Malam itu, Akila Georgina kehilangan segalanya.
Tunangan yang dicintainya ternyata berselingkuh dengan adik tirinya sendiri. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, Akila kembali dijadikan kambing hitam atas kecelakaan yang merenggut nyawa seorang wanita bernama Natalie Hartawan.
Dan putra wanita itu adalah William Hartawan—mafia kejam yang dikenal sebagai The Reaper.
William yakin Akila adalah penyebab kematian ibunya.
Maka ia menjadikan Akila istrinya. Bukan karena cinta, melainkan demi dendam.
"Mulai hari ini, kau adalah istriku. Dan hidupmu menjadi harga atas kematian ibuku."
Namun, semakin lama William mengenal Akila, semakin ia menyadari bahwa wanita yang ingin ia hancurkan ternyata hanyalah korban dari permainan orang lain.
Dendam perlahan berubah menjadi rasa memiliki.
Sementara Akila mulai dihadapkan pada satu pilihan: tetap membenci pria yang memaksanya masuk ke dalam pernikahan itu, atau mempercayai hati yang diam-diam mulai luluh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
"Turunkan aku! Minta orangmu untuk menghentikan mobil ini! Aku tidak mau ikut denganmu, dasar iblis!" Ucap Akila bersama emosinya.
Melihat wajah William membuat emosi Akila terus muncul. Akila benci wajah itu sekalipun wajah William tampan. Sekali iblis tetaplah iblis.
William diam, matanya juga terpejam. Ia tak peduli pada ucapan Akila selama Akila ada di dalam mobil itu, maka William akan tetap tenang.
Akila memberi jarak antara ia dan William.
"Apa kau tuli? Minta orangmu untuk berhenti! Aku tidak ada urusan denganmu lagi! Aku tidak salah dan aku tak mau jadi pelampiasan balas dendammu! Hentikan mobil ini sialan!" Ucap Akila lagi.
Emosinya benar-benar diuji oleh William.
Akila yang geram akhirnya memukul kuat bahu William sampai mata William kembali terbuka.
Reno meringis melihat tingkah Akila yang kini lebih berani dari yang dulu.
Bisa-bisanya Akila memukul bahu William dengan kuat seperti itu, bahkan Reno saja mendengar suara pukulannya.
Akila mundur saat William memberikan tatapan seperti akan membunuh Akila.
Bukan salah Akila kan? William saja dulu lebih kasar dengan Akila, rasanya pukulan tak akan membalas semua kejahatan William pada Akila.
"Kau yang salah." Ucap Akila.
Beberapa detik setelahnya William hanya menghela nafasnya lalu kembali menutup matanya, ia diam seakan tak terjadi apa-apa.
Akila semakin geram melihat tingkah William.
"Hentikan mobilnya!" Ucap Akila memulai ucapannya dengan nada keras.
Nafas Akila makin tak karuan, jantungnya berdetak semakin cepat.
Dua Anaknya tertinggal, ayolah. Dan konyol juga kalau Akila mengatakan itu di depan William.
Tak lama setelahnya Akila berucap.
"William gila! Kau sinting, tidak punya otak!" Ucap Akila dengan hembusan nafas yang memburu. Ia marah dan hanya itu yang bisa ia lampiaskan.
"Lanjutkan saja, katai aku sampai kau puas." Ucap William masih dengan raut wajah tenang bersama mata yang terpejam.
Dada Akila naik turun dan detik itu juga ingatan dimana ia melahirkan seorang diri teringat, dan sudah pasti tujuh tahun terakhir ini William hidup bahagia bersama banyak jalang sedangkan Akila melahirkan 2 Anak sekaligus. Tidak ada hari yang mudah bagi Akila kecuali kebahagiaan yang ia miliki saat si kembar kini tumbuh sehat dan menggemaskan.
Akila bahkan harus menatap seorang Anak yang berwajah mirip dengan William sedangkan Akila membenci William.
Itu melelahkan dan Akila mampu sampai saat ini. Tapi tiba-tiba orang gila itu datang dan membawa Akila tanpa izin.
Sudah jelas kalau Akila tidak mau meninggalkan dua Anak kembarnya.
"Penjahat sialan! Pria brengsek, harusnya kau menderita. Aku tidak punya hutang denganmu! Kau yang menciptakan luka sekalipun aku sudah berkata jujur, kau menjadikanku boneka ranjangmu dan kau lebih baik mati saja! Kau iblis yang mengerikan!" Ucap Akila dengan emosi yang tak kunjung surut juga.
