Takamiya Nia, wanita berusia 42 tahun yang bekerja di Perusahaan Fasde tiba-tiba meninggal dalam kondisi tidur di apartemennya tanpa diketahui oleh siapapun.
Begitu Nia terbangun, ia mendapati dirinya menjadi bayi sepasang kekasih di keluarga kerajaan sebagai pewaris tahta kerajaan berikutnya, Kerajaan Thijam.
Dengan pengetahuan ala otaku di masa lalunya dan beberapa pengalaman yang ia miliki bersama kedua orangtuanya, Nia memutuskan untuk memperoleh kesempatan kedua untuk menjalani hidup sesuai dengan keinginannya tanpa ada paksaan maupun umpatan yang memenuhi hati dan pikirannya.
(Peringatan: Karya ini mengandung Dark Shoujo jadi siapkan mental kalian, oke?)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanken, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 7: Kesepakatan Menguntungkan
"Baiklah. Apa yang harus ku mulai dari awal?"
Didalam kamarnya, gadis berambut butterfly haircut berwarna pirang yang merenung selagi duduk di meja belajar menatap ke buku yang ada dimeja yang sempat ditulisnya sebelumnya, ekspresinya yang bingung membuatnya bertanya-tanya pada dirinya apa yang harus ia mulai dari awal.
Dari apa yang sorot matanya berwarna crimson lihat, ada beberapa metode latihan fisik yang sudah dituliskan di buku di mejanya. Mulai dari; joging, push-up, sit-up, squad jump, dan beberapa latihan ringan lainnya membuatnya bingung menentukan apa yang harus dimulainya terlebih dahulu.
"Jika aku mulai dari latihan lain, staminaku sedikit jadi itu akan membebaniku."
Bergumam pelan untuk meyakinkan dirinya kalau latihan lain selain joging tidak bagus untuknya, Alice merasa kalau ia harus memperbesar staminanya terlebih dahulu agar tidak mudah lelah.
"Ah, benar."
Dengan segera Alice menuliskan sesuatu di lembar halaman lain setelah mendapat ide dibenaknya, membuatnya berpikir kalau solusi untuk permasalahan latihan fisik berawal dari masalah pembagian waktu.
Jika ia berhasil membagi waktu antara satu dengan yang lain, itu akan memudahkan Alice untuk bisa memperkuat fisik tanpa perlu satu-persatu ia melakukan latihan karena itu akan memakan waktu lama.
Yah, meskipun Alice menyadari kalau melakukan itu sama seperti membebani tubuhnya dengan latihan fisik karena akan membuatnya mudah lelah, ia mungkin akan tidur setelah berlatih nanti.
"Sip. Dengan begini, masalahku sudah diatasi."
Tersenyum puas atas apa yang dilihatnya, ia tidak menyangka kalau pengalamannya membantu Yoga dahulu semasa hidupnya sebagai Nia membuat Alice bisa mengatur waktu dan memutuskan mana yang ingin dilakukannya dulu, mana yang nanti.
"Sekarang yang perlu kulakukan adalah menjalaninya."
Sebelum Alice pergi tidur, ia pergi meninggalkan kamarnya menelusuri lorong berharap ia bertemu dengan Annastasia yang ada di lantai dasar, lantai dimana para maid berada di kamar mereka masing-masing.
Melewati lorong berisikan kamar penginapan yang saling berhadap-hadapan, Alice menuruni tangga melingkar dengan karpet merah di anak tangga dengan pegangan tangga dari emas, ia berada di lobby di lantai dasar.
Di lobby terdapat karpet merah terlihat di lantai yang lebarnya sekitar 10 meter dari pintu masuk utama didepan, dengan beberapa bingkai foto yang memperlihatkan kesenian melalui potrait pemandangan, kewibawaan raja sebelumnya, bahkan ada patung pencapaian yang dilakukan oleh raja maupun ratu sebelumnya, termasuk Arga, raja sekarang.
"Alice-sama, apa yang anda lakukan disini?"
Mendengar ketiga prajurit ksatria yang berjaga didalam lobby, Alice hanya tersenyum kecil pada mereka.
"Aku ingin menikmati udara segar di malam hari."
