Tinggal di kota besar yang padat penduduk, membuat kelima orang anak manusia ini menjalin persahabatan sejak kecil, walau keadaan status sosial dan suku berbeda, tapi mereka tetap bersama.
Kelucuan, kepolosan, dan kebahagiaan persahabatan mereka mulai memudar seiring usia yang beranjak remaja. Benih benih cinta muncul di antara persahabatn mereka.
Perbedaan di mulai, ketika mereka duduk di bangku SMA.
Bagaimana akhir persahabatan kelima anak manusia ini? Bagaimana kisah cinta mereka? akankah cita-cita kecil mereka menjadi kenyataan?
baca sampai end ya guys
Terima kasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elis Kurniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
semua berubah
Pov Nisa,
‘Ummi, di luar ada apa? Kok seperti ribut-ribut gitu.” Tanyaku, setelah ia keluar dari kamarnya.
“Itu si Kokom lagi di gebukin bapaknya.” Jawab Dhira, kakak perempuanku.
Aku mempunyai dua orang kakak. Kakak pertamanya berjenis kelamamin laki-laki dengan nama Hafidz, sedangkan kakak kedduanya berjenis kelamin perempuan dengan nama Nadhira. Hafidz bekerja di sebuah institusi yang bergerak di bidang telekomunikasi milik Negara, sudah hampir tiga tahun ia di tugaskan di daerah Pare-Pare, Sulawesi Selatan. Sedangkan Nadhira masih kuliah tingakt enam di sebuah universitas swasta biasa.
“Kamu sudah tidak main lagi dengan Kokom kan?” Tanya Ummi yang tengah menatap tajam ke arahku,
Aku menggeleng, sambil membuka tirai jendela, melihat apa yang tengah terjadi di luar sana.
“Ampun pak.” Teriak Kokom sambi menangis.
“Biar bapak ajarin, bagaimana supaya jadi anak yang bener.” Ucap Bapak Kokom, sambil menarik rambut anaknya dengan paksa. Kokom di seret, hingga semua tetangga berhamburan keluar mendengar teriakan Kokom.
“Ampun Pak, Ampun.” Rintih Kokom.
“Sudah berapa kali bapak bilng, tapi kamu malah membangkang. Mau buat orang tua malu? Hah!” Teriak lagi Bapak Kokom di wajahnya.
“Pak, sudah pak. Malu sama tetangga.” Kali ini Ibu Kokom bersuara.
“Malu mana, dengan punya anak jablay, Bu. Muka bapak mau di taroh di mana?”
“Memang kamu seperti itu, Kom?” Tanya Ibu Kokom.
“Nggak, Bu. Kokom ngga seperti itu.” Sanggah Kokom.
“Lalu dari mana pakaian-pakaian bagus ini.” Bapak Kokom melempar pakaian mahal Kokom keluar.
Memang saat ini, Kokom dan ayahnya tengah bertengkar di luar rumahnya, membuat orang lain dapat menontonnya secara gratis.
“Jawab!” Teriak Bapak Kokom persisi pada wajah Kokom.
“Di kasih.”
“Siapa yang kasih? Mana ada orang baik mau kasih uang, pakaian, handphone secara cuma-cuma.”
“Bapak, stop!” Teriak Ibu Kokom.
Lalu Kokom dan ayahnya di giring paksa oleh ibu Kokom untuk masuk ke dalam rumahnya, agar masalah yang terjadi dalam keluarganya tidak lagi di konsumsi oleh orang lain.
****
Hari ini, kebetulan hari Minggu. Kejadian semalam tepat trjadi di malam minggu. Memang biasanya, di daerah tempat tinggalku akan sangat ramai ketika malm minggu tiba, seolah-olah orang tumpah keluar. Sehingga pa yang terjadi pada Kokom di ketahui semua orang.
“Ummi Nisa, hati-hati itu Nisa jangan sampe temenan sama si Kokom. Tuh anak udah ngga bener.” Kata salah satu ibu-ibu yang sedang membeli elur di warungku.
“Iya, ngga kok, saya mah jagain banget anak perempuan saya. InsyaAllah.” Kata Ummi.
“Anak perempuan kok seperti itu. Ih, amit-amit deh.” Kata ibu-ibu yang membeli gula pasir.
“Udah ah bu, ngga usah di bicarain lagi, yang penting kita jaga anak perempuan kita masing-masing. Semoga selalu di jalan yang lurus.” Ucap Ummi lagi.
“Aamin ya mama Nisa,” Jawab Kedua ibu-ibu yang tengah berbelanja di warungku.
Aku mendengar apa yang tengah Ummi dan kedua ibu-ibu itu katakan.
“Ummi, pagi-pagi udah ghibah.” Ucaku ketus.
“Bukan Ummi yang mulai.”
“Ih, sama aja, ummi nimpalin juga.” Jawab ku.
“Pokoknya, Ummi ngga mau liat kamu temenan lagi sama Kokom. Titik!” Ucap Ummi dan pergi meninggalkanku sendiri di warung.
“Iya, Mami.” Jawbku meledek.
Aku termenung mengingat masa-masa kecil kami yang lucu. Memangg sejak kecil Kokom sudah terlihat berani. Namun, tak di sangka di usia kami yang akan menginjak 17 tahun, ia akan mengambil jalan seperti ini, padahal kami sebagai sahabat sudah mengingatkannya. Salahkah kami? Sekarang aku tak pernah lagi berbincang padanya. Bukan hanya aku, Lena pun tidak. Apalagi Budi yang saat ini tengah asyik dengan dunia bolanya. Di tambah Angga yang memang sudah tak peduli pada Kokom sejak pertengkaran itu.
Persahabatan kami hilang seiring usia kami yang beranjak dewasa. Hanya Aku, Lena, dan Angga yang terkadang masih sering bersama. Kalau aku dan Angga, jangan di tanya. Angga selalu setia mengantar dan menjemput kemana pun aku pergi, ia tak pernah lelah melakukan ini dari kami kecil.
Kalau di tanya, apa aku menyukai Angga? Mungin jawabannya ya.
Tiba-tiba Ummi kembali menongolkan kepalanya di pintu, membuyarkan lamunanku.
“Hari ini jangan main kemana-mana, kakakmu sedang sakit.”
“Iya, Mami.” Jawabku lagi dengan nada meledek.