"Tenang saja sayang, dia akan buta selama-lamanya..." Arga membiarkan kekasihnya bermain main di pangkuannya. Dalam nafsu yang terbakar suara erangan terdengar.
Kiara yang sudah bisa melihat. Ia mendengar segalanya, meraba bagian bawah matanya sendiri. Wanita yang tidak dapat melihat karena ulah suaminya.
Air matanya mengalir, pria manipulatif yang ingin menguasai hartanya.
Tapi tidak, dalam tangisannya dirinya berucap pelan.
"Aku dapat membuatmu bergelimang harta, maka aku juga dapat menyeretmu ke neraka..."
Sebuah pembalasan dendam dimulai. Semua bagaikan papan catur yang dimainkan oleh sang wanita yang dibuat buta untuk membalas suaminya.
"Satu persatu hutangmu akan aku tagih..." Senyuman menyeringai mengerikan. Perlahan tertawa dibalik tangisannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB — 08
"Bi Titin ...!"
Suara Arga terdengar datar, tetapi cukup membuat udara di teras rumah seolah membeku.
Bi Titin yang semula memeluk Kirana perlahan mengangkat wajahnya. Kedua matanya membelalak. Bibirnya bergetar hebat, sementara telapak tangannya mulai dipenuhi keringat dingin.
"Pa ... Pak Arga," ucap Bi Titin dengan suara bergetar.
Senyum tipis muncul di wajah Arga. Senyum yang terlihat ramah di mata Kirana, tetapi bagi Bi Titin, senyum itu jauh lebih mengerikan daripada ancaman.
"Sudah lama tidak bertemu, Bi." ucap Arga tenang.
"I ... iya, Pak," jawab Bi Titin terbata-bata.
Kirana yang tidak bisa melihat hanya memiringkan kepala.
"Bi, kenapa suara Bi gemetar? Apa Bi sakit?" tanya Kirana dengan nada cemas.
"T-tidak, Non. Bi hanya ... terharu melihat keadaan Nona," jawab Bi Titin buru-buru.
Bi Titin buru-buru menyeka air matanya. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya sekarang.
Arga melangkah mendekat. Tangannya dengan lembut merangkul pundak Kirana.
"Sayang, ayo kita masuk. Kasihan Bi Titin masih berdiri di luar." ajak Arga lembut.
"Iya." jawab Kirana pelan.
Kirana mengangguk kecil. Tangannya kembali menggenggam tangan Bi Titin dengan hangat.
"Ayo, Bi. Aku benar-benar kangen sama Bi." ucap Kirana tulus.
Mata Bi Titin kembali memerah. Dua bulan. Hanya dua bulan. Namun keadaan rumah ini berubah begitu drastis. Rumah yang dulu selalu dipenuhi tawa kini terasa dingin. Sunyi. Dan menyesakkan.
Begitu memasuki ruang tamu, Bi Titin kembali mengamati sekeliling. Beberapa lukisan keluarga sudah menghilang. Foto mendiang kedua orang tua Kirana juga tidak lagi terpajang di tempat biasanya. Beberapa pelayan lama pun tidak terlihat. Yang ada sekarang hanyalah wajah-wajah asing.
"Bi duduk dulu." ucap Kirana sambil menuntun Bi Titin ke sofa.
"Terima kasih, Non." jawab Bi Titin pelan.
Arga berdiri di dekat jendela. Tatapannya sesekali mengarah kepada Bi Titin. Mengamati. Menilai. Seolah sedang memastikan sesuatu.
"Bi," panggil Arga.
"Iya, Pak?" jawab Bi Titin seketika.
"Kapan Bi pulang dari kampung?" tanya Arga santai.
"Baru ... tadi pagi," jawab Bi Titin.
"Oh. Lama juga ya." ucap Arga mengangguk pelan.
Bi Titin hanya tersenyum kaku. Padahal ia tahu, ucapan itu bukan sekadar basa-basi. Arga sedang mengujinya. Mencari tahu selama dua bulan ini ia berada di mana. Dan apa saja yang sudah diketahuinya.
"Kebetulan sekali Bi kembali. Kirana memang membutuhkan seseorang yang bisa menemaninya di rumah." ucap Arga tersenyum tipis.
