Pernikahan yang terjalin selama lima tahun tiba-tiba saja kandas akibat perselingkuhan yang dilakukan sang suami.
Awalnya Maya berusaha berdamai dengan sang suami yang berjanji untuk tidak mengulangi kesalahannya. Namun, rasa sakit yang tak kunjung hilang membuat Maya akhirnya memilih untuk berpisah.
Bukannya reda, rasa sakit itu malah semakin membengkak tatkala mantan suaminya kembali menjalin hubungan dengan wanita selingkuhannya dulu.
Sejak saat itu Maya bertekad membalas dendam dengan cara halus, membuat mantan suaminya terpikat kembali lalu membuangnya begitu saja.
Akankah Maya berhasil melakukan balas dendam? Atau justru Maya terjebak dalam misinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iraurah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suasana Masa Lalu
"Mami.... Shakeel laper, makan malamnya sudah siap belum?" Shakeel memegang perutnya yang keroncongan, karena terlalu asyik bercanda dengan sang papah ia sampai menunda makan malam setengah jam yang lalu.
"Sudah, Shakeel mau makan sekarang?"
"Iya, Shakeel sudah laper banget. Ayo pi.... Kita makan malam disini" ajaknya menarik lengan Adhi membuat pria itu bimbang apakah harus menuruti ajakan Shakeel atau menolaknya saja.
"Ayo mas, kita makan malam bersama. Kasihan Shakeel sudah lapar sedari tadi" Maya membuka suara dan turut mengajak Adhi ke ruang makan, anak dan Ibu itu sudah berdiri bersiap untuk makan malam.
"Tapi...."
"Aku sudah siapkan makan malam yang lumayan banyak, jika mas Adhi berkenan memakan masakan ku lebih baik kita kita makan malam bertiga, jarang-jarang Shakeel melakukan makan malam dengan orang tua lengkapnya. Tapi jika mas Adhi tidak mau...." Belum sempat Maya meneruskan kalimatnya Adhi sudah lebih dulu memotong.
"Baiklah, aku akan makan disini..." Sela Adhi, ia tak tega jika harus menolak keinginan putranya.
"Yeayyyy..... Kita makan malam dengan papi...!! Ayo pi... Ayoooo" dengan tak sabaran Shakeel menarik lengan orang tuanya menuju ruang makan.
Disana sudah tersedia beberapa lauk Pauk, aromanya begitu sedap dan menggiurkan, bahkan orang yang sudah kenyang bisa tiba-tiba lapar ketika mencium aroma makanan itu.
Shakeel menuntun Adhi duduk di kursi makan, bersebelahan dengan dirinya. Dilihat semua makanan yang tersaji hampir seluruhnya makanan kesukaan Adhi ketika ia masih bersama dengan Maya. Adhi ingat hampir setiap Minggu Maya selalu memasak makanan ini, air liur Adhi mendadak memproduksi lebih banyak.
"Mami... Shakeel mau ayam kecap nya, tolong ambilkan ya"
"Tentu, sayang" dengan sigap Maya menaruh nasi serta ayam kecap yang Shakeel inginkan, tak lupa menambahkan sayur untuk menyeimbangkan gizi dimasa pertumbuhan Shakeel saat ini.
Seusai menyiapkan makanan Shakeel, Maya tak langsung mengisi piring kosongnya. Ia justru menawari Adhi yang sedari tadi diam tak mengambil satupun hidangan di meja.
"Ada apa, mas? Kamu tidak suka makanannya ya?" Tebak Maya sendu, ia pura-pura sedih sembari menunduk menatap lesu seluruh hidangan di meja.
Buru-buru Adhi membantahnya, semua sajian ini justru adalah makanan favoritnya, ia hanya sungkan untuk mencicipi makan malam tersebut. Hal itu jadi mengingatkan Adhi pada masa-masa dimana mereka belum berpisah.
"B-bukan begitu! Aku hanya tidak enak denganmu, aku jadi menumpang makan malam disini" elak Adhi meluruskan.
Maya kembali mengangkat pandangannya, sejujurnya Maya pun tahu jika Adhi bukan tidak menyukai masakannya, malahan Maya sengaja memasak seluruh makanan favorit Adhi agar lelaki itu kembali teringat akan kenangan mereka.
"Tidak masalah, mas. Anggap saja ini sebagai jamuan dariku untuk melayani tamu yang datang. Mas Adhi baru pertama kali kan datang kesini?" Ungkap Maya terdengar santai, tak seperti Adhi yang masih nampak canggung.
Adhi mengangguk membenarkan ucapan Maya barusan.
"Sekarang makanlah, jangan sungkan. Mas Adhi mau aku ambilkan apa?" Tawar Maya.
