Dikhianati keluarga kandung yang kejam, Naya dipenjara empat tahun demi menutupi kesalahan adiknya Rania. Malam sebelum ditangkap, ia bertemu pria misterius Arkan Wiratama di kebun dan mengandung bayi kembar. Satu bayi dicuri Rania jadi pewaris keluarga Wiratama, satu lagi dibuang paksa. Saat bebas penjara, takdir mempertemukan mereka lagi—semua kebohongan akan terbongkar, dan Naya akan menuntut kembali semua haknya yang dirampas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 09 - Anak Perempuan Itu Hidup
CCTV rumah sakit menunjukkan semuanya.
Rania yang menarik lengan Naya.
Rania yang bicara terlalu dekat.
Rania yang menampar lebih dulu.
Tidak ada suara di rekaman itu, tetapi wajah seseorang kadang lebih jujur daripada kata-kata. Wajah Rania tidak terlihat seperti korban. Wajahnya terlihat seperti orang yang takut rahasianya terbuka.
Arkan menonton rekaman itu dua kali.
Raka berdiri di samping meja, tidak berkomentar.
"Cari tahu hubungan Naya dengan keluarga Pradipta," kata Arkan.
"Sejauh apa, Pak?"
"Semuanya."
"Termasuk kasus pidananya?"
Arkan menatap layar yang membeku pada wajah Naya setelah ditampar.
"Termasuk."
Di rumah keluarga Pradipta, Rania tidak bisa berhenti berjalan mondar-mandir.
Bu Mira duduk di sofa, wajahnya tegang. Pak Surya baru pulang dari kantor, dasinya belum dilepas, tetapi amarah sudah terlihat di matanya.
"Kamu ceroboh," kata Pak Surya.
"Aku panik, Pa. Dia bicara soal cincin dan anaknya."
Bu Mira memejamkan mata.
"Dia tahu?"
"Belum. Tapi dia curiga. Dia melihat Rayyan seperti..." Rania menggigit bibir. "Seperti dia punya hak."
Pak Surya membanting gelas ke meja.
"Karena kamu membiarkannya dekat."
"Rayyan butuh darahnya!"
"Seharusnya setelah donor, kamu pastikan dia pergi."
Rania tertawa hambar. "Bagaimana? Arkan yang memberinya pekerjaan."
Bu Mira langsung menatapnya. "Apa?"
"Dia sekarang bekerja di Wiratama Holdings."
Ruangan senyap.
Pak Surya mengusap wajah kasar. "Ini buruk."
"Aku tahu, Pa!"
"Jangan teriak."
Rania menutup mulut.
Bu Mira berdiri. "Kita harus membuat dia pergi dari sana."
"Bagaimana?"
"Pakai masa lalunya. Sebarkan bahwa dia mantan napi. Buat HR, karyawan, semua orang tidak nyaman. Orang seperti dia tidak tahan dipermalukan terus."
Rania menatap ibunya. "Dia tahan empat tahun di lapas, Ma."
Bu Mira terdiam.
Rania duduk, tangannya gemetar.
"Dia berubah. Dulu dia mudah ditakut-takuti. Sekarang dia menatapku seperti... seperti sudah tidak punya apa-apa untuk hilang."
Pak Surya berkata dingin, "Semua orang punya sesuatu untuk hilang."
Rania mengangkat kepala.
Pak Surya menatapnya.
"Nenek tua di rumah sakit itu."
Rania tidak langsung menjawab. Ia tahu ayahnya mampu. Ia juga tahu jika Naya benar-benar kehilangan Nenek Sari, perempuan itu mungkin tidak akan hancur. Mungkin justru menjadi lebih berbahaya.
Bu Mira berbisik, "Jangan sampai ada yang menyakiti orang tua itu. Kita cukup menekan."
Pak Surya tidak menjawab.
Malam itu Rania menerima pesan dari nomor lama yang sudah lama tidak ia hubungi.
Nomor perawat yang dulu membantu proses kelahiran Naya.
Pesannya singkat.
