NovelToon NovelToon
The Professor’S Karma

The Professor’S Karma

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:12k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

​"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."

​Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.

​4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 ​Retakan yang Kian Menganga

Kepergian Baskara Dirgantara menyisakan keheningan yang teramat pekat sekaligus mencekam di dalam ruang rapat utama Prawijaya Group. Beberapa direktur senior masih menatap lembaran draf audit di tangan mereka dengan tubuh kaku, sementara Deon Prawijaya duduk bersandar dengan rahang yang mengeras sempurna. Emosi pria paruh baya itu tampak berada di puncak menara kemarahannya.

​"Kalian semua, keluar," perintah Deon, suaranya merendah namun sarat akan ancaman yang mutlak. "Kecuali kau, Aruna."

​Tanpa perlu dikomando dua kali, jajaran direksi dan kepala divisi hukum segera membereskan berkas mereka dengan tergesa-gesa. Mereka melangkah keluar dengan kepala tertunduk, enggan terseret ke dalam pusaran amarah sang pemilik takhta korporasi. Begitu pintu ganda jati itu tertutup rapat, menyisakan ayah dan anak itu di dalam ruangan, Deon langsung melemparkan map hitam milik Aruna hingga menghantam permukaan meja dengan keras.

​"Apa-apaan tindakanmu tadi, Aruna?!" bentak Deon, sepasang matanya berkilat murka menatap putrinya. "Kau pikir kau pahlawan karena berhasil membongkar celah itu di depan umum? Kau hampir saja menghancurkan aliansi strategis yang Papa bangun berbulan-bulan dengan Dirgantara Group!"

​Aruna menegakkan punggungnya yang terasa kaku, menolak untuk gentar di bawah intimidasi sang ayah. "Aliansi strategis? Papa menyebut jebakan margin yang bisa merugikan kita miliaran rupiah sebagai aliansi? Jika saya tidak membongkarnya subuh tadi, Prawijaya Group hanya akan menjadi sapi perahan untuk menambal kebusukan internal perusahaan Baskara!"

​"Kau tidak tahu apa-apa tentang geopolitik bisnis, Aruna!" Deon bangkit berdiri, memotong kalimat putrinya dengan suara menggelegar. "Dalam bisnis tingkat atas, kerugian minor seperti itu bisa kita kompensasikan di sektor lain. Yang terpenting adalah menjaga hubungan baik dengan maskulin raksasa seperti Dirgantara! Tindakan impulsifmu tadi merusak rasa saling percaya antar korporasi. Jika Baskara memutuskan untuk menarik seluruh investasinya dari koridor barat, kau yang harus bertanggung jawab!"

​Aruna tertawa hambar, sebuah tawa kering yang sarat akan kekecewaan mendalam pada sosok pria yang seharusnya melindunginya. "Jadi bagi Papa, harga diri dan keamanan aset perusahaan jauh lebih murah dibandingkan muka manis di depan Baskara Dirgantara? Apakah uang sudah benar-benar membutakan mata Papa sampai tidak bisa melihat bahwa pria itu sedang mendikte hidup kita?"

​"Cukup, Aruna! Jaga bicaramu!" napas Deon memburu penuh amarah. "Papa melakukan semua ini demi masa depanmu juga! Agar kau memiliki posisi yang kuat di industri ini setelah Papa tiada. Tapi kau... kau selalu saja menggunakan sentimen pribadi dan dendam masa kuliahmu di London untuk merusak segalanya!"

​Kalimat 'dendam masa kuliah di London' itu seketika menghantam ulu hati Aruna bagai hantaman gada besi. Dadanya mendadak terasa begitu sesak, seolah pasokan oksigen di dalam ruangan mewah itu menguap habis dalam sekejap. Aruna mencengkeram tepi meja rapat dengan jemarinya yang mulai memutih dan gemetaran. Rasa sakit yang familier kembali mengetuk dinding jantungnya, membuat pandangan matanya sedikit mengabur karena pening yang kian mendera pelipis.

​Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Aruna menyambar tas kerjanya dengan gerakan kasar. Ia berbalik arah, melangkah lebar meninggalkan ruang rapat mengabaikan panggilan penuh amarah dari ayahnya yang menggema di belakang punggungnya. Ia harus pergi dari sana. Atmosfer di gedung ini terlalu beracun untuk jiwanya yang telanjur retak.

​Sementara itu, di dalam mobil sedan mewah yang sedang membelah jalanan protokol Jakarta, Baskara Dirgantara duduk bersandar di kursi penumpang belakang dengan tatapan kosong menatap rintik hujan yang mulai membasahi kaca jendela. Pria itu meletakkan ponselnya yang sejak tadi menampilkan panggilan masuk dari Deon Prawijaya yang sengaja ia abaikan.

​"Pak Baskara," Rian, asisten pribadinya yang duduk di bangku depan, membuka suara dengan hati-hati setelah melirik melalui spion tengah. "Tim legal kita sudah menyiapkan draf revisi Pasal 14 sesuai instruksi Anda tadi. Namun... apakah Anda yakin tidak akan menuntut jalur hukum terkait kebocoran data sekunder semalam? Sistem kami melacak dengan jelas bahwa alamat IP peretas berasal dari kediaman Nona Aruna."

​Baskara tidak langsung menjawab. Ia mengangkat tangan kanannya, memijat pelipisnya yang terasa berat. Bayangan wajah pucat Aruna saat bertahan di meja rapat tadi terus berputar di kepalanya, menolak untuk pergi.

​"Hapus semua log aktivitas pelacakan semalam, Rian," ujar Baskara dengan nada bariton yang teramat pelan namun tak menerima bantahan. "Kasus peretasan itu tidak pernah ada."

