( Versi sekarang adalah Versi remake dari Novel The Nethermist dengan Versi paragraft dan tanda baca yang lebih rapi )
Lima hari sebelum pernikahan politik yang akan menyatukan dua kekuatan besar, dunia Leoric berubah selamanya.
Sebagai putra mahkota yang dipilih di tengah intrik, Leoric bersiap menikahi Clarissa, putri dari keluarga penguasa dataran tinggi. Namun, retakan di langit tiba-tiba muncul, membuka jalan bagi kabut gelap, sihir asing, dan makhluk-makhluk yang menghancurkan segalanya.
Dalam sekejap, kerajaan runtuh dan pernikahan mereka tertunda tanpa kepastian.
Di tengah dunia yang kacau dan kekuatan baru yang belum dipahami, Leoric harus memastikan keselamatan Clarissa—sambil menghadapi kenyataan bahwa kekuasaan, sihir, dan takdir kini berada di luar kendalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clevareus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Promised Altar
Altar
Sebuah altar kecil.
Itulah satu-satunya permintaan yang diajukan Sarioth kepada Leoric sebagai balasan atas kesetiaan yang akan ia berikan kepada sang pangeran.
Permintaan yang terdengar sederhana.
Namun bagi Leoric, mewujudkannya justru menjadi tantangan yang cukup rumit.
Satu hari setelah insiden pecahnya langit.
Di Tanggal 7 Februari.
Leoric perlahan membuka matanya setelah tidur panjang akibat kelelahan semalam. Pertarungan melawan lima monster raksasa telah menguras hampir seluruh tenaganya, bahkan tubuhnya masih terasa berat saat ia bangkit dari tempat tidur.
Ia meregangkan tubuhnya perlahan.
Sendi-sendinya berbunyi pelan.
Kemudian ia berjalan menuju jendela kamarnya dan membukanya.
Udara pagi langsung masuk menerpa wajahnya.
Namun pemandangan di luar jauh dari kata menenangkan.
Leoric terdiam.
Untuk pertama kalinya dalam dua puluh satu tahun hidupnya, ia melihat kerajaan Nightdoom dalam keadaan seburuk ini.
Darah mengotori jalanan.
Rumah-rumah rusak terlihat di berbagai sudut kota.
Ladang yang biasanya berwarna hijau kini dipenuhi bercak merah yang mencolok.
Bahkan di beberapa tempat, masih terlihat bagian tubuh yang belum sempat dibersihkan oleh para petugas kerajaan.
Perut Leoric terasa mual.
Dadanya sesak.
Ia sadar semalam hanyalah awal.
Bencana ini belum benar-benar berakhir.
Tok.
Tok.
Tok.
Suara ketukan pintu memecahkan lamunannya.
Leoric langsung mengenali pola ketukan itu.
Anastasya.
Tidak ada orang lain yang mengetuk pintunya dengan cara seperti itu.
Leoric mengusap wajahnya pelan lalu menepuk kedua pipinya.
Ia harus terlihat tenang.
Setidaknya untuk sekarang.
Saat berjalan menuju pintu, ia sudah bisa menebak alasan kedatangan Anastasya.
Interogasi.
Cepat atau lambat, ayahnya pasti akan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi semalam.
Bagaimana mungkin seorang pangeran bisa membunuh lima monster yang bahkan sulit dilukai oleh ballista dan ketapel.
Leoric membuka pintu.
Benar saja.
Anastasya berdiri tegap di depan kamar.
Seperti biasa, wanita itu menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan.
“Pangeran Leoric.”
“Sang Raja memanggil Anda.”
Leoric menghela napas kecil.
“Huh, cepat sekali ayah kalau urusannya seperti ini.”
Anastasya tidak menjawab.
Namun dari ekspresinya, ia seolah setuju.
Raja Rasdinand memang bukan tipe orang yang suka menunda urusan penting.
“Berikan aku waktu sebentar untuk bersiap.”
“Tentu, Pangeran.”
Leoric kembali masuk ke dalam kamar.
Pintu ditutup.
Begitu yakin tidak ada yang melihat, ia mengangkat tangannya sedikit dan berbisik.
“Sarioth.”
“Hei, Sarioth.”
“Tolong muncul sebentar. Aku sedang membutuhkanmu.”
Tiga detik berlalu.
Bayangan di bawah kaki Leoric mulai bergerak.
Melebar.
Membengkak.
Lalu sesuatu muncul dari dalamnya.
