"Lo jahat!"
Elvan menatap Aleta bingung. Gadis yang tiga tahun ini dia rindukan itu sangat berbeda. Kini rambut Aleta menjadi sebahu dengan wajah lebih dewasa dan semakin cantik. Dia menangis.
"Why? Gue balik karena pengen jadi yang terbaik buat lo."
"Lo tinggalin gue saat gue butuh!" teriak Aleta kemudian meninggalkan Elvan begitu saja.
"Dan sekarang gue kembali buat perjuangin lo," teriak Elvan menatap punggung Aleta yang semakin menjauh.
"Semoga saja belum terlambat."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fira Anjelita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elvan 2- 009
009
Pengecut
Orang yang tidak berani mengakui kesalahannya adalah seorang pengecut.
......
Kita sebagai manusia seharusnya belajar dari sebuah kesalahan. Belajar agar di masa depan kita tidak mengalami hal buruk yang sama. Namun, lepas dari itu tetap saja ada manusia yang akan ceroboh dan lalai. Dia tidak akan menyadari kesalahannya, tidak akan merasa ada yang salah dan perlu diperbaiki, egois. Tapi ada sebagian lagi yang mengakui kesalahannya, bahkan dia berniat untuk bertobat hanya saja keadaan tidak mendukung dan sepertinya dia harus mengambil jalan yang sama meski tahu itu adalah kesalahan.
Ya, seperti Elvan. Pemuda bersurai secoklat susu itu kini mengalami hal sama. Bukannya dia tidak sadar bahwa balapan dengan dalih yang kalah menjauhi Aleta itu adalah kesalahan. Hanya saja dia bingung, dia seperti tidak ada pilihan lain. Bukankah cara ini lebih adil daripada menonjok habis wajah Marco lalu mengancamnya? Apakah dia memang pengecut meski mengambil jalan yang sedikit adil?
"Van, jangan didengerin deh. Mending kita seneng-seneng aja mumpung Aksa ada nih!" ajak Alam mencoba menyairkan sedikit suasana tegang di ruangan itu.
Elvan yang masih berdiri di depan Marco dengan wajah tertegun itu menatap Alam sebentar sebelum akhirnya satu pukulan menyentuh wajah Marco.
"Lo harus tahu, itu hukuman karena udah berani sentuh Aleta!" gerammnya. Kini Elvan menunduk mencengkeram kerah Marco.
"Apa? Apa hak lo, Van? Meskipun lo ketua The Charmer, itu gak menjamin lo berhak atas Aleta. Dia bukan siapa-siapa lo. Cuma Mantan.
Bugh. Satu lagi kepalan tangan Elvan menyentuh pipi Marco. "Jaga omongan lo!"
Anak-anak langsung memisahkan mereka lagi saat kepalan Elvan kembali terbentuk. Mereka tidak ingin terjadi perpecahan. Mereka tidak ingin kejadian tiga tahun lalu terulang lagi.
"Tahan emosi lo, bos! Apa yang dia bilang itu bener!" kata Gavin yang kini mencekal bahu kanan Elvan erat.
"Lepasin gue!" ronta Elvan kasar, hingga dirinya benar-benar terlepas. Dia kembali melangkah mendekat meski harus menyingkirkan anggotanya yang mulai menghalangi.
Bugh. Kali ini pukulan itu mulus mengenai pipi Elvan. Pemuda yang wajahnya sedikit ngilu itu meringis sambil menyeka darah segar di sudut bibirnya. Bukan sakit yang dia dapat, tapi justru kesadaran yang dia dapatkan.
"Sadar?" tanya Gavin tak bisa santai. "sorry, Van," lanjutnya.
"Thanks," ucap Elvan singkat kemudian keluar dari warung Bu Yem tanpa kata. Meninggalkan anak-anak The Charmer yang was-was dengan perasaan tak enak.
.....
"Kemana sih Aksa? Dihubungin gak bisa," gerutu Aleta yang sedang mondar-mandir di balkon kamarnya. Gadis itu sudah sejak 30 menit lalu berdiri di sana menunggu sang sahabat yang biasanya datang. Namun sepertinya malam ini berbeda, buktinya hingga pukul 8.30 Aksa tak juga datang. Bahkan Marco pun sama menghilangnya.
Jujur saja, perasaan Aleta dibuat khawatir bukan main. Terlebih tadi dia mendengar percakapan keduanya.
"Sa, jangan bikin gue khawatir!"
"Marco juga kenapa gak bisa dihubungin?"
"Ah ... sial!"
Gerutuan dan makian semakin sering dia ucapkan. Tak ada satu detikpun yang terlewat untuknya mengucapkan kalimat kesal.
Gerutuan terhenti saat suara motor berhenti di depan rumahnya. Mata Aleta langsung membelalak menatap laki-laki di depan gerbang itu. Laki-laki yang 3 tahun ini tak pernah datang meski ia begitu menanti. Laki-laki yang berhasil membuatnya sibuk mengecek satu persatu akun sosial medianya. Laki-laki yang tega membuatnya terluka, namun juga cinta.
+627786638****
Bukain gerbang atau gue lompat?
Pesan itu masuk selang 2 menit setelah dia menatap Elvan tanpa berkedip.
+627786638****
Gue tau gue makin ganteng.
Jangan cuma diliatin. Temuin dong.
Gila! Elvan benar-benar berhasil membuat Aleta gila. Entah kenapa jantungnya kembali berlarian kencang hanya karena pesan. Dia bahkan sampai lupa dari mana cowok itu mendapatkan nomornya. Yang ada dalam otaknya hanyalah Elvan yang begitu berani mendatanginya meski telah mendapatkan penolakan berkali-kali dari dirinya.
