Kehidupan remaja yang penuh warna nyatanya tak selamanya selalu indah. Kadang ada masa bertemu dengan masalah yang pelik yang justeru datang dari lingkungan keluarga dan teman.
Sama sebagaimana yang dialami Cita, menjadi remaja justeru membuatnya hampir frustasi.
Untunglah ia memiliki Damar dan Adi dalam hidupnya. Meskipun pada akhirnya Cita harus kehilangan salah satu di antara keduanya.
So' seperti apa kisah yang real kehidupan remaja pada umumnya? Yuk ndongeng bersama Cilamici 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Kesalahan Di Masa Lalu
Jam mendekati pukul sebelas malam saat Bi Imah akhirnya selesai meracik bumbu untuk masakan besok yang akan dia jual.
Belakangan tubuhnya mulai lelah berjualan keliling, jadi Bi Imah memutuskan untuk berdagang di depan rumah saja menggunakan meja seadanya.
Bi Imah keluar dari dapur, dilihatnya Cita sudah masuk kamar, sepertinya ia sudah lelah dan istirahat.
Sementara Damar masih menonton TV, sambil sesekali berbalas chat dengan pacarnya yang kuliah di Bandung.
"Mar."
Panggil Bi Imah."
Damar menoleh pada Ibunya yang kini berjalan menghampirinya dan kemudian duduk di sebelahnya.
"Ada apa Bu?"
Tanya Damar.
"Soal Neng Cita."
Kata Bi Imah dengan nada suara yang sengaja dipelankan, ia khawatir jika Cita belum tidur dan nanti bisa mendengar apa yang akan mereka bicarakan tentang Cita.
"Yah, Cita kenapa Bu?"
Damar meletakkan hp nya di atas meja.
Tentu saja, tidak baik saat diajak bicara orangtua lalu sebagai anak sambil bermain hp.
"Sepertinya besok Ibu harus pergi ke rumah Neng Cita, paling tidak Ibu harus bicara pada Tuan Yandik."
"Ibu jangan ke rumah itu lagi, apalagi bertemu dengan Tuan Yandik."
Tegas Damar.
"Tapi Mar, kalau ada apa-apa nanti kita akan disalahkan lagi."
Kata Bi Imah khawatir.
Damar menghela nafas.
"Ibu tahu kamu masih sakit hati karena kejadian di masa lalu, tapi Ibu lihat kamu bisa tetap baik pada Neng Cita, jadi apa salahnya kita juga ba..."
"Tidak Bu."
Damar memotong kalimat Ibunya.
"Maaf Bu, tapi Damar harus katakan Damar tak akan pernah setuju dan tak akan pernah ijinkan Ibu kembali ke rumah itu lagi."
Ujar Damar.
"Urusan Cita itu urusan lain, Damar sudah menganggap Cita seperti adik Damar sendiri, lagipula Damar cukup dewasa Bu, Damar tahu Cita tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa soal peristiwa waktu itu."
Kata Damar.
Bi Imah tertunduk.
Sesungguhnya ia telah lama memaafkan semuanya, tapi melihat anaknya begitu emosi, rasanya Bi Imah jadi seperti melihat penggalan masa lalu itu kembali.
"Lalu bagaimana jika Neng Cita bersikeras tak akan pernah mau pulang lagi."
Lirih Bi Imah.
"Cita pasti akan pulang, dia hanya sedang ngambek, nanti juga kalau sudah tenang akan minta pulang."
Kata Damar.
Bi Imah menghela nafasnya.
"Yaaah semoga."
Bi Imah menyandarkan tubuh lelahnya.
**----------**
Flashback,
"Sungguh bukan saya Nyonya, bukan saya."
Bi Imah bersimpuh di lantai, Nyonya Karlina menatap Bi Imah dengan wajah kecewa.
Adik ipar Nyonya Karlina melempar tas Bi Imah ke lantai di mana Bi Imah bersimpuh membuat semua isinya keluar dan jatuh berantakan.
Ada dompet milik Bi Imah, saputangan, sisir kecil, kunci rumah dan satu kotak cincin kecil yang Nyonya Karlina jelas kenali betul milik siapa.
Bi Imah yang juga melihat kotak cincin yang tak pernah ia tahu milik siapa itu tampak melongo.
Ia tak mengerti kenapa kotak cincin itu keluar dari tas nya.
Nyonya Karlina berdiri dari duduknya, ia mendekati kotak cincin yang tergeletak di dekat tas Bi Imah.
Di raihnya kotak cincin itu dan dibukanya.
Kosong.
Tak ada cincin di dalam sana.
Nyonya Karlina menatap Bi Imah dengan marah.