Sosok tengkorak berjubah hitam perlahan keluar dari kegelapan seperti makhluk yang bangkit dari dunia lain.
Sarioth.
“Tuan memanggil saya?”
Leoric langsung menjelaskan situasi yang sedang terjadi.
Tentang panggilan Raja Rasdinand.
Tentang kemungkinan interogasi.
Dan tentang kebutuhan mereka untuk mendapatkan altar yang diminta Sarioth.
Setelah mendengarkan semuanya, Sarioth terdiam.
Leoric juga terdiam.
Lalu perlahan sebuah ide muncul di kepalanya.
Senyum tipis terbentuk di wajah sang pangeran.
“Aku punya rencana.”
Beberapa menit kemudian.
Leoric berjalan bersama Anastasya menuju ruang singgasana.
Sarioth kini kembali berubah menjadi pedang hitam dan berada di tangan Leoric.
Lorong-lorong istana tampak lebih ramai dari biasanya.
Para pelayan berlalu-lalang.
Para penjaga bergerak cepat membawa berbagai laporan.
Semua orang masih sibuk menangani dampak dari insiden kemarin.
Sesampainya di ruang singgasana, Leoric langsung berlutut dengan satu kaki.
“Aku hadir, Ayah.”
“Apakah benar Ayah memanggilku?”
Pedang hitam itu ia letakkan di depannya.
Diam.
Tak bergerak.
Namun Leoric tahu betul bahwa Sarioth sedang berdiam sebagai pedang di ruangan.
Raja Rasdinand memandang putranya dari atas singgasana.
Wajahnya terlihat tenang.
Namun matanya menunjukkan sesuatu yang berbeda.
Kekhawatiran.
Kemarahan.
Dan rasa penasaran.
“Angkat kepalamu, Leoric.”
Leoric menuruti perintah itu.
“Aku ingin mendengar penjelasanmu.”
“Apa yang kau lakukan semalam adalah tindakan yang sangat gegabah.”
“Sangat berbahaya.”
Leoric mengangguk pelan.
“Aku melakukannya demi kerajaan ini.”
Jawabannya terdengar mantap.
Tanpa ragu.
Leoric lalu mulai menceritakan versi cerita yang telah ia siapkan sebelumnya.
Ia menjelaskan tentang bisikan misterius.
Tentang suara yang meyakinkannya bahwa monster-monster itu bisa dikalahkan.
Dan tentang sumber suara tersebut.
Pedang hitam yang kini berada di hadapannya.
Ruangan langsung menjadi hening.
Raja Rasdinand tidak segera menjawab.
Ia tampak sedang memikirkan sesuatu.
Lalu akhirnya ia menoleh ke salah satu sisi ruangan.
“Leonard Edelweiss.”
Seorang pria berambut putih melangkah maju.
Elite Guard terkuat milik kerajaan Nightdoom.
“Periksa pedang itu.”
“Baik, Yang Mulia.”
Edelweiss menghampiri pedang hitam tersebut.
Ia membungkuk sedikit.
Lalu mencoba mengangkatnya.
Dan saat itulah sesuatu terjadi.
Wajah Edelweiss langsung berubah.
Keringat dingin muncul.
Tubuhnya menegang.
Kepalanya terasa seperti dihantam ribuan suara sekaligus.
Bisikan-bisikan asing memenuhi pikirannya.
Bahasa yang tidak ia mengerti.
Kata-kata yang tidak bisa ia pahami.
Seolah ada sesuatu yang sedang mencoba berbicara langsung ke dalam jiwanya.
“Gh...!”
Edelweiss mundur beberapa langkah.
Napasnya memburu.
Ia bahkan gagal mengangkat pedang itu.
Pemandangan tersebut membuat beberapa orang di ruangan ikut terkejut.
Leoric menahan senyum.
Rencananya berjalan sempurna.
“Aku menemukannya di lorong kerajaan.”
Kata Leoric.
“Dan sepertinya pedang ini hanya mau digunakan olehku.”
Raja Rasdinand menghela napas panjang.
Justru itulah yang membuatnya semakin curiga.
Pedang misterius.
Muncul begitu saja.
Membisikkan sesuatu.
Dan berhasil membuat putra mahkotanya maju sendirian ke medan perang.
Semua itu terdengar seperti masalah besar.
“Kalau begitu aku memiliki alasan lebih kuat untuk menghancurkannya.”
Ucap Rasdinand tegas.
Leoric langsung mengangkat kepalanya.
