NovelToon NovelToon
Lahir Kembali Di Medan Perang

Lahir Kembali Di Medan Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Time Travel / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Penyelamat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Seorang pria modern yang gugur dalam kecelakaan misterius terbangun kembali di tubuh seorang prajurit muda pada zaman perang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

"Saudara-saudara sebangsa!" suara bergetar dari radio tua di pos pertahanan:

"Pukul empat pagi ini, tanpa pernyataan perang maupun ultimatum, pasukan Belanda melancarkan serangan ke berbagai kota penting di Jawa dan Sumatra. Pesawat-pesawat mereka telah membombardir Yogyakarta, Semarang, Palembang, dan Surabaya. Serangan Belanda yang begitu mendadak ini adalah sebuah pengkhianatan yang tidak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah bangsa beradab..."

Semua orang mendengarkan dengan tegang. Suara radio itu akhirnya berakhir dengan beberapa kalimat penyemangat, sebelum berganti menjadi suara "gemerisik" yang mengganggu.

"Itu tadi suara Komite Luar Negeri Republik yang bicara!" jelas Mayor Wiratmaja dengan wajah muram.

Mendengar kata-kata itu, ruangan seketika sunyi.

Surya menarik napas lega.

Pidato itu memang tidak menyebutkan bahwa pasukan kita di garis depan terdesak mundur... tentu saja, hal seperti itu tak boleh diumumkan terbuka, apalagi dalam siaran untuk seluruh rakyat.

Namun, ada hal penting yang jelas Belanda tidak hanya melakukan penyerangan terbatas, melainkan agresi besar-besaran untuk merebut kembali tanah air kita.

Dan di sinilah perbedaan pandangan muncul antara sang instruktur dan Surya.

Selain itu, siaran juga menyebutkan bahwa Belanda membom Surabaya, Yogyakarta, Palembang, dan Semarang.

Perlu dipahami, Palembang berada jauh di Sumatra, dan jika pesawat-pesawat musuh bisa menyerang sampai sejauh itu, maka artinya kekuatan udara mereka jauh lebih besar daripada yang diduga.

Hampir pasti membuktikan bahwa apa yang sebelumnya dikatakan Surya benar adanya.

"Hampir" karena sang instruktur masih enggan mengakuinya.

"Itu bukan berarti pasukan Republik kalah total!" sang instruktur membantah keras.

"Itu hanya pengeboman dari udara. Kita mungkin kehilangan kendali di langit, tapi di darat para pejuang kita masih gagah melawan agresi Belanda!"

"Mungkin benar," balas Mayor Wiratmaja dengan nada serius. "Tapi lebih besar kemungkinannya kita sudah terkepung. Cepat atau lambat, kita harus mencari jalan keluar."

"Itu hanya alasan pengecut!" sang instruktur menuding keras. "Kalau benar kita pejuang sejati, kita harus bertahan di setiap jengkal tanah air, bukan lari menyelamatkan diri!"

Perdebatan antara Mayor Wiratmaja dan sang instruktur terus berlanjut.

Surya sendiri kembali tenggelam dalam pekerjaannya.

"Hebat!" seru Okta, salah satu rekannya, ketika melihat Surya masih hidup sambil memegang pistol di tangannya. Ia langsung memeluknya erat.

"Aku kira aku takkan melihatmu lagi, kawan!" bisik Okta.

"Benar," hanya itu yang Surya ucapkan. Ia tidak berani menjelaskan lebih jauh, apalagi soal "agresi besar-besaran" atau "mundurnya pasukan Republik". Kata-kata itu terlalu berbahaya bila sampai terdengar oleh telinga yang salah.

Okta mengangguk paham. Tanpa bertanya lebih jauh, ia hanya merobek selembar kertas koran, menggulung tembakau dari sakunya, lalu menyerahkan sebatang rokok pada Surya.

Dengan tangan bergetar, Surya menerima rokok itu. Korek di tangan Okta pun berulang kali gagal menyulut api karena rokok itu terus bergoyang.

Akhirnya Surya bisa menghirup asapnya dalam-dalam, lalu mengembuskannya panjang-panjang.

Ia pernah mengira medan tempur adalah hal paling menakutkan di dunia. Namun ternyata, yang lebih menakutkan adalah saat menyadari nyawanya bisa diputuskan oleh perintah dingin seorang atasan, diiringi suara letusan senjata, dan tatapan kosong para penjaga di sekitarnya.

Surya bahkan bisa membayangkan peluru menembus kepalanya, darahnya muncrat, sementara orang-orang di sekeliling hanya diam seakan itu hal biasa.

Mengambil tarikan napas panjang lagi, Surya memenuhi paru-parunya dengan asap rokok murahan. Entah kenapa, itu justru membuat hatinya sedikit lebih tenang.

Barulah Surya paham, kenapa banyak orang jadi perokok di tengah perang.

