NovelToon NovelToon
Geranium

Geranium

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Murni
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: you see me

Aku Abhinav Ruchir mencintaimu dengan cara yang mungkin membuatmu sesak aku menginginkan seluruh perhatianmu, seluruh waktumu, dan seluruh duniamu hanya untukku. Cintaku padamu seperti geranium yang tumbuh liar ia menuntut ruang untuk terus berada di dekatmu, terkadang melupakan batasan, hanya karena ia takut kehilangan tempatnya di sisimu.

Aku tahu caraku mencintaimu mungkin terasa dominan. Aku tidak ingin berbagi satu detik pun darimu dengan dunia lain, karena bagiku, kamu adalah satu-satunya nutrisi yang membuat hatiku tetap bertahan hidup. Ada kalanya aku merasa egois karena ingin memilikimu seutuhnya.

Namun, inilah caraku menjaga hubungan ini tetap bersemi dengan memegangmu seerat mungkin, meski aku tahu keegoisan ini mungkin akan melukai kita berdua.

Biarkan aku menjadi orang yang paling 'membutuhkanmu' di dunia ini. Bukan karena aku lemah, tapi karena di antara segala kesibukanmu, aku selalu ingin menjadi alasan utama mengapa kamu harus pulang dan tetap tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8

Langkahku terasa berat saat menghampirinya. Di bawah temaram lampu jalan, wajahnya terlihat seperti pahatan es yang tajam dan tak terjamah. Tidak ada sapaan, tidak ada senyuman.

Begitu aku berada dalam jangkauannya, tangannya melesat mencengkeram lenganku, remasannya begitu kuat, seolah ia ingin memastikan bahwa aku tidak akan bisa lari ke mana pun lagi.

​Tepat di depan pintu mobil, tanpa mempedulikan keberadaan Dokter Pravda yang masih terpaku tak jauh dari kami, ia menarik tubuhku hingga terbentur pintu mobil. Tanpa peringatan, ia menunduk dan menghujamkan bibirnya ke bibirku.

Ini bukan ciuman yang penuh kasih seperti siang tadi, ini adalah ciuman yang kasar, menuntut, dan penuh dengan luapan amarah yang tertahan. Ia melumat bibirku dengan kejam, seolah sedang menegaskan kepemilikannya di depan mata orang lain.

​Aku bisa merasakan tatapan Pravda yang terkejut, namun aku tak mampu melakukan apa pun selain meringis dalam ciuman itu. Ia tidak membiarkanku bernapas, tangannya yang meremas lenganku semakin menekan, seakan ia sedang menanamkan "tanda" bahwa aku adalah miliknya dan hanya miliknya di depan pria lain yang berani memberiku tumpangan.

​Setelah melepaskan ciumannya secara kasar, ia tidak segera menjauh. Ia justru menempelkan dahi kami, napasnya yang memburu terasa panas di wajahku, sementara matanya yang tajam menatap lurus ke arah Pravda dengan tatapan membunuh sebelum akhirnya beralih padaku.

​"Masuk," bisiknya dingin, nyaris tak terdengar, namun penuh dengan otoritas yang tak terbantahkan.

Suara dentuman pintu mobil yang tertutup kencang terdengar seperti ledakan di tengah kesunyian malam, membuat bahuku tersentak kaget. Sebelum aku sempat mengatur napas, mesin mobil meraung tinggi. Ia memacu kendaraan dengan kecepatan yang tidak wajar, membelah jalanan kota dengan manuver yang kasar dan penuh amarah.

​Aku tidak berani menoleh ke arahnya. Tubuhku menegang, merapat ke pintu penumpang, berusaha menjadi sekecil mungkin. Setiap kali ia memindahkan gigi atau menginjak rem dengan kasar, hatiku mencelos. Amarahnya tidak tumpah melalui teriakan, melainkan melalui cara ia mengendalikan kemudi, sebuah ancaman bisu yang lebih menakutkan daripada kata-kata apa pun.

​" Aku... aku ingin pulang," bisikku lirih, hampir tak terdengar di antara deru mesin. Suaraku gemetar hebat. Aku benar-benar ingin segera keluar dari ruang sempit yang mencekam ini.

​Ia tidak menjawab. Ia justru menambah kecepatan, tangannya mencengkeram setir begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya menatap tajam lurus ke depan, seolah sedang mengejar sesuatu, atau mungkin, sedang berusaha menahan diri agar tidak meledak di sana saat itu juga.

​Di dalam mobil yang melaju kencang ini, udara terasa semakin tipis. Aku merasa terjebak, terisolasi, dan ketakutan yang luar biasa kini menyelimutiku. Setiap detik terasa seperti penyiksaan, sementara ia terus membawaku menjauh dari dunia, masuk lebih dalam ke dalam amarah yang ia simpan sendiri.

Mobil berhenti dengan decitan ban yang kasar di parkiran basement apartemennya. Tanpa menunggu mesin benar-benar mati, ia membuka pintu dan menyambar lenganku. Cengkeramannya bukan lagi sebuah sentuhan, melainkan paksaan mutlak. Ia menarikku keluar dengan kasar hingga kakiku hampir tersandung, menyeretku melintasi beton dingin menuju lift.

​" Lepaskan! Ini bukan rumahku, aku ingin pulang ke rumahku!" teriakku, air mata sudah mengalir deras membasahi pipi. Isak tangisku menggema di ruang parkir yang sepi, namun ia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda melunak.

​" Rumahmu? " suaranya rendah, serak oleh amarah yang tertahan, namun tidak ada nada empati sedikit pun di sana. " Mulai malam ini, tempatku adalah satu-satunya rumah yang kamu punya."

​Ia menyeretku masuk ke dalam lift dengan gerakan yang tak memberiku celah untuk melawan. Tubuhku terasa tidak berdaya di bawah kekuatannya. Saat pintu lift tertutup, aku mencoba menarik tanganku kembali, namun ia justru semakin mempererat cengkeramannya, menarik tubuhku hingga menabrak dadanya yang bidang dan keras.

​Aku terisak hebat, memohon agar ia berhenti, namun ia hanya menatap angka-angka di lantai lift yang terus berubah dengan tatapan dingin dan tak terbaca. Dia tidak peduli pada tangisanku, tidak peduli pada penolakanku.

Baginya, tindakanku malam ini adalah bentuk pengkhianatan yang harus dibayar mahal, dan dia tidak akan membiarkanku kembali ke duniaku sendiri sebelum dia memastikan bahwa aku benar-benar tak punya jalan keluar.

1
Umi Fitriani
semangat thorr
you see me: Terima kasih kakak /Whimper/😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!