​Rian sempat tertegun, namun sebagai asisten yang sudah mendampingi Baskara bertahun-tahun, ia tahu kapan harus diam dan patuh. "Baik, Pak."

​Baskara memalingkan wajahnya kembali menatap jalanan. Kata-kata Aruna di lift, draf audit yang disusun dengan begitu rapi, hingga rekam medis London yang menyatakan gadis itu sempat koma berbulan-bulan akibat tekanan psikologis berat... semuanya menyatu menjadi benang kusut yang kian menjerat hati Baskara dengan rasa bersalah yang teramat pekat.

​Ia sengaja mengalah di ruang rapat tadi. Bukan karena ia takut pada bukti yang dibawa Aruna, melainkan karena ia tidak ingin melihat pembuluh darah di hidung gadis itu kembali pecah karena stres seperti ingatan kelam di London. Baskara tahu, Aruna sedang menggunakan seluruh sisa energinya untuk bertarung melawannya. Dan anehnya, melihat Aruna yang berdiri tegak menantangnya justru membuat Baskara merasa jauh lebih lega daripada melihat Aruna yang ringkih dan tak berdaya di atas podium wisuda dulu.

​"Kau ingin bermain catur denganku, Aruna?" gumam Baskara teramat lirih hingga nyaris tenggelam di balik desau mesin mobil. "Baik. Aku akan menjadi lawanmu. Aku akan membiarkanmu mengambil setiap pionku, asal itu bisa membuatmu tetap bertahan hidup di dunia yang kejam ini."

​Di sudut lain kota, Aruna menghentikan mobilnya di depan sebuah klinik kesehatan kecil di pinggiran Jakarta. Tubuhnya sudah tidak mampu lagi diajak kompromi. Dengan langkah yang goyah dan pandangan yang kian mengabur, ia melangkah masuk menembus gerimis, mencari tempat untuk menyembunyikan kerapuhannya dari dunia luar.

​Saat ia duduk di ruang tunggu yang sepi, ponselnya kembali bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal yang sama kembali masuk.

"​Baskara sengaja mengalah hari ini. Dia tahu kamu yang meretas datanya semalam. Jangan lengah, Aruna. Singa tidak pernah menyerahkan mangsanya tanpa rencana yang lebih besar."

​Aruna menatap layar ponsel itu dengan tangan yang gemetar hebat. Jantungnya berdegup gila-gilaan, memicu rasa sesak yang kian mencekik rongga dadanya. Baskara tahu? Pria itu tahu dan sengaja membiarkannya menang?

​Aruna meremas ponselnya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. Rasa frustrasi dan amarah seketika membakar batinnya. Jika pesan itu benar, maka kemenangan di ruang rapat tadi hanyalah sebuah sandiwara belas kasihan dari Baskara Dirgantara dan bagi seorang Aruna Prawijaya, dikasihani oleh pria yang telah menghancurkan hidupnya adalah sebuah penghinaan yang jauh lebih menyakitkan daripada sebuah kekalahan mutlak. Perang ini belum usai, dan Aruna bersumpah akan menemukan cara untuk menghancurkan topeng belas kasihan pria itu di babak berikutnya.

1
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💋🅹🆄🅽👻ᴸᴷ
Hi hi gemes bgt, Ade tp unik jdx, 1 lari, 1 mengejar 🤭👍🥳
Anonim
lanjut ka 😍
Desi Santiani
apa sbnrnya isi flasdisk itu, apaa ad hubungannya sikap bagaska saat dlondon terhadap arunaa ?
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💋🅹🆄🅽👻ᴸᴷ
Aduh, jd bulan-bulann para warga 🤭🤦🙈
Anonim
cerita author x ini tak kalah menarik seru bgt 🥰🥰
Ra H Fadillah: halo terima kasih atas bintang 5 nya semoga kamu selalu suka dengan ceritanya ya 💞😉
total 1 replies
Anonim
jadi kepo thorrr
Anonim
ceritanya seruuuuuu😍
Desi Santiani
apa sebenarnya isi flasdisk itu, apa rahasia bagaskara yg selama ini pura2 jahat n kejam krna adanya tekanan atau apa, ahh dbuat skot jantung bacanya
Desi Santiani
semakin seruu thor
Desi Santiani
semangat trus thor up nyaa 😍💪
Desi Santiani
semakin seruuu, dtunggu selalu thor update kisah mereka😍
Desi Santiani
terima kasih thor, untuk up kisah mereka dgn lgsg bbrp bab, selalu dtunggu cerita mereka, sehat selalu thor /Heart/
Ra H Fadillah: Sama-sama 😉 Semoga kamu suka dengan ceritanya !
total 1 replies
Desi Santiani
semangat up nya trus thor, alur ceritanya sgt seru
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentar mu yang sangat positif 😉 💞
total 1 replies
Ra H Fadillah
Terima kasih sudah bantu ngeramein💕 Semoga betah terus marathon bacanya ya!😇
Desi Santiani
up lg thor... ceritanya keren
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💋🅹🆄🅽👻ᴸᴷ
Mantap, Aruna, tunjukkan 'pesona'mu 🔥🔥🔥
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💋🅹🆄🅽👻ᴸᴷ: Cama², Ade, Siap, kami tunggu, udh gk sabar liat 'Karma' utk yg udh nyakitin Tuan Putri ❤️🤗😘
total 2 replies
Anonim
sepele bgt ni dosen 😡
Anonim
masuk tata rias aja lu michel 😡
Anonim
wahhhh 💞 cerita baru lagi dri author kesygn 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!