Bahagia. Apa itu bahagia? Bagaimana rasanya bahagia? Kenapa orang bisa berbahagia? Itulah yang dipikirkan oleh keempat remaja SMAN Cempaka 1. Hidup mereka selalu susah, entah secara ekonomi, fisik, mental, keluarga, dan lain lain. Mereka selalu memikirkan bagaimana caranya hidup bahagia. Akankah mereka bisa hidup bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Paduka Zenku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9: Rumah yang Tidak Nyaman
^^^Sabtu, 18 Agustus^^^
Pagi itu Azril sudah duduk di ruang tamu sejak pukul delapan. Teks pidato yang ia tulis semalaman tergeletak di atas meja—beberapa lembar kertas A4 dengan coretan di sana-sini, hasil dari begadang sampai mata terasa perih. Tema tentang sejarah kerajaan Jawa ia pilih sendiri, setelah berkonsultasi dengan Bu Dina via pesan singkat.
Di tangannya, pion catur putih masih ia genggam—kebiasaan baru yang muncul entah sejak kapan. Mungkin sejak ia menang putaran pertama kemarin. Mungkin sejak ia merasa pion itu mewakili dirinya.
Tok. Tok. Tok.
"ZRIL! BUKAIN PINTUNYA!"
Suara itu. Azril tersenyum dan beranjak membuka pintu. Bima sudah berdiri di depan dengan senyum lebarnya yang khas, di belakangnya Faris dengan notebook di tangan, dan Elang yang berdiri agak jauh dengan tangan di saku jaket.
"Bim lu kebiasaan, ini masih pagi loh kok udah heboh aja," Azril berkomentar sambil membuka pintu lebar.
"Gue kan manager lo! Masa kalah semangat sama anak didik sendiri?" Bima langsung masuk, menepuk bahu Azril, lalu menjatuhkan diri di karpet ruang tamu. "Mana pidatonya? Gue mau denger."
Faris masuk dengan langkah pelan, duduk di dekat dinding. Notebook-nya terbuka, siap mencatat. Elang masuk terakhir, menutup pintu, lalu duduk di sudut dengan posisi bersandar—seperti biasa, tidak banyak bicara.
"Teksnya masih kasar," Azril berkata ragu. "Gue belum puas sama bagian pembukaan. Apalagi ini Bahasa Inggris."
"Justru itu. Lo bacain dulu, nanti kita kasih masukan." Bima duduk bersila, menatap Azril dengan mata berbinar. "Ayo, gue gak sabar!"
Azril menarik napas. Ia berdiri di depan mereka bertiga—di ruang tamu rumahnya yang sempit, dengan karpet tipis yang sudah lusuh, dan dinding yang mulai mengelupas di beberapa sudut. Tapi entah kenapa, ia tidak merasa malu. Mungkin karena yang duduk di hadapannya bukan orang asing.
Ia mulai membaca.
"Honorable judges, respected teachers, and my fellow students..."
Suaranya bergetar di awal. Tangannya yang memegang kertas gemetar sedikit. Tapi ia terus membaca. Teks itu bercerita tentang kejayaan Majapahit di bawah Hayam Wuruk dan Maha Patih Gajah Mada, tentang Sumpah Palapa yang menyatukan Nusantara, tentang bagaimana kerajaan-kerajaan Jawa mengajarkan kita arti persatuan dan keberanian.
"…Gajah Mada did not need to shout to be heard. He did not need to be the king to lead. He only needed one thing: the courage to make a promise and keep it."
Azril selesai. Ruangan hening.
"GIMANA?" suaranya panik. "Pronunciation-nya kacau ya? Gue ulang—"
"Zril."
Bima memotong. Wajahnya tidak lagi tersenyum lebar seperti biasa. Ia menatap Azril dengan ekspresi yang aneh—serius, tapi juga hangat.
"Itu... bagus banget."
Azril berkedip. "Serius? Lo ngerti?"
"Gak ngerti-ngerti amat sih. Tapi cara lo nyampein... gue merinding." Bima mengusap lengannya sendiri. "Lo yakin baru pertama kali bikin teks pidato Bahasa Inggris?"
