Shintia Almahira, mahasiswi cantik semester akhir, selalu berusaha membuat kakaknya, Andreas, kembali bahagia setelah ditinggal wafat tunangannya. Saat Andreas diam-diam menemukan cinta baru, Shintia ikut lega.
Namun semuanya berubah ketika wanita itu ternyata mengincar pria lain, seorang direktur hotel muda, tampan, kaya raya, dan super nekat yang justru tergila-gila pada Shintia. Dengan cara-cara kocak dan memalukan, sang direktur terus mengejar hati gadis itu.
Sementara Andreas harus menelan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Saat hidup terasa runtuh, hadir seorang gadis desa sederhana yang perlahan mengobati lukanya.
Di tengah tawa, air mata, dan kekacauan cinta, mampukah Shintia menerima pria yang selalu membuat hidupnya jungkir balik? Atau justru semua akan berakhir dengan luka baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terlalu dekat terlalu gagah
Shintia menurut pelan, berjalan mengikuti langkah Raffa di tepi pantai. Angin laut berembus lembut memainkan rambut panjangnya, sementara suara deburan ombak terdengar menenangkan.
Namun tetap saja…
Rasa canggung itu belum hilang.
Kadang Shintia diam-diam melirik pria di sampingnya dengan bingung.
Bagaimana bisa hidupnya berubah secepat ini?
Kemarin ia bahkan tidak mengenal Raffa sama sekali. Sekarang laki-laki itu sudah duduk di rumah kakaknya, mengaku pacarnya di depan keluarga, lalu mengajaknya pergi ke pantai seperti mereka sudah dekat sejak lama.
Aneh, iya sangat aneh. Dan yang lebih aneh lagi ... Shintia tidak benar-benar merasa takut.
Mereka berjalan beberapa saat tanpa bicara. Hanya suara ombak dan langkah kaki di atas pasir yang terdengar.
Sampai akhirnya…
“Shintia,” panggil Raffa tiba-tiba.
Nada suaranya berbeda, lebih tenang, dan serius.
Shintia menoleh pelan.
“Hm?”
Raffa memasukkan kedua tangan ke saku celana sambil tetap berjalan santai. Namun kali ini tatapannya tidak lagi jahil seperti biasanya.
“Kamu benar-benar gak punya pacar?”
Shintia berkedip bingung.
“Hah?”
“Aku serius nanya.”
Shintia mengernyit heran melihat perubahan sikap pria itu.
“Ya enggak lah.”
“Belum pernah punya?”
Pertanyaan itu membuat Shintia menatapnya beberapa detik.
“Aneh banget sih nanyanya.”
“Jawab dulu, Shintia.”
Shintia mendesah pelan lalu memalingkan wajah ke laut.
“Belum pernah.”
Raffa menatapnya cukup lama seolah memastikan gadis itu tidak berbohong.
“Serius?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Shintia mengangkat bahu kecil.
“Gak tahu. Belum kepikiran aja, pengen serius selesaikan kuliah yang tinggal tidak ada dua bulan lagi.”
Raffa terdiam sesaat.
Ada rasa lega aneh yang muncul di dadanya. Entah kenapa jawaban itu membuat pikirannya jauh lebih tenang.
Sedangkan Shintia mulai curiga.
“Kamu kenapa sih nanyanya serius banget?”
Raffa tersenyum tipis.
“Karena aku memang serius suka sama kamu, aku juga tidak tahu' kenapa aku bisa suka kamu.”
Shintia langsung berhenti berjalan.
“RAFFA…”
“Aku tahu ini aneh, beneran.”
“Bukan aneh lagi. Ini udah masuk kategori mencurigakan.”
Raffa tertawa kecil, tapi kali ini tawanya lebih pelan.
“Aku juga bingung sebenarnya,” ujarnya jujur. “Biasanya aku gak pernah kayak gini.”
Tatapannya perlahan jatuh pada wajah Shintia.
“Aku baru kenal kamu. Tapi rasanya… nyaman.”
Shintia terdiam. Untuk pertama kalinya, ia tidak langsung membalas omelan atau protes.
Karena sorot mata Raffa kali ini berbeda.
Tidak bercanda, tidak jahil, Melainkan tulus.
Raffa hampir saja mengatakan sesuatu lagi.
“Kamu mirip…”
Namun kalimatnya terhenti, Ia langsung mengalihkan pandangan cepat.
Shintia mengernyit.
“Mirip siapa?”
Raffa segera tersenyum tipis.
“Mirip orang yang bikin aku susah tidur.”
“Gombal lagi.”
“Kan memang spesialis.”
Shintia mendecakkan lidah pelan, walaupun sudut bibirnya sempat terangkat tipis. Mereka kembali berjalan perlahan.
Angin pantai makin terasa sejuk.
Beberapa anak kecil bermain pasir di kejauhan, sementara suara camar sesekali terdengar di langit. Lalu tiba-tiba Raffa kembali bicara.
“Oh iya.”
“Hm?”
“Besok sore aku pergi.”
Shintia menoleh.
“Pergi?”
“Ke luar negeri, nemenin Boss.” jelasnya sedikit berbohong.
“Kemana?”
“Malaysia.”
