Aku ingin menjadi satu-satunya tempat pulang yang paling kau rindukan.
Untuk kita saling merawat dan membenahi kepingan hati yang hancur karena cinta masa lalu mu.
Aku adalah satu-satunya jiwa yang bahkan tidak memperdulikan tekanan batinku sendiri demi cinta yang telah ditakdirkan untukku.
Aku akan menaklukan hatimu, melepas lelah mu, mengukir tawamu, membuang duka mu.
Hingga kita bahagia.
Kisah ini mengisahkan pengorbanan seorang istri dalam meyakinkan hati suaminya. Berperang dengan masa lalunya. Dan menerima perjodohan yang telah di atur matang oleh kedua keluarga berketurunan Ningrat.
Sanggupkah seorang Roro Dwini Hadiningrat memperjuangkan cintanya...?
Mari, ikuti kisah ku.
Terima Kasih🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmeLBy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 : BUNDA RASA SAHABAT
Sebuah mobil berwarna silver terparkir di halaman rumah Dwini, tepat saat mereka akan berangkat ke Solo.
Tampak pria berperawakan gagah juga tampan melangkah menuju teras rumah Dwini. Dengan sebuah buket bunga dan sebuah boneka berukuran lumayan besar di tanganya.
Dengan langkah penuh percaya diri juga senyum yang terkembang di bibir pria tampan itu, ia menyapa dengan sopan.
"Selamat pagi Wi... maaf kemaren mas masih di luar kota. Jadi tidak bisa ikut menghadiri Wisuda mu. Selamat ya." Ucap Irwan dengan sangat tulus sambil mengulurkan buket tersebut juga sebuah boneka.
"Wah... terima kasih mas. Tidak usah repot-repot begini. Tidak apa, mas tidak hadir. Ada ayah dan juga bunda yang menemaniku kemarin." Jawab Dwini seadanya.
"Echem." Sebuah kode yang terdengar dari balik pintu. Suara ayah Dwini yang kemudian memilih keluar untuk melihat langsung siapa yang datang pagi-pagi menemui anak gadis nya.
Irwan segera mengulurkan tangannya untuk bersalaman dan memperkenalkan dirinya.
"Irwan Bakhtiar Pa. Dosen Pembimbing Dwini." Ucapnya sedikit membawa profesinya agar ayahDwini tidak memandangnya sebelah mata.
"Oh... dosenya cah ayu ku. Terima kasih atas bimbinganya ya ... pak Irwan. Pasti kerepotan sekali ya... membimbing gadis manja ku ini." Jawab ayah sambil memeluk bahu Dwini dengan posesif seperti memamerkan kemesraannya pada anak semata wayangnya.
"Tidak juga Pak. Dwini anak yang cerdas dan penurut, sangat mudah di atur. Juga cepat mengerti." Jawab Irwan sambil salah tingkah.
"Pa Irwan... maaf. Kami akan segera ke Solo. Jadi apakah tidak apa-apa jika kami berangkat sekarang?" tanya ayah sambil mengusir secara halus tamu tak di undang itu.
"Iya... silahkan. Maaf, saya yang tidak tau waktu saat bertamu. Saya pamit permisi ya pak." Terpaksa Irwan pamit. Gagal rencananya ingin mengajak Dwini jalan-jalan dan memastikan alasan mengapa sampai sekarang nasib cintanya masih di gantung Dwini. Apakah ini karma karena ia telah sempat menggantung proposal Dwini beberapa bulan lalu.
Bunda Dwini hanya sempat memandang punggung lelaki yang baru saja menemui anak gadisnya.
"Dia siapa Ndhuk...?" tanya Bunda saat mereka sudah di perjalanan menuju Solo.
"Dia Pak Irwan Dosen Pembimbing skripsi Dwini kamarin Bun." jawab Dwini jujur.
"Masa...? tadi ayah sempat nguping. Kamu panggil dia mas. Masa sama Dosen panggilnya begitu." Ayah mulai mengorek informasi pada Dwini.
"Itu... " Kalimat Dwini tertahan. Bingung harus mengatakannya dari mana.
"Itu apa...?" gantian bunda yang ingin tau.
"Beliau yang meminta di panggil begitu." Jawab Dwini dengan kepala yang sedikit tertunduk.
"Kok bisa begitu...?" tanya bunda lagi terus meminta Dwini untuk menceritakan dengan jujur.
Dan akhirnya Dwini pun mulai menceritakan hubungannya dengan Irwan. Mulai dari proposalnya yang seolah di tahan hingga kini ia bertindak seolah kekasih Dwini, yang suka mengatur dan mengekang pergaulan Dwini.
"Sepertinya dia ingin serius dengan mu Ndhuk. Lalu bagaimana perasaanmu...?" tanya Bunda yang memang selalu berusaha menjadi sahabat tempat ternyaman bagi Dwini untuk mengungkapkan prasaannya.
"Bun... Dwini tidak berani memiliki perasaan apa-apa pada pria manapun. Bukankah jodohku sudah ayah dan bunda siapkan. Bahkan Mas Adi dulu juga menginginkan Mas Bimo yang akan menjadi suami Dwini." Kata itu sukses terlontar dari bibir mungil Dwini.
