Cinta, persahabatan, dan balas dendam, membawa Kairen dan Raizel ke dalam sebuah lingkaran kebimbangan untuk menuju sebuah kisah hidup yang sebenarnya. Cinta, persahabatan, atau balas dendam, hanya mereka yang menentukan.
"Gue akan temuin mereka dan bawa mereka kesini, hidup ataupun mati" ~Kairen Elashka Alexander
"Kalo harus ada yang yang disalahkan disini, maka itu adalah perasaan!!" ~Raizel Elashki Alexander
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suci Aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teror
Habis olahraga enaknya minum es teh manis, apalagi kalo yang ngasih kamu, gratis pula. Kairen, Nauval, Vero, Satya, dan Boy berjalan beriringan menyusuri koridor sekolah. Semua mata langsung tertuju kepada mereka. Gimana nggak langsung tertuju, resletingnya Boy lupa kagak dinaikin.
"BOY GUOBLOG!!. LU KALO MAU PAMER BURUNG JANGAN DI SEKOLAHAN BEGGO!!" Vero berteriak kenceng setelah sadar apa yang jadi pusat perhatian para cabe-cabean sekolah. Pantes pada melotot, ternyata pada liatin burung tak bersayap.
"YA SANTAI DONG. BURUNG GUE YANG KELIATAN KOK LO YANG NGE-ELPIJI?!" Boy balik berteriak sembari menaikkan resleting celananya di depan umum yang membuat semua cabe-cabean memekik histeris.
"Beggo sia!!" Satya menampol kepala Boy dengan kesal. Pemuda itu meringis sakit. Dia mengusap bekas tampolan Satya sambil memasang wajah cemberut.
"Makanya, kalo punya burung tuh dijaga. Untung dia nggak lepas" Nauval menimpali sambil nyari harta karun di sumur abadi.
"Ya nggak lepas lah, kan udah gue iket pake rantenya sun ho kong" sahut Boy dengan santai kayak di pantai.
"Udah deh, Lo semua ngapain sih pada bahas burung. Mending bahas kegantengan gue yang tiada tanding" Kairen menyombongkan dirinya sembari memakan permen karet.
"OGAH. JIJIK!!!" seru Boy, Satya, Nauval, dan Vero secara bersamaan.
Kairen mengendikkan bahunya acuh. Dia kembali berjalan menuju kantin Mak Njingg, dan gobloknya mereka semua kompak membuntuti. Emang ya, definisi sahabat bagai kecebong. Kemana aja pasti ngintil. Mungkin kalo Kai modarr, mereka bakal ngintilin juga.
"Ujang ke Jateng, beli kedondong. Mak, orang ganteng mau ngutang dong!!" Kairenbyang baru tiba di kanting langsung duduk di kursi plastik yang sudah disiapkan.
Mak Njingg yang mencosplay sebagai mama tiri Kai itu membuang nafas sembari menyiapkan pesanan pelanggan.
"Yaampun Rai. Tumben banget Lu ngutang mulu. Biasanya juga kagak pernah" gerutunya.
Kairen seperti tidak mendengarkan gerutuan Maknya. Dia mengambil satu pisan goreng, terus memakannya tanpa permisi. Nggak lupa dicocol saos tomat. Apa nggak cringe tuh?!.
Dari kejauhan, nampak Satya, Vero, Nauval, dan Boy baru datang di kantin. Mereka kompak duduk di samping Kai. Biasalah, anak cebong nggak bakal jauh dari maknya cebong.
"Bang Sat, beliin bakso dong!!. Bokek nih gue" pinta Kairen pada sang sepupu.
"Bokek pala Lo benjol?!. Jelas-jelas tadi pagi Lo dikasih duit 200 rebu sama Om Reyhan. Lo kemain duitnya?!" desis Satya dengan nada jengkel.
"Itu mah beda cerita Bang Sat. Kalo gue jelasin Lo juga kagak bakal paham" Kairen menjawabnya santai sembari menghabiskan pisang goreng Mak Njingg yang baru duangkat dari penggorengan.
Pemuda itu bersendawa ringan setelah memakan kurang lebih tujuh pisang goreng. Nggak ada bakso, pisgor pun jadi.
Kairen bangkit dari duduknya, hendak pergi.
"MAK, PISANGNYA ENTAR YANG BAYAR BANG SAT!!"
Satya menyemburkan air putih di mulutnya tepat ke muka Nauval setelah mendengar ucapan sepupunya yang minim akhkak. Gini nih, gini jadinya kalo pas kecil keseringan main sama cebong.
