menceritakan tentang seorang pemuda bernama royy yang tereinkarnasi menjadi entitas bayangan dan membangun peradaban serta menjadi raja iblis...
(Kage no Karada toshite Tensei Shita node, Saikyō no Danjon Ōkoku o Tsukurimashita!)
(reinkarnasi menjadi entitas bayangan, dan membangun kerajaan terkuat di dalam dungeon)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon royco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kemunculan raja iblis kekalahan telak (bagian 1)
Yahh... Mau bagaimana lagi, ya kan? Setelah melihat dengan mata kepalaku sendiri seseorang yang kukenal datang jauh-jauh dari luar perbatasan hanya untuk meminta pertolongan sampai bersujud-sujud pasrah di bawah takhtaku, rasanya jika aku menolak begitu saja akan terasa sangat tidak enak. Lagipula, dari sudut pandang politik luar negeri, ini adalah kesempatan emas yang sangat langka untuk mengunci utang budi absolut dari Kerajaan Oscar.
Tanpa membuang waktu, aku segera mengumpulkan pasukanku. Sebuah legiun gabungan yang mengerikan antara pasukan Goblin terlatih dan barisan Undead yang tak kenal rasa takut, dengan total jumlah sekitar lima ribu personel tempur. Tidak hanya itu, aku juga membawa serta dua jenderal terkuatku: Delta si panglima ras naga merah yang haus darah untuk memimpin perang di lini depan, dan Alpha sang Penyihir Agung yang ditugaskan untuk mengurus sihir penyembuhan massal serta mengatur koordinat ruang teleportasi seluruh pasukan, termasuk membawa kembali Alisa si gadis pemanah dari regu pahlawan bumi itu.
Aku melangkah dengan jubah hitamku yang berkibar kejam, memimpin lima ribu pasukan monsterku keluar dari area istana gothic menuju tanah lapang terbuka di dalam wilayah dungeon. Suasana begitu senyap, hanya dipenuhi oleh derap langkah kaki baja dan hawa membunuh yang pekat. Aku menoleh ke arah Alpha, memberikan isyarat kode rahasia. Aku meminta Alpha untuk merapalkan sihir teleportasi massal menuju koordinat yang sudah kutentukan di luar sana. Taktikku kali ini sangat jelas; kami tidak akan langsung mendarat di garis depan yang kacau, ataupun terlalu jauh di garis belakang manusia. Aku berencana membangun sebuah pos pertahanan dan medis darurat beberapa kilometer di antara kedua lini tersebut.
Aku mengangkat tangan kananku tinggi-tinggi ke udara, menatap ke arah ribuan pasukanku yang berbaris rapi.
"Hmm... Alpha, buka gerbang teleportasi ruang sekarang juga! PASUKAN SEMUAA!! INI ADALAH PERTEMPURAN ASLI PERDANA KITA MELAWAN SOSOK ENTITAS YANG SANGAT KUAT DARI DUNIA LUAR! SEBISA MUNGKIN HINDARI KEMATIAN YANG SIA-SIA, TETAPI TETAPLAH BERJUANG DAN HANCURKAN MUSUH, PARA PAHLAWAN SHADOW AETHELGARD!!" Teriakku lantang dengan suara bariton yang menggelegar mengunci mental mereka.
"SIAPPP, YANG MULIA!!!" Seru ribuan pasukanku secara serempak, membuat tanah lapang dungeon bergetar hebat akibat luapan energi kegembiraan perang.
Aku beralih menatap dua jenderal di sampingku.
"SEMUANYA! IKUTI SETIAP PERINTAH DELTA SEBAGAI PEMIMPIN MUTLAK MEDAN TEMPUR DI LINI DEPAN! DAN UNTUK SEBAGIAN PASUKAN, SISAKAN DI KOORDINAT TITIK TELEPORTASI NANTI! BANGUNLAH POS JAGA MILITER DI SITU, BAWALAH SETIAP PASUKAN OSCAR MAUPUN PASUKAN KITA YANG SEDANG SEKARAT KELUAR DARI MEDAN LAGA UNTUK SEGERA DISEMBUHKAN OLEH ALPHA!" Perintahku tegas.