"Cah ayu... maafkan ayah dan bunda yang telah mengatur jodohmu." Ucap ayah yang juga menyimak dengan baik setiap kata yang Dwini ucapkan dari tadi.
"Tidak ayah, bunda. Dwini tidak keberatan untuk menerima perjodohan ini. Sebab Dwini percaya yang ayah dan bunda siapkan adalah pria terbaik untukku."
"Alhamdullilah. Tetapi saran Bunda. Sebaiknya si Ndhuk harus jujur pada dosen mu. Agar beliau tidak terlalu lama menunggu jawabanmu. Tidak baik menggantung perasaan orang. Katakan saja dengan jelas, bahwa si Ndhuk telah memiliki calon suami. Agar beliau segera segera menata hatinya, takutnya beliau akan semakin lama memberi perhatian akan semakin jatuh hati padamu, ndhuk."
"Iya rencananya memang setelah selesai kuliah ini Dwini akan jujur pada beliau. Tapi... nanti Dwini masih boleh menetap di Yogya ga Bun...?"
"Bagaimana yahnda...?"
"Jika ayah boleh meminta... bisakah kuliah dan bekerjanya di Solo saja. Ayah merasa ingin berdekatan dengan cah ayu, sebelum benar-benar di gondol suaminya nanti, Bun." Ujar ayah sedikit bercanda.
"Dwini tidak masalah saja. Dimana pun mencari pengalaman kerja dan melanjutkan kuliah. Sebab, 5 tahun ini Dwini sudah di beri waktu dan kesempatan untuk hidup mandiri oleh ayah dan bunda. Itu merupakan kesempatan yang sangat Dwini syukuri dan sangat nikmati. Terima kasih ayah, bunda." Dwini benar-benar merasa bahagia memiliki kesempatan untuk menjadi anak kuliahan seutuhnya, seperti yang ia impikan selama ini.
"Sama-sama Ndhuk. Ayah dan bunda juga sangat berbahagia atas kedewasaanmu, dan prestasimu. Tetapi... boleh bunda bertanya sekali lagi. Apa si Ndhuk benar-benar akan menerima perjodohan dengan mas Bimo. Karena setelah 5 tahun menjalani dunia perkuliahan, mungkin saja si Ndhuk menemukan seseorang yang nyantol di hati si Ndhuk. Biar saja ayah telah berjanji dengan mas Brata tetang perjodohan. Tetapi Bunda lebih ingin mengutamakan perasaan si Ndhuk sendiri." Kali ini bunda terdengar lebih jujur dari biasanya.
"Awalnya saat masih SMA Dwini merasa itu adalah sebuah paksaan. Tetapi setelah Dwini menjalani masa kuliah pun, Alhamdulilah Dwini tidak menemukan seorang pun yang lebih baik dari mas Bimo. Insyaallah pilihan kita bersama tidak akan salah Bun."
"Jika demikian, ayah merasa perlu meminta agar mas Bimo dapat meluangkan waktunya sedikit agar bisa lebih intens menghubungimu. Sebab, jika ayah ingat kalian belum pernah bertemu kan sejak perpisahan saat mereka pindah dulu."
"Tapi, ibunya mas Bimo selalu mengirimkan foto terbaru setiap kegiatan mas Bimo, ayah." Bela Dwini.
"Iya... tapi nanti kamu akan menjadi istri mas Bimo bukan dengan ibunya. Jangan karena ayah yang memintamu menikah dengan mas Bimo. Nantinya, kamu akan menjalani rumah tanggamu dengan tidak bahagia. Ayah siap membatalkan perjodohan itu, jika akan hanya menyakiti perasaanmu nak." Kali ini ayah terdengar lebih bijaksana.
"Tidak perlu ayah, Dwini cukup bahagia dengan perjodohan ini. Walaupun sampai sekarang Dwini belum pernah berjumpa dengan mas Bimo. Tetapi Dwini yakin, buah yang tidak pernah jauh jatuh dari pohonnya. Maka Dwini yakin mas Bimo adalah pria baik jika di lihat dari keluarganya, juga perhatian ibunya."
"Subhanallah. Baiklah jika demikian, ayah lega mendengarnya. Kita tinggal menunggu kesiapan dari pihak mas Brata saja kapan kira-kira mereka akan melamar dan meminangmu menjadi menantu mereka."
"Kalau untuk itu, sebaiknya jangan kita yang meminta yah. Bagaimanpun kita pihak wanita yang hanya siap menunggu dari pihak lelaki."
Ujar bunda mengingatkan.
...Bersambung......
*semua kesalahan suami diperjelas salah dan dibuat dicap kesalahan fatal dan harus dapat balasan dulu
tapi kesalahan istri malah dibenarkan dan dianggap bukan kesalahan
ini lah contoh pemikiran munafik wanita yang dibawa kedalam karya novel
dsini dengan pria lain ketemuan, berintrkasi sebagai teman yang fakta sudah sangat keterlaluan dianggap hal biasa
emang susah kalau pemikiran wanita egois dibawa kedalam novel