Di balik kepulan asap itu, ia memaksa pikirannya kembali pada realita.

Mau tidak mau, ia harus bertindak. Meski sebelumnya hampir kehilangan nyawa, ia tahu kalau kali ini ia diam saja, maka ajalnya hanya soal waktu.

Tapi… apakah Mayor Wiratmaja bisa meyakinkan sang instruktur?

Surya tidak yakin.

Seperti yang sudah dikatakan dalam siaran tadi, meskipun Komite Luar Negeri Republik menyebut adanya serangan besar-besaran, itu tidak berarti pasukan Republik benar-benar mundur sepenuhnya. Terutama karena sebagian perwira dan instruktur masih punya moral yang tinggi, dan yang lebih penting… radio di pos itu tidak bisa menghubungi komando pusat. Itu berarti, mereka belum menerima perintah mundur resmi.

Tanpa perintah, langkah mundur hanya akan dianggap sebagai pelarian. Dan semua orang tahu apa akibatnya: dituduh pengecut, bahkan bisa dihukum mati di tempat.

Surya menertawakan dirinya dalam hati. Ia hampir mengorbankan nyawanya, mempertaruhkan segalanya, tapi pada akhirnya tidak ada yang berubah.

Saat ia tenggelam dalam pikirannya, Okta mendorong sebuah kotak makan kosong ke arahnya.

Surya sempat bingung, sampai ia melihat dua prajurit logistik datang membawa ember besar berisi makanan, lalu mulai membagikannya. Barulah ia sadar ini waktunya makan malam.

Dengan suara plok!, sendok besi menjejalkan gumpalan bubur jagung lengket ke kotak makannya.

Surya menatapnya lekat-lekat. Ia tak percaya harus makan makanan seperti itu di tengah malam penuh ketegangan. Namun, ketika ia melihat prajurit lain menyantapnya dengan lahap, ia hanya bisa menghela napas, mengerutkan kening, lalu menyuapkan sesendok ke mulutnya.

Rasanya hambar dan keras. Tapi, mungkin karena perutnya kosong, ia merasa tidak seburuk yang dibayangkan. Akan lebih baik kalau ada sambal, atau sepotong roti, pikirnya getir.

Belum selesai ia makan, suara lantang kembali terdengar dari seberang parit pertahanan. Kali ini lewat pengeras suara milik tentara Belanda:

"Saudara-saudara Indonesia! Kami datang bukan sebagai musuh, tapi untuk membebaskan kalian! Bergabunglah bersama kami, singkirkan penindasan pemerintah Republik yang hanya membawa penderitaan!"

Beberapa prajurit menoleh sambil mengunyah makanan. Seorang di antaranya, Arif, yang duduk jongkok tak jauh dari Surya, bersuara dengan nada sinis:

"Heh, ada juga yang suka dengar omongan begitu. Bagaimana menurutmu, Surya?"

Tawa kecil pecah di sekitarnya. Mereka semua tahu sindiran itu.

Okta langsung bereaksi, wajahnya memerah:

"Hei, jangan asal bicara! Atasan sudah mengembalikan senapan Surya, artinya dia dipercaya. Itu bukti dia bukan pengkhianat!"

"Aku tahu!" Arif terkekeh, mengangkat sendoknya. "Tapi itu belum membuktikan dia bukan pengecut, kan?"

Ledakan tawa pecah lagi di sekeliling mereka.

Okta hampir berdiri untuk membalas, tapi Surya menahan bahunya.

Ia tidak peduli dengan olok-olok itu. Apa gunanya? Dalam pikirannya, sebagian besar dari mereka takkan bertahan hidup sampai besok. Maka, perang kata-kata hanyalah kesia-siaan.

Yang penting baginya saat ini hanyalah satu hal: bagaimana cara bertahan hidup dari perang kejam ini.

Karena pada akhirnya, jadi pahlawan atau jadi anjing, bukan ditentukan oleh kata-kata orang… melainkan oleh siapa yang berhasil tetap hidup.

1
RUD
terima kasih kak sudah membaca, Jiwanya Bima raganya surya...
Bagaskara Manjer Kawuryan
jadi bingung karena kadang bima kadang surya
Nani Kurniasih
ngopi dulu Thor biar crazy up.
Nani Kurniasih
mudah mudahan crazy up ya
Nani Kurniasih
ya iya atuh, Surya adalah bima dari masa depan gitu loh
Nani Kurniasih
bacanya sampe deg degan
ITADORI YUJI
oii thor up nya jgm.cumam.1 doang ya thor 3 bab kekkk biar bacamya tmbah seru gt thor ok gasssss
RUD: terima kasih kak sudah membaca....kontrak belum turun /Sob/
total 1 replies
Cha Sumuk
bagus ceritanya...
ADYER 07
uppppp thorr 🔥☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!