Drt... drt... ponsel Aleta bergetar kencang mengeluarkan suara merdu milik penyanyi favoritnya. Mulut manisnya terpaksa memaki meski tangannya mengeser tombol hijau.
"Buka!" teriaknya dari seberang. Tanpa salam tanpa sapaan di awal Aleta mengangkatnya.
Aleta menatap Elvan yang sedang asik melambaikan tangan dengan sedikit senyum jahil. Bola matanya berputar jengah menatap pemuda berkaos hitam itu.
"Pergi."
"Gue ke sini mau ngasih tahu sesuatu."
"Gue gak pengen tahu."
"Buka, Ta."
"Ogah."
"Oke ... gue lompat!" katanya dari seberang.
Mata Aleta hampir copot saat melihat Elvan turun dari motornya. Mulutnya menganga ketika pemuda itu telah membuat gaduh karena hampir memanjat gerbang.
"Turun. Gue bukain."
Tut... panggilan sengaja Aleta putus. Gadis itu bergegas memasuki kamar hendak keluar dari rumahnya demi membukakan gerbang untuk seorang Elvan.
Tanpa Aleta tahu, senyum tulus Elvan terbit saat dirinya melihat sang gadis pujaan memasuki kamarnya.
.....
"Muka lo kenapa?"
Itu adalah kalimat pertama yang Aleta keluarkan ketika gerbang terbuka.
"Ciee ... khawatir ya?" tanya Elvan menggoda. Sungguh dia merasa senang saat mendengar kalimat itu. Kalimat yang menandakan kepedulian.
"Ngaku deh, berantem sama siapa?"
"Gak penting."
"Terus ngapain ke sini?"
"Nah ini baru penting," kata Elvan dengan senyuman. "mau kasih tahu kabar kalau gue habis ditonjok, tapi tetep kuat."
Aleta berdecak sebal. "Gak penting, Van!"
"Buktinya lo khawatir, Ta."
"Terserah!" kesal Aleta sambil menghentakan tangannya. "masuk cepet!"
Elvan tersenyum lebar menatap Aleta. Dia tidak merasa marah dengan ucapan ketus milik sang gadis. Dia justru merasa gemas.
"Acieee... ngarep banget ya gue masuk?" goda Elvan lagi yang berhasil membuat Aleta semakin kesal.
"Lo nyebelin banget sih? Di London makan apa sampe bisa kaya Gavin begini modelnya?"
Elvan tertawa renyah. Laki-laki itu tidak menyangka bahwa Aleta bisa berkata seperti itu. Ya, dirinya memang sepertinya bertambah receh setelah dari London.
"Malah ketawa. Cepet mau masuk enggak?" tanya Aleta galak.
Elvan akhirnya berhenti tertawa dan mengangguk mengiyakan.
......
Elvan akhirnya dibawa masuk oleh Aleta ke dalam rumah. Elvan sempat bertemu dengan ayah dan juga mamanya Aleta. Terjadi perbincangan yang cukup seru dengan Herman. Terlebih pertemuan terakhir mereka yang begitu berkesan.
"Kok lo baik sih malam ini?" tanya Elvan dengan senyum jahil. Kini keduanya ada di ruang tamu, Herman dan juga istrinya telah masuk ke dalam kamar. Sejak 5 menit yang lalu Aleta telah sibuk mengurus luka di wajah Elvan. Sebenarnya bukan niatnya untuk mengobati, tapi ini perintah dari sang ayah tercinta.
"Terpaksa." Itu jawab Aleta. Elvan meringis saat Aleta sengaja menekan kapas pada sudut bibir Elvan.
"Lo masih sama ya, galak tapi ada manis-manisnya."
"Najis," cibir Aleta malas.
Elvan tertawa renyah, sepertinya pemuda itu memang berubah menjadi berjiwa receh.
"Lo pikir gue kotoran apa?" tanyanya dengan nada jenaka. Aleta terpaksa menahan senyumnya, sial sekali karena bisa dibuat tersenyum oleh Elvan.
"Iya. Kotoran kaya sampah. Sampah masyarakat!"
"Aelah, lo hina gue tapi pipinya merah gitu!"
Blush. Sial sekali karena pipinya semakin memanas. Ah, bolehkah dia berlari dari sini?
"Lo apaan sih!" kesalnya kepada Elvan dengan sedikit salah tingkah.
Senyum tipis tercetak di wajah Elvan, bukan tipis karena mengejek, tapi senyum itu benar-benar tulus karena merasa bahagia. Akhirnya, setelah beberapa hari dia mendapat perlakuan ketus, kini dia mendapatkan wajah tersipu milik Aleta.
"Lo cantik."
Sialan! Elvan benar-benar sialan. Pipi Aleta tak hanya memanas dan bersemu merah sekarang. Melainkan pipinya telah berubah menjadi semerah tomat.
"Apalagi kalau merah gitu."
Plak. Pukulan itu mendarat di lengan Elvan. Tidak sakit sebenarnya, tapi pemuda itu menjerit kesakitan.
"Sukur, makannya jangan sok gombal receh. Gue gak akan kemakan rayuan buaya lagi ya!"
"Loh siapa yang gombal coba? Gue serius."
"Halah-"
"Nikah yuk, Ta?"
Astaga, apa maksudnya coba?
.....
aajahajaha
masih ada nggak kelanjutannya Thor
pembacamu masih menunggu nih 😊🤗
up lg thor..up lg