Catalea Yoora merupakan salah satu dari pewaris perusahaan Rotasi Company. Perusahaan yang bergerak di bidang makanan, bakery, dan kuliner yang sudah membuka cabang lebih dari lima provinsi. Beberapa menit menjelang akad nikahnya Alea menghilang. Gosip yang beredar Alea pergi karena ia tidak mencintai calon suaminya karena perjodohan keluarga. Kecurigaan itu beralasan, karena tamu yang dimaksud ternyata mantan Alea, Zahran Adrian Adiguna. Mantan kekasih yang pernah menjalin hubungan dengan Alea. Namun hubungan itu berakhir karena hubungan keluarga. Akhir-akhir ini hubungan kedua keluarga itu membaik. Tapi kejadian hilang nya Alea berkaitan Erat dengan Zahran. Beberapa orang menduga Alea di culik oleh Zahran karena dendam. Namun sebagian orang merasa alasan hilangnya Alea sangat sederhana ia masih cinta dengan mantan kekasih nya. Motif yang hanya bisa di ketahui publik ketika Alea di temukan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AssaZahara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benci jadi Rindu
Udara subuh di pinggiran Sidoarjo selalu membawa serta aroma sisa pembakaran sampah dan kelembapan dari tambak-tambak payau di kejauhan. Di dalam kamar sempit rumah petak itu, kegelapan mulai menipis, digantikan oleh semburat abu-abu fajar yang memantul di langit-langit semen yang retak.
Alea terbangun dengan posisi tubuh yang telah bergeser. Entah sejak kapan, kepalanya kini bersandar di lengan kokoh Zahran, dan jemari tangannya bertumpu pasrah di dada pria itu. Ia bisa merasakan detak jantung Zahran yang konstan dan tenang di bawah telapak tangannya. Zahran sendiri masih terlelap, wajahnya yang biasa mengeras penuh perhitungan kini tampak rileks, menyisakan gurat-gurat kelelahan yang teramat sangat akibat mengemudi berjam-jam dan berjaga semalaman.
Alea tidak segera menarik diri. Ia membiarkan tubuhnya tetap dalam posisi itu, menatap profil samping wajah Zahran yang terpapar cahaya fajar yang minim.
Selama tiga tahun terakhir, setiap kali nama Zahran melintas di benaknya, atau setiap kali ia melihat logo Adiguna Group di papan reklame jalanan Jakarta, dada Alea selalu bergemuruh oleh rasa benci. Ia membenci Zahran karena pria itu membiarkannya pergi begitu saja di Bandung. Ia membenci ketidakberdayaan mereka saat itu. Ia membenci fakta bahwa Zahran tidak mengejarnya ke Jakarta, tidak mendobrak pintu rumah keluarga Yoora, dan membiarkan dirinya menderita sendirian menaklukkan lima provinsi di bawah cambuk ambisi Baskoro.
Alea menatap garis rahang Zahran yang tegas. 'Aku membencimu karena kamu menyerah atas kita,' bisik hati Alea selama ribuan malam yang sepi. Rasa benci itulah yang ia gunakan sebagai tameng, sebagai bahan bakar untuk bekerja bagai kesurupan di Rotasi Company agar ia tidak perlu meratapi hatinya yang telah mati.
Namun, di sini, di atas ranjang kapuk yang reot ini, setelah mengetahui bahwa Zahran mempertaruhkan segalanya nyawa, karier, dan nama baik hanya untuk menariknya keluar dari neraka perjodohan, tameng kebencian itu mendadak leleh tak berbekas.
Rasa benci yang selama ini ia pelihara dengan sangat hati-hati ternyata hanyalah sebuah penyangkalan besar. Itu adalah topeng dari sebuah kerinduan yang begitu masif, yang saking besarnya, sampai-sampai menakuti Alea sendiri. Ia merindukan pria ini. Ia merindukan bagaimana Zahran menatapnya seolah dia adalah satu-satunya arsitektur terindah di dunia. Ia merindukan aroma tubuhnya, suaranya, dan perlindungan yang hanya bisa diberikan oleh pria ini.