Faris mengangkat notebook-nya. Di halaman itu tertulis:
[Aku gak ngerti semua. Tapi bagian akhirnya bagus. Tentang keberanian.]
Elang, yang dari tadi diam, akhirnya bersuara. "Pembukaannya kurang kuat. Lo harus langsung tarik perhatian. Tapi isinya... bagus."
Azril menatap mereka bergantian. Dadanya terasa hangat. "Makasih."
"Ya udah, ulang lagi dari awal. Tapi kali ini pas bagian 'Sumpah Palapa', lo harus lebih keras. Biar bergetar gitu!" Bima mengangkat tangannya seperti orator. "Gini loh: PALAPA!"
Azril tertawa kecil. "Oke, oke. Gue coba."
Ia mengulang dari awal. Kali ini suaranya lebih mantap.
...~•~•~•~...
^^^Minggu, 19 Agustus^^^
Hari kedua latihan. Kali ini Azril sudah lebih percaya diri. Ia berdiri di depan teman-temannya dengan punggung tegak, kertas pidato di tangan kiri, tangan kanan sesekali memberi penekanan.
"…And that is the true legacy of the Javanese kingdoms. Not just temples and inscriptions, but the courage to dream of unity, to fight for it, and to believe that one day, the archipelago would stand together as one."
Azril menyelesaikan paragraf penutup. Kali ini tidak ada getaran di suaranya. Tidak ada tangan yang gemetar.
Bima bersiul. "Nah! Gini dong! Gue bilang juga apa, lo pasti bisa!"
Faris menulis di notebook-nya, lalu menunjukkannya:
[Kamu udah bagus, Zril. Tinggal percaya diri aja.]
Elang mengangguk. "Bener tuh, lo udah siap buat lomba."
Azril tersenyum. "Makasih, ya. Buat kalian bertiga. Kalo gak ada kalian, gue mungkin udah nyerah dari awal."
"Ah, bisa aja lo." Bima berdiri, meregangkan tubuhnya. "Yaudah, gue pulang duluan ya. Ada urusan di rumah."
Faris ikut berdiri, diikuti Elang. Mereka bertiga pamit pada ibu Azril yang sedang di dapur, lalu berjalan keluar.
Di depan rumah, Bima melambai dengan semangat seperti biasa. "Besok ketemu di sekolah! Jangan telat!"
"Lo sendiri yang jangan telat," Elang membalas datar.
Bima tertawa, lalu menyalakan motornya. Faris dibonceng Elang seperti biasa. Mereka bertiga berpisah di pertigaan—Bima ke arah barat, Elang dan Faris ke timur.
Azril berdiri di depan rumahnya, menatap motor Bima sampai menghilang di tikungan. Ia tersenyum sendiri, lalu masuk ke dalam.
...~•~•~•~...
Bima memarkir motornya di depan rumah. Mesin mati. Ia tidak segera turun.
Rumahnya kecil. Cat dindingnya mengelupas di mana-mana, pagar besinya berkarat, dan genting di bagian depan ada yang retak sejak tahun lalu tanpa pernah diperbaiki. Tapi itu bukan yang membuat Bima berhenti. Yang membuatnya berhenti adalah suara dari dalam.
Sunyi. Terlalu sunyi.
Biasanya, kalau ayahnya belum pulang, mamahnya akan menyalakan radio—suara kroncong atau dangdut koplo yang mengalun pelan dari dapur. Tapi hari ini tidak ada. Hanya sunyi.
Bima menghela napas. Ia turun dari motor, membuka pagar yang berderit, lalu berjalan ke pintu depan. Tangannya memegang daun pintu. Ia mendorongnya perlahan.
BRAK!
Sebuah botol kaca melesat dari dalam rumah, menghantam pintu tepat di samping kepalanya. Pecahan kaca beterbangan, mengenai pipi dan bajunya. Bima memejamkan mata sesaat, tubuhnya menegang.
Lalu ia membuka matanya. Ekspresinya berubah datar. Kosong. Seperti seseorang yang tidak memiliki kehidupan di jiwanya.
"Dasar anak gak tau diri!"
