NovelToon NovelToon
SENOPATI TERAKHIR

SENOPATI TERAKHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perperangan / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Raden Jayengrana, seorang Senopati kepercayaan Kerajaan Mataram, dikhianati dan dibantai secara keji oleh sahabat karibnya sendiri, Wiradipa, demi sebuah intrik kekuasaan Dewan Perang. Namun, kematian bukannya menjadi akhir. Jayengrana bangkit kembali dari liang kubur setelah menyepakati sebuah kontrak darah kelam dengan entitas mistis misterius yang dijuluki (Senopati Terakhir).
​Terbangun dalam raga yang tak lagi sepenuhnya manusia dan ditandai oleh ukiran melingkar di dadanya, Jayengrana ditemani oleh Ki Jagabaya—mantan gurunya. Ia mempelajari kenyataan pahit bahwa kebangkitannya menuntut harga mahal: jiwanya perlahan terikat, kekuatannya meminjam milik entitas gaib, dan keadaannya memancarkan gelombang yang mulai menarik perhatian makhluk-makhluk misterius serta pusaka tuanya yang enggan mati.
​Di saat namanya dihancurkan oleh istana—dituduh sebagai pengkhianat negara dengan ganjaran kepala lima puluh keping perak—Jayengrana memulai perjalanannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Anak yang melihat

Laras berjalan paling depan. Langkah kakinya begitu cepat, tergesa-gesa hingga nyaris berlari.

Ki Jagabaya mengikutinya dengan tenang, sementara Jayengrana melangkah di barisan paling belakang seraya menyapu pandangan ke sekeliling kawasan pemukiman.

Desa itu nampak seperti dusun pedalaman pada umumnya. Anak-anak kecil masih berlarian bermain gasing di pelataran tanah, sementara beberapa wanita paruh baya sibuk menjemur gabah di atas tampah bambu. Tak ada bau bangkai yang menyengat, tak ada pula kabut hitam aneh yang mengepul.

Namun... semakin dekat mereka menuju kediaman Laras, suasana berubah berangsur sunyi. para tetangga yang sengaja mengisolasi diri. Beberapa warga mengintip cemas dari balik celah pintu bambu, berbisik-bisik dengan wajah tegang.

"Kasihan anak Pak Lurah..."

"Jeritannya tak berhenti sejak siang."

"Jangan-jangan... didera guna-guna atau kerasukan iblis hutan."

Jayengrana memilih tak acuh, terus mengayunkan langkahnya.

Rumah milik keluarga Laras tergolong cukup megah dibanding bangunan di sekitarnya. Di ambang serambi, duduk seorang pria paruh baya berusia lima puluhan. Wajahnya kusut muram, dengan kantung mata menghitam kusam lantaran diteror cemas.

Begitu mendapati kehadiran Ki Jagabaya, pria itu bergegas bangkit berdiri.

"Ki Jagabaya..." ucapnya penuh pengharapan. "Tolong... selamatkan anak saya."

Ki Jagabaya mengangguk pelan. "Apakah sudah diberi ramuan penenang?"

"Sudah, Ki."

"Sudah dipanggilkan dukun atau peraba gaib?"

"Sudah tiga orag pintar dipanggil."

"Lantas?"

"Semuanya menyerah... kata mereka, tak ada satu pun makhluk halus yang merasuki atau mendekat."

Ki Jagabaya tak membalas lagi. Ia melangkah masuk menembus tirai pintu, diikuti Jayengrana di belakangnya.

Di dalam kamar yang temaram, seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun tampak meringkuk gemetar di sudut pembaringan. Wajahnya pucat pasi bak mayat, dengan pasang mata membelalak ketakutan—menatap lurus ke arah pojok ruangan.

"Pergi... Jangan mendekat..." ratapnya terengah-engah. "Jangan ke sini..."

Ibunya memeluk tubuh kecil itu erat-erat seraya terisak pelan. "Nak... dengarkan Ibu. Tak ada siapa-siapa di sana..."

Anak itu justru berteriak kian histeris. "Ibu bohong! Pria itu masih berdiri di sana! Dia menatap ke arah kita!"

Jayengrana mengalihkan pandangannya mengikuti gurat tatap sang anak. Ke sudut kamar.

Hampa. Hanya ada kendi tanah liat dan sebuah sapu lidi yang tersandar di dinding kayu. Tak ada wujud apa pun di sana.

