Kenzo adalah salah satu anak keluarga konglomerat Wijaya group, jajaran keluarga elit dan terpandang di Jakarta.
Umur Kenzo Wijaya sudah 28 tahun, pertanyaan dan segala tuntutan untuk menikah selalu di layangkan padanya. Baik Ibunya, Ayahnya, Saudara, dan Teman-temannya yang kini sudah punya anak.
Kenzo sendiri masih ingin berfokus pada karirnya dan tak mau menyentuh yang namanya percintaan, sakit hati di masa lalu membuatnya enggan jatuh cinta.
Hingga suatu hari, Ia tak sengaja bertemu seorang gadis SMA mungil yang merubah pandangannya tentang jatuh cinta.
Seperti apa fase-fase yang di lewati Kenzo menemukan cintanya, dan siapa nama gadis yang mampu meluluhkan bongkahan es yang sulit di cairkan.
Yuk simak perjalanan cinta antara CEO dan gadis SMA... Happy Reading ☺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mister Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
URUSAN BISNIS
Maaf ya readers, beberapa hari absen. Lagi sibuk banget...
_____________________________________________
Kenzo memasuki restaurant diikuti oleh Ayu sekertarisnya, membuat beberapa orang yang sedang makan menoleh.
Orang-orang tampak kagum melihat Kenzo yang begitu tampan, bertubuh tegap dan karismatik. Tak terkecuali dua orang wanita muda yang sedang memakan pizza.
Ayu menunjuk sebuah kursi nomor 15, seorang wanita cantik dengan pakaian serba seksi sudah menunggu.
Kenzo segera menuju kearah wanita itu, beberapa orang bahkan menunjuk-nunjuk Kenzo sambil berbisik-bisik.
"Wah... lihat, dia tampan sekali." seru salah satu pengunjung kepada temannya.
"Mana sih?," sahut temannya penasaran, lantas mendongak.
"Itu, disana.. " temannya menunjuk pada Kenzo yang kini sedang bersalaman dengan sang klien.
"Sungguh tampan rupawan!" pujiannya dengan suara penuh semangat, membuat Ayu mendengar percakapan mereka.
Ayu melotot kearah kedua wanita yang sedang membicarakan bosnya, membuat kedua wanita tadi menunduk dan melanjutkan makan.
"Apakah itu pacarnya?" bisik wanita itu masih berlanjut, memelankan suaranya.
"Entahlah, sepertinya galak sekali!" gerutunya.
Kenzo mulai memperkenalkan diri pada kliennya,
"Kenzo."
"Laras, silahkan duduk," Kenzo segera mengurangi jabatan tangan wanita cantik di depannya.
Ayu yang memang sudah mengenal tak perlu berkenalan.
"Oh ya Ayu, silahkan duduk. Terimakasih sudah membuatkan jadwal pertemuan yang langka ini. Bertemu langsung dengan CEO perusahaan ternama di Jakarta, sungguh sebuah kesempatan yang luar biasa."
"Tidak perlu sungkan Mbak Laras, memang sudah kewajiban saya." Ayu kini membuka buku catatannya.
"Bisakah langsung kita mulai?" usul Kenzo.
"Baik, sebelum itu apa Pak Kenzo mau minum atau memesan makanan?" Laras menawarkan sembari bertepuk tangan memberi isyarat kepada seorang pelayan restoran yang tak jauh dari mereka.
Pelayanan itu segera mendekat, berdiri tepat di samping Laras dengan buku kecil dan pena hitam di tangannya.
"Pak Kenzo mau pesan minum apa? atau ingin memesan makanan?" Laras menatap lurus Kenzo yang berada di hadapannya.
"Jus jeruk dengan sedikit gula," jawab Kenzo dengan suaranya yang berat, sang pelayanan dengan cepat mencatat.
"Saya sama," sahut Ayu tanpa menoleh, sembari terus membuka lembaran di tangannya. Mencatat tanggal dan apa saja agenda hari ini.
"Saya juga sama, ditambah pizza ya," tambah Laras.
"Baik, saya ulangi pesanannya, tiga jus jeruk satu dengan sedikit gula dan satu pizza," pelayanan berambut sebahu itu segera menutup buku kecilnya, lalu memandang Laras.
Laras segera mengangguk, pelayan itu lantas pergi segera memproses pesanan.
"Baik, langsung pada intinya," ucap Kenzo tanpa bertele-tele.
