Antara bertahan dengan perasaan atau melepaskan, ia gamang.
Perasaan terkadang hanya perlu diyakini, biar semesta yang mempertemukannya kembali.
Meski hidup bukan hanya perihal cinta, tapi menetapkan hati membutuhkan rasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon oh_pid21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 9
***
Pembukaan hari yang pedih bagi gadis berkaos merah jambu, kekasih yang ia cintai menuduhnya berselingkuh hanya karena ia melihat gadis itu berboncengan dengan lelaki lain. Mungkin lelakinya itu tipe kekasih posesif yang tidak bisa melihat gadisnya bersama lelaki lain.
Cinta kadang memang mengekang, begitu khawatir kekasih pujaan berpaling.
“Ada apa Alisa?” tanya penghuni kamar sebelah Alisa sembari menepuk pundak Alisa.
“ itu sepertinya ada yang sedang cekcok.” jawab Alisa.
“Aah biasa dalam sebuah hubungan kan?” balas perempuan berambut coklat yang meninggalkan menjauhi Alisa.
“Alisa,” panggilan seseorang yang berjalan kearahnya.
Alisa menoleh kebelakang,
“ ini kemarin ada paketan, kamu belum pulang, dan sore aku harus pergi jadi maaf aku baru menyampaikannya padamu” ucap perempuan berkerudung yang menyodorkan kotak paketan.
“Oh iya, terima kasih ya mbak” ucap Alisa.
“ iya, sama-sama” perempuan itu pergi kembali ke kamarnya.
Alisa masuk kedalam membuka sebuah kotak kecil terbungkus kertas coklat, tertulis nama sang pengirim,“ Danu”. Alisa tersenyum.
“ Danu…Danu..dia itu masih sajaa…” ia tidak melanjutkan gumamannya.
Sebuah scarf bermotif garis pada bagian ujung scarf dengan warna dasar mocca ia ambil dari kotak mini berdiameter 15 cm.
Berdering ponsel yang ia diletakkan diatas lemari, Alisa meraihnya dan menggeserkannya tombol hijau.
“Halo..” ucap Alisa.
“Halo lisa, apa ada paketan untukmu hari ini?” tanya Danu diseberang telepon.
“Haa..iya ini baru saja aku membukanya, terima kasih Danu. Tapi aku tidak berulang tahun hari ini” tanya Alisa bercanda.
“Haha.. memangnya harus berulang tahun dulu baru bisa mendapatkan kado” seru Danu terkekeh.
“ Aku kemarin melihat scarf itu pada sebuah toko disini, terus aku keingat kamu lis, aku beli saja untuk kenang-kenangan. Jadi bagaimana? Suka tidak? Kalo tidak suka, tidak perlu dipakai disimpan saja?!” Danu memberondong pertanyaan yang belum sempat Alisa jawab.
“Suka Danu, bagus scarfnya. Kamu pandai juga memilih” kali ini Alisa memuji Danu.
“ Aku mencermati warna-warna baju dan jilbab yang sering kamu pakai lis, dan kamu ini penyuka warna-warna soft ternyata” jelas Danu.
Diseberang telepon Alisa hanya terkekeh kecil.
“Terima kasih Danu untuk scarfnya, jangan sering-sering yaa..” ucap Alisa.
“ Haha..iya-iyaa, yasudah ya Alisa aku harus keluar mencari barang yang aku butuhkan untuk mendaki lusa” pamit Danu.
“iyaa..” jawab Alisa singkat.
Danu lelaki petualang, ia menapaki gunung-gunung yang ada dipulau Jawa. Belum sampai seluruh nusantara tapi membuat ia sedikit tak terurus dengan penampilannya sedikit gondrong dan berkumis tipis.
Sikap Danu masih baik-baik saja pada Alisa, ia tahu harus bagaimana bersikap sebagai lelaki dewasa setelah mendapatkan penolakan dari Alisa. Dihati kecil Danu, suatu saat nanti berharap Alisa terbuka hatinya untuk memberi kesempatan padanya berlabuh.
Ada beberapa mahluk yang bernama lelaki didunia ini yang berusaha untuk mendapatkan pujaan hatinya meskipun dengan penolakan ia tak pernah mundur. Ada pula seseorang yang tak mau berjuang lebih, sedang ia sosok yang begitu diharapkan. Rumitnya perasaan manusia.
Senin sore itu Alisa sepulang dari bekerja melihat kamar Risa sepi,
“mungkin Risa belum kembali” gumam Alisa.
Disini Risa lah teman satu-satunya tempat ia berbagi cerita. Alisa masuk kedalam dan meletakkan tasnya pada sebuah gantungan dipojok kamarnya. Ia duduk pada sebuah tepi jendela menatap langit yang masih biru sore itu.