"SIAPPP!" Sahut barisan cadangan dengan penuh semangat yang membara.
"NAHH... GERBANG TELEPORTASI RUANGNYA TELAH DIBUKA! PERSIAPKAN SENJATA DAN DIRI KALIANN!! ABDIKAN JIWA SERTA KESETIAAN KALIAN SEMUA KEPADAKU, SERBUUUU!!!"
WUSH—! WUSH—! WUSH—!
Ribuan pasukan monsterku langsung berlari berhamburan masuk ke dalam pusaran gerbang magis raksasa berwarna biru keunguan yang diciptakan oleh tongkat sihir Alpha. Pasukan garis depan yang bertugas memburu monster iblis bergerak cepat mengikuti komando brutal dari Delta, sementara pasukan logistik bergerak rapi membangun perimeter pos medis darurat di bawah kendali Alpha.
Lalu, apa yang kulakukan sebagai Raja mereka? Jelas aku tidak akan bergerak secara asal-asalan. Aku sengaja tidak ikut melangkah melewati gerbang teleportasi massal tersebut. Pertama-tama, aku ingin mencari tahu terlebih dahulu apa yang sebenarnya sedang terjadi pada struktur politik internal Raja Oscar melalui pemindaian jarak jauh. Setelah memastikan semuanya aman dari jebakan, barulah aku melesat terbang secara mandiri menuju ke arah perbatasan timur wilayah Kerajaan Oscar.
Aku berdiri di tepi tebing dungeon, memejamkan mataku sejenak untuk memanggil antarmuka sihirku. "Hehemmm... Sistem, aktifkan sayap!" Ucapku pelan dalam hati.
【Diterima. Proses verifikasi berhasil, sayap kegelapan diaktifkan, skill terbang mandiri telah aktif, Tuan Miko.】 Sebuah suara mekanis yang sangat familier berdengung lembut di dalam kepalaku.
Mendengar suara datar nan dingin tersebut, sudut bibirku otomatis terangkat, membentuk sebuah cengiran tipis yang santai.
"Hehemmm... Sudah cukup lama rasanya aku tidak mendengar suara mekanis dari bantuanmu ini, Sistem. Aku jadi agak sedikit kangen," ucapku membatin jenius.
WUSSHHH!
Sepasang sayap hitam raksasa berbahan energi bayangan langsung terbentang lebar dari punggungku. Dengan sekali kepakan yang luar biasa kuat, tubuhku melesat tinggi menembus hamparan awan, membelah langit perbatasan timur dengan kecepatan tinggi. Hanya dalam hitungan menit, aku sudah mendarat dengan mulus di tanah berbatu tempat pos medis darurat yang dibangun oleh Alpha berada.
Begitu kakinya menyentuh tanah, pemandangan mengenaskan langsung menyambut mataku. Bau darah dan asap hangus menyengat hidung.
"Hmm... Sudah kuduga, pertempuran melawan faksi dunia luar tidak akan pernah berjalan dengan mudah," gerutuku pelan sembari melipat tangan di depan dada.
Di sekeliling pos medis, tampak sekitar ratusan jiwa prajurit manusia dari Oscar—dan beberapa pasukan monsterku—sedang terbaring sekarat dengan kondisi tubuh yang dipenuhi luka bakar kehitaman. Alpha tampak sangat sibuk, mengacungkan tongkatnya ke langit untuk merapalkan sihir penyembuhan massal bercahaya hijau lembut guna menstabilkan kondisi kritis mereka.
"Huhh... Kalau dihitung-hitung secara materi, mendirikan pos medis gratis untuk manusia ini bener-bener membuatku merugi sih. Tapi... tidak apa-apa. Aku sangat percaya dengan kemampuan tempur dan brutalitas milik Delta. Gadis naga itu pasti akan mengamuk hebat dan merobek-robek barisan musuh di medan pertempuran sana," ucapku tenang, mencoba menenangkan diri di tengah erangan kesakitan para korban perang.
Namun, ketenanganku tidak bertahan lama.