Anak perempuan itu masih hidup. Ada yang mencari data panti lama. Hati-hati.
Rania berdiri begitu cepat sampai ponselnya hampir jatuh.
Bu Mira melihat wajahnya.
"Kenapa?"
Rania menunjukkan pesan itu.
Bu Mira membaca, lalu warna wajahnya hilang.
"Tidak mungkin."
"Dia masih hidup, Ma."
"Perawat itu pernah bilang anaknya lemah."
"Lemah bukan berarti mati!"
Pak Surya merebut ponsel dan membaca. Rahangnya mengeras.
"Panti mana?"
"Dulu... Bekasi pinggir. Tapi setelah itu diadopsi."
"Cari."
Rania menatap ayahnya. "Untuk apa?"
Pak Surya menatap balik.
"Menurutmu?"
Bu Mira langsung berkata, "Jangan."
"Kalau anak itu ditemukan Naya sebelum kita, semuanya selesai," kata Pak Surya.
"Dia anak kecil," suara Bu Mira pecah.
Pak Surya tertawa sinis. "Kamu baru ingat dia anak kecil setelah empat tahun?"
Bu Mira terdiam.
Rania merasa mual, tapi rasa takutnya lebih besar.
Rayyan sudah mulai condong pada Naya. Arkan mulai curiga. Kalau anak perempuan itu muncul, apalagi kalau wajahnya mirip Rayyan, tidak ada yang bisa ia pertahankan.
"Cari dulu," kata Rania akhirnya. "Kita lihat situasinya."
Pak Surya mengangguk.
Di tempat lain, Naya sedang duduk di samping ranjang Nenek Sari ketika pesan anonim masuk ke ponselnya.
Kamu masih ingin tahu soal bayi perempuanmu?
Naya menatap layar.
Seluruh tubuhnya berhenti.
Nomor tidak dikenal.
Ia mengetik cepat.
Siapa ini?
Balasan datang hampir seketika.
Orang yang tahu dia tidak mati.
Ponsel hampir lepas dari tangan Naya.
Ia berdiri, menjauh dari ranjang agar Nenek tidak terbangun. Napasnya berubah pendek.
Jangan main-main dengan saya.
Pesan berikutnya berupa foto.
Foto lama sebuah gelang tali kecil dengan lonceng mungil.
Gelang yang Naya buat sendiri di lapas dari benang sisa jahitan. Ia membuat dua. Satu biru untuk bayi laki-laki. Satu kuning untuk bayi perempuan. Ia belum sempat memasangkannya, tetapi ia ingat memberikannya kepada perawat, memohon agar anak-anaknya punya sesuatu darinya.
Lutut Naya lemas.
Pesan baru masuk.
Kalau mau tahu, hapus semua rekaman tentang Rania. Keluar dari Wiratama. Jangan dekat Rayyan.
Naya menatap layar dengan mata basah.
Rania.
Ini Rania.
Atau orangnya.
Naya ingin langsung menelepon, berteriak, menuntut. Tapi tangannya berhenti.
Kalau ia memaksa sekarang, nomor itu bisa hilang.
Ia harus pintar.
Empat tahun di lapas mengajarinya satu hal: orang yang marah paling keras biasanya kalah duluan.
Naya membuka aplikasi perekam layar. Ia menyimpan semua pesan, foto, nomor, waktu.
Lalu ia mengetik:
Buktikan dia hidup.
Balasan datang lebih lama.
Besok. Datang sendiri ke parkiran belakang mall Cempaka. Bawa ponselmu. Jangan polisi. Jangan Arkan.
Naya memandang nama Arkan di pesan itu.
Rania tahu Arkan mulai terlibat.
Berarti waktunya sedikit.
Keesokan sore, Naya meminta izin pulang lebih cepat dari kantor dengan alasan rumah sakit. Ia tidak memberi tahu siapa pun. Ia naik ojek online ke mall Cempaka, turun di pintu samping, lalu berjalan ke parkiran belakang.
Tempat itu sepi. Bau sampah basah dan asap rokok menggantung di udara.