Tatapannya yang semula hanya seperti menuduh tanpa bukti kini berubah menjadi murka.
Nyonya Karlina tanpa ampun memukul Bi Imah.
"Lancang! Pencuri!!"
Nyonya Karlina memukuli Bi Imah dengan tangan masih menggenggam kotak cincin.
Cita yang baru pulang les, begitu melihat Bi Imah dipukuli Ibunya langsung berlari dan menghalau Ibunya.
Cita melindungi kepala Bi Imah dari pukulan Ibunya.
"Ibu, sudah Ibu, jangan pukul Bi Imah."
Cita menangis.
"Minggir Cita!"
Bentak Ibunya.
Tapi Cita tidak mau.
Cita menyayangi pengasuhnya.
"Cita! Bi Imah pencuri! Dia mencuri cincin Ibu, kenapa kamu membela pencuri hah!"
Marah Ibunya.
Cita kemudian ditarik adik Ayah Cita dengan kasar.
Ibunya Cita berusaha akan memukul Bi Imah lagi, saat kemudian Cita berhasil melepaskan diri dari pegangan Bibinya, lalu menghambur memeluk Bi Imah hingga pukulan Ibunya justeru mengenai kepala Cita.
Cita yang kepalanya terkena pukulan keras dari Ibunya langsung limbung dan jatuh ke atas lantai.
Ibu Cita menjerit histeris, Bibi Cita berlari menelfon ambulance.
Bi Imah menangis tersedu-sedu.
Hari itu ia diusir dari rumah Cita dan resmi berhenti bekerja. Ia juga diminta mengganti cincin berlian Ibu Cita yang hilang, hingga Bi Imah harus menjual rumah peninggalan orangtuanya dan terpaksa membeli rumah petak kecil di gang sempit yang akhirnya ia tinggali hingga saat ini.
Flashback berakhir.
**----------**
Cita di kamar belum bisa tertidur. Matanya menatap langit-langit kamar Mpok Ulfa, putri sulung Bi Imah.
Bayangan peristiwa saat ia masih kecil dulu rasanya kembali mengganggu pikirannya.
Rasa bersalah pada Bi Imah semakin besar manakala Cita memikirkan kebaikan Bi Imah dan Bang Damar dua hari ini.
Yah, setelah kejadian itu, mereka tetap baik pada Cita, padahal harusnya mereka tak usah peduli pada Cita pun tak apa-apa. Tapi mereka nyatanya tetap perhatian dan mau menampung Cita.
Cita menghela nafas.
Andai, andai Cita dulu punya keberanian membela Bi Imah lebih dari sekedar menghalangi Ibunya memukuli Bi Imah.
Andai Cita berani bilang pada Ibu, jika yang Cita melihat Bibinya lah yang mengambil kotak cincin milik Ibu saat Ibu pergi.
Yah, Bibinya, adik Ayah Cita sendiri, yang hari dua hari sebelum peristiwa menyedihkan itu terjadi baru datang bersama anaknya karena baru saja ribut dengan suaminya.
Ia mengungsi di rumah Cita, untuk meminta perlindungan Ayah Cita sebagai kakak laki-laki tertua dalam keluarga.
Bibi Cita itu adalah Ibunya Dea. Sepupu Cita yang selalu dibanding-bandingkan dengan Cita oleh adik-adik Ayah yang lain.
Yah Dea, yang selalu dipuji cantik, penurut, pendiam dan lain sebagainya.
Sementara Cita adalah kebalikannya.
Cita ngeyelan, petakilan, pergaulannya bebas, dan semua hal yang jelek-jelek lainnya.
Cita menghela nafas.
Rasanya setiap kali mengingat hari itu, Cita akan merasa dia adalah seorang pengecut, yang tak berani mengatakan kebenaran untuk membela Bi Imah yang tak bersalah.
Cita memiringkan tubuhnya, menatap pantulan dirinya di cermin lemari baju yang ada di kamar.
Bisa jadi kenapa sekarang hidupnya berantakan dan kehidupan di rumahnya juga berantakan adalah karena dosa mereka pada Bi Imah.
Yah, bahkan Ibunya Cita menderita kanker getah bening setahun setelah peristiwa itu, yang akhirnya kemudian meninggal empat tahun berikutnya.
Cita mengalihkan tatapan matanya ke arah tas sekolahnya yang ia gantung di dekat jendela.
Kini ingatannya berpindah pada peristiwa di sekolah pagi tadi.
Rasanya benar-benar semakin malas berangkat sekolah karena ada masalah Adi dan Desi.
Cita mendengus.
Besok Cita sudah memutuskan tak akan pergi ke sekolah. Yah, tidak akan!
**-----------**