Ki Jagabaya berlutut perlahan di hadapan anak itu, menyelaraskan tinggi pandangan mereka. "Siapa namamu, Nak?"

"B... Bima..."

"Bima... tatap mataku."

Bima menggeleng keras, merapatkan punggungnya ke dinding. "Tidak berani..."

"Mengapa?"

"Kalau Bima menatap Ki..." bisik anak itu gemetar, "...orang terbakar itu akan melangkah mendekat."

Ki Jagabaya terdiam sejenak. Ia kemudian menoleh halus ke arah Jayengrana. "Maju dan berdirilah di sampingku."

Jayengrana menurut tanpa bersuara. Ia melangkah maju hingga berdiri tepat di sebelah gurunya.

Seketika itu pula, jeritan Bima terhenti.

Mata anak kecil itu membelalak lebar, menatap lurus ke arah raga Jayengrana tanpa berkedip. Sesaat kemudian, dari bibirnya yang mengering, terucap bisikan lirih.

"Bukan..."

Keheningan yang pekat menyergap isi ruangan.

"Bukan pria terbakar itu..." gumam Bima lambat. "Yang Bima lihat... ukurannya jauh lebih tinggi... dan kepalanya... hanya berupa tulang belulang."

Ruangan mendadak terasa makin dingin dan membisu.

Bersamaan dengan itu, cetakan lingkaran di dada Jayengrana berdenyut sekali. Amat pelan, namun bergetar halus.

Raut wajah Ki Jagabaya tetap tenang tanpa riak. Ia bertanya kembali, "Apakah makhluk berkepala tulang itu menyakitimu, Bima?"

Bima menggeleng pelan. "Tidak..."

"Lalu apa yang membuatmu begitu ketakutan?"

Anak itu menundukkan kepalanya, jemari kecilnya gemetar menunjuk lurus ke arah Jayengrana. "Sebab... sejak siang tadi, dia sama sekali tidak pernah menatapku. Tidak melihat Ayah... tidak melihat Ibu..."

Bima menelan ludah sebelum melanjutkan, "Dia... hanya berdiri diam dan terus-menerus menatap Kakak itu."

Jayengrana menarik napas panjang.

Sebuah pemahaman kelam merayapi benaknya: kontrak darah yang ia sepakati tak hanya sekadar membangkitkan raganya yang hancur. Ikatan itu telah mengubah eksistensinya menjadi mercusuar gaib—membuat keberadaannya kini terlihat jelas oleh entitas-entitas kelam yang sebelumnya tak pernah berurusan dengan alam manusia.

Ki Jagabaya bangkit berdiri seraya menepuk pelan bahu Jayengrana. "Cukup."

Ia berpaling ke arah Pak Lurah dan istrinya. "Mari kita keluar."

Laras menyusul dengan waut wajah panik. "Ki... bagaimana dengan keadaan adik saya?"

Ki Jagabaya mengukir senyum tipis yang menenangkan. "Adikmu tidak kesurupan. Ia hanya dianugerahi kemampuan langka untuk menembus selubung yang tak sanggup dilihat mata orang awam."

"Apakah wujud itu akan membahayakannya?"

Ki Jagabaya menatap Bima sejenak sebelum menjawab, "Awasi dia baik-baik. Jika besok pagi ia sudah sanggup tertawa dan bermain seperti sedia kala, lupakan kejadian hari ini."

"Namun jika ia masih terus melihat sosok berkepala tulang itu..." Ki Jagabaya menggantung kalimatnya, "...baru kalian datang menemui saya."

Pak Lurah membungkuk dalam penuh hormat dan kepasrahan.

Jayengrana melangkah keluar dari rumah itu dengan pijakan yang terasa amat berat. Di sepanjang pematang jalan menuju tempat kediaman mereka, gaung ucapan anak kecil tadi terus terngiang berulang-ulang di telinganya:

*"Dia hanya berdiri diam dan terus-menerus menatap Kakak itu."*

Siapa pun entitas Penunggang Perjanjian itu... Jayengrana menyadari bahwa perikatan darah di antara mereka barulah awal dari jalinan kelam yang jauh lebih mengerikan.

1
Semoli Ginon
sedikit demi sedikit lama2 jadi bukit mantapp👍
Semoli Ginon
lanjut thor ...
Semoli Ginon
jut lanjut thor
Semoli Ginon
skill yang mantap mas saka..👍
Semoli Ginon
lanjut thor jangan kendor👍
Semoli Ginon
apakah ini ghostrider versi mataram? 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!