Cerita Ini bersifat fiktif belaka!
Kais Arfan Syailendra melakukan kesalahan satu malam dengan Anisa Syafa sekertaris nya sekaligus sahabat dari istrinya.
Kais menjerat Anisa dalam hubungan rumit dengan tujuan membongkar pengkhianatan yang di lakukan Marsya istri Kais bersama Bagas tunangan Anisa.
Bagaimana Kais membuat Anisa tetap disisinya dan membongkar rahasia masalalu mereka? ikuti kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puspa Arum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kais Mulai Cemburu ( Revisi )
Saat masuk ke dalam kantor, lobby kantor masih terlihat sepi. Mata Kais melihat sosok Anisa yang sedang berdiri di depan lift karyawan sendirian.
Kais dengan langkah lebarnya menuju ke arah lift. Saat lift karyawan terbuka, Kais dengan cepat menyambar lengan Anisa dan membawanya ke dalam lift para petinggi perusahaan.
"Pak Kais, apa yang anda lakukan..lepaskan saya pak!!" suara lantang Anisa membuat Kais buru-buru membawa Anisa masuk ke dalam lift. "Bapak apa-apaan, saya...
Belum juga selesai bicara, Kais sudah menyambar bi*ir manis Anisa. Hal itu membuat Anisa membulatkan matanya dan mencoba mendorong tubuh Kais.
Namun sayang tenaga Kais terlalu kuat di banding tenaga Anisa yang hanya punya bobot 48kg di banding Kais yang punya bentuk tubuh beberapa kali lipat di banding Anisa.
Sebuah ciu*an Kais berikan pada Anisa membuat gadis itu kewalahan.
"Aku nggak bisa seperti ini Nis, aku bisa gil*. Jangan pernah mencoba untuk menghindari ku bahkan menghilang dari hidup ku. Aku nggak sanggup." Kais memeluk tubuh Anisa setelah kejadian panas yang singkat itu di dalam lift.
"Lepas pak, ini di kantor. Jangan sampai orang menganggap saya sebagai wanita penggoda suami orang." ucapan Anisa membuat Kais merenggangkan pelukannya.
"Maaf, semalam___
"Kita nggak perlu bahas apa yang tidak seharusnya kita bahas di sini." Anisa memotong ucapan Kais dan bertepatan pintu lift terbuka setelah sampai di lantai dimana ruangan mereka berada.
Kais dan Anisa kembali beraktivitas seperti layaknya seorang atasan dan bawahan. Kais tahu jika Anisa masih marah padanya namun dia tidak bisa berbuat banyak karena pastinya gerak gerik nya akan mendapat perhatian dari orang-orang yang ada di kantor nya.
...----------------...
Drrtt drrrrttt
Suara getar ponsel milik Anisa membuat Anisa yang sedang fokus menatap laptop langsung beralih ke layar ponselnya.
Nama sahabat nya muncul di layar membuat Anisa membuang nafas kasarnya. Dia raih benda pipih yang dia letakkan di atas meja kerjanya.
"Ya Sya, ada apa?" Anisa langsung to the point menanyakan keperluan Marsya sahabatnya.
Biasanya Marsya akan mencari dirinya saat Kais tidak merespon panggilan nya.
"Sibuk ya Nis, aku mau ngajak kamu keluar. Aku mau cerita soal ibu mertua ku yang nyebelin itu." Anisa menghela nafas panjang mendengar penuturan sahabatnya itu.
"Marsya, sebaiknya kamu jangan terlalu sering menceritakan tentang apapun yang berkaitan dengan rumah tangga mu dengan orang lain. Itu kurang bagus, ingat Sya..kamu ibarat selimut buat segala baik buruknya suamimu. Jangan sampai, keburukan yang kamu ceritakan berakibat tak baik nantinya."
"Tapi aku kan cuma cerita sama kamu Nis, nggak ada sahabat ku yang lain."
"Termasuk aku Sya, maaf...bukan berarti aku nggak mau dengar cerita kamu, yang jelas...kamu bisa minta saran atau masukan saja dari aku atau teman kamu yang lain. Nggak semuanya kamu ceritakan."
"CK kamu Nis, lagi pula soal ranjang ku sama Kais cuma kamu yang tahu.. hehehehe.."
"Aku bahkan sudah menjadi bagian ranjang suamimu Sya, maafkan aku.."
"Nis, Anisaa !!" Anisa menjauhkan ponselnya dari telinganya saat suara teriakan dari sebrang sana.