“Ayah.”
“Bagaimana jika aku membuktikan bahwa pedang ini tidak berbahaya bagiku?”
Rasdinand menatapnya.
Leoric membalas tatapan itu tanpa gentar.
“Jika aku berhasil.”
“Apakah Ayah akan mengizinkanku menyimpannya?”
“Dan mengabulkan satu permintaanku?”
Untuk beberapa detik, ruangan kembali sunyi.
Lalu senyum tipis muncul di wajah Raja Rasdinand.
“Menarik.”
“Baiklah.”
“Buktikan.”
Leoric tersenyum kecil.
“Terima kasih, Ayah.”
Ia mengambil pedang hitam tersebut.
Mengangkatnya.
Lalu tanpa peringatan—
Slash!
Pedang itu ia ayunkan ke tangannya sendiri.
“PANGERAN!”
Anastasya langsung berlari maju.
Beberapa penjaga ikut terkejut.
Bahkan Rasdinand sampai berdiri dari singgasananya.
Namun sesaat kemudian...
Mereka membeku.
Tidak ada luka.
Tidak ada darah.
Kulit Leoric tetap utuh.
Seolah pedang itu menolak menyakitinya.
Leoric mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
“Lihatlah.”
“Pedang ini tidak melukaiku.”
Ia lalu menoleh ke arah Edelweiss.
“Dan berbeda dengan Sir Edelweiss, aku memahami bisikan yang berasal dari pedang ini.”
“Apa katanya?”
Tanya Rasdinand.
Leoric menjawab tanpa ragu.
“Jangan...”
“Jangan...”
“Jangan...”
“Itulah yang terus dikatakannya saat aku mencoba melukai diriku sendiri.”
Ruangan kembali hening.
Bahkan Rasdinand yang sempat berdiri perlahan duduk kembali.
Rasa tegang yang memenuhi ruangan akhirnya sedikit mereda.
“Aku benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi sejak kemarin...”
Gumam Rasdinand.
“Tapi tindakanmu tadi sangat membuatku hampir terkena serangan jantung.”
Beberapa penjaga menahan tawa.
Anastasya justru terlihat ingin memarahi Leoric saat itu juga.
Pada akhirnya.
Raja Rasdinand mengizinkan Leoric menggunakan pedang hitam tersebut.
Dengan satu syarat.
Jika suatu hari pedang itu melukai Leoric.
Maka pedang itu harus segera diserahkan untuk dihancurkan.
Leoric langsung menyetujuinya.
Kemudian Rasdinand mengingat sesuatu.
“Satu permintaanmu.”
“Apa itu?”
Leoric tersenyum.
Inilah bagian yang paling penting.
“Aku ingin sebuah altar pribadi di kamarku.”
Rasdinand berkedip.
“Hanya itu?”
“Ya.”
“Untuk berdoa.”
Raja Rasdinand tampak semakin bingung.
“Sejak kapan kau menjadi seseorang yang sangat rajin berdoa?”
Leoric tersenyum santai.
“Bukankah Ayah berjanji tidak akan bertanya?”
Rasdinand langsung terdiam.
Lalu menghela napas panjang.
“Baiklah.”
“Kau menang.”
Tak lama kemudian, interogasi berakhir.
Leoric akhirnya diizinkan kembali ke kamarnya.
Para pengrajin kerajaan segera diperintahkan untuk membuat altar kecil sesuai permintaannya.
Saat berjalan melewati lorong istana yang sepi, Leoric tidak bisa lagi menahan tawanya.
“Haha...”
“Rencana kita berhasil.”
Pedang hitam di pinggangnya tetap diam.
Namun Leoric tahu Sarioth sedang mendengarkan.
Tanpa disadarinya.
Di balik percabangan lorong yang gelap.
Ada seseorang yang sejak tadi mengawasi.
Cortinus Nightvale.
Adik kandungnya.
Pemuda itu menyipitkan mata.
Sejak awal interogasi, ia diam-diam menguping seluruh percakapan.
Dan kini ia baru saja melihat sesuatu yang sangat aneh.
Leoric.
Berbicara.
Dengan pedangnya sendiri.
Cortinus terdiam cukup lama.
Lalu perlahan mengernyit.
“.........”
“Pedangnya itu........bukan sekedar pedang biasa, kurasa?”
Dengan sorot mata sinis dan licik.
semangat!
seharusnya fokus dulu ke tokoh utama biar banyak yang kenal.