Semuanya telah selesai, selamat melewati kehidupan baru
WANT YOU
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SILAN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9
Luisa menaiki tangga untuk menuju kelasnya yang berada di lantai dua tanpa sengaja dia berpapasan dengan justin namun ada yang berbeda dengan lelaki itu, jika biasanya justin akan selalu menganggunya kali ini lelaki itu hanya melewatinya begitu saja seakan tidak melihatnya.
Luisa mengedikkan bahunya lalu kembali menaiki tangga yang tinggal tiga biji.
Bel berbunyi beberapa menit yang lalu dan pembelajaran pun sudah di mulai, luisa menyempatkan menoleh ke belakang dia melihat justin ada di sana tapi lelaki itu justru tertidur, bukan hal baru dari sifat justin yang selalu tidak memperhatikan mata pelajaran.
Janis melirik luisa lalu kembali pada pelajaran yang sedang guru jelaskan di depan luisa pun berbalik dan fokus pada bukunya kembali.
“Isa lo gak ke kantin” ujar Janis setelah bel istirahat berbunyi.
“Ah gak. Gue bawa bekal tadi” luisa menunjukkan bekal makan siangnya di kotak warna pink.
“Kalo gitu gue duluan ya. Lo mau pesan sesuatu” luisa menggeleng sembari melempar senyum manisnya. Melihat respon luisa Janis keluar dari kelas setelah itu luisa kembali menoleh pada meja justin lelaki itu masih di sana hal itu membuat luisa mengerutkan dahinya bingung karna tidak biasanya jam istirahat justin ada di dalam kelas.
“Justin” panggil luisa. Justin masih menyembunyikan wajahnya di tumpuan lengan.
“justin” panggil luisa lagi. Justin masih belum bereaksi membuat luisa menghela nafas dan memulai membuka kotak bekalnya.
“Lo kangen sampe manggil gue dua kali” Luisa terlonjak hampir saja kotak bekalnya tumpah.
Luisa menoleh tapi yang dia dapat justin hanya melewatinya begitu saja setelah mengucapkan kalimat barusan sampai lelaki itu berbelok arah dan tidak terlihat oleh mata luisa.
**
Janis duduk di meja belajarnya sembari menuliskan sesuatu di secarik kertas sesekali dia mengukir senyumnya.
Tok tok tok
Buru-buru Janis menyembunyikan kertas tadi di bawah tumpukan buku lalu menoleh kearah pintu di sana mamanya datang membawakan segelas coklat panas.
“Janis kok belum tidur”
“Bentar mah Janis lagi kerja tugas dikit lagi selesai kok”
“Ya udah ini mama buat coklat panas di minum ya habis itu tidur” linda mengusap rambut Janis.
“Janis udah besar mah”
“Iya tapi menurut mama kamu itu masih anak kecil yang dulu suka mama gendong kalau kemana-mana”
“Mah Janis mau Tanya” ucap Janis “Cinta itu kaya apa sih mah?”
Linda tersenyum lalu duduk di tepi tempat tidur Janis
“Kita anggap cinta itu adalah sebuah angin dia datang kapan saja dan di mana saja kadang kecil kadang besar kita tidak tau pasti dan dia juga tidak terlihat namun kita bisa merasakannya” linda berdiri menghampiri Janis yang masih mendengarkan kelanjutan ceritanya.
“Suatu saat mama yakin kamu akan merasakan rasa emosional ketika orang yang kamu sukai dekat dengan orang lain” linda mengecup dahi Janis “Kamu cepet istarahat besok sekolah” kemudian dia keluar dari kamar anak lelakinya itu.
**
Pagi-pagi luisa mendengar keributan di parkiran beberapa anak-anak lain pun berlarian menuju ke sana, karna penasaran luisa juga ikut berlari melihat ada keributan apa. Sesampainya di sana lagi-lagi justin sedang berkelahi dengan seseorang kali ini bukan Bima tapi Farhan anak kelas tiga IPS C.
Justin menghajar farhan tidak ada yang memisahkan kedua orang itu malah mereka hanya menonton justin yang sedang memukuli farhan bahkan ada yang men-videokan kedua orang itu yang sedang berkelahi.
Farhan menendang perut justin membuat lelaki itu terjatuh, justin berdecih dia bangkit lagi menyerang farhan tapi farhan gerak cepat hingga bogeman lelaki itu mengenai wajah justin.
