanpa ragu menyetujui hubungan palsunya dengan Denis, padahal ia hanyalah karyawan toko.
"Mama, buru-buru banget, sih. Kami kan baru proses penjajakan. Tapi, Denis sih siap kapan aja, kalau Mutia mau sekarang, Denis juga ayo." Kini giliran Mutia yang tersedak mendengar ucapan Denis.
Mutia tak habis pikir, kenapa Denis harus membohongi mamanya seperti ini. Kalaupun hanya ingin menyenangkan sang mama, ia bisa mencari gadis lain, gadis yang sepadan dengannya. Bukan dia yang hanya gadis biasa.
"Bagus deh kalau gitu. Lebih cepat lebih baik. Kapan kami bisa ketemu orang tua kamu?"
Ya ... Tuhan, Mutia ingin pingsan saja rasanya.
tolong sambung... best nie..tak sabar nak baca...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, searchnya pakek tanda kurung biar gak melenceng yaa