"CEBONG ANJENKK!!!"
****************
Pemuda dengan nametag Raizel Elashki .A itu berbaring ria di rooftop SMA Garuda. Berbekalkan kaca mata hitam dan headset yang menutupi telinga, Kairen tidur-tidur ganteng sembari menunggu bel pulang. Nggak peduli kalo dayang-dayang udah pada nyariin di kolong jembatan. Eh?
Panas terik menyengat kaki pemuda itu, membuatnya melepas headset di telinganya. Lagi berada di posisi wenakk, Kairen enggan beranjak dari tempat. Dia masih tidur terlentang diatas kursi panjang yang memang ada disana.
Pyarrrr
Bunyi sebuah benda pecah membuat mata Kairen terpaksa terbuka. Pemuda itu merubah posisinya menjadi duduk, dia membuka kaca mata hitamnya kemudian melihat ke sekeliling.
Sebuah botol kaca pecah yang tampak sengaja di lempar berada sekitar 3 meter di depannya. Kairen mengambil pecahan botol itu, terdapat sepucuk surat di dalamnya.
Kairen membuka surat putih itu. Dia terperanjat kaget setelah melihat isinya. Sebuah tulisan dengan tinta darah yang ditulis di atas kertas putih.
**KAMU DAN KELUARGAMU AKAN HANCUR**!!!
Kairen meremas surat itu kuat-kuat. Dia melihat ke kanan dan ke kiri, kemudian berjalan ke pembatas balkon untuk melihat ke bawah. Tidak ada siapapun. Sekolah sudah sepi. Mungkin jam pulang sudah berdering sejak tadi. Hanya ada anak pramuka dan osis yang masih beraktivitas di lapangan untuk menjalankan kegiatan tambahan mereka.
Dia menatap kearah surat itu sekali lagi.
"Gue nggak akan biarin Lo ngehancurin keluarga gue. Kita liat siapa yang akan kalah. Gue atau Lo?!"
Dengan langkah tergesa-geda, Kairen menyambar kunci motornya. Dia menuruni tangga untuk menuju ke kelas. Sesampainya di kelas, dia segera mengambil tasnya. Menyampirkan sebelah di bahu kemudian bergegas keluar dari kelas.
Brakkk
Saat tiba di koridor, tak sengaja pundaknya menabrak bahu seseorang sampai membuat orang itu terhuyung ke belakang.
"KALO JALAN TUH PAKE MATA!!" Seru Bara dengan emosi.
Kairen menatap kearahnya tak minat. Pemuda itu merapikan rambutnya yang sedikit berantakan dengan telapak tangan.
"Dimana-mana jalan tuh pake kaki, ngeliat baru pake mata!!. Punya otak tuh dipake, jangan cuma dilaminating di rumah!!" sahutnya mengejek.
Setelah mengucapkan itu, Kairen berlalu meninggalkan Bara yang tengah mengeram kesal.
"WOY, SINI LO!!. JAN JADI PENGECUT!!"
Kai hanya membalasnya dengan acungan jari tengah. Dia mengambil motornya di parkiran dan segera meninggalkan area sekolah menuju suatu tempat.
******************
"Gue nggak tau siapa yang lempar. Pas gue liat, disana ga ada siapa-siapa"
Seorang pria dewasa dengan jaket kulit hitam duduk di hadapan Kairen sembari melihat surat tadi dengan seksama. Di ruang khusus kedap suara yang memang sengaja Reyhan persiapkan untuk mereka. Sebut saja pria itu ayah idaman. Tanpa diminta, dia selalu tau apa yang anaknya butuhkan.
"Ini darah manusia asli" ucap orang itu serius.
"Lo yakin?!" pekik Kairen sembari memajukan tubuhnya.
Pria itu mengangguk beberapa kali dengan yakin.
"Gue bakal bawa ini ke Lab. Kalo hasilnya udah keluar, gue bakal kasih tau ke Lo"
**Hy hy hy, ada yang kangen othor?!. Atau kangen RaiKai?!. Kalo kangen, bisa lah tinggalin like coment. Lempar kopi juga boleh. Maaf ya guys, berhubung aku udah mulai PTM jadi jarang pegang hp. Jadinya sering telat up.
Makasih banget bagi yg udah nunggu..... happy reading**;)
mampir dulu ka,awal baca aja udh bikin ketawa dan kesel 🤭🤭