Ayahnya muncul dari ruang tengah. Tubuhnya yang dulu tegap sekarang mulai membungkuk, tapi masih cukup besar untuk membuat Bima harus mendongak. Matanya merah—entah karena alkohol atau amarah, mungkin keduanya. Nafasnya bau arak.
"Kerjaan di gudang belom beres, lo malah main-main sama temen lo?! Enak banget jadi lo!"
Bima tidak menjawab. Ia sudah belajar sejak lama: diam lebih aman.
"Uang lo mana?!" Ayahnya mendekat, tangannya terangkat. "Hasil ojek online minggu kemarin mana?! Jangan bilang abis lagi!"
"Udah buat bayar listrik, Pah." Suara Bima datar. Bukan karena tenang, tapi karena ia sudah tidak punya energi untuk takut.
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipinya. Bima terhuyung, tapi tidak jatuh. Belum, ia masih bisa menahannya.
"Bohong lo! Mana buktinya?! Mana?!"
Tangan ayahnya mendorong bahunya keras. Kali ini Bima jatuh. Punggungnya membentur lantai, dan ia merasakan sesuatu yang tajam menembus bajunya—pecahan botol yang tadi berhamburan. Tangannya—tangan kanan yang tadi ia pakai untuk melambai ceria pada Azril, Faris, dan Elang—tergores pecahan kaca. Darah mulai mengalir, membasahi lantai.
Ayahnya masih berdiri di atasnya. "Gua tanya sekali lagi! Uang lo mana?!"
"Udah... bayar listrik..." Bima mengulang, suaranya lebih pelan. Matanya menatap langit-langit rumah yang retak. "Bisa dicek sendiri kalo gak percaya."
Ayahnya mendengus keras. Ia menendang kaki Bima keras lalu berbalik dan masuk ke kamar. Pintu dibanting.
Bima masih di lantai. Tangannya berdarah. Punggungnya sakit. Pecahan kaca menempel di bajunya. Tapi ia tidak menangis. Ia sudah terlalu lelah untuk menangis.
Dari sudut ruangan, terdengar hembusan napas. Asap rokok menguar di seluruh ruangan membuat dadanya sedikit sesak. Mamahnya duduk di kursi usang dekat jendela. Rokok di tangannya menyala, asapnya mengepul tipis ke udara. Matanya menatap Bima—bukan dengan iba, bukan dengan khawatir. Tatapan itu kosong. Ketus. Seperti melihat barang rusak yang tidak layak diperbaiki.
Ia menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu mengembuskan asap. Tidak bergerak. Tidak berbicara. Hanya menatap.
Bima menatapnya balik. Sejenak, ia mencari sesuatu di mata itu. Sisa-sisa kehangatan yang dulu pernah ada. Dulu, mamahnya sering membuatkannya nasi goreng setiap ia pulang sekolah. Dulu, mamahnya menontonnya main bola di lapangan dekat rumah, bertepuk tangan saat ia mencetak gol. Dulu.
Tapi itu dulu, sekarang semuanya sirna. Mungkin terbunuh oleh tagihan yang menumpuk. Mungkin oleh suami yang pulang dalam keadaan mabuk setiap malam. Mungkin oleh hidup yang tidak pernah memberi mereka pilihan.
Mamahnya mematikan rokok di asbak. Ia berdiri, berjalan melewati Bima—tanpa menoleh, tanpa berkata apa-apa—dan masuk ke dapur.
Bima sendirian di ruang tamu. Suara jangkrik dari luar mulai terdengar.
Perlahan, ia bangkit. Tangannya yang terluka ia biarkan dulu—ia harus membersihkan pecahan kaca di lantai. Kalau tidak, besok ayahnya akan marah lagi. Ia mengambil sapu dengan tangan kiri, menyapu pecahan kaca dengan gerakan yang cekatan. Sudah terbiasa.
Setelah lantai bersih, ia masuk ke kamarnya. Kamar kecil yang hanya berisi kasur tipis, lemari reyot, dan satu bola sepak di sudut. Bola itu lusuh, kulitnya mulai mengelupas. Tapi itu adalah satu-satunya benda di rumah ini yang membuatnya bahagia.
