Seina dan Sora adalah saudari kembar yang dibuang oleh orang tua kandung mereka. Takdir membawa Seina diadopsi keluarga kaya, sementara Sora tumbuh dalam kemiskinan.
Diliputi iri hati, Sora berusaha merebut kehidupan adiknya. Namun, ambisinya berakhir tragis. Seina pun tewas setelah diracuni oleh kakaknya.
Ketika waktu berputar kembali, Seina memilih menyerahkan semua yang dulu menjadi miliknya.
"Kalau memang itu yang kau inginkan... ambillah semuanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Mira ikut tersenyum ketika mendengar ucapan Yohan. Kenangan lama itu seolah kembali terputar di benaknya dengan begitu jelas.
"Coba ingat Arga dulu."
Yohan terkekeh pelan sambil menggelengkan kepala. "Dia menangis tiga hari tiga malam."
Mereka saling berpandangan sesaat, lalu tawa kecil pun pecah di antara keduanya. Tawa itu sederhana, tetapi cukup untuk menghangatkan suasana malam yang mulai sunyi.
Tak lama kemudian, senyum di wajah Mira perlahan memudar. Entah mengapa, tiba-tiba ia teringat kepada putrinya. Tanpa mengatakan apa pun, ia bangkit dari tempat duduknya dan melangkah menuju kamar Seina.
Yohan menatap punggung istrinya dengan heran.
"Ada apa?" tanyanya.
Namun Mira tidak menjawab. Langkahnya tetap tenang hingga berhenti di depan pintu kamar.
Perlahan ia mendorong daun pintu agar tidak menimbulkan suara yang dapat membangunkan anak itu.
Cahaya lampu yang redup menerangi kamar sederhana tersebut. Di atas ranjang kecil, Seina telah tertidur lelap. Tubuh mungilnya meringkuk di balik selimut yang ukurannya jauh lebih besar daripada tubuhnya. Napasnya terdengar teratur, wajahnya begitu damai, seolah tak memiliki sedikit pun beban di dunia.
Mira berdiri cukup lama di ambang pintu, memandangi putrinya tanpa berkedip.
Semakin lama ia memperhatikan wajah kecil itu, semakin kuat pula rasa sayang yang memenuhi dadanya.
Bulu mata Seina tampak lentik dan panjang, pipinya memerah alami karena udara malam yang sejuk, sementara bibir mungilnya terlihat merah tanpa polesan apa pun. Wajah polos itu membuat hati siapa pun yang melihatnya menjadi lembut.
Tanpa sadar, senyum tipis menghiasi bibir Mira.
Perlahan ia menghampiri ranjang, lalu membungkuk untuk membetulkan selimut yang mulai bergeser agar tubuh putrinya tetap hangat sepanjang malam.
"Putriku..." gumamnya lirih.
Seandainya malam ini ia tidak harus menyelesaikan pesanan sepatu yang harus segera dikirim, ia ingin tetap duduk di sisi ranjang itu hingga matahari terbit. Ia ingin menemani putrinya tidur, mengusap rambutnya, dan memastikan tidak ada satu pun mimpi buruk yang mengganggu tidurnya.
Namun pekerjaan tetap harus diselesaikan.
Dengan langkah hati-hati agar tidak membangunkan Seina, Mira mengambil pakaian kotor yang tergeletak di dekat ranjang, lalu keluar dari kamar sambil membawanya untuk dicuci.
Sementara itu, di kediaman keluarga Hartono, suasana yang sama sekali berbeda tengah berlangsung.
Kereta Samuel baru saja berhenti di halaman utama ketika seorang pelayan bergegas masuk ke dalam rumah. Wajahnya dipenuhi rasa penasaran karena untuk pertama kalinya sang tuan pulang membawa seorang anak perempuan.
Pelayan itu segera membungkuk hormat di hadapan Miranda Hartono.
"Nyonya, Tuan membawa pulang seorang anak perempuan."
Miranda yang sedang menikmati teh bahkan tidak mengangkat kepalanya. Dengan nada datar, ia menjawab seolah hal itu sama sekali tidak penting.