"Ta-Tapi... anda bisa menikmatinya di kamar anda..."
Ada keraguan dari kata-kata dari salah satu prajurit ksatria yang bingung, tidak memahami apa tujuan Alice ada di lobby di lantai dasar.
"Ini akan merepotkan."
Hanya bisa mengumpat dalam hati dengan keluhan dibalik senyum kecil diwajahnya, Alice sekali lagi menjelaskan pada mereka.
"Aku kemari ingin mencari kamar Anna."
"Maksud anda Annastasia?"
"Ya," angguk Alice selagi mempertahankan senyum kecilnya pada mereka.
Mereka yang terdiam sejenak saling bertukar pandang lalu menoleh ke Alice dengan wajah serius namun ada senyum kecil diwajah mereka.
"Kalau anda tidak keberatan, saya bisa antarkan anda ke sana."
"Tapi, aku tidak ingin merepotkan kalian karena kalian sedang berpatroli."
Mendengar kata-kata Alice yang diikuti dengan kepalanya yang miring sedikit selagi merenung dengan jari telunjuk tangan kirinya di dagunya, membuat mereka terdiam karena tahu apa yang dikatakan oleh Alice ada benarnya.
"Tapi, kami bisa menyerahkan urusan ini pada yang menetap disini."
Kedua ksatria lain mengangguk pada perkataan salah satu ksatria yang mengatakannya pada Alice, tidak keberatan untuk membiarkan salah satu rekannya mengantar Alice ke kamar Annastasia.
"Jika aku menolak ditemani oleh ksatria, itu sama seperti tidak ada yang menjagaku ya."
Menyadari kalau fungsi ksatria mirip seperti bodyguard di dunia lamanya, dengan terpaksa Alice menghela nafas panjang lalu mengangguk, menatap ke mereka.
"Baiklah. Tapi sebelum itu, izinkan aku melihat-lihat tempat ini."
"Y-Ya. Silahkan anda lihat sesuka hati anda, Alice-sama."
Senang mendengar perkataan dari salah satu dari ketiga ksatria didalam lobby, Alice yang tersenyum kembali menatap penasaran pada patung dan potrait yang ada di lobby.
Dimana patung memperlihatkan pencapaian mereka dalam memerintahkan kerajaan ini sebelumnya, sedangkan potrait seni yang terdapat bingkai foto namun dengan seni indah memperlihatkan sosok para pendahulu yang diduga Alice merupakan raja dan ratu sebelumnya.
"Dilihat dari segi manapun, mereka memiliki pencapaian luar biasa."
Sekali lagi, ingatan Alice mengarah ke dirinya yang masih bayi yang digendong oleh ibunya saat itu, Luna.
Saat itu, Arga, sang raja memberitahu pada Luna dan Ren mengenai keputusannya untuk mengangkat Alice sebagai pewaris tahta berikutnya karena ia percaya Alice dapat membuat Kerajaan Thijam menjadi lebih baik dari yang ia pimpin.
Padahal setahu Alice, ia mustahil untuk memimpin kerajaan jikalau ia sendiri lemah tanpa memiliki kekuatan fisik maupun sihir, membuatnya meragukan keputusan kakeknya, Arga karena ia yakin itu keputusan sepihak tanpa menanyakan pendapat kedua orangtuanya.
"Yah, lupakan itu. Fokus-ku sekarang adalah melatih fisik sisanya akan kupikirkan nanti."
Menatap ke ketiga ksatria yang memandang Alice dengan wajah penasaran, Alice memerintahkan mereka.
"Kalau begitu, antar aku ke kamar Anna."
"Baik."
Salah satu dari mereka bertiga, berjalan mendekati Alice lalu pergi meninggalkan lobby yang terdapat beberapa sofa yang muat untuk tiga orang, satu orang dengan meja panjang diantara sofa tersebut berwarna coklat tua, sedangkan sofa tersebut dengan warna kemerahan yang empuk dan nyaman saat diduduki, dengan lapisan emas diantara sisinya termasuk pegangan di kedua sisi sofa.
Tidak jauh dari lobby, di sebelah kiri lorong dari lobby memperlihatkan kamar yang saling berhadap-hadapan merupakan kamar dari para maid di istana kerajaan.
