"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."
Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.
4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Jeruji Besi di Balik Kemudi
Derum mesin mobil sedan mewah itu terdengar halus, membelah jalanan ibu kota yang mulai merayap padat. Di dalam kabin yang kedap suara, keheningan yang mencekam membentang di antara kedua penumpangnya. Aruna duduk menyandarkan kepalanya pada kaca jendela, membiarkan tatapannya terlempar kosong pada deretan gedung pencakar langit Jakarta yang bergerak mundur. Tubuhnya diam membeku, namun isi kepalanya berputar dengan liar, dipenuhi oleh gejolak emosi yang tertahan.
Aruna mendadak teringat kejadian di trotoar kompleks beberapa menit yang lalu. Kata-kata Baskara kembali terngiang, berputar-putar di indra pendengarannya bagai kaset rusak.
“Apa kamu sudah pulih sepenuhnya, Sayang?”
Panggilan itu... Aruna meremas ujung kaus putihnya diam-diam. Dadanya berdenyut, bukan karena luka fisik pasca operasi jantungnya, melainkan karena rasa tidak suka yang teramat sangat. Pria itu memanggilnya dengan sebutan akrab yang begitu intim, seolah-olah hubungan mereka baik-baik saja. Seolah-olah Baskara tidak pernah mencabik-cabik harga dirinya di London, dan seolah-olah pria itu memiliki hak untuk bersikap manis kepadanya.
Aruna merasakan luapan amarah yang mendesak di tenggorokan. Ada dorongan kuat di dalam hatinya untuk menoleh, melabrak pria di sampingnya itu, dan meneriakkan semua rasa muak yang ia pendam. Namun, tepat sebelum bibirnya terbuka, Aruna memejamkan mata erat-erat lalu menggelengkan kepalanya dengan pelan. Ia mencoba mengusir pikiran buruk itu dan menenangkan detak jantungnya sendiri. Tidak, jangan sekarang. Menunjukkan emosi di depannya hanya akan membuat pria ini merasa menang, batin Aruna memperingatkan dirinya sendiri.
Baskara yang sejak tadi tidak pernah benar-benar mengalihkan fokusnya dari Aruna, menangkap pergerakan kecil itu. Ia mengernyitkan keningnya yang tegas, gurat kecemasan seketika tercetak jelas di wajah tampannya. Pria itu mengurangi kecepatan mobilnya, lalu memindahkan satu tangannya dari roda kemudi.
Dengan gerakan yang teramat hati-hati, Baskara mengulurkan telapak tangan luasnya, berniat menyentuh kening Aruna untuk memeriksa suhu tubuh gadis itu. "Kamu kenapa, Aruna?" tanya Baskara, suara beratnya terdengar begitu rendah dan syarat akan kekhawatiran. "Kenapa menggelengkan kepala seperti itu? Apa kepalamu mendadak sakit? Atau kamu merasa pusing?"
Sentuhan tangan Baskara di keningnya membuat Aruna refleks menjauhkan kepalanya hingga membentur sandaran kursi. Ia menepis pelan pergelangan tangan Baskara, lalu menatap pria itu dengan sepasang mata yang sedingin es.
"Tidak," jawab Aruna dengan nada suara yang teramat datar, ketus, dan memotong jarak. "baik-baik saja, Pak."
Mendengar sapaan 'Pak' yang diucapkan dengan begitu formal dan penuh penolakan, Baskara merasakan dadanya sedikit berdenyut nyeri. Namun, melihat Aruna yang tidak tampak kesakitan secara fisik, ia memilih untuk mengembuskan napas panjang, mengecap rasa lega yang tipis. Baskara menarik kembali tangannya, lalu kembali menggenggam kemudi.
"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Tolong katakan padaku jika dadamu mulai terasa sesak, ya?" ujar Baskara melembut.
Mobil sedan hitam itu terus melaju dengan kecepatan santai. Baskara sengaja tidak membawa Aruna kembali ke rumah, melainkan mengajaknya berkendara keliling kota. Ia melewati jalan-jalan protokol yang rindang, membiarkan Aruna menikmati pemandangan kesibukan kota sekelilingnya. Sepanjang perjalanan, Aruna memilih untuk tetap mematung. Ia tidak menolak saat mobil membawanya berputar-putar, baginya, menatap jalanan jauh lebih baik daripada harus pulang ke rumah dan menghadapi kediktatoran ayahnya.