"Iya, Pak," jawab Bi Titin.
"Tapi Bi pasti tahu aturan di rumah ini sudah berubah." nada suara Arga berubah pelan.
Bi Titin menegang. "Aturan?" tanyanya pelan.
"Sekarang semua urusan rumah menjadi tanggung jawabku. Tidak boleh ada yang membuat istriku cemas. Tidak boleh ada yang membicarakan hal-hal yang tidak penting. Dan ... tidak boleh ada yang menyimpan rahasia dariku." tatapan Arga tajam.
Kalimat terakhir itu membuat tengkuk Bi Titin meremang. Ia tahu, ucapan itu ditujukan khusus kepadanya.
Kirana yang duduk di sofa hanya tersenyum kecil. Ia sama sekali tidak menyadari perang dingin yang sedang terjadi di hadapannya.
"Sayang." panggil Arga.
"Iya?" jawab Kirana.
"Aku ke dapur sebentar ya," pamit Arga.
"Kamu mau apa?" tanya Kirana.
"Membuatkan Bi Titin teh." jawab Arga.
"Biar aku saja yang buat, Pak," sela Bi Titin dengan cepat.
Arga tersenyum tipis. "Baiklah. Tapi aku ikut."
Jantung Bi Titin langsung berdegup keras. Ia ingin menolak. Namun tidak berani. Dengan langkah pelan, keduanya berjalan menuju dapur.
Begitu pintu dapur tertutup, suasana berubah sunyi. Tidak ada lagi senyum di wajah Arga. Yang tersisa hanyalah tatapan dingin yang membuat bulu kuduk berdiri.
"Bi ..." panggil Arga pelan.
Suara Arga terdengar sangat pelan. Namun justru itu yang membuatnya semakin menakutkan.
"Saya senang Bi kembali." ucap Arga datar.
Bi Titin menelan ludah. "Terima kasih, Pak," jawabnya.
"Tapi aku tidak suka orang yang kembali ... membawa masalah." ucap Arga mengambil sebuah gelas dari rak.
Tangan Bi Titin berhenti menuang air. "A-apa maksud Bapak?" tanyanya gemetar.
Arga tersenyum. "Lho. Aku tidak mengatakan apa-apa. Kenapa Bibi langsung gugup?"
Bi Titin memaksa dirinya tetap tenang. Jemarinya yang keriput menggenggam teko hingga buku-buku jarinya memutih. Ia menarik napas pelan sebelum menuangkan air panas ke dalam dua cangkir.
"Apa Bi ketakutan?" tanya Arga santai sambil menyandarkan tubuhnya ke meja dapur.
"T-tidak, Pak." jawab Bi Titin.
"Kalau begitu kenapa tangan Bi gemetar?" tanya Arga lagi.
Bi Titin menundukkan kepala. "Maaf, mungkin karena Bi sudah tua."
Arga terkekeh pelan. "Tua memang membuat orang mudah lupa."
"Benar, Pak." jawab Bi Titin.
"Tapi ... kadang ada orang tua yang justru terlalu banyak mengingat." ucap Arga mengambil salah satu cangkir teh yang baru selesai dibuat.
Tatapan mereka kembali bertemu. Ruangan itu mendadak terasa begitu sempit. Bi Titin tahu persis. Arga sedang memperingatkannya. Bukan bertanya. Melainkan mengancam.
*
Di ruang tamu.
Kirana duduk sendirian sambil memeluk bantal kecil. Pendengarannya menangkap samar suara percakapan dari arah dapur, tetapi terlalu pelan untuk dipahami. Entah mengapa, sejak Bi Titin datang, dadanya terasa tidak tenang.
"Kenapa ya ..." gumam Kirana pelan pada dirinya sendiri. "Aku seperti merasakan sesuatu."
Bukan firasat buruk. Melainkan perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Seolah-olah ada rahasia besar yang selama ini disembunyikan darinya.
Sementara itu, di dapur.
Arga meletakkan cangkirnya perlahan. "Bi."
"Iya, Pak." jawab Bi Titin.
"Waktu kecelakaan itu ... Bi sedang berada di mana?" suara Arga terdengar berat.