Di lorong ini terlihat banyak nama-nama para maid yang ada di pintu sebagai tanda bahwa kamar mereka disitu, mereka hanya menempatkan satu kamar satu orang yang dapat dilihat oleh Alice yang mengikuti ksatria yang menuntunnya didepannya, ia melihat banyak nama yang ada didepan pintu.
"Disini, Alice-sama."
Melihat ksatria tersebut berhenti, Alice yang menatap pintu dengan papan nama didepan pintu bertuliskan "Annastasia" menduga kalau ini adalah kamarnya, menatap ke ksatria tersebut.
"Terimakasih telah membawaku kemari."
"Ya. Jikalau anda butuh bantuan lagi, anda bisa beritahu saya maupun rekan saya."
Mengangguk memahami kata-kata dari ksatria yang bertubuh sedang, Alice akan meminta bantuan pada mereka jikalau ia kesulitan untuk menemukan tempat yang ingin ditujunya meskipun ia tahu ia sudah ingat setiap tempat di istana ini berkat dirinya yang merangkak masih kecil kesana-kemari yang membuat siapapun kewalahan mengurusnya.
"Kalau begitu, saya pamit dulu."
Membungkuk dan mundur dari tempatnya berada, ksatria bertubuh sedang meninggalkan lorong istana yang terdapat kamar para maid hingga bayangannya menghilang di kejauhan.
"Baiklah."
Mengalihkan pandangan dari sosok punggung ksatria bertubuh sedang yang menghilang di kejauhan, Alice mengetuk pintu pelan berharap Annastasia ada didalam.
Tak lama kemudian, pintu terbuka memperlihatkan Annastasia yang mengenakan piyama berwarna ungu yang terkejut melihat keberadaan Alice didepan pintu yang tersenyum padanya.
"Ada apa anda kemari, Alice-sama?"
"Ada yang ingin kukatakan padamu, Anna."
Annastasia yang keluar dari kamarnya melirik ke kiri-kanan untuk memastikan tidak ada siapapun, mengangguk lalu mempersilahkan Alice untuk masuk dengan isyarat tubuh Annastasia yang menyamping ke pintu membiarkan Alice masuk.
Alice yang mengangguk, ia memasuki kamar Annastasia yang dimana memperlihatkan isi didalam kamarnya yang terdapat satu kasur dengan bantal dan selimut, meja dan kursi, lemari pakaian, rak buku, dan jendela yang terdapat gorden putih biasa.
"Sederhana daripada kamarku ya."
Meskipun diluar wajah Alice terlihat biasa saja, di hatinya merasa sedih atas perlakuan istana pada mereka, para maid di kerajaan ini.
Padahal setahu Alice, peran maid sangat penting untuk tugas mereka yang termasuk berat, seperti; bersih-bersih, mencuci dan menjemur pakaian, mencuci peralatan makan, memasak, dan menjamu tamu maupun meletakkan makanan dan minuman di aula makan, semuanya itu tidak mudah.
Andaikan Alice terlahir kembali sebagai anak dari mereka, ia tidak tahu apakah ia akan berakhir seperti mereka atau tidak, tapi untuk saat ini ia bersyukur karena terlahir kembali sebagai keturunan keluarga kerajaan yang statusnya lebih baik dari dirinya yang dulu sebagai pekerja keras, budak korporat yang lembur tanpa ada biaya lembur maupun uang makan yang dihitung perjam dari jam lembur.
"Ada apa anda kemari, Alice-sama?"
Annastasia yang duduk di sisi kasur menatap ke Alice yang tetap berdiri didekat jendela yang tertutup oleh gorden putih, ia menoleh ke Annastasia.
"Aku ingin membuat kesepakatan denganmu."
"Kesepakatan dengan saya?"
"Ya," angguk Alice dengan wajah serius membuat Annastasia penasaran.
Alice yang duduk di kursi yang diarahkan membelakangi meja, menghadap Annastasia dan menatapnya, wajahnya tetap serius yang membuat Annastasia penasaran atas apa yang ingin dikatakan oleh Alice.
"Aku ingin kamu membangunkan aku di waktu fajar, dimana siapapun belum terbangun."