Ia duduk di tepi kasur. Membuka kotak P3K kecil yang ia simpan di bawah tempat tidur—kotak plastik yang sudah penyok di sana-sini. Kapas. Alkohol. Perban seadanya. Ia membersihkan lukanya sendiri. Gerakannya cekatan, tanpa ekspresi. Perihnya tidak lagi terasa seperti dulu.
Setelah lukanya diperban seadanya—tidak rapi, tapi cukup untuk menghentikan darah—ia menatap bola sepaknya.
Ponselnya bergetar.
Azril: Bim, makasih ya udah bantuin latihan. Lo temen terbaik gue.
Faris: Hari ini seru. Terima kasih, Bim.
Elang: Besok sekolah. Jangan telat.
Bima membaca pesan-pesan itu. Matanya berkaca-kaca. Tapi ia tidak menangis. Ia sudah terlalu lelah untuk menangis.
Ia mengetik balasan.
Bima: Sama-sama, Zril! Lo pasti menang! 🏆
Bima: Ris, kapan-kapan gambar gue lagi dong hehe
Bima: Lang, lo sendiri yang jangan telat 😎
Ia menatap layar ponselnya. Senyum kecil—bukan senyum lebarnya yang biasa. Senyum yang lelah.
Gapapa. Gue baik-baik aja. Besok gue harus semangat lagi. Buat mereka.
Ia meletakkan ponsel. Mematikan lampu. Berbaring di kasur tipisnya, menatap langit-langit yang retak.
Di luar, suara jangkrik terus berbunyi.
Sendirian dalam gelap.
...~•~•~•~...
Malam itu, di rumahnya yang sunyi, Faris duduk di depan meja belajar. Buku gambarnya terbuka di halaman baru.
Ia menggambar empat orang. Azril dengan kacamata bulat dan gelas es teh di tangan. Elang dengan jaketnya, berdiri sedikit menjauh. Bima di tengah, tersenyum lebar seperti biasa. Dan dirinya sendiri, di samping Bima, memegang notebook.
Di bawah gambar itu, ia menulis satu kalimat dengan pensilnya:
[Teman.]
Ia menatap gambar itu lama. Lalu ia menutup buku gambarnya pelan-pelan.
...~•~•~•~...
Di rumahnya yang tak kalah sunyi, Elang duduk di tepi kasur. Kertas lipatan "I want to change" masih di balik bantal. Ia mengambilnya malam ini, membuka lipatannya, menatap tiga kata itu.
Lalu ia menatap kalender di dinding. 21 Agustus dilingkari merah. Tanda yang ia buat sendiri sejak Marcel memberinya ultimatum seminggu lalu.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Aini:
Ai: Kak, besok berangkat bareng ya.
Elang mengetik balasan:
Elang: Iya. Jangan telat.
Ai: Kakak sendiri yang jangan telat 😊
Elang meletakkan ponsel. Matanya kembali ke kalender. Lingkaran merah itu menatapnya balik.
Besok Senin. Sehari lagi.
Ia melipat kertas itu lagi, menyimpannya di balik bantal. Lalu mematikan lampu.
...~•~•~•~...
Malam semakin larut. Di kamarnya, Azril duduk bersila di atas kasur. Teks pidatonya tergeletak di sampingnya, sudah rapi tanpa coretan. Ia sudah siap untuk lomba. Setidaknya, ia merasa siap.
Ia menatap pion catur di tangannya. Pion putih kecil yang ia ambil dari papan catur milik ayahnya—entah kenapa ia merasa harus membawanya ke kamar.
"Ayah," bisiknya pelan. "Doain ya. Dua minggu lagi gue lomba."
Ia meletakkan pion itu di atas meja belajar, di samping inhaler birunya. Dua benda yang tidak pernah ia bayangkan akan berdampingan: simbol kelemahan dan simbol kekuatan.
Tapi mungkin, pikirnya, keduanya adalah bagian dari diriku. Dan mungkin tidak apa-apa.
Ia mematikan lampu.
Di luar, bintang-bintang bersinar. Dan di dalam gelap, keempat sahabat itu tertidur dengan pikiran masing-masing.
TBC