Masih saja William diam tanpa bersuara, matanya terpejam dengan sangat tenang. Pria sialan itu tak merasa bersalah sedikitpun.
Apa William berpikir bahwa Akila baik-baik saja selama ini?
7 tahun terakhir ini sekalipun Akila merasa baik, tetap saja banyak pikiran yang kacau di otak Akila.
Lalu dengan tak ada angin apapun, William malah menculiknya dengan cara yang konyol.
"Kalau kau gila, jangan lampiaskan amarahmu padaku!" Ucap Akila.
William masih diam, ia tampak tenang seakan Akila adalah radio aktif.
Akila semakin kesal melihat mobil makin melaju kencang, akhirnya Akila malah menarik bahu Reno yang tengah mengemudi.
"Berhenti atau aku akan membunuhmu, berhenti!!" Marah Akila, bahkan Akila mulai menjambak rambut Reno membuat mata William terbuka.
Apa yang terjadi dengan Akila? Sepertinya Akila tidak lagi pendiam atau pasrah seperti yang dulu.
"Kubilang berhenti!!" Ucap Akila semakin menjambak rambut Reno sampai Reno meringis menahan sakit akan jambakan yang bukan main-main itu.
Akhirnya Reno mengerem mendadak membuat Akila hampir terjungkal, untungnya William menahan pinggang Akila hingga tubuh Akila berakhir duduk dipangkuan William.
Ada banyak helaian rambut kecil di jemari Akila.
"Kenapa kau jadi begini?" Tanya William memeluk pinggang Akila membuat Akila tak bisa kemana-mana.
"Kau itu tuli! Aku sudah memintamu menghentikan mobilnya, jadi bukan salahku." Ucap Akila.
"Apa kau gila?" Tanya William.
"Kau yang gila!" Balas Akila tak terima.
William mencengkram pinggang Akila membuat Akila yang kesal akhirnya ikut mencengkram leher William.
Kekehan William terdengar, ia jadi suka melihat keberanian Akila seperti ini.
Akila tampak banyak berubah melalui sikapnya yang kini mulai berani pada William.
"Aku akan mencekikmu kalau kau mencengkram pinggangku dengan kuat!" Ancam Akila.
"Cekik saja kalau kau mau." Ucap William dengan santainya.
Bukan salah Akila kan? Sudah lama Akila benci William dan ia mau melampiaskan amarahnya itu. Akhirnya Akila benar-benar mencekik William membuat wajah William memerah. Itu bukan karena marah tapi karena nafas William tercekat karena cekikan yang cukup kuat itu dan...
Bugh!
Akila mengakhiri cekikan itu dengan pukulan kuat di kepala William. Akila tak berniat membunuh William karena Akila bukan pembunuh.
Shit!
Sakit sekali, selain cekikan, pukulan Akila terasa kuat.
Reno memilih diam sambil menyaksikan melalui kaca mobil.
"Kau sungguh berani ya Akila. Siapa yang mendidikmu hingga seberani ini?" Tanya William tak menyangka dengan perbuatan Akila atasnya.
Ada rasa perih di leher William, sudah jelas itu karena kuku Akila panjang. Kalau lebih tajam lagi mungkin kuku Akila sudah masuk ke leher William.
Ah sebenci itu memang Akila dengan William.
Sebut saja itu dendam.
"Kenapa juga aku harus takut denganmu, aku sudah melewati banyak hal yang mengerikan. Dan makhluk gila sepertimu tak pantas membuatku takut. Dunia yang aku jalani lebih mengerikan daripada menghadapimu." Jawab Akila berani.
Akila mau menjauh dari pangkuan William tapi William sungguh tak berniat melepaskan Akila.
"Lepaskan aku sialan!" Marah Akila.
"Jangan membuatku kesal, aku bisa melakukan apapun sekalipun kau berani denganku." Ucap William.
"Oh ya? Kau mau membunuhku? Silahkan. Aku sama sekali tidak takut mati, dan terlebih jika aku bertemu dengan Mommy mu akan aku pastikan bahwa dia tak akan menganggapmu putranya lagi. Jika kelak kau mati pun, bukan alam yang damai tempatmu. Kau sungguh pria busuk dan..."
Ucapan Akila terhenti saat William mencium bibirnya begitu saja, Akila yang tak siap jelas terkejut. Dada William ia pukul sekuat tenaga sampai akhirnya ciuman brutal itu terlepas ketika William merasa puas.