"Kalau hanya seorang anak pelayan, bawa saja masuk. Besarkan baik-baik. Siapa tahu nanti bisa menjadi pelayan kepercayaanku."
Ucapan itu membuat langkah Sora yang baru saja memasuki rumah mendadak terhenti.
Wajah kecilnya membeku.
'Pelayan? Bukankah di kehidupan sebelumnya ia dibawa pulang sebagai putri keluarga Hartono? Mengapa semuanya berubah begitu jauh?'
Sora menoleh perlahan ke arah Samuel. Sorot matanya dipenuhi kebingungan sekaligus kecemasan.
"Ayah..."
Samuel tentu saja mendengar perkataan Miranda. Ia menatap anak itu dengan senyum yang menenangkan, lalu mengusap pelan kepalanya.
"Jangan takut."
"Ibumu hanya belum tahu siapa dirimu."
"Ayah akan menjelaskan semuanya." Nada suara Samuel begitu lembut hingga perlahan menghapus kecemasan di hati Sora.
Anak itu menganggukkan kepala sambil kembali menampilkan senyum manisnya.
"Baik, Ayah."
Tak lama kemudian, Miranda keluar menyambut suaminya.
Begitu melihat Samuel, wajahnya langsung dipenuhi senyum anggun. Ia membungkukkan badan memberi hormat sebagaimana seorang istri menyambut kepulangan suaminya.
"Suamiku."
Sudah cukup lama Samuel tidak pulang ke rumah utama.
Selama bertahun-tahun pernikahan mereka, hanya ada satu hal yang terus menjadi beban di hati Miranda, yaitu belum hadirnya seorang anak.
Bukan karena ia tidak menginginkannya.
Namun bagaimana mungkin ia bisa mengandung jika Samuel lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah dan jarang menemaninya?
Meski demikian, setiap kali pria itu pulang, seluruh rasa kecewa seolah menghilang. Yang tersisa hanyalah kebahagiaan karena akhirnya mereka dapat makan bersama.
Tanpa membuang waktu, Miranda segera memerintahkan para pelayan menyiapkan makan malam.
Namun sebelum para pelayan bergerak, Samuel tiba-tiba menghentikan mereka.
"Tambahkan satu kursi."
Miranda mengernyit heran.
"Lalu siapkan tempat untuk putri kita."
Senyum di wajah Miranda langsung membeku.
"Putri...?"
Samuel menganggukkan kepala, kemudian menarik Seina agar berdiri di sampingnya.
"Namanya Sora."
"Kasihan sekali anak ini. Aku menemukannya sendirian di tengah udara yang sangat dingin."
"Aku memutuskan mengangkatnya sebagai putri keluarga Hartono."
"Mulai sekarang, dia akan tinggal bersamamu."
Setiap kalimat yang keluar dari mulut Samuel terasa seperti palu yang menghantam dada Miranda, untuk sesaat ia hanya mampu berdiri membisu.
Tatapannya bergantian mengarah kepada Samuel dan gadis kecil yang berdiri di samping pria itu.
Di balik wajah yang masih berusaha mempertahankan ketenangan, pikirannya telah dipenuhi berbagai emosi.
Selama tujuh tahun terakhir, ia menunggu dengan sabar datangnya seorang anak.
Selama tujuh tahun pula ibu mertuanya terus mendesak Samuel agar mengambil selir demi memperoleh keturunan.
Miranda memang tidak mampu menghentikan suaminya. Namun diam-diam ia selalu memastikan tidak ada satu pun selir yang berhasil melahirkan anak.
Baginya, kedudukan sebagai anak pertama keluarga Hartono hanya pantas dimiliki oleh darah dagingnya sendiri.
Tetapi kini... Samuel justru membawa pulang seorang gadis kecil dari luar dan langsung mengakuinya sebagai putri keluarga.
Bagaimana mungkin ia bisa menerima kenyataan itu?
Amarah Miranda bergejolak dalam dadanya.
cerita nya juga seru