Entah ada apa dengan mereka berdua hingga pagi-pagi begini sudah membuat keributan, tak lama kedua sahabat justin datang mereka memakirkan motornya dan menahan lengan justin seperti yang mereka lakukan waktu di kantin tempo hari. Farhan juga di tahan oleh beberapa anak cowok teman kelasnya.
“Setan! Brengsek! Urusan kita belum selesai ya!” Justin menendang tapi tendangannya hanya mengenai angin lalu tak sampai pada tubuh farhan. Bibir justin berdarah ada lebam di ujung alis dan bibirnya bahkan luka milik farhan lebih parah.
Justin melihat keberadaan luisa di antara kerumunan yang lain pandangan gadis itu tak terbaca seperti menatap justin dengan kosong. Justin mengalihkan pandangannya dari luisa.
*
“Bro lo kenapa sih akhir-akhir ini demen banget nonjok orang” Tanya Dava di taman belakang sekolah, justin menundukkan kepalanya namun seseorang menyodorkan sapu tangan ke arahnya beserta plester dan obat merah.
“Obatin luka lo jangan biarkan luka itu membuat lo kesakitan” suara itu membuat justin mendongak melihat siapa orang yang berbaik hati mau memberinya obat.
Tidak menerima reaksi dari justin luisa meminta Dava bergeser dan dia duduk di samping justin.
“Luisa gue susul Evan beli es di kantin dulu ya gue titip justin sama lo” Dan dava melenggang dari hadapan mereka.
“mau apa lo kemari” ujar justin.
“Lo itu adalah cowok berandalan yang pernah gue kenal, sukanya berantem gak pernah mau belajar dengan bener sekarang lo liat muka lo ini udah kaya orang ke jedok pintu sepuluh kali tau gak” ucap luisa sembari membersihkan darah dari bibir justin dengan sapu tangannya.
Justin tidak menolak dia mengalihkan matanya dari wajah luisa, luisa meneteskan obat merah di atas kapas lalu kembali membersihkan luka di pelipis justin setelah itu dia menempelkan plester di sana.
“Gue tau kok lo itu cowok tapi bukan berarti cowok itu sukanya berantem tonjok sana sini muka lo itu bukan samsak yang di tinju berkali kali pun bakalan gak apa-apa” ucap luisa
Evan dari kejauhan membawa es yang di masukkan di dalam plastic transparan namun dava segera menarik evan membiarkan justin berduaan dengan luisa.
“Kenapa sih lo” protes evan.
“Udah lo diem aja noh lihat” dava menunjuk kearah justin, Evan menganggukan kepalanya lalu dia tersadar dia mengangkat kantung esnya.
“Es ini buat apa dong”
“Lu makan aja juga boleh anggap aja itu permen” sahut dava seenaknya..
“Ya udah ini obat merah lo ambil anggap aja sebagai cadangan kalau lo luka lagi tapi gue harap lo gak berantem kaya tadi” setelah meletakkan obat itu di telapak tangan justin luisa beranjak, justin menahan pergelangan tangan luisa.
“lo ada waktu nggak pulang sekolah nanti”
**
Justin jalan lebih dulu di depan luisa setelah memakirkan motornya, justin berhenti di gedung tua yang sudah tak berpenghuni luisa terus mengikuti lelaki di depannya itu sampai mereka sampai di lantai tiga yang tak berdinding.
Justin duduk di pinggiran bangunan dia menoleh kearah luisa lalu menepuk tempat di sebelahnya. Luisa menggeleng
“Gue takut ketinggian” seru gadis itu sembari melangkah mundur. Justin terkekeh pelan menghampiri gadis itu.
“ya udah deh kita duduk di sini aja gue pengen nikmati angin sepoy sepoy dari sini” justin duduk dengan jarak 2 meter dari tempatnya yang tadi.
Luisa mulai duduk di samping justin dia menatap lelaki itu dengan tanda Tanya
“Gue suka kesini untuk ngurangi beban hidup gue, sebelumnya gue belum pernah ajak orang kesini dan elo adalah orang pertama” ucap justin membuka obrolan.
Luisa masih menatap wajah justin lalu dia melihat ke depan membiarkan angin menerpa wajahnya “Sebenarnya gue gak yakin itu nyokap lo apa bukan tapi Gue pernah liat lo berantem sama dia di parkiran waktu itu”
***
VOTE AND COMMENT