DORRRRRRRR!!!
Sebuah ledakan energi magis berukuran masif berwarna hitam pekat mendadak meledak hebat di tengah-tengah medan pertempuran garis depan, menciptakan kepulan asap berbentuk jamur yang membubung tinggi ke angkasa. Gelombang kejutnya bahkan berhembus kencang hingga menggetarkan tenda pos medis darurat tempatku berdiri.
Detik berikutnya, dari balik pekatnya kepulan asap hitam di kejauhan, tampak sesosok bayangan yang berlari terseok-seok menuju ke arah pos medis. Sepasang mataku menyipit tajam. Itu adalah Delta, lengkap dengan sisa regu pahlawan manusia bumi yang tersisa. Kondisi mereka bener-bener hancur, babak belur, berlumuran darah, dan dari riak energinya yang sekarat, sudah sangat jelas mustahil bagi mereka untuk memenangkan pertempuran ini jika terus dipaksakan.
Hah... Hah... Hah...
"Yang Mulia Miko!..." Delta langsung berlutut di depanku dengan napas yang memburu naik-turun secara tidak teratur, batuk mengeluarkan sedikit darah segar. "Bahaya, Yang Mulia... Sosok terkuat dari faksi mereka... Dia akhirnya muncul secara langsung ke permukaan medan laga..." Ucap Delta di sela-sela deru napasnya yang ngos-ngosan menahan rasa sakit.
Aku menatap kondisi Delta yang dipenuhi luka robek di bagian zirah naganya.
"Hmm?... Tenang dulu, Delta. Apa yang sebenarnya sudah terjadi di garis depan? Ada apa?" Tanyaku dengan nada suara yang sengat berat. Meskipun situasi di sekitarku sudah berada di ambang kekacauan telak, aku tetap memaksakan diriku untuk memasang wajah datar dan sedingin es, berusaha tetap tenang sebagai seorang penguasa tertinggi.
Delta menyeka darah di dagunya, menatapku dengan pandangan penuh rasa bersalah karena gagal membawa kemenangan instan.
"Ughh... Komandan tinggi pasukan elit Raja Iblis luar sebelumnya sudah berhasil kukalahkan dan kubantai menggunakan wujud nagaku, Yang Mulia! Tetapi... tepat setelah komandannya mati, entitas tertinggi yang memimpin kelompok mereka—sang Raja Iblis luar—mendadak turun langsung ke medan perang! Jerry, sang pemimpin regu pahlawan manusia itu, saat ini sedang nekat mengorbankan dirinya, menahan gempuran sendirian untuk mengulur waktu supaya aku bisa menyelamatkan dan membawa pergi sisa teman-temannya ini ke pos Anda!" Ucap Delta panjang lebar dengan nada frustrasi.
Mendengar kabar bahwa sang penguasa kegelapan dunia luar itu sendiri yang turun tangan menghancurkan pasukanku, sebuah kilatan ungu yang sangat dingin dan pekat mendadak terpancar dari sepasang mataku. Seringai kecil yang sangat menakutkan mulai terukir di wajah tiruanku.
Aku melangkah maju, lalu mengulurkan tangan kananku untuk menepuk pundak Delta yang bersisik keras dengan sangat lembut, menyalurkan sedikit energi ketenangan magis ke dalam tubuh jenderalku.
"Hmm... Tidak apa-apa, Delta. Kau tidak perlu merasa bersalah," ucapku dengan nada suara yang sangat lambat namun bergetar dingin, membuat atmosfer di sekitar pos medis darurat mendadak membeku seketika akibat tekanan aura dewa bayangan yang mulai lepas dari kendaliku. "Tugasmu di medan perang ini sudah selesai dengan sangat baik. Dan untuk kali ini... pertempuran di depan sana sudah resmi menjadi tugasku."
Aku memutar tubuhku, menatap lurus ke arah episentrum ledakan asap hitam di kejauhan dengan tatapan predator yang siap berburu. Sudah saatnya bagi dunia luar untuk mengetahui, siapa penguasa kegelapan sejati yang sebenarnya di bawah langit ini!