Jihan wanita yang mencintai suami Anita. Tapi, Ia mendekati Anita untuk mencari tahu, apa sebab Angga bisa menyukai dirinya. Lama kelamaan, Jihan dan Anita justru bersahabat, dengan sebuah rahasia yang rumit.
Anita yang tak mengetahui posisi Jihan, begitu senang ketika mendapatkan seorang sahabat baru. Yang bahkan, satu server ketika mengobrolkan mengenai kekasih dan suami mereka.
Bagaimana ketika Anita tahu, ketika pria yang Jihan cintai adalah suaminya? Dan bahkan tanpa sadar, Anita mendukung Jihan untuk mendapatkan lelaki itu untuk menjadi miliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Mbok Jum terus memijat, melipat lipat bagian perut Anita dengan sekuat tenaga tampaknya. Meski sebenarnya Ia melakukan semua itu dengan begitu santai.
Anita sampai menggeliat, dan terus menahan sakit dengan semua itu. Bibir Mbok jum tampak komat kamit, entah apa yang Ia baca. Anita hanya bisa menangis dalam diam, sementara Mama Sukma di luar dengan semua harapannya.
"Sudah, beres. Sakit ngga?" tanyanya dengan santai.
"Sakit banget, kayak mijetnya di teken pakai kuku." jawab Intan, merasakan memar di sekujur perutnya.
"Mana ada? Ini loh, kuku Mbok gundul." jawabnya dengan santai.
Anita berusaha berdiri meski sulit, di bantu Mbok Jum yang menyambutnya. Ia kemudian mengganti pakaiannya, dan menggantung sarung yang Ia pakai barusan di tempat yang tersedia.
"Udah, Ma." ucap Anita.
Mama sukma langsung menyambut, dan menggenggam tangannya yang tampak lemas.
"Sakit sayang?"
"Lumayan." jawab Anita.
Mama sukma kemudian memberikan sebuah amplop untuk membayar jasa Mbok Jum, lalu segera pamit pulang karena Anita mulai kesakitan.
"Besok, kamu itu akan merasa memar di bagian perut. Bahkan susah bangun. Di usahakan, jangan campur dulu sama suami, ya?" ucap Mbok Jum.
"Kebetulan, suaminya lagi di luar kota, Mbok." jawab Mama sukma, lalu beranjak keluar dengan memapah Anita yang terus memegangi perutnya.
Mbok Jum melepas mereka pergi, dan kemudian menutup pintu rumahnya kembali.
Mereka telah tiba di mobil, dan Mama sukma kembali menyetir mobil Anita. Anita yang lemah, hanya tergeletak dan menurunkan kursinya agar terasa nyaman.
"Maaf sayang, Mama buat kamu sakit." sesal Mama sukma, karena tak menyangka akan jadi sesakit itu.
"Ngga papa, Ma. Ini bagian dari usaha Ita buat menyenangkan kalian. Kita sama-sama berharap besar dari pengobatan ini."
Mama sukma menggenggam erat tangan Intan. Terasa dingin karena keringatnya yang mengalir deras.
Mereka sering seperti itu, melakukan pengobatan tradisional diam-diam do belakang angga. Karena angga tak akan pernah mengizinkan, jika itu membuat Anita begitu sakit, seperti saat ini.
Tiba di rumah, Bik Luluk langsung menyambut Anita dan memapahnya masuk. Ia pun mengantar sampai ke kamar dan menidurkannya di kasur.
"Makasih, Bik." ucap Anita.
"Nyonya mau makan apa, biar saya buatin."
"Masak seperti biasa aja, nanti saya makan kok. Kalau ngga bisa jalan, tolong anter ke kamar."
"Iya..." jawab Bik Luluk, lalu keluar.
Setelah Bik Luluk keluar, Mama sukma masuk membawa baskom dan air hangat. Ia pun mengompres dan mengelap tubuh Anita agar bersih dari bau minyak tradisional yang di pakaikan padanya tadi.
"Makasih, Ma..." ucap Anita.
Mama sukma begitu telaten, dari membersihkan tubuh, hingga menggantikan pakaian Anita dengan yang bersih.
"Kamu istirahat dulu, nanti Mama bawakan makanan kemari." ucapnya.
Anita kembali mengangguk, karena rasanya semua tubuh menjadi memar dan tak mampu bergerak lagi.
"Gimana besok pagi? Apa iya, harus bedrest total?" gumamnya.
Anita pun iseng membuka Hp, dan menyapa sahabat barunya lewat Wa.
"Jihan, sedang apa? Sibuk kah?" tanya Anita.
"Lagi di cafe, Kak Ita. Kenapa?"
"Ngga papa, lagi bosen aja karna bedrest. Butuh temen ngobrol."
"Suami? Ngga hubungin? Harusnya kalau sakit, suami harus rajin kontrol." jawab Jihan.
"Aku abis pijet buat kandungan, sama mama mertua. Harus istirahat untuk pemulihan. Suami ngga boleha tahu, makanya curhat sama kamu. Boleh kan?"
"Oh,, begitu. Mertua kakak, galak? Kok ngajak pijet tanpa sepengetahuan suami?" tanya Jihan lagi.
Anita menceritakan semuanya. Rencananya bersama sang mertua, yang tak pernah akan di setujui oleh sang suami. Jihan hanya memberinya dukungan, karena Ia bingung harus menjawab apa dengan kondisi ini.
ortu tuh gk perlu ikut campur urusan rmh tangga ank.
bs kacau.
pdhl kn ita tersiksa yo tertekan.
angga kudu tegas wlwpun itu mama nya.
akoh s7 sm sifat angga...👍
mpe kapok ogah pijetan lg...
trs pasrah aj dah..
ank tuh kn rezeki..
eh..hamil ternyta..wlw lama tp hamil jg kok...
stlah sekian purnama akoh lewati...😊
br nemu crita mu lg thor..✌
ttp mndukung semua karyamu thor..
sehat2 yo..💪👍