Aretha memilih hidup menderita bersama suaminya. padahal Kemewahan disediakan oleh orangtuanya. Namun Suaminya berselingkuh karena tekanan dari mertuanya. Apakah Aretha bisa mempertahankan rumah tangganya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Lancar
"Sayang, kok belum siap. Kerja jam berapa??"
"Aku libur bang hari ini. Kemarin aku operasi tiga orang sendiri, dua orang bersama dokter Yusak." Andreas langsung mencium istri.
"Kamu istirahat saja. Sebentar kita makan siang di luar saja. Mungkin Cafe Yudas."
"Oke bang. Aku dengar ruko sebelah cafenya mau dijual."
"Kok tahu.... Dari Yuda ya."
"Membangun apotik itu impianku sudah lama. Karena impian abang, aku jadi semangat menjalankan impianku. Infonya aku dapat dari Yuda. Tetapi abang coba telepon dia. Apakah ruko itu masih kosong??'
Andreas pun menghubungi owner Yudas Cafe and Resto. Dan informasinya dari Yuda bahwa ruko itu masih kosong. Maka Andreas meminta Yuda untuk menghubungi pemiliknya dan mereka akan membahas kepemilikan ruko itu.
"Sayang, kamu istirahat saja. Ingat makan siang kita ketemu di Yuda cafe ya."
"Oke sayang."
Selesai sarapan dan menyiapkan bekal suaminya hanya kue dan buah - buahan. Andreas berangkat kerja. Seperti biasa restu istri adalah yang utama. Di cium bibir istrinya. Setelah suaminya pergi kerja, Aretha kembali tidur dengan memasang alaram sebagai pengingatnya.
Pukul dua belas siang, Andreas yang sudah berganti sif dengan dokter Lydia. Langsung menuju parkiran mobil. Namun dia tidak sengaja berpapasan dengan Jihan yang mau menuju ke kantin rumah sakit.
"ndre kok buru - buru."
"Iya aku ada janjian dengan istriku. Bye ya Han."
Andreas langsung mempercepat langkahnya menuju ke mobilnya. Terus terang mendengar kata - kata janjian dengan istrinya, hati Jihan terasa sakit. Namun kembali dia menormalkan perasaan itu.
Flasback masa lalu.
Kembali dia teringat, saat pertama kali mereka lulus pada universitas yang sama. Masa orientasi adalah masa yang indah. Karena selama satu minggu itu, Andreas menjemput Jihan pagi - pagi sekali, agar mereka tidak terlambat. Namun ketika mulai aktivitas kuliah berjalan. Jihan dan Andreas berpisah karena Jihan memilih menjadi dokter gigi sedangkan Andreas dokter umum. Saat itu Andreas sudah tidak perna menjemputnya ke kampus lagi. Karena jam mata kuliah mereka tidak bersamaan.
Namun seiring berjalannya waktu, Jihan mulai mendengar gosip kedekatan Andreas dengan teman setingkatnya Aretha. Satu kali, Jihan bertemu dengan mereka di perpustakaan kampus menerjakan tugas. Disitulah Jihan dikenalkan dengan Aretha. Jihan berusaha dekat dengan mereka, menjadi teman Aretha yang Jihan kenal anak seorang konglomerat. Persahabatan Jihan dan Aretha sangat dekat. Sampai disuatu saat Andreas meminta bantuan Jihan ke Cafe Yuda.
Betapa kagetnya Jihan, ternyata hari itu adalah hari dimana harapan dia kandas. Andreas menyatakan perasaan cintanya kepada Aretha dan Aretha menerima cinta itu. Ternyata benih - benih cinta itu sudah ada saat mereka masih berada di tingkat satu sampai tingkat ke tiga pada semester enam, Andreas menyatakan cinta itu.
Andreas sudah tiba di cafenya Yuda, disambut oleh istrinya dengan ciuman dan pelukan.
"Sudah tahu, kalian itu suami istri."
"Mau tegasi aja biar ngak khilaf."
"Bangke loe." Andreas dan Yuda berpelukan.
"Apa kabar bro??? Kangen aku."
"Baik. alai kamu."
