Apa jadinya kalau suamimu tak terlihat orang sekitar dan hanya kamu yang bisa berinteraksi dengannya? Sehingga banyak beranggapan kalau kamu itu gila, seperti pasangan Vanesa dan Rikuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evhae Naffae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 8
Suamiku Tak Terlihat
Part 8
Ibunya Rikuh menyuruh perawat mengambil sang bayi dan memberinya susu formula saja.
Setelah perawat membawa bayi Vanesa ke ruang bayi, ibu Rikuh mendekati anaknya yang kelihatan bingung itu.
"Makanya, Kuh, kan kemaren Ibu sudah bilang ... secepatnya beri tahu Vanesa tentang siapa kita sebenarnya."
Rikuh hanya menghela napas mendengar ucapan ibunya.
"Kamu memang bisa menutupi penglihatan Vanesa kepada kita semua, tapi kamu tidak bisa menutupi penglihatan itu pada bayinya. Darah dagingnya, anak kandungnya!" Ibunya terus nyerocos.
"Tapi, Bu, kalau Vanesa tahu siapa kita sebenarnya ... dia pasti akan takut dan .... " Rikuh menahan sesak di dadanya berusaha agar air matanya tidak berjatuhan.
"Ibu ngerti perasaan kamu, tapi kamu harus segera ungkap semua ini! Kasian Qirey, seharusnya sekarang dia sudah mendapatkan Asi dari ibunya."
"Iya, Bu, Rikuh pikirkan dulu semuanya."
"Kalau setelah kamu berterus terang nanti Vanesa tidak bisa menerima kita, ya sudah, kembalikan saja dia ke alamnya!" Ibunya nyelonong keluar dari kamar perawatan Vanesa menuju ruang bayi mendatangi cucunya.
Rikuh memperhatikan Vanesa yang tertidur sehabis diberikan suntikan penenang oleh dokter dan kemudian mendekati tempat tidurnya.
"Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpamu, Sayang." Rikuh membelai rambut Vanesa dan kemudian duduk di kursi samping tempat tidur.
"Jauh sebelum ayahmu menjodohkan kita, aku sudah lebih dulu mencintaimu. Melihat kamu yang selalu sendirian dan tidak mempunyai teman, aku ingin sekali menjadi temanmu. Teman hidup yang akan selalu menjagamu selamanya." Rikuh menerawang menatap istrinya.
"Sewaktu ayahmu mempertemukan kita, hatiku senang sekali. Apa yang aku impikan akhirnya dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa. Ketika di duniamu, aku tidak pernah meninggalkanmu sedetik pun. Aku hanya membuat diriku tak terlihat saja. Aku sangat mencintaimu, Sayang." Rikuh membaringkan kepalanya di samping Vanesa.
*********
Sedangkan di dunia nyata, Affan masih terus mencari informasi seseorang yang bisa menembus Kota Gaib yg ada di Padang 12 itu.
Di kantor pun Affan tidak dapat berkonsentrasi bekerja, pikirannya selalu tertuju kepada Vanesa.
"Aku turut prihatin, Bro, tentang hilangnya Vanesa." Reza menghampiri Affan di meja kerjanya.
"Makasih, Bro. Ngomong-ngomong, kamu ada info tentang Paranormal atau Ustad yang bisa menembus alam gaib di Padang 12 sana, gak?" Affan menatap serius wajah teman sekantornya itu.
"Ada sih Pak Ustad di dekat rumahku, cuma gak tahu juga tentang bisa tidaknya dia menembus alam sana." Reza mengerutkan dahi dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Orangnya seperti apa, Za?" Affan tampak bersemangat dan mempersilakan Reza duduk di kursinya.
"Namanya Haji Naharudin, dia terkenal alim dan pendiam di lingkungan tempat tinggalku. Dia sangat jujur dan dermawan. Menurut gosip-gosip dari tetangga sih dia pernah ke alam sana dan bersahabat dengan orang limunan."
"Nah ... itu dia, Bro. Mungkin dialah orang yang bisa membawa Vanesa kembali ke sini. Ayo antar aku ke rumahnya sekarang juga!" Affan menarik tangan Reza.
"Jam segini beliau tidak ada di rumah, Bro, masih di ladang dia. Beliau seorang petani, palingan malam hari ada di rumahnya."
"Oh ya sudah, nanti malam kamu temani aku kerumahnya! Oke?"
"Oke lah," jawab Reza setuju.
