Namanya adalah Senja Putri Pratama. Seorang remaja perempuan yang menjadi tulang punggung bagi adik-adiknya.
Ayahnya sudah meninggal kala ia dan adiknya masih kecil, dan ibunya juga sudah meninggal beberapa bulan silam.
Almarhum ibunya pernah mengatakan bahwa tuhan akan mengirimkan malaikat tak bersayap yang akan selalu menemani hari-hari sulit Senja.
Arjuna Alexsa, seorang laki-laki yang tidak lain kekasih Senja yang selalu hadir menemani setiap hari-hari sulit Senja.
Namun, apa jadinya ketika laki-laki yang di anggap Senja sebagai malaikat tak bersayap itu justru membuat suatu masalah?
Apa yang akan di lakukan oleh Senja terhadap kekasihnya bernama Arjun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Nurcahyawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jumat Yang Tidak Bersahabat.
Setiap hari jumat seluruh siswa akan pulang lebih awal di sekolah SMA Senja.
Hari ini Melati tidak berangkat sekolah seperti biasanya. Dia demam dan memutuskan untuk tidak berangkat sekolah terlebih dahulu.
Jika seperti ini pasti Senja pulang sendiri. Banyak dari murid sekolah yang mengendarai sepeda motor.
Seorang laki-laki dengan KLX berwarna hijau berjalan lurus keluar menuju gerbang utama.
Hal itu bersamaan dengan langkah Senja.
"Mas Arjun." Sapa Senja dengan ceria
Namun yang di sapa tidak memperlihatkan raut wajah ceria sama sekali.
Senja menyadari bahwa sapaannya tidak di balas. Perlahan ia memudarkan senyumnya.
"Baiklah kalau begitu, permisi." Senja meninggalkan sosok laki-laki yang tadi berada di sampingnya.
Ia berjalan menyusuri jalan-jalan kecil dan melewati perkampungan yang belum terlalu jauh dari area SMA nya.
Senja berhenti di sebuah warung kecil. Ia membeli dua botol minuman mineral. Suasana siang itu memang sangat panas sekali.
Tak terasa Senja telah menghabiskan setengah botol mineral dalam kemasan.
Senja duduk di tumpukan batu-batuan yang ada di area tanah lapang tersebut.
Seorang laki-laki dengan wajah yang tetap masih tak ceria datang menghampiri perempuan yang tengah duduk melamun.
"Mas...," sapanya.
"Kok di sini?" masih belum ada jawaban.
Senja diam beberapa menit. Kemudian memainkan kemasan botol mineral di genggamannya.
"Kenapa nggak pulang?" akhirnya Arjun membuka suara. Namun, masih dengan ekspresi yang sama.
"Tidak apa. Aku hanya ingin di sini."
"Ayo pulang." Ajaknya dengan ketus.
"Kau pulang saja dulu, kau hari ini kan harus melaksanakan sholat jumat."
Kini Arjun menoleh menatap Senja beberapa menit dengan wajah kesalnya.
Suasana masih tetap panas sekali. Sudah pukul 11.30. sebentar lagi sholat jumat akan segera tiba.
Senja mengambil tangan kiri Arjun.
"Pukul 11.30 mas, ayo pulang." Arjun masih diam di tempat.
"Kau ini kenapa aneh sekali jadi orang." Katanya.
Senja mengusap kening Arjun yang berkeringat.
"Minumlah, kemudian ayo segera pulang." Senja menyodorkan satu kemasan mineral ke Arjun.
Setelah selesai Senja berdiri tepat di sebelah motor Arjun.
"Naik cepat." Perintahnya
' Ini orang kenapa sihhh. Aneh banget. '(Senja)
************************
Karena sholat jumat segera di laksanakan, Arjun memutuskan untuk sholat di masjid yang ada di jalan raya agar lebih cepat.
Senja duduk di tepian masjid An-nur pinggir jalan, seperti kurang kerjaan, Senja menghitung motor berwarna putih yang setiap kali lewat.
Sesosok laki-laki mengawasinya dari depan pintu masjid dengan sedikit menahan tawa.
'Kau benar-benar tidak bisa membuat ku marah lama-lama. ' (Arjun)
Arjun berjalan mendekat dan duduk di samping Senja.
"Mas buruan pake sepatunya, kita segera pulang." Senja memasangkan jam tangan analog ke tangan kiri Arjun.
"Dasar lelet sekali." Umpat Senja. Umpatan itu sepertinya sangat pelan. Tetapi siapa sangka kalau yang di sindir ternyata mendengarnya.
"Kau bilang apa barusan?"
"Aku mas?" Senja memasang wajah sok bingung
"Aku tidak berkata apapun." Perempuan itu berusaha membual dan berharap Arjun mempercayainya.
"Ohhh begitu, berarti telinga ku yang sakit. Atau mungkin, barusan ada hantu lewat. Suaranya lembut sekali, sepertinya hantunya perempuan."
Wajah Senja berubah menjadi sangat kecut.
"Heiiii kau kenapa begitu?" tanya Arjun
"Kenapa wajahmu kecut seperti itu?"
"Siapa bilang mukaku kecut? muka ku nggak kecut perasaan. Kalau kau tak percaya, jilat saja. Supaya kau percaya bahwa muka ku nggak kecut."
Kata-kata Senja membuat Arjun tersenyum kecil.
"Ohh begitu, baiklah kemari akan ku rasakan apakah muka mu kecut apa tidak." Arjun maju selangkah dan mendekatkan bibirnya di pipi Senja.
"Kau gila ya mas?" dengan reflek Senja menampar pipi putih bersih laki-laki itu.
"Awwwwww."
"Tadi kau menyuruhku untuk merasakannya." Arjun tersenyum nakal. Seolah wajahnya menunjukkan kemenangan.
"Kau gila Arjun."
"Kenapa?"
"Kenapa kau bilang! Ini masjid Arjun!"
Senja geram dan berjalan meninggalkan Arjun.
"Heiiii tunggu."
"Berarti kalau tidak di masjid bolehkan?"
"Kau memang sudah tidak waras" Senja kembali melangkah lebih dulu mendahului Arjun.
"Yaaa memang, dan itu karnamu." Ujar Arjun
Langkah Senja terhenti mendengar kata-kata tersebut. Ia membalikkan badan dan menatap wajah Arjun.
semngat ya kak
di tunggu feedback-nya
owh ya thor fav karya ak juga ya. Saling support... 😊