Zahran melenguh pelan. Kelopak matanya bergerak sebelum akhirnya terbuka, menampakkan sepasang manik mata hitam yang langsung terkunci pada wajah Alea yang berada hanya beberapa senti di depannya.
Suasana mendadak menjadi sangat intim dan sunyi. Alea tidak bergerak, dan Zahran pun tidak menarik lengannya yang dijadikan bantalan.
"Sejak kapan kamu bangun?" suara Zahran terdengar serak khas orang baru bangun tidur, bergetar rendah di dada yang sedang disentuh Alea.
"Baru aja.." bisik Alea, suaranya parau. Matanya tidak beralih dari tatapan Zahran.
"Zahran... selama tiga tahun ini, aku sangat benci kamu."
Zahran terdiam sesaat. Ia menaikkan tangan kanannya yang bebas, lalu dengan sangat perlahan, ia menyelipkan anak rambut Alea yang berantakan ke belakang telinga wanita itu.
"Aku tahu. Dan kamu punya setiap alasan untuk itu, Al... Aku meninggalkanmu di Bandung dalam kondisi paling rapuh. Aku membiarkanmu menghadapi ayahmu sendirian."
"Bukan itu," Alea menggeleng pelan, sebutir air mata lolos dari sudut matanya, membasahi bantal kapuk di bawah mereka.
"Aku benci kamu karena setiap kali aku mencoba benci, aku justru semakin merindukanmu. Aku benci diriku sendiri karena di setiap rapat direksi, di setiap gerai baru yang kubuka di Sumatera atau Banten, aku selalu mencari sosok kamu di antara kerumunan orang. Aku benci karena kamu tidak pernah benar-benar pergi dari kepalaku."
Mendengar pengakuan yang begitu jujur dan telanjang itu, pertahanan dingin di mata Zahran runtuh sepenuhnya. Tatapannya melembut, memancarkan rasa bersalah yang teramat dalam sekaligus cinta yang selama ini terkunci rapat di balik dinding egonya.
"Aku juga, Al...," ujar Zahran, suaranya bergetar menahan emosi. Ia menggeser tubuhnya mendekat, memangkas jarak yang tersisa di antara mereka hingga kening mereka saling bersentuhan.
"Setiap kali aku menggambar cetak biru sebuah bangunan, aku selalu membayangkan teras rumah yang pernah kamu impikan saat kita berjalan-jalan di Braga. Aku menghukum diriku sendiri selama tiga tahun dengan bekerja tanpa henti, karena setiap kali aku berdiam diri, rindu itu datang seperti air bah yang meruntuhkan seluruh logikaku."
Zahran meraih tangan Alea yang berada di dadanya, menggenggamnya erat, lalu membawanya ke bibirnya untuk dikecup lama.
"Kebencianmu, kerinduanmu... berikan semuanya padaku sekarang. Jangan menanggungnya sendirian lagi."
Alea memejamkan mata, membiarkan tangisan senyapnya pecah di dada Zahran. Rasa sakit dari masa lalu, keringat darah di lima provinsi, dan kepalsuan pertunangan dengan Reynald seolah larut dan basuh oleh pelukan erat Zahran yang kini mengunci tubuhnya. Di dalam kamar yang pengap dan asing di pinggiran Sidoarjo ini, kepalsuan dunia korporat Jakarta terasa begitu jauh.
Kebencian yang melelahkan itu telah resmi bertransformasi kembali menjadi kerinduan yang menguatkan. Mereka bukan lagi dua mantan kekasih yang saling menyalahkan keadaan; mereka adalah dua orang yang telah menerima luka masing-masing dan siap menggunakannya sebagai senjata untuk merebut kembali hidup mereka yang sempat dirampas.
Matahari pagi akhirnya terbit sepenuhnya, menyinari kamar itu dengan cahaya keemasan yang hangat. Di luar, suara aktivitas pasar subuh mulai terdengar bising, menandakan bahwa waktu mereka untuk bersembunyi hari ini telah habis. Malam nanti adalah waktu pertemuan dengan mantan kepala audit Reynald Pratama. Dan kali ini, dengan hati yang tidak lagi terbagi oleh kebencian, Alea siap berdiri di samping Zahran menghadapi badai apa pun yang telah disiapkan oleh musuh-musuh mereka di Jakarta.