"Jadi kami rencananya akan membangun sebuah Villa di bali tahun ini, menurut yang saya dengar perusahaan Pak Kenzo adalah perusahaan konstruksi terbaik sejauh ini. Jadi saya percaya akan kualitas yang akan saya dapatkan, soal harga bisa dirundingkan. Saya hanya ingin perusahaan Bapak, bukan yang lain." Laras menjelaskan, Ayu segera mencatat hal-hal yang penting.
"Ayu, serahkan berkas surat kontrak dan seluruh biaya yang harus dikeluarkan" perintah Kenzo, membuat Ayu segera menyodorkan sebuah map dari tasnya.
Laras segera meraihnya, membaca dengan rinci dan teliti tentang perjanjian kontrak dan seluruh biaya yang harus dikeluarkan.
Tak lama seorang pelayan datang, membawa pesanan. Segera meletakkan diatas meja.
"Silakan Bapak Ibu, mari.." pelayan itu mempersilahkan dan pergi.
Laras masih membaca dengan serius, Kenzo yang haus segera menegak jus jeruknya dengan gaya yang tak biasa. Membuat Ayu menelan ludahnya kasar, sungguh pemandangan yang menyejukkan bagi Ayu.
"Baik, saya setuju," Laras meletakkan map itu kembali ke atas meja.
"Silahkan besok anda datang ke perusahaan saya, bawa berkas yang dibutuhkan dan segera kita dealkan." Kenzo menatap Laras dingin.
Ayu terus mencatat, sampai tak sempat meminum jusnya.
"Ayu, apa kau sudah mencatat semuanya?" tanya Pak Kenzo.
"Sudah Pak."
"Kalau begitu, besok siapkan semua dokumen dan berkas yang diperlukan. Karena akan ada penandatanganan kontrak."
"Baik Pak," jawab Ayu patuh, malam ini Ia akan lembur menyiapkan berkas yang dibutuhkan bosnya itu.
"Baiklah mungkin sampai sini dulu pertemuan kita hari ini, saya akan segera kembali ke perusahaan karena ada hal penting yang akan saya bicarakan dengan manager saya." Kenzo mulai beranjak dari duduknya, Ayu segera mengikuti. Sebelum pergi Ia menyeruput jusnya seteguk, lalu bersalaman dengan Laras.
"Terimakasih atas bantuannya," ucap Laras pada Senja yang sudah berdiri.
Kenzo segera bersalaman setelahnya, "Senang bekerja sama dengan anda."
"Senang bisa bertemu langsung dengan anda," balas Laras tersenyum senang.
"Baiklah kita permisi, sampai jumpa besok." Kenzo pamit dan langsung pergi.
"Mari," Ayu membungkuk sebelum pergi.
"Mari.. "
Laras kembali duduk, kini tinggal Ia sendirian. Ia membuka ponselnya dan mulai menyantap pizza yang dipesannya tadi.
Ayu mengikuti sampai ke parkiran, mengantarkan sampai ke mobil milik bos perusahaannya itu.
"Kau langsung ke perusahaan, segera persiapkan meeting tentang kontrak yang akan kita tanda tangani," Kenzo mengingatkan tugasnya sebelum masuk ke mobil.
"Baik Pak, akan saya laksanakan!" jawab Ayu penuh semangat.
"Bagus kalau begitu," Kenzo masuk dan Mang Maman segera menutup pintu mobil.
Mobil audah melaju, meninggalkan Ayu yang langsung mengeluh dan memegangi jidatnya.
"Oh Tuhan, lembur dan tugas lagi!" keluhnya, langsung menuju mobil miliknya dan segera ke kantor perusahaan.
Dalam mobil, Kenzo merogoh sakunya karena handphonenya berdering.
"Kamu dimana sekarang?" tanya suara cempreng di seberang telepon sesaat ketika panggilan tersambung.
"Lagi di perjalanan menuju kantor ma," Kenzo menghela nafas dan segera menjauhkan handphone dari telinganya.
"Kamu pulang sekarang! anak buah budenya Zahra datang ke rumah, Papa kamu lagi gak ada di rumah. Satpam kita juga lagi cuty hari ini, cuma ada Mama sama Zahra." Mama Ami menjelaskan apa yang sedang terjadi.
Kenzo mematikan telponnya dan memerintahkan sesuatu pada Mang Maman.
udah tau budhenya jahat kenapa g ngelawan aja.
anak SMa harusnya udah agak ngerty cara melawan orang jahat
giliran sama kenzo aja suka ngebantah dan ngomong kasar
Buat dialog tag, tanda baca, dan penggunaan huruf kapitalnya bisa diperbaiki lagi biar makin rapi.
Semangat lanjut ceritanya~