Waktu menunjukkan pukul enam sore, terdengar suara motor parkir dihalaman kost putri tempat Alisa tinggali.
Tanpa penasaran ia mengabaikan suara motor besar itu. Ia asik dengan novel fantasinya, terdengar suara langkah ciri khas Risa.
“ Alisaa…” panggil seseorang diluar pintu.
“Iyaa sebentar..” teriak Alisa dan meraih jilbab instannya.
“Risaa” wajah Alisa senang akhirnya Risa telah kembali.
“Ayo ikut aku sebentar kedepan,” ajak Risa.
“A-ada apa Risa” Alisa terbata-bata.
“Aku kenalkan dengan sepupuku” ucap Risa sembari menarik tangan Alisa yang masih belum mengiyakan ajakannya.
Alisa berjalan dibelakang Risa yang berjalan lebih cepat dari dirinya. Tiba pada sebuah taman didepan kost. Alisa menghentikan langkahnya, ia seperti mengenal sosok tersebut meskipun yang terlihat hanya punggung lelaki tersebut.
“Sebentar Risa,” ia menghentikan langkah Risa.
“Kenapa lagi? kali ini kamu tidak bisa menolak Lis, dia sudah disini” ucap Risa memegang lengan Alisa.
Risa memaksa Alisa untuk melanjutkan langkahnya.
“Mas….?!!” Panggil Risa pada sosok laki-laki itu.
Lelaki itu menoleh seraya membalikkan punggungnya kearah kedua gadis itu. Alisa berhenti, ia menatap lelaki itu untuk beberapa saat,
“ Alisa, ini kakak sepupuku namanya mas Jefan” Ucap Risa memperkenalkan yang ternyata ialah Jefan.
Alisa masih terdiam, dunia begitu sempit baginya.
Tiga menit tercipta keheningan, Risa bingung melihat kedua orang yang saling menatap tanpa saling menyapa.
“Halooo… kalian kenapa? Kenapa semua diam?” ujar Risa mengibaskan tangannya didepan wajah Alisa dan Jefan.
“Alisaa..? apa kabar?” sapa Jefan.
“ Baik mas, kamu sendiri apa kabarnya mas?” balas Alisa dengan wajah datar.
“ Seperti yang kamu lihat lis,” jawab Jefan tersenyum. Alisa membalas senyumannya.
Risa bingung melihat keadaan, “ mereka sudah saling mengenal?” gumam Risa heran.
“kalian sudah saling mengenal?” Risa memecahkan keheningan sesaat.
“ Oh iya Ris, kita satu lembaga kursus dulu, kita satu angkatan” jelas Jefan yang sesekali menatap Alisa.
“ Benar Alisa?” Risa mencari kepastian.
“Betul Risaa” jawab Alisa singkat.
“ mas Jefan belum sempat menceritakan bagaimana dulu dilembaga kursus ya, jadi aku belum tahu. Jika mas Jefan cerita mungkin aku akan tahu jika kalian sudah saling mengenal” ucap Risa heran dengan sikap kedua orang yang berdiri dihadapannya.
Alisa hanya tersenyum dan menghela nafas pendek.
"Aa,,, kita ke kafe dulu ya mas, ngobrol-ngobrol sebentar” ucap Risa pada Jefan.
" Tapi ini sudah malam Risa, mas langsung pulang saja ya. Nanti bisa kemalaman sampai Solo” ucap Jefan.
Alisa masih dengan ekspresi datar.
“ Mas Je yakin mau langsung pulang?” tandas Risa meyakinkan.
“ Iyaa jelek!” balas jefan mencubit hidung Risa yang bangir.
“Risa, tapi mas ingin bicara empat mata dulu dengan Alisa, boleh?” ucap Jefan yang memegang pundak Risa.
“Iya tentu saja” sahut Risa.
Risa meninggalkan mereka ditaman, ia penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.
“Aku rasa dulu ada sesuatu diantara mereka” gumam Risa curiga.
“ Jadi bagaimana hubunganmu dengan Danu?” tanya Jefan langsung pada topic yang ingin ia bicarakan.
Alisa menoleh kearah lelaki itu dengan pandangan sinis,
“ aku? Danu?” ucap Alisa menunjuk dirinya sendiri.
Jefan berdiri dua langkah maju didepan Alisa,
“ aku dengar Danu menyukaimu dan menyatakan perasaannya padamu, jadi sekarang status kalian berpacaran bukan?” ucap Jefan dengan nada mengakimi.
“ Darimana ia mengetahui tentang aku dan Danu?” batin Alisa bertanya.
Bersambung…
👍👍👍👍👍
lanjut
salam dari MAHABBAH RINDU