Tubuh Bi Titin langsung menegang. "S-saya sedang di rumah, Pak." jawabnya terbata-bata
"Benarkah?" tanya Arga menatap tajam.
"Iya, Pak." jawab Bi Titin.
Arga tersenyum tipis. "Kalau begitu ... aneh."
"Aneh?" tanya Bi Titin mengangkat wajahnya.
"Aku mendapat kabar ... ada seseorang yang melihat sesuatu malam sebelum kecelakaan." Arga sengaja berhenti sejenak.
Deg!
Jantung Bi Titin seperti berhenti berdetak. Ia memang melihat sesuatu. Bukan kecelakaannya. Melainkan percakapan Arga di garasi rumah. Malam sebelum mereka pergi merayakan ulang tahun pernikahan. Saat itu Arga sedang menelepon seseorang. Suaranya memang pelan. Tetapi Bi Titin sempat mendengar satu kalimat.
Besok pagi ... lakukan sesuai rencana. suara Arga malam itu terngiang kembali di kepala Bi Titin.
Saat itu ia tidak mengerti maksudnya. Baru setelah kecelakaan terjadi, potongan-potongan kejadian itu mulai tersusun. Dan semuanya terasa begitu mengerikan.
"Bi? Kenapa diam?" suara Arga membuyarkan lamunannya.
"T-tidak ada apa-apa." jawab Bi Titin cepat.
Arga melangkah mendekat. Kini jarak mereka hanya beberapa puluh sentimeter.
"Kalau memang tidak tahu apa-apa ... Bi tidak perlu takut kepadaku." tatapannya menusuk lurus ke mata Bi Titin.
Bi Titin menelan ludah. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. "B-bi tidak takut, Pak." jawabnya.
"Oh ya? Kalau begitu bagus." Arga tersenyum tipis.
Ia berbalik hendak meninggalkan dapur. Namun sebelum keluar, ia berhenti di ambang pintu. Tanpa menoleh.
"Bi ..." panggil Arga.
"Iya, Pak?" jawab Bi Titin.
"Ada banyak kecelakaan terjadi setiap hari. Ngeri sekali. Kadang korbannya bukan orang yang seharusnya." ucap Arga pelan.
Setelah mengucapkan kalimat itu, Arga melangkah pergi. Meninggalkan Bi Titin yang kini terduduk lemas di lantai. Air matanya menetes tanpa suara.
"Ya Tuhan ... Pak Arga benar-benar berubah. Bahkan lebih mengerikan daripada yang kubayangkan." isak Bi Titin dalam hati.
*
Sore harinya.
Setelah Bi Titin selesai membereskan dapur, ia berjalan menuju taman belakang rumah membawa sekeranjang pakaian yang sudah kering. Angin sore berembus pelan. Suasana tampak tenang. Namun pikirannya justru semakin kacau.
"Tidak. Aku tidak boleh diam. Kalau aku diam, Non Kirana bisa benar-benar celaka." batin Bi Titin gemetar.
Ia mengeluarkan ponsel lamanya dari saku celemek. Tangannya gemetar saat mencari satu nama di daftar kontak. Tasya.
"Sepertinya hanya Nona Tasya yang bisa membantu." gumamnya pelan.
Baru saja jarinya hendak menekan tombol panggil, sebuah bayangan jatuh menutupi cahaya matahari di depannya. Bi Titin perlahan mengangkat kepala. Wajahnya langsung pucat.
Arga berdiri tepat di hadapannya. Dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Tatapannya dingin.
"Sore, Bi." ucap Arga tenang.
Ponsel di tangan Bi Titin hampir terjatuh. "Pa ... Pak Arga." suaranya pecah.
Arga melirik layar ponsel yang masih menyala. Sudut bibirnya perlahan terangkat. "Mau menelepon siapa ... Bi?" tanyanya pelan namun mengancam.
Jantung Bi Titin berdegup semakin kencang. Tangannya refleks menggenggam ponsel itu erat. Namun belum sempat ia menjawab.
Arga perlahan mengulurkan tangannya. "Lihat sini." matanya menatap tajam tanpa berkedip. "Sekarang berikan ponsel itu kepadaku."
🤭🤭
udh kirana tuk sekarang km mending pura2 buta aj ,,
sambil mencari bukti kejahatan si agar2 ,,