"Aku nggak tuli Marsya, nanti aku lihat jadwal ku dulu yaa.. Sekarang biarkan aku selesaikan dulu pekerjaan ku. Ini sudah deadline, kalau sampai telat bisa-bisa suami mu pecat aku lagi.."
"Hahaha...mana mungkin dia pecat kamu Nisa, bagi dia kamu itu ibarat istri nya di kantor. Segalanya kamu yang urus.."
Deg ..
Ucapan Marsya membuat Anisa terkejut. Bahkan mengibaratkan dirinya seperti istri suaminya sendiri. Seandainya sahabat nya tahu, bahkan urusan ranjang pun Anisa sudah ambil bagian itu dari sahabat nya.
"Sembarangan kalau ngomong, sudahlah..aku tutup dulu. Bye...!!"
Anisa menutup panggilan itu dan kemudian Anisa meraup udara sebanyak-banyaknya. Dia butuh banyak oksigen untuk paru-paru nya yang tiba-tiba merasa sesak di dadanya.
...----------------...
"Loh..Gas, kamu kamu disini, kok nggak ngomong mau jemput aku?"
Saat Anisa keluar dari kantor, terlihat Bagas sudah menunggu dirinya di depan lobby kantor Syailendra Group.
"Surprise sayang..ayo!!" Bagas membuka pintu mobil nya untuk sang kekasih. Anisa dengan senyum manisnya masuk ke dalam mobil kekasihnya itu.
Mobil Bagas pun perlahan meninggalkan area kantor Syailendra Group. Sedangkan di jarak lumayan jauh, Kais yang baru saja keluar dari kantor bersama Rendi menyaksikan langsung interaksi Anisa bersama Bagas.
Bahkan tanpa sadar Kais mengepalkan tangannya menatap kesal saat Anisa tersenyum manis pada Bagas.
" Bro ..lo nggak apa-apa?" Rendi yang ada di samping Kais pun buka suara dan menanyakan keadaan sahabat nya itu saat melihat adegan manisa Anisa dan Bagas. "Kalau cemburu,bilang saja..pake jaim segala sama gue." mendengar ledekan Rendi,Kais hanya menatap Rendi dengan tatapan tajamnya.
Tanpa berkata apa-apa, Kais melangkah meninggalkan Rendi yang sedang sibuk tertawa melihat ekspresi sahabat nya itu.
"Woiii ..tunggu bro !!" Rendi menyusul langkah Kais namun saat Rendi akan membuka pintu mobil Kais, laki-laki itu malah tancap gas meninggalkan Rendi yang kini bengong melihat tingkah laku sahabat nya itu.
Brum..
"Kais!! Sial*n emang tuh orang, CK...giliran asyiknya nggak ajak-ajak. Ngambek aja di gedein !!" Rendi terus menggerutu melihat, tingkah Kais.
Di sebuah restoran, Anisa dan Bagas kini berada. Mereka makan malam bersama di restoran favorite mereka.
"Emmmm...ini benar-benar enak, sudah lama banget kita nggak makan disini." Anisa menikmati makanan yang dia masukkan ke dalam mulutnya.
"Kamu belakangan sibuk banget sih, bahkan kita sudah jarang pergi bersama." ucapan Bagas membuat Anisa merasa bersalah pada kekasih nya itu.
"Sorry, dari kemarin-kemarin aku memang sibuk banget. Ada mega proyek yang akan kita lakukan. Bahkan mungkin seminggu lagi akan lebih menyita waktu ku. Maaf ya ya, kamu juga lagi sibuk-sibuknya. Apalagi ada bimbingan koas kan? Gimana, semuanya lancar?"
"Ya, semuanya lancar. Itu berkat doa kamu juga." Anisa tersenyum mendengar jawaban kekasihnya.
"Semua karena kerja keras mu, apalagi...bimbingan itu nggak seenaknya saja kan?kredibilitas kamu sebagai dokter bahkan jadi taruhan.
"Yup betul. Oh iya...aku kemarin ketemu Marsya dan juga Kais di rumah sakit. Sepertinya mereka sedang konsultasi soal rencana mereka mau ikut program bayi tabung. Apa Marsya cerita sama kamu?" Anisa mengangguk.
"Iya, dia sempet kasih tahu aku kalau dia sama Kais akan menjalani program bayi tabung. Semoga saja semuanya baik-baik saja dan mereka bisa mendapatkan hasil yang maksimal. Aku harap Marsya bisa hamil, aku yakin dia akan senang. Mereka akan hidup lebih bahagia." Anisa tersenyum lebar saat mengatakan pengharapannya untuk hubungan Marsya dan Kais.
Bersambung