Vayala seorang gadis berusia 29 tahun yang gagal menikah dengan mantan kekasihnya yang toxic dan memutuskan menikah dengan pria yang baru dikenalnya selama satu bulan.
impiannya membangun rumah tangga yang bahagia nyatanya hanya membangun rumah duka,pria yang terlihat baik,royal dan perhatian itu berubah menjadi kasar,perhitungan dan silent treatment sehingga membuatnya merasa kesepian dan sedih .
bagaimana Vayala menghadapi kehidupan rumah tangga yang membuatnya menderita itu...
apakah ia bisa bahagia dengan laki laki pilihan yang baru dikenalnya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyta Yulaeha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. My wedding
Hari ini keluargaku berkumpul dirumah untuk menyambut keluarga Mas Bram yang akan datang melamarku.
"Assalamualaikum..".
"Waalaikumussalam...!"seru kami mempersilahkan mas Bram,ayah dan adiknya Fadil yang baru saja tiba dirumahku untuk duduk menikmati jamuan yang sudah disiapkan.
"Jadi langsung saja kedatangan kami kesini bermaksud untuk melamar nak Vayala menjadi istrinya Bram anak sulung saya dan kami berharap lamaran kami ini diterima "seru Pa Hary memberikan sebuah amplop cokelat kepada ibuku.
Aku yang hanya diam menyaksikan keluargaku dan keluarga mas Bram berbicara soal rencana pernikahan kami yang akan segera dilaksanakan untuk menentukan tanggalnya.
"kami hanya bisa kasih uang sebesar dua belas juta rupiah untuk acara resepsi pernikahan anak kami".seru pak Hary lagi.
Sebenarnya aku sudah tau dari awal berapa Mas Bram mau memberiku uang untuk pernikahan kami walau tidak menyebut nominal karena saat bertanya padanya ia bilang belum ada tabungan dan akan mengusahakan untuk memberikan uang yang layak untuk pernikahan kami dan bagiku tidak masalah akupun menerima seberapapun yang ia kasih sesuai kemampuannya yang terpenting dia serius mau menikah denganku.
Aku pun diam diam sudah mencicil apa apa yang diperlukan agar tidak terasa berat nantinya.
Akhirnya kami resmi lamaran dan sudah menentukan pernikahan yang akan diadakan pada bulan Syawal setelah hari raya idul Fitri yang tinggal dua Minggu lagi.
"aku tidak sabar ingin cepat cepat menikah dengan Mas Bram"gumamku dalam hati merasa senang.
Tepat dibulan kelahiranku dan ditanggal yang berdekatan dengan hari ulang tahunku aku dan mas Bram menikah,acara resepsi yang berjalan dengan meriah dan diisi dengan organ tunggal membuatku merasa bahagia menjadi raja dan ratu dalam sehari .
"Vayala selamet ya...akhirnya..turut bahagia semoga jadi keluarga sakinah mawadah warohmah"seru mbak Rifa yang datang dengan beberapa teman kerjaku.
Walau kami sudah tidak bersama lagi karena perusahaan tempat ku bekerja sudah bangkrut dan mem PHK seluruh karyawan tetapi Mbak Riza selalu berkomunikasi denganku.
"Makasih mbak...!"sahutku memeluknya dan berfoto dengan mereka.
Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat,para tamu undangan sudah tidak terlihat lagi,aku pun segera masuk kedalam kamar dan mengganti gaun pengantin dengan pakaian casual begitu pun mas Bram dan membuka amplop undangan para tamu yang datang dalam kotak yang cukup besar didalam kamar.
"sayang...hmm taro dulu yuk sebentar..!"ucapnya menarik tanganku.Tiba tiba aku merasa gugup,malam pertama yang membuatku merinding membayangkannya.
Dia memberiku kode untuk menurutinya,tanpa sabar meminta apa yang menjadi hak nya dan sebagai seorang istri aku berkewajiban memenuhi keinginannya walau badanku berasa lelah seharian menjadi pengantin. kemudian kami kembali menyelesaikan hitungan amplop yang sudah kami buka dan memberikannya kepada ibuku untuk mengatur apa yang belum dibayar setelah acara pernikahan .
Setelah menikah untuk sementara kami menumpang tinggal dirumah orangtuaku sampai kami bisa mandiri dan mendapatkan kontrakan yang cocok dengan harga terjangkau karena semenjak PHK massal itu aku sudah tidak bekerja dan hanya mengandalkan gaji suamiku saja.
Mas Bram seperti biasa pulang malam sebelum isya,Aku Yang sedang berada dikamar mendengar suara motornya yang baru saja tiba.
"Mas udah pulang?"tanyaku menghampirinya ."udah...ada yang mau cerita sama kamu"sahutnya masuk kedalam kamar bersamaku.
Dia menatapku dengan wajah yang tidak seperti biasanya,terlihat lesu dan seperti tidak bersemangat."sayang..aku mau putusin kalau aku mau resign dari kantor"ucapnya pelan.
