Renazia Putri Maharaja, adalah salah satu orang yang beruntung di dunia. Selain pintar dan cantik, wanita yang baru saja menginjak umur 27 tahun itu, juga memiliki keluarga yang sangat sayang padanya, serta teman yang banyak.
Ditambah dengan kesuksesannya di dunia desainer, membuat orang-orang iri padanya.
Namun, semuanya hilang dalam semalam, ketika Rena tiba-tiba terbangun di tempat yang asing dengan tubuh yang berbeda, dengan nasib yang berbeda juga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaestra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sembilan
Di dalam keheningan malam, Rena tiba-tiba tersentak bangun ketika, terdengar suara tembakan yang saling bersahutan. Dia segera menegakkan tubuhnya, dan menoleh ke samping. Tidak ada siapapun, Dante tidak ada di sampingnya.
Sebelum dia sempat turun dari kasurnya, seseorang membuka pintu dengan keras. "Nyonya!" Via berlari masuk ke dalam kamar itu dan menguncinya.
"Nyonya, kita harus pergi dari sini!" Dengan cepat, Via mengambil selendang dan memakaikannya pada Rena. Lalu, Via menarik lengan Rena turun dari kasur.
Via membawa ke sudut kamar, tepatnya ke salah satu lemari buku yang biasanya Rena abaikan. Namun, ketika Via menekan salah satu buku yang ada di sana, lemari buku itu tiba-tiba bergeser. Rena langsung di tarik masuk ke dalam lemari itu.
Rena berdecak kagum, ketika melihat ternyata di balik lemari itu, ada sebuah tangga yang mengarah ke bawah. "Via, kita mau ke mana? Dan, apa yang sebenarnya terjadi?"
"Diluar, ada orang yang menerobos keamanan mansion, dan menyerang beberapa pengawal. Sepertinya, mereka perusahaan yang bersaing dengan tuan."
Rena diam. Dia memang sudah mengetahui jika, Dante memiliki beberapa pesaing bisnis dari kedua bisnis yang dia jalankan. Dan, di dalam novel juga, ada kejadian di mana, pesaing bisnis itu menyerang mansion Dante.
Namun, itu terjadi setelah tokoh Rena meninggal. Dan, Valerie yang seharusnya berada di sini. Rena mengerutkan keningnya, sambil mendongak, menatap dari mana dia dengan Via muncul.
Akhirnya, mereka sampai di tangga terakhir. Di lantai itu, Rena bisa melihat sebuah pintu baja, dan mereka berhenti di depannya. Seolah sudah terlatih, Via memasukkan pin dan pintu itu terbuka.
"Ayo, Nyonya." Via membawa Rena masuk ke dalam ruangan itu.
Rena kembali dibuat kagum setelah, melihat isi dari ruangan itu. Dengan desain interior klasik, ruangan itu lebih baik dari mansion Dante.
Helaan napas lega terdengar dari Via. Wanita itu mendekati Rena yang terlihat masih mengagumi ruangan itu. "Nyonya, silakan duduk dulu. Saya akan mempersiapkan kamar tidur untuk anda."
"Tunggu, Via. Ini ruangan apa?" Rena bertanya, menghentikan langkah Via yang hendak masuk ke dalam kamar.
Hening sejenak, sebelum Via menjawab. "Ini ruangan rahasia, yang tuan bangun untuk situasi darurat seperti ini. Tenang saja. Nyonya, aman di sini."
"Terus, di mana Dante?"
"Tuan bersama pengawal, sedang membereskan penyusup yang masuk, Nyonya."
Rena manggut-manggut, lalu duduk di salah satu sofa, sedangkan Via kembali melanjutkan langkah menuju salah satu pintu, membukanya lalu masuk ke dalam.
Mendengar pintu yang sudah tertutup, Rena bangkit berdiri. Dia melangkah mengelilingi ruangan itu, menelusurinya dengan teliti.
Langkahnya terhenti di depan sebuah deretan bingkai foto. Alisnya mengerut, ketika melihat kalo deretan foto itu, adalah foto dirinya. Dan, satu foto pernikahannya dengan Dante. Dan, hanya di foto pernikahan itu, ada wajah Dante.
Kalo dingat-ingat lagi, di mansion utama juga tidak ada satu punya Dante sendirian. Kebanyakan foto pernikahan mereka.
"Foto-foto itu diambil dari kamar Nyonya di mansion Thorne."
Rena tersentak. Dia segera menoleh, dan mendapati sosok Via sudah berdiri di sampingnya. "Dan, foto pernikahan ini, Tuan sendiri yang membawanya ke sini."
"Sepertinya, kamu sangat mengetahui seluk-beluk ruangan ini."