Shintia mengangguk kecil.
“Oh.”
Jawaban datar itu membuat Raffa meliriknya.
“Cuma ‘oh’?”
“Lah terus aku harus jawab apa?”
Raffa terkekeh pelan lalu mengeluarkan ponselnya.
“Nih.”
Ia menyerahkan sesuatu pada Shintia.
Nomor ponsel.
Shintia langsung mengernyit.
“Buat apa?”
“Biar kamu bisa hubungi aku.”
“Aku gak butuh.”
“Kejam banget kamu.”
“Aku serius.”
Raffa tetap memaksa menyodorkan ponselnya.
“Simpan aja, nanti kangen lo.”
Shintia menghela napas panjang.
“Raffa… kamu tuh kayak orang yang kenal aku bertahun-tahun, mana PD banget lagi.”
“Bagus dong.”
“Enggak bagus. Aku jadi takut.”
Raffa menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya bicara pelan.
“Aku gak akan nyakitin kamu, aku serius suka kamu.”
Entah kenapa… Kalimat sederhana itu membuat hati Shintia sedikit bergetar.
Akhirnya dengan malas-malasan ia mengambil nomor tersebut.
“Nah gitu dong.”
“Tapi aku belum tentu chat.”
“Gapapa. Yang penting kamu simpan.”
Shintia hanya mendengus kecil. Jujur saja, ia masih tidak terlalu peduli Raffa mau pergi ke mana. Karena di pikirannya, laki-laki itu memang bukan siapa-siapanya.
Baru kenal, baru dekat.
Bahkan status “pacar” itu pun cuma karangan Raffa sendiri.
Namun tiba-tiba…
“Kamu gak bakal kesepian kalau aku pergi?”
Shintia langsung menoleh heran.
“Hah?”
Raffa terlihat santai, tapi matanya benar-benar menunggu jawaban.
Shintia malah makin bingung.
“Kenapa aku harus kesepian?”
“Karena nanti gak ada yang ganggu kamu.”
“Aku malah tenang.”
“Jahat ya kamu.”
“Kamu baru sadar?”
Raffa tertawa kecil lagi.
Namun di dalam hati, pria itu sadar satu hal. Ia benar-benar mulai takut jauh dari Shintia.
Bahkan sebelum gadis itu benar-benar menjadi miliknya. Suasana kembali hening beberapa detik.
Lalu perhatian Shintia tiba-tiba teralih ke arah laut.
Matanya membesar sedikit.
“Eh lihat!”
Raffa ikut menoleh.
Di kejauhan tampak kapal tongkang besar melintas perlahan di tengah laut biru.
“Itu gede banget…” gumam Shintia kagum.
Tanpa sadar ia melangkah sedikit maju.
Sedangkan Raffa berdiri agak di belakangnya.
Pria itu ikut memperhatikan arah yang ditunjuk Shintia, lalu sedikit menundukkan tubuh agar bisa melihat lebih jelas dari sisi gadis itu.
“Yang itu?” tanyanya pelan.
“Iya…”
Karena posisi mereka terlalu dekat… Saat Shintia menoleh...
Deg.
Napasnya langsung tertahan. Wajah mereka sangat dekat dan begitu dekat hanya berbatas satu jengkal.
Shintia bahkan bisa melihat jelas mata Raffa yang tajam namun hangat, bulu matanya, sampai aroma parfum lembut pria itu yang bercampur dengan angin laut.
Raffa tersenyum simpul.
Dan sialnya… Senyum itu terlihat terlalu tampan.
Jantung Shintia langsung berdetak tidak karuan.
Untuk beberapa detik, gadis itu hanya diam mematung.
Sedangkan Raffa menatapnya tenang tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun.
“Apa?” tanya Raffa pelan.
Shintia langsung tersadar lalu buru-buru memalingkan wajah.
“G-gak ada!”
Ia bahkan melangkah mundur satu langkah cepat.
Pipinya mulai memanas, Malu. Dan entah kenapa… Nyaman.
Raffa memperhatikan reaksi itu sambil tersenyum kecil penuh arti. Sedangkan Shintia pura-pura sibuk melihat laut agar pria itu tidak menyadari wajahnya yang merah.
Padahal di dalam hati… Untuk pertama kalinya sejak mengenal Raffa, Ia mulai merasa bahwa kehadiran pria itu perlahan mengacaukan dunianya dengan cara yang tidak terlalu ia benci.
Raffa yang masih berdiri di belakang Shintia tiba-tiba memanggil...
"Shintia..."
Shintia menoleh. "iya,"
"kita makan dulu, ya... Setelah ini, aku harus kembali ke kantor. Boss sudah memanggilku."
Shintia yang masih sedikit malu, mengangguk pelan.
Dalam hati Raffa, bukan ia yang di panggil Boss tapi ia bos yang akan bertemu klien, yang kini lebih penting untuk hotelnya.
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu 💪🥰🤗
seandainya Shintia tahu Raffa masih hidup...
duhhh Shintia jangan khawatir yg kecelakaan itu bukan Raffa 🥲🥲
jadi teringat Raffa dan Sutra yaaa...
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu💪🥰🤗
Raffa jahil banget sama Shintia 😄😄