Plak!
Tamparan melesat di pipi mulus William.
"Dasar gila! Bajingan menjijikan!" Ucap Akila.
Akila meludah di mobil itu, ia tak sudi merasakan saliva milik William masuk ke mulutnya. Sungguh Akila merasa mual.
Lagi-lagi emosi Akila diuji habis-habisan oleh William.
Kali ini Akila meninju dada William bahkan mencakar sampai William kewalahan menghadapi emosi Akila. Akila cukup brutal dan emosian, sangat berbeda dengan yang dulu.
Tak lama setelahnya...
"AKILA!" Bentak William.
"APA? KAU YANG MULAI!" Balas Akila tak kalah sengit.
Dua tangan Akila dipegang oleh William dengan kuat, terlihat jelas nafas Akila memburu karena marah.
"Lebih baik kau lepaskan saja aku, aku tak punya urusan lagi denganmu." Ucap Akila dengan nada merendah, namun tatapannya tetap saja tatapan kebencian.
William menggeleng, ia sedikit melemah bahkan melepaskan cekalan di tangan Akila.
Tangan William kembali merengkuh pinggang Akila yang masih ada di pangkuannya.
"Kata siapa kau tak punya urusan denganku hm? Selama ini aku mencarimu Akila dan gilanya kau malah menjadi sosok yang hebat di kota Roma. Ah ya, apa bawahanku masih denganmu? Siapa namanya, Sari ya? Jika kau tak mau menurut padaku maka aku bisa menyeretnya dan membuatnya mati di kakiku. Kau bisa melihatnya secara langsung kalau kau mau." Ucap William dengan wajah yang sangat menyebalkan di mata Akila.
Dua tangan Akila terkepal kuat.
"Maumu apa sialan?! Katakan dengan jelas jangan mengancamku! Katakanlah pengecut!" Ucap Akila marah.
"Aku mau kau." Ucap William menatap Akila dengan yakin.
Akila terdiam.
Tangan William terulur ke arah Reno membuat Reno memberikan suntikan pada William.
Kembali Akila bersuara.
"Aku tidak sudi diinginkan olehmu! Aku mau pergi dari sini sialan! Aku tak punya urusan denganmu, aku bukan pembunuh. Aku tidak pernah mengemudi mobil itu dalam keadaan mabuk!" Ucap Akila.
William tersenyum bahkan kepalanya mengangguk begitu ringan.
"Ya aku tahu, lebih tepatnya aku baru tahu. Namun tetap saja aku menginginkanmu. Ada hal yang aku butuhkan darimu. Selain itu aku mau kau menikah denganku." Ucap William membuat mata Akila melotot.
Mana mungkin Akila mau menikah dengan pria gila seperti William. Ayolah! William itu luka, luka yang tak akan bisa pulih dalam pikiran Akila.
"Tidak sudi! Aku tidak sudi! Aku tak akan pernah menikah dengan pria mengerikan bahkan..."
Senyum William terbit saat ia bisa menyuntikan suntikan ke leher Akila.
"Tidurlah, kita perlu ke Mansion ku. Telingaku cukup sakit mendengar ucapan cacian yang keluar dari mulutmu itu." Ucap William.
Saraf Akila melemah, ia tak mengantuk hanya saja semuanya jadi gelap begitu saja.
Tubuh Akila jatuh dalam pelukan William membuat William membiarkannya saja.
"Jalankan mobilnya, kita ke Mansion ku saja." Ucap William.
"Baik Tuan." Balas Reno patuh.
Mobil pun jalan, terlihat tangan William masuk ke pinggang Akila. Ia memeluk Akila dalam diam.
Wangi tubuh Akila tetap sama seperti dulu. Ada apa dengan William? Ia merasa suka dan rasanya ada rindu yang mulai terobati.
'Sial! Aku tak mungkin jatuh cinta. Sudah lama aku tak mengenal yang namanya cinta, wanita ini tidak menarik bagiku. Ya benar, Akila sama sekali tidak menarik.' pikir William membohongi dirinya sendiri.
Reno berani melirik melalui kaca spion, ia melihat William menunduk lalu menempelkan bibirnya di kening Akila secara singkat.
"Dasar Gengsian" batin nya
---
Bersambung...
Yaa sejauh ini sih bagus² aja ceritanya, semangat yaa buat kakak penulis nya
lanjut thor😄
duhh...moga Akila bisa terselamatkan .