Alexandria Rigest tidak menyangka akan terjebak di antara baku tembak pendemo Sebagai jurnalis dia ingin mengupas tuntas sisi gelap prilaku oknum-oknum yang duduk di parlemen. Ketika terjadi demo serta baku tembak di salah satu gedung pemerintah, Alexa ikut terjaring. Dia sendiri diculik oleh beberapa orang yang berpakaian hitam- hitam dan disekap di ruangan bawah tanah. Alvaro Ady Mema, itu nama bos gangster yang menculiknya. Kehidupan Alexa di manipulasi dan Alexa menjadi budak nafsu Alvaro yang terkenal kejam tidak punya prikemanusiaan. Bisakah Alexa lepas dari cengkraman Alvaro? atau dia malah jatuh cinta kepada bos mafia itu?
****
Hallo readers yang selama ini sudah support aku, mampir ya...
jangan lupa kasi like, gift, vote dan favorit. Trimakasih....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ONE SHOT ONE KILL
Iring-iringan mobil mewah memenuhi jalanan, membuat decak kagum dari pengguna jalan. Senda gurau dan rayuan maut Nickolas membuat Alexa sering tersipu. Tidak tua atau muda, yang namanya laki-laki pasti suka merayu.
Matahari bersinar sangat terik, angin bertiup semilir di sepanjang jalan menuju bukit. Pemandangan yang indah menghapus rasa gerah di badan. Nickolas memacu mobilnya dengan kecepatan sedang, dia tidak mau buru-buru menikmati tubuh sexy Alexa.
Nickolas belum yakin kalau Alexa begitu saja mau ditiduri, pasti dia akan meminta kompensasi darinya, berupa barang mewah, misalnya kapal pesiar, Hotel atau mobil. Apapun yang akan diminta Alexa dia akan turuti, asal Alexa sudi menjadi istrinya, setidaknya selir tersayang.
"Sayank..udara mulai dingin, kita mulai memasuki jalan menuju puncak." ucap Nickolas meremas jemari Alexa.
"Aku mau lihat senjatamu, apakah sama dengan di film-film." ucap Alexa memakai sarung tangan.
"Berbahaya sayank, ada pelurunya. Tapi kalau kamu memegang senjata yang lain tidak apa-apa." kata Nickolas menarik tangan Alexa, mendaratkanya di gundukan masa depan Nickolas.
"Iihhh...genit." Alexa kaget, cepat menarik tangannya. Dia seolah menyentuh sesuatu yang kenyal.
"Jangan malu-malu, kamu pasti doyan dan ketagihan." kata Nickolas sambil tertawa. Wajah Alexa memerah ketika Nickolas terus menerus menggodanya dengan ucapan mesum.
Jalan mulai menanjak, pemandangan di kanan kiri jalan terlihat indah. Pohon dahlia, lelly, berbaris rapi di pinggir jalan. Alexa memandang Nickolas dari samping, raut wajah pria itu terlihat datar. Tidak ada rasa curiga kepada dirinya.
Karena kumisnya tebal, jambangnya kurang rapi, kelihatan menyeramkan. Apalagi ditambah tatto di sekujur badan Nickol, membuat kengerian. Padahal mata Nickolas tajam seperti mata burung elang, kalau tersenyum manis.
"Apa aku ganteng.." suara Nickolas mengagetkan Alexa.
"Kau ganteng dan jantan, aku hampir tergoda hahaha...." canda Alexa sambil ujung sepatunya menendang tulisan open di bawah dashboard.
"Sorry...aku tidak ada membukanya." kata Alexa pura-pura kaget. Matanya mengerling isi dashboard.
"Kakimu menendang tanda open sayank, tidak apa-apa tutup saja lagi."
"Boleh aku lihat isinya, siapa tahu kamu menyimpan roti di dalam."
"Mana ada roti di dashboard, yang ada cuma pistol."
"Wow...aku baru menemukan pria sejati. Gairahku terangsang melihat senjatamu. Ingin aku mengelusnya."
"Ambilah sayank, tapi pelatuknya jangan ditarik, karena semua isinya peluru beneran."
Tanpa di perintah dua kali Alexa mengambil pistol itu. Dia menimang- nimang. Nickol tersenyum melihat lingkah Alexa.
Alexa mulai berulah, dia memegang pistol dengan gaya menembak sambil tertawa. Matanya tertuju ke pinggir jalan ketika melewati dua motor trail.
"Sayank, hati-hati."
Tiba-tiba terdengar tembakan, Alexa dan Nickolas saling pandang. Jarak antara mobil pertama dengan mobil Nickolas cukup jauh. Lima puluh pengawal Nickolas mengendarai dua puluh lima mobil sport dari berbagai jenis. Mereka semua membuka atap mobil dan bergembira. Kebetulan jalan menuju bukit sepi.
Jalan yang berkelok dan melingkar membuat Nickolas tidak tahu, apakah bunyi tembakan itu dari pengawalnya atau orang lain. Kedengaran jauh dan kecil.
Nickolas semakin khawatir ketika mendengar tembak menembak itu semakin gencar dan dekat. Nickolas menepikan mobilnya.
"Aku merasa curiga, sepertinya ada lawan yang menembak pengawalku." kata Nickolas turun dari mobil dan bersandar di badan mobil.