"memangnya kenapa mas apa ada Masalah..kok tiba tiba sekali?"tanyaku bingung.
"aku kesal sekali nasabahku yang sudah kuhandle dan tinggal pencairan tiba tiba di ambil oleh seniorku dikantor katanya itu customer dia padahal aku yang melobby sampai deal...padahal bulan ini kesempatanku untuk perpanjang kontrak daripada dipecat lebih baik aku resign dari sekarang!"serunya dengan wajah memerah.
"Sabar mas..mungkin belum rejeki,yaudah kamu kan bisa cari kerjaan lain..."ucapku menyemangatinya.
"iya kamu benar...aku juga sedang melamar lamar lagi di tempat lain."
"oh iya mas aku berencana mau cairin BPJS ku dari tempat kerjaku kemarin,lumayan bisa buat modal kamu kerja dan nyambung hidup kita...aku enggak mau nyusahin ibuku karena kita udah numpang disini.".ucapku lagi.
"Yaudah kapan kamu cairin biar aku anterin?"."besok pagi aja mas,mudah mudahan prosesnya mudah dan cepet cair!"sahutku lagi.
Keesokan paginya Mas bram menemani ke kantor BPJS,disana antriannya cukup panjang membuatku menunggu hampir satu jam dan selesai mengurus claim BPJS ku kami segera pulang.
"Kita kerumah orangtuaku dulu ya!"ucap Mas Bram sambil mengendarai motor.
"kerumah orangtua kamu ngapain mas bukannya Minggu lalu kita udah kesana?"tanyaku heran.
"Aku mau minta uang sama ayah,apalagi sekarang aku udah enggak kerja".sahutnya pelan.
"Tapi aku tunggu di depan jalan saja ya mas,aku enggak ikut,enggak enak mas klo ketemu mereka apalagi kamu kesana untuk minta uang"ucapku pelan ,aku tidak mau mereka berfikir kalau aku yang menyuruh Mas Bram untuk meminta uang dan disebut sebagai wanita matre.
Mas Bram hanya mengangguk,sebenarnya aku merasa malu merepotkan mertuaku seharusnya kami yang memberi mereka uang bukan meminta tapi memang kondisi keuangan kami sedang tidak baik baik saja sekarang dan untuk kedepannya kami harus berhemat agar tercukupi.
Didepan jalan menuju rumah orangtua mas Bram aku berdiri menunggunya disana.
beberapa menit kemudian ia muncul dan mengajakku untuk pulang.
"tadi ibu kamu nanyain aku gak mas..duh aku jadi enggak enak".
"iya..aku bilang aja kamu lagi dirumah enggak ikut...tenang aja sayang..".sahutnya .
"Semoga kamu cepet dapet kerja ya.."ucapku.
Beberapa hari kemudian pencairan klaim BPJS ku telah cair aku sangat senang,aku berencana akan membeli beberapa perabotan untuk mengontrak rumah,secepatnya kami akan pindah agar bisa mandiri dan tidak merepotkan orang tuaku,sisanya untuk kebutuhan kami dan juga modal mas Bram jika mendapat kerjaan baru.
"apa gak tunggu suamimu dapet kerjaan dulu baru pindah Vay?"tanya ibuku yang mendengar rencana kami untuk mengontrak..
"insha Allah kami bisa bayar kontrakannya Bu,kan mas Bram enggak menganggur saja dirumah dia juga jadi driver ojol sekarang sebelum dapat kerjaan baru"sahutku.
"yasudah....kalau itu pilihan kalian,ibu si enggak masalah kamu tinggal disini".ucap ibuku lagi.
"iya Bu biar kita bisa mandiri ..selama ini kami ngerepotin ibu".ucapku yang merasa tidak enak harus merepotkan ibuku yang hanya seorang janda.
Sejak Mas Bram berhenti dari pekerjaannya ia kembali untuk menjadi pengemudi ojol yang biasanya dia lakukan di hari libur atau senggang untuk tambahan penghasilan kini menjadi pekerjaan penuh waktu sambil menunggu panggilan.
Biasanya setelah pulang ia selalu mengajakku untuk keluar malam menghirup udara segar.
"Mas aku udah bilang sama ibu soal rencana kita buat pindah rumah"ucapku membuka obrolan.
"terus gimana ibu kamu setuju kan?".tanyanya dengan santai."iya...mungkin beliau khawatir kamu enggak bisa bayar bulanannya nanti apalagi aku kan enggak kerja".ucapku lagi.
"iya secepatnya aku akan mendapat pekerjaan lagi,aku juga enggak enak dirumah ibu kamu enggak bebas mau ngapa ngapain..".
"iya mas namanya rumah orangtua ...walau ngontrak asal tinggal berdua pasti lebih nyaman ya".celetukku lagi sambil menyedot cappucino cincau.
...****************...