Mereka pun membicarakan rencana mereka dan Yuda mendukung rencana itu. Tidak lama notaris dan pemilik ruko itu datang. Dan transaksi pun terjadi. Andreas Jatmiko resmi sebagai pemilik ruko itu. Setelah surat - surat semua di tanda tangani. Kemudian mereka bertiga makan siang bersama sambil membahas desain interior buat apotiknya. Kembali Yuda membantu mereka dengan mengenalkan desain interior yang dia kenal.
Setelah bercerita beberapa saat. Mereka pun berpindah ke ruko sebelah. Kak Ari mulai melihat dan menghitung - hitung. Dan mereka berpisah. Satu jam kemudian desain apotik dengan perincian sudah di kirim kepada Aretha.
"Cepat sekali kerjanya."
"Aku percaya sama dia. Orangnya profesional, percaya kalian tidak akan dikecewakan."
Akhirnya hari yang sama, sudah ada kesepakatan dengan desain interior. Aretha langsung membayar setengah dari rencana anggaran yang dibutuhkan untuk renovasi ruko itu menjadi apotek dan klinik. Sampai sore mereka suami istri nongkrong di cafe dan resto Yudas milik Yuda teman mereka.
Aretha yang memang ke cafenya Yuda tidak membawa kendaran, pulang bersama suaminya. Namun sebelum pulang kerumah, mama dan papanya menghubungi untuk mengundang makan malam di mall. Maka dengan cepat mereka berdua menuju ke mall itu dan langsung ke restoran jepang kesukaan Aretha.
"Sayang, apa papa dan mama harus tahu apa yang kita berdua kerjakan??"
"Sekarang mungkin belum. Nanti jika semua sudah rampung." Andreas langsung mencium istrinya sebelum mereka turun dari mobil yang terparkir pada parkiran mall.
Di restoran kesukaan Aretha itu sudah ada papa dan mamanya menunggu anak dan menantunya. Langsung mereka menikmati makan malam masakan Jepang bersama.
"Habis makan mama mau belanja baju dan sepatu serta tas. Mama mau kalian berdua temani mama dan papa ya."
"Oke ma, pa. Andreas dan Thea akan temani."
"Papa tahu, kalian pasti sibuk sekali dengan pekerjaan kalian. Ini saatnya refreshing."
"Terima kasih mama dan papa. Mohon maaf Thea dan Andre belum bisa ke rumah melihat mama dan papa." Aretha yang merasa bersalah langsung memeluk kedua orangtuanya.
"Beginilah Andre, kalau papa dan mama hanya punya satu anak. Jadi berasa kehilangan begitu jika dia sudah menikah. Papa harap kalian bisa memberi cucu buay kami bukan satu, dua mungkin tiga."
"Siap papa, bantu doanya ya. Kami tetap berusaha. Soal tiga cucu, itu tergantung dari Thea anak papa."
"Jika kesehatan Thea baik dan Tuhan beri. Thea mau kok. Ngak enak jadi anak tunggal."
Mereka pun jalan - jalan membeli baju di toko fasion terkenal. Disitu lengkap dari pakaian, sepatu, tas sampai asesoris. Laki - laki maupun perempuan. Ternyata yang dibeli mama dan papa adalah dua pasang baju buat aku dan Thea anak mereka. Juga sepatu dan tas buat anak perempuan mereka. Papa dan aku hanya beli sepatu santai. Aku memilih yang kembar dengan istriku.
"Terima kasih ya ma, pa. Ini hadiah terindah."
"Kemarin kalian wisuda mama dan papa belum kasih hadiah buat kalian. Dan pas kalian bisa di ajak keluar."
Thea langsung memeluk mama dan papanya. Andreas melihat bagaimana papa memanjakan anak perempuannya. Selesai berbelaja baju. Kami ke swalayan dan kembali mama dan papa yang membayar.
Sampai dirumah. Andreas langsung menata belanjaan di kulkas. Sedangkan Aretha menyuci baju yang tadi baru di beli. Kemudian mereka mandi dan beristirahat.
"Sayang, ayo kita buat anak. Biar keinginan papa bisa terwujud." Aretha hanya menatap suaminya. Sedangkan Andreas menatap istrinya dengan mata memelasnya.
Namun sebelum berhubungan badan antara mereka kali ini di awali dengan berdoa. Mereka ingin membahagiakan orangtua mereka. Selesai berdoa, mereka pun menjalankan aksi membuat anak.