"Eh?" Tersentak kaget mendengar perkataan Alice, Annastasia tidak dapat mempercayai kalau Alice ingin dibangunkan sepagi itu yang dimana para maid saja belum bangun.
"Tapi, bolehkah saya tahu alasan anda, Alice-sama?"
Di anggukan kepalanya pada Annastasia, Alice tidak keberatan untuk memberitahu alasan Annastasia membangunkannya nanti karena ia percaya kalau pemimpin maid yang duduk disisi kasur di kamarnya ini tidak akan memberitahu siapapun tentang ini.
"Aku ingin melakukan joging."
"Begitu ya."
Dapat dipahami oleh Annastasia kalau Alice ingin dibangunkan diwaktu fajar agar melakukan olahraga pagi seperti joging, membuatnya tersenyum kecil pada alasan yang dikatakan oleh Alice.
"Apakah kamu bisa, Anna?"
"Ya, saya bisa melakukannya. Tapi, kenapa anda mengatakan bahwa ini kesepakatan?"
Menyadari kalau Annastasia penasaran tentang kesepakatan yang dikatakan oleh Alice padanya, anggukan kecil terlihat dari Alice yang tetap menatap serius Annastasia.
"Jikalau kamu membangunkan aku tiap fajar untuk joging, aku juga akan membantumu dalam urusan pekerjaan maid."
"Eh? Tapi, itu tidak mungkin, kan?"
"Ya, kamu benar."
Mengetahui keterkejutan Annastasia terhadap perkataan Alice dapat dimaklumi, menurut Alice itu sama seperti memerintahkan penerus tahta untuk melakukan pekerjaan rendahan yang membantu para maid merupakan kesalahan terburuk.
Tapi tetap saja, Alice tidak ingin mengambil keuntungan sepihak yang menguntungkan dirinya melainkan juga Annastasia.
"Saya keberatan."
"Kalau begitu, bagaimana jikalau aku bantu kamu saat mencuci pakaian atau piring dan gelas?"
"Tetap saja, saya tidak bisa biarkan itu."
"Ugh...."
Mendapat penolakan tegas darinya membuat Alice frustasi, ia tidak tahu harus bujuk Annastasia seperti apa lagi.
Melihat Alice yang memasang wajah murung karena mendapat penolakan darinya, Annastasia yang menghela nafas panjang menjelaskan pada Alice agar memahami apa yang dipikirkannya.
"Jikalau saya memperkerjakan anda setelah anda melakukan joging dengan pekerjaan berat seperti mencuci pakaian maupun peralatan makan, itu sama seperti saya membuat anda kelelahan yang dapat berakhir pingsan."
"Begitu ya."
Dapat dipahami oleh Alice mengenai penjelasan dari Annastasia.
Jikalau ia kelelahan dengan fisik lemahnya yang sekarang setelah joging dan melakukan tugasnya dengan membantu para maid, ada kemungkinan ia berakhir pingsan adalah hal yang tidak bisa dicegah.
Bila hal tersebut terjadi, kemungkinan yang dimarahi oleh Luna adalah Annastasia karena membiarkan putrinya, Alice mengurus pekerjaan maid yang seharusnya dikerjakan oleh mereka.
Tak hanya itu, ada kemungkinan Annastasia mendapat teguran jikalau kakeknya, Arga sedang baik hati. Jika tidak baik hati, ada kemungkinan Annastasia mendapat hukuman entah apa hukuman yang didapatnya, membayangkannya saja sudah membuat Alice menyudahi bayangan tersebut.
"Tapi, aku ingin membantumu."
"...."
Tiba-tiba ide muncul dibenak Annastasia, ia menatap ke Alice dengan wajah cerah.
"Bagaimana kalau seperti ini saja? Anda bisa berada di aula makan sebelum siapapun memasuki aula makan, anda bisa membantu para maid lain meletakkan piring dan gelas disana."
"Ah, kurasa tidak masalah."
Keduanya saling tersenyum menandakan bahwa kesepakatan telah ditetapkan, tinggal menunggu keduanya saling bekerjasama untuk memperoleh keuntungan satu sama lain dari kesepakatan yang dibuat oleh Alice pada Annastasia.