Via terkekeh pelan. "Sebagai pelayan yang ditugaskan untuk melayani istri dari tuan Dante, aku sudah diharuskan untuk mengetahui apa yang harus saya lakukan demi kenyaman dan keamanan Nyonya. Termasuk ruangan ini, yang bangun khusus untuk Nyonya. Jadi, saya harus mengetahui apa saja yang ada dalam ruangan ini."
"Tunggu. Ruangan ini, dibangun untuk aku?"
Via menganggukkan kepalanya, sebagai jawaban. Hal ini, membuat Rena tercengang sekaligus heran. Dia tidak menyangka Dante, akan memikirkan dirinya. Padahal, jelas-jelas di novel, pria sama sekali tidak peduli padanya.
"Silakan ke kamar, Nyonya. Masih ada waktu untuk tidur."
Rena tidak memberikan jawaban, dia hanya mengayunkan kaki ke pintu di mana Via masuk tadi.
...
"Apakah ini tidak keterlaluan, Tuan?" El bertanya sambil melihat dua mobil van yang perlahan melaju meninggalkan area mansion.
William menghembuskan asap nikotin ke udara, lalu meoleh menatap El dengan tatapan tidak suka. "Keterlaluan? Ini bukan apa-apa untuk seorang Dante. Aku juga tidak ingin melukai dia. Ini hanya peringatan untuknya."
"Tapi, untuk apa, Tuan?"
William berdecak kesal, sambil membuang puntung rokoknya, dan menginjaknya dengan kasar. "Dengar, El. Kamu sudah menjadi asistenku bukan baru-baru ini. Tapi, sudah bertahun-tahun. Seharusnya, dengan pengalaman kerja kamu itu, kamu tau, apa yang membuat majikanmu ini kesal!"
El menundukkan kepalanya. Dia tau, kenapa William sampai sejengkel ini. Tapi, kenapa harus sampai begini? Di luar sana, masih ada wanita muda yang lebih menggoda daripada Rena yang merupakan istri orang lain.
"Jika saja, Dante mau melepaskan Rena, dan menyetujui usulanku, aku tidak akan sejauh ini," lanjut William sambil melangkah menjauhi El.
El mengangkat kepalanya, sambil menghela napas panjang. Dia mengedarkan pandangannya, lalu mengeluarkan ponsel dari saku celana. Pria itu mengetikkan sesuatu, lalu kembali memasukkannya ke dalam saku celanannya.
...
Rumput yang dulunya berwarna hijau, kini berbercak cairan berwarna merah. Dante menyeka, pelipisnya yang terkena benda tajam. Untungnya, lukanya tidak dalam.
"Tuan, kami sudah membereskannya," lapor Enzo sambil mendekati Dante. Dante menganggukkan kepalanya, lalu menatap beberapa mayat yang tergeletak di halaman mansion.
"Mereka dari William, kan?" tanyanya pada Enzo yang dibalas dengan anggukkan kepala pria itu. Karna, Enzo mengenali anak buah William. Serta, tato serigala yang mereka miliki di dada lengan atas mereka.
Dante berdecak. "Dia sudah mulai menunjukkan niat aslinya."
"Tapi, Tuan. Kenapa dia dengan terang-terangan mengirimi anak buahnya? Dan, dia seolah sengaja menunjukkannya."
Dante diam, menatap lurus ke depan. Dia juga kepikiran hal itu. Mungkinkah karna, dia menolak usulan pria itu tadi siang, sehingga dia sampai bertingkah seperti ini?
"Di mana Rena?"
"Nyonya sudah berada di ruangan aman bersama dengan Via, Tuan."
"Baiklah. Sisanya, kamu bereskan."
"Baik, Tuan."
Dante melangkah meninggalkan Enzo, melangkah masuk ke dalam mansion. Tujuannya, menuju ruangan aman, di mana Rena berada.
Sampai di ruangan itu, dia langsung disambut Via yang sudah siap dengan senapan api di tangan. Via sontak menurunkan senapan apinya, dan menunduk hormat pada Dante.
"Rena?"
"Nyonya ada di dalam kamar, Tuan. Sepertinya, nyonya sudah tidur lagi."
Dante terlihat lega. Dia menggulungkan lengan bajunya, terlihat ada luka. "Aku akan kembali ke atas. Nanti, Enzo akan datang untuk menjemput kalian, jika situasi sudah benar-benar aman. Dan, pastikan wanita itu nyaman selama berada di sini."
"Baik, Tuan."
Dante melirik ke arah pintu kamar yang di dalamnya ada Rena yang sudah kembali ke alam mimpi. Dante langsung berbalik meninggalkan ruangan itu.
...bersambung