Adhi nampak bingung, antara malu dan bimbang karena rasa-rasanya ia ingin mencicipi semua hidangan ini, ingin kembali mengingat seluruh rasa dari makanan favoritnya dulu. Apakah masih sama atau kini sudah berbeda di lidahnya
"Kalau begitu biar aku ambilkan saja ya, dulu mas Adhi suka sekali cumi saus tiram. Terus daging sapi semur juga, emm apalagi ya...." Maya bahkan tak sadar hampir mengisi penuh piring Adhi dengan lauk pauk bahkan belum ditambahkan beserta nasinya.
Melihat Maya yang terlihat bersemangat melayaninya Adhi sedikit tertegun ketika Maya masih ingat dengan makanan kesukaannya dulu. Tanpa Adhi menyebutkan Maya sudah lebih dulu tau mana yang sekiranya akan Adhi cicipi.
"Sudah May jangan terlalu banyak, ini sudah cukup" titah Adhi mencegah Maya memasukan seluruh makanan itu ke dalam piringnya.
Menyadari kelakuannya Maya terkekeh sendiri, ia menyengir malu akan tingkahnya ini.
"Maaf, biar aku ambilkan nasinya juga"
Adhi tersenyum tipis melihat tingkah lucu Maya, membiarkan Maya menjamunya selama Maya tidak merasa keberatan.
Mereka pun makan dengan tenang, dalam sekali suapan Adhi bisa merasakan kelezatan dari makanan buatan Maya. Rasanya masih sama persis seperti dulu, tak ada yang kurang sedikitpun. Makanan ini memberi kerinduan tersendiri bagi Adhi, ditambah suasana yang mendukung membuatnya termenung ke dalam suasana masa lalu.
Adhi terus melahap makan malam itu penuh kenikmatan, mulutnya tak berhenti mengunyah sejak tadi.
Melihat itu Maya tersenyum puas dalam hati, rencananya berhasil kali ini! Adhi nampak sangat menikmati semua masakan buatannya. Pria itu mencoba semua yang Maya berikan.
"Ini baru permulaan, mas. Jangan terburu-buru, aku masih punya banyak rencana untukmu"
Sesekali Shakeel berceloteh menceritakan kehidupan sekolahnya, Adhi dan Maya hanya menjadi pendengar yang baik.
"Kalau di TK Shakeel pasti selalu disuruh menghapal, kalau di paud enggak pernah" ceritanya sembari mengunyah makanan yang masih berada di mulut.
"Itulah bedanya, jadi Shakeel harus selalu memperhatikan guru saat menerangkan pelajaran biar tidak sulit saat belajar" adhi bernasihat, baginya pendidikan adalah hal yang paling penting untuk setiap anak, Adhi bahkan menyekolahkan Shakeel di sekolah terbaik di ibukota karena ingin sang anak mendapatkan pendidikan yang paling bagus.
Biaya per semester nya pun terbilang fantastis, setara dengan harga mobil jika di bandingkan. Mau bagaimana pun Shakeel adalah pewaris perusahaan selanjutnya, dimana Shakeel musti bisa meneruskan perusahaan di masa mendatang.
"Tapi untungnya mami selalu nemenin Shakeel belajar, jadi Shakeel enggak pernah kesulitan" ungkap Shakeel tersenyum menampakkan jejeran gigi susunya.
"Sudah ceritanya dilanjut nanti saja, tidak baik makan sambil berbicara. Shakeel masih punya banyak waktu untuk bercerita dengan papi" tegur Maya sehalus mungkin, dari balita Shakeel selalu dibiasakan untuk bersikap baik dalam hal sekecil apapun, Maya akan selalu mengingatkan dengan cara yang lembut.
"Iya, mami...." Shakeel langsung menurut dan menghabiskan makanannya sampai tandas.
***
"Hati-hati ya sayang, jangan lupa kabarkan mami kalau sudah sampai" petuah Maya pada Shakeel yang hendak pergi sekarang.
"Iya mami, nanti Shakeel telpon mami kalau sudah sampai di rumah papi" balas Shakeel mengiyakan.
"Jangan nakal disana, mami pasti akan merindukan Shakeel" Maya mencium seluruh wajah putranya sampai puas, meski hanya seminggu tetapi akan terasa lama bagi Maya menunggu kepulangan Shakeel ke rumah ini.
"Shakeel juga pasti kangen mami disana"
Setelah berpamitan Shakeel lebih dulu masuk ke dalam mobil meninggalkan kedua orang tuanya di teras rumah.
"Kami pamit pergi sekarang, terimakasih atas makan malamnya" ucap Adhi sebelum ikut masuk ke dalam mobil.
"Sama-sama, mas. Tolong jaga Shakeel, habiskan waktu lebih banyak dengannya, beritahu aku jika terjadi sesuatu pada Shakeel"
Adhi mengangguk paham, ia pun berbalik hendak berlalu.
Namun, baru selangkah Adhi menyeret kakinya tiba-tiba tangan kirinya ditahan oleh Maya membuat langkah pria itu berhenti mendadak.
"Mas...."
tp mw gimana lagi... setiap orang mempunyai pemikiran sendiri seperti maya,,, mungkin karena terlalu sakit hatinya,,