Merasa atmosfer di dalam mobil sudah sedikit mereda, Baskara kembali mencoba memulai obrolan. Kali ini, nada suaranya berubah menjadi jauh lebih lembut, terdengar begitu protektif dan penuh perhatian yang mendalam. Ia mulai bertanya tentang bagaimana pola tidur Aruna belakangan ini, apakah makanan di rumah cocok dengan seleranya, hingga mengingatkan gadis itu untuk tidak melewatkan jadwal kontrol ke dokter spesialis Jerman minggu depan. Cara Baskara berbicara, gestur tubuhnya, hingga tatapan mata yang sesekali ia lemparkan pada Aruna, benar-benar mencerminkan sosok seorang pria yang sedang memperlakukan kekasih hatinya dengan penuh pemujaan.
Aruna awalnya hanya diam, menganggap rentetan kalimat Baskara sebagai angin lalu. Namun, semakin lama mendengar suara pria itu, rasa kesal di dalam dadanya kian menumpuk hingga mencapai batas tertinggi. Perhatian protektif Baskara tidak terasa manis di telinganya, itu justru terasa seperti sebuah jeratan posesif yang munafik dari seseorang yang dulu pernah menghancurkannya.
"Berhenti," ucap Aruna tiba-tiba, memotong kalimat Baskara yang sedang menjelaskan tentang suplemen jantung terbaik.
Baskara menoleh sekilas, tertegun. "Kenapa? Kita masih di jalan layang, Aruna. Ada apa?"
"Aku bilang berhenti, Pak Baskara!" Aruna menaikkan nada suaranya, sepasang matanya menatap Baskara dengan kilatan amarah yang membara. "Hentikan mobilnya sekarang juga. Aku ingin keluar dari mobil ini. Aku tidak sudi duduk di sini dan mendengarkan semua omong kosongmu!"
Tangan Aruna sudah bergerak meraih tuas pintu, bersiap untuk membukanya bahkan saat mobil masih melaju dalam kecepatan sedang. Melihat nekatnya tindakan Aruna, kilatan kepanikan langsung menyambar wajah Baskara. Pria itu tidak mungkin membiarkan Aruna turun di tengah jalanan kota yang ramai, terlebih kondisi fisik gadis itu belum pulih total.
Klik.
Dengan gerakan cepat dan tak terbantahkan, jemari Baskara menekan tombol central lock pada panel kendali di dekat pintu kemudi. Suara sistem pengunci otomatis terdengar mengunci seluruh pintu mobil dengan rapat. Bukannya menginjak rem, Baskara justru menginjak pedal gas sedikit lebih dalam, melajukan kembali mobilnya membelah jalanan, mengabaikan sepenuhnya tuntutan Aruna.
"Baskara, buka pintunya! Kamu tidak punya hak untuk menahanku di sini!" seru Aruna, napasnya memburu hebat karena kesal setengah mati. Ia mencoba menarik-narik tuas pintu berkali-kali, namun jeruji besi tak kasatmata dari mobil itu tetap menguncinya dari dalam.
Baskara tetap menatap lurus ke depan, rahangnya mengetat kokoh. "Aku tidak akan membuka pintunya sampai kamu tenang, Aruna. Dan aku tidak akan membiarkanmu berjalan sendirian di luar sana. Marahlah sesukamu, benci aku sesukamu, tapi hari ini kamu akan tetap berada di sampingku."
Aruna melepaskan cengkeramannya pada tuas pintu, lalu bersandar kembali dengan napas yang memburu. Sepasang matanya menatap Baskara dengan kebencian yang kian pekat di bawah temaram kabin mobil, menyadari bahwa dosen dingin yang dulu mengatasinya di ruang kuliah, kini telah menjelma menjadi sosok pelindung posesif yang tidak akan membiarkannya lepas begitu saja.