********
Malamnya, sesuai janji, Affan ditemani Reza menuju rumah Haji Naharudin.
"Assalammualaikum." Reza mengucapkan salam di depan pintu rumah Haji Naharudin.
"Waalaikumsalam," jawab seorang wanita ketika membuka pintu rumah.
"Bapak Haji Naharudin nya ada? Saya ingin ketemu," ucap Reza ramah.
"Oh ... silakan masuk! Bapak belum pulang dari masjid."
"Oh ya sudah, kami akan menunggu."
Setengah jam kemudian, yang ditunggu pun telah tiba.
"Ada apa ya, Nak, mencari saya? Dan anak muda berdua ini siapa?" tanya Haji Naharudin ketika berhadapan dengan Affan dan Reza.
"Saya Reza anaknya Pak Sahbirin Rt.sebelah, dan ini teman saya Affan. Dan teman saya ini yang ada keperluan dengan Pak Haji."
"Oh .... " Pak Haji manggut-manggut.
Affan pun menceritakan tentang hilangnya Vanesa, dan tentang pernikahan dengan mahkluk gaib tersebut.
"Saya bermaksud minta pertolongan kepada Pak Haji untuk menembus alam sana, untuk menjemput pulang Vanesa, teman saya. Karena kata Reza, Bapak pernah ke alam Padang 12 dan mempunyai sahabat di sana." Affan menjelaskan maksud kedatangannya.
"Saya memang pernah ke sana, tapi saya tidak bisa ke sana kapan pun saya mau, Nak. Saya bisa ke sana kalau diajak teman yang orang limun itu. Saya cuma tiga kali pernah ke sana, pertama waktu mengantarnya pulang ketika mendapat kecelakaan yg awal mula perkenalan kami. Yang kedua ketika dia meminta saya membacakan doa selamatan pemberian nama cucunya yang baru lahir, dan yang ketiga saya diminta memberi Thausiyah di masjid sana."
"Saya mohon Pak Haji, hanya Bapak harapan saya. Apa Bapak tidak bisa menghubungi teman bapak itu?" Affan mengiba pada Haji Naharudin.
"Saya akan mencoba menghubungi dia lewat mimpi, tapi saya tidak bisa janji bisa membantu ya, Nak."
"Baiklah, Pak, saya tunggu kabar baiknya."
Affan dan Reza pun pamit pulang.
**********
Ketika tertidur, Haji Naharudin bermimpi bertemu sahabatnya, perihal tentang Vanesa pun ia dibicarakan. Dan sahabatnya bersedia membantu dengan mencari Vanesa di alam sana.
Dua hari kemudian, Affan bersama ayah Vanesa, Tante Parida serta Haji Naharudin menuju area Padang 12. Sesuai arahan dari Kakek Kuncai sahabatnya Haji Naharudin. Mereka menggelar tikar di atas pasir putih di antara pohon pinus dan ilalang Padang 12.
Setelah itu mereka berempat membaca Surah Yasin sebanyak tujuh kali.
*********
Sedangkan di alam sebelah sana, Vanesa baru keluar dari rumah sakit usai melahirkan anaknya.
"Ayo kita ke ruang tamu! Ibu dan bapak sudah menunggu di sana." Rikuh menggandeng tangan Vanesa.
"Bayi kita mana, Yang? Kenapa belum dikasi lihat ke aku sih? Aku, kan, pengen memberinya ASI .... " Vanesa duduk di kursi ruang tamu.
"Iya nanti kamu juga bisa melihatnya, sekarang ada hal penting yang ingin aku beritahukan ke kamu."
Vanesa mengangguk. Rikuh menyeka keringatnya dengan wajah terlihat bimbang.
"Ada apa sih, Sayang?" Vanesa mulai tak sabar ingin tahu ada apa sebenarnya.
Rikuh menarik napas panjang dan bersiap untuk berbicara.
"Sebelumnya aku minta maaf sama kamu Vanesa karena selama ini aku tidak jujur. Sebenarnya kami di sini bukanlah manusia seperti kamu .... " Rikuh menyeka keringat yang mulai membanjiri dahinya.
Vanesa tersentak kaget mendengar ucapan Rikuh lalu berkata, "Maksud kamu apa, Sayang?"
Tiba-tiba wajah Rikuh, ibu serta ayahnya berubah menjadi sosok yang aneh. Wajahnya sama seperti bayi Vanesa sewaktu dilahirkannya tempo hari.