Seorang wanita memakai masker berdiri di dekat pilar.
"Naya?"
Naya berhenti tiga langkah darinya.
"Mana buktinya?"
Wanita itu tertawa pelan. "Langsung sekali."
"Saya tidak punya waktu."
"Anak perempuanmu dulu dibawa ke Panti Pelita Hati. Namanya di sana Lila. Dia kecil, sakit-sakitan, tapi hidup."
Naya mencengkeram tasnya.
"Sekarang di mana?"
"Diadopsi."
"Oleh siapa?"
Wanita itu mengulurkan tangan. "Hapus rekaman Rania dulu."
Naya mengeluarkan ponsel.
Wanita itu mendekat.
Namun sebelum ia bisa melihat layar, Naya berkata, "Saya sudah kirim semua file ke email terjadwal. Kalau saya tidak membatalkan dalam dua jam, semuanya terkirim ke beberapa orang."
Wanita itu berhenti.
Matanya menyipit.
Naya tidak tahu apakah kebohongan itu cukup. Tapi wajahnya tidak berubah.
"Saya pernah dipenjara karena percaya pada keluarga Pradipta," katanya. "Saya tidak akan sebodoh itu dua kali."
Wanita itu mengumpat.
"Kamu mau alamatnya atau tidak?"
"Mau."
"Kalau aku kasih, kamu tetap keluar dari Wiratama?"
"Kalau alamatnya benar, saya pikirkan."
Wanita itu mengeluarkan kertas kecil dan melemparkannya ke lantai.
"Jangan cari aku lagi."
Ia pergi cepat.
Naya mengambil kertas itu.
Alamat di pinggiran Bekasi. Nama keluarga: Darto.
Di bawahnya tertulis satu kalimat.
Anak itu bisu sekarang.
Naya menutup mulut dengan tangan.
Tangisnya pecah tanpa suara di parkiran sepi.
Anaknya hidup.
Anaknya hidup.
Dan selama empat tahun, ia hidup tanpa ibunya.
Naya tidak langsung berlari ke alamat itu.
Kakinya ingin bergerak, tetapi kepalanya masih cukup sadar untuk takut. Jika ini jebakan Rania, ia bisa kehilangan pekerjaan, dituduh mengganggu keluarga orang, bahkan dijauhkan dari petunjuk satu-satunya.
Ia duduk di lantai parkiran, membuka ponsel dengan tangan gemetar, lalu mencari nama Darto di internet. Ada beberapa hasil: bengkel kecil, kontrakan padat, satu unggahan lama tentang penggalangan dana anak sakit yang tidak jelas kebenarannya.
Nama istrinya muncul di komentar: Sri Darto.
Naya menyimpan semua tangkapan layar.
Di rumah sakit, Nenek Sari menelepon.
"Nay, kamu di mana? Suaramu kok begitu?"
Naya menahan napas. Ia ingin mengatakan semuanya, ingin menangis seperti anak kecil. Tapi Nenek baru selesai cuci darah, dan kabar terlalu besar bisa membuat tubuh lemah itu jatuh lagi.
"Naya cuma capek, Nek."
"Kalau capek, pulang. Jangan terus kerja untuk orang kaya yang tidak tahu hati."
Naya memejamkan mata.
"Nek, kalau... kalau ternyata sesuatu yang kita kira hilang masih ada, apa Nenek mau percaya?"
Nenek Sari diam lama.
"Kalau itu tentang anakmu," katanya lirih, "Nenek percaya sebelum kamu selesai bicara."
Tangis Naya akhirnya tumpah.
Ia menutup mulut supaya tidak terdengar.
Besok pagi, ia akan pergi ke Bekasi.
Dan kalau alamat itu benar, dunia yang memisahkan ibu dan anak selama empat tahun harus mulai membayar.
AKU BELA2IN BEGADANG BUAT BACA INI CERITA🤧
Ceritanya baguss dan aku belum pernah baca cerita yg alurnya sedarderdor ini😍
LUVVV buat kaka💕💕