Ketika Nickolas sedang menelepon pengawalnya, Alexa turun dari mobil.
"Doaarrrr...." tubuh Alvaro jatuh bersimbah darah. Alexa tersenyum dingin dan meniup bekas mesiu dari ujung laras pistol.
Alexa membuka pintu mobil dan memasukan tubuh Nickolas ke dalam. Kemudian dia membuka sarung tangan dan melemparkan ke mobil. Dengan cepat dia menutup pintu mobil dan membuka tutup bensinnya. Mobil di dorong kejurang. Terdengar ledakan keras dan api menyala.
"Byuusssss....." mobil terbakar.
Alexa memasukan pistol Nickolas ke tas jinjingnya, dan merobek belahan gaunnya, serta mengacak rambutnya.
Ledakan keras membuat empat orang pengawal Alvaro yang naik Trail berdatangan.
"Nona, apa yang terjadi?" tanya mereka hampir berbarengan.
"Tidak apa-apa, aku sedikit neurves dengan kejadian ini."
"Syukurlah nona selamat, kita harus cepat pergi dari sini."
"Aku takut ada tembakan di depan." kata Alexa dengan mimik takut.
"Kami akan mengajak nona lewat jalan rahasia, cepatlah naik." kata pengawal itu serius.
"Kalau begitu aku ikut. Siapa yang mengantar aku?" tanya Alexa terpaksa menurut.
"Aku akan mengantar nona, naik ke boncengan." kata pengawal itu yang belakangan di ketahui bernama boy.
Mereka berbalik dan menyusuri jalan sempit, bisa untuk satu motor saja. Jalannya menanjak dan di kanan kiri terdapat jurang yang curam. Alexa berpegangan dengan erat.
Setelah dua puluh menit perjalanan akhirnya mereka sampai ke sebuah ruangan yang terkunci. Boy membuka kunci gembok pintu besi itu.
"Nona disini ada lift silahkan masuk, aku akan mengantar nona ke atas." kata boy menutup kembali pintu besi itu. Mereka berdua naik. Tidak begitu lama Alexa sampai di atas.
Alexa merasa lega sampai di atas. Dia membaca tulisan forest of death atau rimba maut. Karena boy mengajaknya keluar dia ikut saja. Seperti tulisan itu, disini memang seperti hutan rimba.
Boy setengah menyeretnya melewati rimba itu. Ada perasaan merinding, ketika melihat kolam hitam yang dia lewati. Alexa menepis perasaan itu. Dia setengah berlari bersama boy supaya cepat keluar dari rimba. Alexa tidak mengerti kenapa dia takut, padahal dia tidak melihat binatang buas.
Lega sekali setelah boy membuka pintu gerbang. Alexa keluar setengah berlari. Ketika sampai di halaman, kakinya langsung berhenti melangkah. Semua mata menatapnya tajam, Alvaro langsung mendekat dan,
"Plaakkk..." tamparan tangan Alvaro mendarat dipipinya."
"Perempuan ******, apa yang kau lakukan dengan Nickolas!!" bentaknya marah. Wajahnya merah membara.
"Apa maksudmu Alvaro, bukankah kau yang mengumpankan nyawaku untuk 1 kg kokain?"
"Jangan membalikan fakta, gara-gara kau hampir lima puluh pengawal kita meninggal dengan sia-sia." terdengar suara renyah wanita dari belakangnya. Alexa menoleh. Seorang wanita cantik dengan dandanan glamour datang menghampirinya. Ini pasti Maria. Bathinnya.
"Aku tidak bicara padamu nona, aku bicara real. Aku juga hampir mati, tapi syukurlah Tuhan masih sayang padaku." pungkas Alexa menatap gadis itu.
"Marchel, ajak wanita murahan itu ke kamar. Ajari dia berpakaian pantas." kata Alvaro melihat pakaian Alexa yang robek, darahnya berdesir melihat paha mulus Alexa.
"Siap Tuan."
Marchel menarik tangan Alexa dan mengajaknya menuju kamar. Melihat tangan Marchel menggandeng tangan Alexa, darah Alvaro mendidih. Tangannya cepat mengambil pisau terbang dan melempar ke punggung Marchel. Kaki kanan Alexa cepat menendang roboh Marchel dan pisau terbang itu lolos menancap di pohon mangga.
Alexa tidak menoleh ke belakang walaupun dia mendengar decak kagum dari mereka. Dia menarik tangan Marchel menolongnya bangun. Tapi Marchel menepisnya dan melotot kesal.
"Kau kurang ajar!!" ketus suara Marchel lalu pergi dari sisi Alexa.
"Hahaha...bagus Marchel, siapa yang sudi dengan wanita murahan." ejek Maria sangat senang.
Maria sudah di beritahu bahwa Alexa akan menjadi ke sayangan Alvaro. Sebelum itu terjadi dia harus melenyapkan Alexa dari sisi Alvaro.
Alexa tidak peduli dengan ocehan Maria itu, dia tetap melangkah maju. Tangannya iseng mencabut pisau terbang yang menancap di pohon mangga itu dan melemparnya ke atas.
"Bruugg...." lima buah mangga jatuh dengan tangkainya di depan kaki Alvaro. Pisau terbang itu tergeletak di antara buah mangga.
*****
GAUN ALEXA