"Agghhh ... jadi kalian semua ini mahluk apa? Dan wajah bayiku tempo hari bukan mimpi?" Vanesa kaget sekali menerima kenyataan ini.
Taklama kemudian, Baby Sister yang merawat Qirey muncul pula dengan wajah yang sama anehnya seperti suami dan mertuanya.
"Inilah wajah kami yang sebenarnya, wajah manusia yang kamu lihat selama ini hanya topeng." Ibu mertuanya angkat bicara.
"Tidak!! Ini tidak mungkin!" Vanesa mengucek-ngucek mata memastikan penglihatan.
"Ini kenyataan yang harus kamu terima Vanesa, maafkan aku, Sayang."
"Tidak! Kalian semua telah menipuku! Aku benci kalian semua!!!" Vanesa beranjak bangkit dari duduknya, ia kebingungan dengan apa yang akan diperbuat sekarang.
"Maafkan aku, Sayang. Kamu jangan begitu! Aku sayang sama kamu, Vanesa." Rikuh mendekat kearahku.
"Jangan, jangan mendekat!" Vanesa ketakutan dan berlari ke arah pintu.
"Jangan takut Vanesa! Ini aku Rikuh, suamimu. Dan ini Qirey anak kita."
"Sepertinya Vanesa tidak bisa menerima kita, Kuh. Ya sudah, kembalikan dia ke alamnya! Tapi sebelumnya jangan lupa buat dia lupa tentang semua kejadian ini." Ibu Rikuh memberi perintah pada putra tunggalnya.
Rikuh tertunduk dan menyapu butiran bening yang mulai menggenangi sudut matanya.
"Tabahkan hatimu, Nak! Segera pulangkan Vanesa ke alamnya! Kemarin juga, Kek Kuncay ada ke sini memberitahu kalau keluarga Vanesa mencarinya ke mana-mana." Ayah Rikuh berusaha menenangkan putranya.
"Mungkin jodoh kalian cuma sampai di sini, ikhlaskan Vanesa. Masih banyak juga wanita dari kaum kita yang mau menerimamu," sambung ayahnya lagi.
**********
Tiba-tiba, Vanesa sudah berada di antara pohon vinus dan hamparan ilalang. Dia terduduk dengan memegangi lutut sambil menangis. Rambut terurai kusut menutupi wajahnya dan digumuli pasir putih di sekujur tubuh.
"Aku seperti mendengar suara tangisan." Tante Parida celingukan.
"Iya, Tante, saya juga mendengarnya." Affan pun ikut mencari arah suara tangisn itu berasal.
Hari mulai gelap, jam di tangan ayah Vanesa sudah menunjukkan pulul 17.50.
"Sudah mau magrib, Pak haji," ucap ayah Vanesa.
Benar saja, suasana makin mencekam. Hawa dingin mulai menyeruak sanubari. Kegelapan beranjak menyelimuti daerah itu.
Suara tangisan kian terdengar nyaring.
"Seperti suara tangisan Vanesa." Ayah Vanesa berdiri dari duduknya dan mengedarkan pandangan ke segala arah.
Pak Haji Naharudin mengeluarkan sentar dari dalam tas kecil yang dibawanya.
Affan juga menghidupkan sentar di ponselnya dan pencarian dimulai.
Tampak dari kejauhan cahaya sentar Pak Haji, seseorang sedang menangis di bawah pohon pinus.
"Ayo cepat kita ke sana! Sepertinya itu ada orang yang menangis," teriak Pak Haji sembari berlari ke arah yang dimaksud.
Serentak semua yang ada di situ berlari menuju arah suara.
"Ini Vanesa, Ya Allah, Nak .... " Tante Parida menyingkap rambut Vanesa dan memeluknya.
Vanesa tampak linglung dan badannya bergetar kedinginan.
"Ayo Bang gendong Vanesa dan bawa ke mobil!" perintah tante Parida.
Ayah Vanesa segera menggendong anaknya itu ke mobil.
Sesampainya di mobil, tante Parida memberi minum ke mulut Vanesa.
"Kamu kenapa, Nak?" Tante Parida menangis melihat keadaan keponakannya itu.
Vanesa hanya diam dengan pandangan yang kosong.
Affan segera melajukan mobilnya menuju arah pulang.
Bersambung .....
dikomenan filmnya, banyak yg bertanya 2 apakah dia pakai baju atau tidak mengingat dia tidak terlihat bahkan di cermin sekali pun🤔😅
segitu lamanya ngegantung pecintamu thooorrr